Akhir Kisah Cinta Sang Paduka: Sunan Amangkurat I, Rara Oyi, dan Pangeran Anom

Kisah cinta Sunan Amangkurat I

“Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu bisa berencana menikahi siapa, tapi tak bisa kau rencanakan cintamu untuk siapa”

-Sudjiwo Tedjo-

Wanita dihadirkan ke muka bumi ini tentunya bukan karena kebetulan. Ada suatu maksud dibalik kehadiran sosoknya yang gemulai dan lembut itu. Dan benar adanya, mereka dihadirkan di dunia ini bukan sekedar sebagai wadah bagi kehadiran generasi selanjutnya. Mereka adalah penyejuk hati dan sering kali menjadi pengganti laki-laki dalam memimpin masyarakat. Tapi sering kali, wanita hanya dianggap seperti benda semata, dicari bila dibutuhkan, dibuang dan dilupakan bila sudah tak dibutuhkan lagi.

Satu kisah sejarah dari sebuah nisan di sudut Yogyakarta yang ingin menuturkan kisah hidupnya kepada teman-teman pembaca setia Sejarahkita. Sebuah nisan yang di dalamnya menyimpan kisah kelam tentang ketidakberdayaan seorang wanita atas kepatriarkian dua orang laki-laki.

Maka izinkanlah saya menuturkan kembali kisah ini yang pernah terjadi sekitar tahun 1600-an. Tentang memori kelam seorang gadis bernama Rara Oyi, yang kisah hidupnya mengiris-iris kemanusiaan di tengah kekuasaan Sunan Amangkurat I yang bergelimang darah.

Kisah ini bermula pasca wafatnya Ratu Mas Malang/ Ratu Wetan, Sunan Amangkurat I menjadi sedemikian sedihnya sehingga ia mengabaikan masalah kerajaan. Setelah pemakaman istrinya, diam-diam ia kembali ke makam tanpa diketahui seorang pun. Begitu kasihnya kepada wanita itu sehingga ia tak dapat menahan diri dan turut membaringkan dirinya ke makam istrinya. (Francois Valentijn. Oud en Nieuw Oost Indien)

Demi mengobati luka lara hatinya itu, akhirnya Sunan Amangkurat I meminta dicarikan gadis yang bisa menggantikan permaisuri tercintanya itu. Sunan Amangkurat I pun kemudian memerintahkan dua mantri kapedhak-nya, Noyotruno dan Yudakarti. Sang Sunan juga memberi petunjuk mereka untuk pergi ke wilayah yang air sumurnya wangi.

“Carilah seorang wanita yang cantik untuk saya jadikan selir. Tetapi ingatlah pesan saya dimana negara yang engkau datangi itu ciumlah air sumber di sana. Jika air sumber yang engkau cium itu berbau harum, ya di sinilah tempatnya wanita cantik, mutiara perempuan.” (Babad Tanah Jawi:188)

Setelah sekian hari mencari, akhirnya pencarian itu pun berakhir di wilayah tepi Kali Mas, Surabaya. Di daerah yang masuk dalam kekuasaan mendiang Pangeran Pekik itu, tinggal seorang mantri yang bernama Ngabehi Mangunjaya. Kebetulan sang mantri memiliki seorang putri namun usianya baru menginjak 11 tahun. Oyi, begitulah Mangunjaya memanggilnya. Meski usianya baru menginjak 11 tahun, namun parasnya begitu memikat hati. Bahkan Noyotruno dan Yudakarti pun terpesona melihatnya. Setelah kedua utusan itu mengutarakan maksud kedatangan mereka kepada Ngabehi Mangunjaya. Akhirnya terjadilah kesepakatan, bahwasanya Ngabehi Mangunjaya bersedia menyerahkan putrinya yang masih belia itu untuk dihadapkan kepada Sunan Amangkurat I.

