Afrika dan Perdagangan Budak Atlantik

Perdagangan Budak Atlantik

Sekilas Tentang Perbudakan di Afrika

Perbudakan merupakan sebuah sistem yang memperlakukan individu lain seperti properti, dimana seorang individu yang disebut ‘budak’ dapat dimiliki dan diperjuabelikan. Sistem ini tentunya telah merampas hak–hak pribadi seseorang. Karena nantinya, jika seorang budak telah dibeli, maka ia harus mematuhi apapun yang tuannya perintahkan. Ia tak memiliki hak untuk melawan.

Tercatat dalam sejarah, sistem perbudakan ini telah banyak terjadi di seluruh dunia. Salah satu wilayah yang terkenal akan kisah tentang perbudakan adalah Afrika. Perbudakan di daerah ini telah ada sejak zaman Mesir Kuno dan terus berlangsung selama berabad-abad. Puncaknya saat kedatangan bangsa Eropa ke Afrika, sistem perbudakan makin gencar dilakukan. Eksploitasi besar besaran dilakukan oleh bangsa Eropa terhadap penduduk Afrika. Penjualan budak menjadi salah satu komoditas ekspor yang banyak diminati.

Terkait dengan perbudakan, seorang yang dijadikan budak atau memilih menjadi seorang budak dikarenakan beberapa faktor, seperti (1) Orang tersebut merupakan tahanan perang hasil dari peperangan dengan suku lain, (2) Orang tersebut merupakan seorang yang telah berlaku kriminal atau malah korban dari kejahatan (penculikan), (3) Orang tersebut sedang dalam kondisi ekonomi lemah, seperti terjerat kemiskinan, terlilit hutang dan tak mampu membayar. (4) Orang tersebut merupakan keturunan seorang budak, yakni lahir dari seorang budak (herediter) (Kurniawan, 2020).

Perdagangan Budak Afrika

Adanya praktik jual beli budak tak lepas dari faktor perekonomian. Agar roda perekonomian terus berjalan, tenaga kerja dibutuhkan untuk menggarap lahan, membantu dalam bidang perindustrian. Hal inilah yang mengakibatkan para tuan tanah dan para pemilik usaha gencar untuk mencari budak sebagai tenaga kerja, dan mereka memandang bahwa Afrika lah tempat dimana mereka akan mendapat tenaga kerja yang melimpah dengan harga miring. Mereka berpendapat bahwa orang–orang Afrika merupakan pekerja yang sangat baik dan tentunya memiliki pengalaman di bidang pertanian, pemeliharaan ternak, dan dapat bekerja dengan sangat keras di perkebunan dan tambang (Evans, 2018).

Baca Juga  Kehidupan Unik Suku Bushmen di Afrika

Kemudian akan timbul suatu pertanyaan, apakah respon dari penduduk Afrika? Bagi penduduk yang menjadi korban, tentunya mereka sebenarnya tak terima, namun bagaimana lagi, keadaan lah yang memaksa. Berbanding terbalik dengan penduduk yang menjadi korban, raja–raja lokal Afrika setuju–setuju saja, toh dengan adanya jual beli ini mereka juga merasa diuntungkan karena mendapatkan imbalan, mereka juga berdalih, bahwa budak yang diperjual belikan bukan termasuk golongan mereka, namun para kriminal dan tahanan perang dari suku lain. Jadi, mereka merasa tidak dirugikan.

Di Afrika, terdapat dua rute besar perdagangan budak, yaitu Trans-Sahara Slavery Trade dan Trans-Atlantic Slavery Trade. Perdagangan budak Trans-Sahara merupakan  jalur perdagangan budak antara Afrika dengan negara–negara Islam Arab. Perdagangan jalur ini dimulai sejak akhir abad ke-7 ketika Abdullah Bin Said (raja islamisasi Mesir) menaklukkan wilayah Sudan (Jihad Sudan). Kemudian pada tahun 652 M, ia bersama Raja Khalidurat Sudan menyepakati sebuah perjanjian yang dikenal sebagai Bakht. Salah satu isi dari perjanjian tersebut adalah Raja Sudan wajib mengirim pasokan tahunan wajib berupa ratusan budak Afrika kepada raja muslim Mesir. Perdagangan budak ini berlangsung selama 17 abad lamanya (Fatunde, 2012).

Saat bangsa barat mulai memasuki dan menguasai daerah Afrika, Perdagangan budak kian populer. Akhirnya terbentuklah  jalur perdagangan yang lebih besar, yang dikenal sebagai perdagangan budak Trans-Atlantik. Jalur perdagangan ini berlangsung pada akhir abad ke-15 hingga pertengahan abad ke-19.

Trans-Atlantic Slavery Trade and Triangular Trade

Perdagangan budak atlantik dimulai sekitar akhir abad ke-15, yaitu saat kedatangan bangsa Portugis di Afrika Barat yang kemudian membentuk sebuah koloni. Pada masa itu, memang bangsa Eropa sedang gencar melakukan penjelajahan samudera. Tujuan penjelajahan ini salah satunya adalah untuk memperluas wilayah kekuasaannya dengan membentuk koloni–koloni di daerah lain.