Baca Juga  Representasi Film Hotel Rwanda terhadap Genosida di Rwanda 1994

Noyotruno dan Yudakarti pun akhirnya membawa Rara Oyi ke hadapan Sunan Amangkurat I. Dan benar saja, Sang Sunan langsung jatuh hati padanya. Akan tetapi Rara Oyi yang kala itu masih berusia 11 tahun dianggap terlalu belia untuk dipinang sebagai istri. Maka Sang Sunan pun memerintahkan Kepala Mantri Kapedhak yakni  Ngabehi Wirareja agar mengurus dan merawat Oyi hingga usianya matang dan siap untuk menjadi istri Sang Sunan.

Di sisi lain sang putra mahkota, R.M. Rahmat/ Pangeran Anom juga tengah dipusingkan dengan pencarian calon pendamping hidupnya. Ia berulang kali gagal dalam memutuskan gadis yang akan dipinangnya Terakhir kali dijodohkan dengan Putri Cirebon, sang pangeran malah khawatir dan takut dengan sifat keras putri tersebut.

Pada suatu waktu, pasca rencana perjodohannya gagal, Pangeran Anom secara kebetulan mampir ke kediaman Ngabehi Wirareja. Namun tak disangka saat sang pangeran memasuki kediaman Ngabehi Wirareja, ia tak sengaja melihat Rara Oyi yang sedang membatik bersama istri dari Ngabehi Wirareja. Melihat Pangeran Anom, gadis itu pun lari tersipu malu menuju kamarnya. Meskipun hanya melihat sebentar saja, namun gadis misterius itu telah membuat hati Pangeran Anom berdebar-debar, jatuh cinta pada pandangan pertama tepatnya. Gadis itu sangat sesuai dengan kriteria gadis yang dicari dan diidam-idamkannya.

Segera ia bertanya kepada Ngabehi Wirareja, siapa gerangan gadis yang tadi membatik itu? Wirareja kemudian menerangkan siapa gadis tersebut kepada Pangeran Anom. Gadis tersebut adalah calon istri ayahandanya dan dirinya hanya diberi titah untuk mengurus dan menjaganya sampai usianya matang dan siap untuk dijadikan istri ayahandanya. Mendengar penjelasan Wirareja tersebut, bak disambar petir, Pangeran Anom kagetnya bukan main dan jiwanya benar-benar terguncang mendengar hal tersebut.

Baca Juga  Sejarah Berdirinya Negara Islam Pakistan

Sekembali dari kediaman Wirareja, Pangeran Anom pun jatuh sakit, ia mengurung diri di kamar dan mogok makan. Melihat cucu kesayangannya dirundung sendu, Pangeran Purbaya pun berusaha menghiburnya. Namun tetap saja Pangeran Anom tetap mengurung diri di kamar dan tidak mau makan. Khawatir dengan kondisi Pangeran Anom, Pangeran Purbaya pun berujar bahwa ia akan mengabulkan segala permintaan Pangeran Anom asalkan ia bersedia untuk makan. Mendengar hal tersebut Pangeran Anom pun mengajukan permintaannya bahwa ia akan makan apabila sang kakek berhasil membawa gadis pujaannya yakni Rara Oyi ke hadapannya.

Mendengar permintaan cucunya, Pangeran Purbaya bimbang mengingat gadis yang diinginkan cucunya itu adalah calon istri dari keponakannya, Sunan Amangkurat I. Namun apabila tak dituruti maka ia khawatir kondisi cucunya akan memburuk. Setelah menimbang-nimbang, demi kondisi cucunya membaik akhirnya Pangeran Purbaya pun memutuskan untuk menuruti permintaan cucunya, walaupun ia sadar bahwa risikonya sangat besar.

Bersama istrinya, akhirnya Pangeran Purbaya pergi ke kediaman Ngabehi Wirareja untuk meminta agar Rara Oyi diserahkan kepadanya. Wirareja tentu saja menolak permintaan tersebut karena ia takut Sunan Amangkurat I akan sangat murka kepadanya. Namun setelah dibujuk dengan barang-barang mewah oleh Pangeran Purbaya, Ngabehi Wirareja pun akhirnya menyetujuinya. Oyi kemudian diboyong dengan menggunakan tandu menuju ke kediaman cucunya, Pangeran Anom.