Saat Portugis ‘menemukan’ Afrika dan akhirnya membentuk koloni di sana, bangsa Eropa lain, yaitu Spanyol mengklaim bahwa mereka juga menemukan daerah baru yang kemudian mereka sebut sebagai ‘dunia baru’. Pada perkembangannya, mereka juga bermukim dan membentuk koloni di dunia baru tersebut. Koloni Eropa yang bermukim di dunia baru, kemudian mengolah daerah tersebut dengan menanaminya jenis-jenis tumbuhan perkebunan, seperti tebu, tembakau, dan kapas. Untuk melakukan pengolahan tersebut, mereka membutuhkan banyak tenaga kerja sedangkan, jumlah mereka hanya sedikit. Penduduk lokal (suku Indian) juga sudah dilibatkan sebagai budak, namun banyak yang meninggal akibat penyakit dan lainnya menolak dijadikan budak.  Akhirnya, untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja, bangsa Eropa melirik bangsa Afrika. Untuk mendapatkan budak dari Afrika, Bangsa Eropa bekerjasama dengan para raja–raja lokal Afrika dan para pedagang Afrika (Evans, 2018). Dari sinilah muncul istilah Triangular Trade.

Triangular Trade atau perdagangan segitiga merupakan bentuk kerjasama antara perdagangan antar Afrika, koloni Eropa di dunia baru (Amerika), dan bangsa Eropa di asalnya. Lalu, bagaimana perdagangan segitiga berlangsung? Seperti namanya, perdagangan segitiga berlangsung dalam tiga tahap. Tahap pertama, merupakan tahap yang dilakukannya pengiriman barang manufaktur seperti senjata, tekstil, barang logam, tembakau dari Eropa ke Afrika. Tujuan dilakukannya pengiriman ini adalah sebagai alat barter Eropa untuk diserahkan pada raja lokal Afrika agar mendapat budak. Alat yang dikirim oleh Eropa dimanfaatkan oleh raja Afrika sebagai senjata untuk perluasan wilayah kerajaannya. Hingga nanti akhirnya akan digunakan untuk melawan penjajah Eropa.

Baca Juga  Apa Itu Marxisme?, Sebuah Pengertian Singkat

Tahap kedua adalah pengiriman budak dari Afrika ke dunia baru (Amerika). Selama kurun waktu sekitar empat abad, bangsa Eropa berhasil membawa sekitar 12,5 juta orang Afrika ke kapal budak Atlantik (dengan intensitas pengiriman sekitar 80,000-100,000 budak pertahun) (Angeles, 2013). Kurang lebih 11 juta orang berhasil mendarat di Amerika, dan yang lainnya meninggal dalam perjalanan. Pengiriman budak ini bagai ‘neraka’ bagi orang Afrika. Bagaimana tidak? Ribuan orang ditampung dalam kapal selama berminggu–minggu, bahkan berbulan–bulan tanpa melihat matahari. Yang dipikirkan bangsa Eropa saat itu adalah bagaimana caranya agar membawa budak sebanyak mungkin masuk kedalam kapal.

Hasilnya, para budak ditempatkan berjubel di bawah geladak kapal. Semua aktivitas mereka dilakukan di situ. Tidak adanya sanitasi yang layak menyebabkan banyaknya bibit penyakit yang tumbuh dan tak jarang menyebabkan kematian. Bagi mereka yang meninggal, mayatnya akan berakhir dibuang ke laut. Tidak hanya sampai di situ, untuk para budak yang masih bertahan, juga mendapat perlakuan yang tidak manusiawi, banyak siksaan yang mereka dapat. Anak–anak dan wanita menjadi sasaran pelecehan, banyak budak yang kelaparan, dan bagi yang sudah tidak tahan akan keadaan, ia memilih untuk mengakhiri hidupnya. Siksaan tersebut masih berlanjut bahkan setelah mereka sampai di Amerika, mereka dipaksa untuk bekerja ekstra bahkan di luar batas kemampuannya.

Selanjutnya, merupakan tahapan yang terakhir dari rangkaian perdagangan segitiga, yaitu pengiriman hasil perkebunan dunia baru (Amerika) yang dikerjakan oleh para budak (seperti gula, kopi) ke wilayah Eropa untuk dijual (Lewis, 2020). Praktik jual beli budak ini terus berlangsung selama berbad-abad, hingga pada tahun 1807, muncul peraturan pelarangan praktik jual beli budak di Amerika dan Eropa.

Baca Juga  Sejarah Politik Asimilasi Prancis di Afrika

Dampak dari Trans-Atlantic Slavery Trade bagi Afrika

Praktik perbudakan ini nyatanya membawa pengaruh buruk bagi Afrika. Benua ini kehilangan puluhan juta penduduknya. Selain itu, setelah adanya pelarangan jual beli budak, Kerajaan di Afrika mengalami keruntuhan. Hal ini kembali memicu persaingan antarbangsa–bangsa Eropa untuk kembali menancapkan kaki di Afrika. Peperangan banyak berkobar dan menyebabkan ketidakstabilan di Afrika.

Sampai saat ini, dampak dari perdagangan budak ini masih terasa. Praktik ini menjadi salah satu yang berkontribusi terhadap munculnya gerakan rasisme (politik apartheid) di Afrika. Masyarakat menjadi terkotak – kotakkan. Orang– orang Afrika dianggap rendah dan ditempatkan dalam statifikasi sosial di bagian bawah.

.

Penulis: Rahma Candra Wati

Editor: Fastabiqul Hakim

Ilustrasi: Adien Tsaqif