Segera setelah sampai di kediaman Pangeran Anom, dipanggillah keluar sang pangeran. Betapa terkejutnya Pangeran Anom, tatkala menemukan Oyi, gadis pujaannya sudah berada di hadapannya. Gairah hidupnya seolah kembali ketika ia benar-benar dipertemukan dengan Oyi. Namun mereka tak sadar bahwa tragedi akan terjadi sebentar lagi.

Dan benar saja, tatkala kabar tersebut sampai ke telinga Sunan Amangkurat I, Sang Sunan begitu murkanya kepada Pangeran Anom, Pangeran Purbaya, Ngabehi Wirareja, serta Rara Oyi. Sang Sunan kemudian memerintahkan pasukannya untuk menangkap mereka berempat. Tak sampai di situ, Sang Sunan juga memerintahkan untuk membakar rumah dan membunuh pengikut mereka. Setelah semua berhasil ditangkap, tiba waktunya menanti hukuman. Pangeran Purbaya beserta keluarganya mendapat hukuman diasingkan ke Lipura. Kemudian Ngabehi Wirareja beserta keluarganya mendapat hukuman diusir ke Ponorogo (namun dalam perjalanan ke Ponorogo tepatnya di Hutan Lodaya, Ngabehi Wirareja beserta keluarganya akhirnya dibunuh).

Baca Juga  Lika-Liku Politik Apartheid di Afrika Selatan (1948-1994)

Sedangkan Pangeran Anom juga dihukum buang ke Lipura dan dicopot dari kedudukannya sebagai putra mahkota. Namun dengan menimbang berbagai hal akhirnya hukuman terhadap Pangeran Anom tidak jadi dilakukan. Sunan Amangkurat I mengampuni Pangeran Anom dan memberi kesempatan untuk menebus segala kesalahannya asalkan sang pangeran bersedia membunuh Rara Oyi dengan tangannya. Mendengar hal tersebut, Pangeran Anom kagetnya bukan main, perasaannya seketika sangat bimbang, di satu sisi ia begitu mencintai Rara Oyi namun disisi lain ia tak mau kehilangan kedudukannya sebagai putra mahkota.

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Pangeran Anom terpaksa menyetujui untuk membunuh Rara Oyi dengan tangannya. Sebelum eksekusi dilakukan, keduanya saling berpelukan mengucapkan salam perpisahan dan tak terasa tumpahlah air mata keduanya. Sambil meneteskan air mata, Pangeran Anom mencabut kerisnya, lalu ditusukkanlah keris tersebut ke tubuh Rara Oyi. Seketika itu pun Rara Oyi meregang nyawa bersimbah darah di pelukan Pangeran Anom.

Namun, kekejaman tak sampai di situ, setelah meregang nyawa, jasad Rara Oyi pun kemudian dikebumikan di Banyusumurup yang mana merupakan makam bagi para penghianat Mataram. Begitu malang nasibmu Rara Oyi, roda kehidupan begitu kejam padamu. Mestinya gadis seusiamu sedang manis-manisnya dalam menikmati hidup, namun rupanya takdir berkata lain. Bahkan ketika sudah meregang nyawa pun jasadmu pun tak dikebumikan secara terhormat dan engkau pun juga dicap sebagai penghianat.

Sampai hari ini bukti kisah kelam Rara Oyi masih dapat kita saksikan di Makam Banyusumurup yang terletak di Dusun Banyusumurup, Desa Girirejo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Demikian akhir kisah cinta yang berujung tragis antara Sunan Amangkurat I, Rara Oyi dan Pangeran Anom, mudah-mudahan teman-teman dapat mengambil hikmah dari kisah ini dan tetap nantikan tulisan-tulisan saya selanjutnya. Matur suwun.

.

Penulis: Almas Hammam Firdaus

Editor: Fastabiqul Hakim