Asal-usul dan Raja-raja Dinasti Syailendra

Dinasti Syailendra

Wangsa Syailendra atau Dinasti Syailendra adalah nama wangsa atau dinasti raja-raja yang berkuasa di Kerajaan Mataram Kuno. Istilah Wangsa Syailendra muncul dalam prasasti-prasasti seperti Prasasti Kalasan, Kelurak, Kayumwungan, Ligor, dan Nalanda.

Wangsa Syailendra merupakan penganut dan pelindung agama Buddha Mahayana. Meskipun peninggalan dan manifestasi Wangsa ini kebanyakan berada di Jawa Tengah, namun karena di luar Jawa terdapat pula beberapa nama Wangsa yang sama artinya dengan Syailendra yaitu raja gunung, maka sempat menimbulkan berbagai teori tentang asal-usulnya.

Berbagai pendapat tentang asal-usul Dinasti Syailendra antara lain:

Wangsa Syailendra Berasal dari India

R. C. Majumdar beranggapan bahwa Wangsa Syailendra di Indonesia, baik yang di Jawa (Kerajaan Mataram) maupun yang di Sumatra (Sriwijaya) berasal dari Kalingga India bagian Selatan. Pendapat yang sama dikemukakan juga oleh Nilakanta Sastri yang mengajukan pendapat bahwa Wangsa Syailendra berasal dari Pandya, India Selatan. Juga J. L. Moens beranggapan bahwa keluarga Syailendra berasal dari India Selatan, yang semula menetap di Palembang, tetapi pada 683 M, keluarga ini melarikan diri ke Jawa karena serangan yang dilakukan oleh Sriwijaya dari semenanjung Melayu.

Wangsa Syailendra Berasal dari Funan

Teori yang mengatakan bahwa Wangsa Syailendra berasal dari Funan diajukan oleh George Coedes. Ia beranggapan bahwa Wangsa Syailendra berasal dari Funan. Menurut pendapatnya ejaan Fu-nan dalam berita Cina berasal dari bahasa Khmer Kuno, vnam atau bnam yang berarti gunung, dalam bahasa Khmer sekarang Phnom. Raja-raja Khmer disebut parvatabhupala, yang berarti raja gunung yang sama dengan istilah Syailendra. Karena terjadi kerusuhan yang mengakibatkan runtuhnya kerajaan Funan, kemudian keluarga kerajaan ini menyingkir ke Jawa dan muncul sebagai penguasa Jawa pada pertengahan abad VIII dengan menggunakan nama keluarga Syailendra.

Baca Juga  Representasi Film Hotel Rwanda terhadap Genosida di Rwanda 1994

Wangsa Syailendra Berasal dari Indonesia

Pendapat ini dikemukakan oleh Poerbatjaraka, menurutnya bahwa raja-raja di Jawa Tengah merupakan keturunan Wangsa Syailendra yang asli Indonesia, yang semula menganut agama Syiwa, tetapi Rakai Penangkaran berpindah agama menjadi penganut agama Buddha Mahayana. Pendapat ini didasarkan atas Carita Parahyangan yang memuat keterangan bahwa Rahyang Sanjaya telah menganjurkan anaknya Rahyangta Panaraban atau Rahyang Tamperan untuk meninggalkan agama yang dianutnya, karena ditakuti oleh semua orang. Nama Rahyang Panaraban oleh Poerbatjaraka diidentikkan dengan Rakai Penangkaran.

Raja-raja Dinasti Syailendra

Urutan silsilah raja-raja yang berkuasa pada Dinasti Syailendra menurut sumber-sumber prasasti yang ditemukan sebagai berikut:

1. Bhanu (752-775 M)

Raja Bhanu merupakan raja pertama sekaligus pendiri Dinasti Syailendra. Nama Raja Bhanu terdapat pada Prasasti Hampran yang isinya menyebut tentang pemberian tanah di Desa Hampran oleh orang yang bernama Bhanu demi kebaktiannya terhadap sang Buddha dengan persetujuan Sang Siddhadewi.

2. Wisnu (775-782 M)

Pada Prasasti Ligor disebutkan nama Raja Wisnu Sarvarimadavimathana (pembunuh musuh-musuh yang sombong tiada bersisa) serta istilah Sailendrawamsa.

3. Indra (782-812 M)

Di masa pemerintahan Indra, beliau membuat sebuah prasasti bernama Klurak yang bertuliskan angka tahun 782 M yang letaknya di daerah Prambanan. Dinasti bergerak dalam sistem politik ekspansi pada masa pemerintahan ini. Perluasan wilayah yang dilakukan pemerintahan indra bertujuan untuk menguasai daerah di sekitar Selat Malaka. Kemudian, yang memperkukuh pengaruh kekuasaan Syailendra kepada Sriwijaya adalah sebab Raja Indra menjalankan perkawinan politik. Raja Indra mengawinkan putranya yang bernama Samarattungga dengan putri dari Raja Sriwijaya.

4. Samarattungga (812-833 M)

Raja Samarattungga berperan menjadi pengatur segala dimensi kehidupan rakyatnya. Sebagai raja Mataram Budha, Samarattungga sangat menghayati nilai agama dan budaya. Pada masa pemerintahannya Candi Borobudur selesai dibangun. Nama Samarattungga terdapat dalam Prasasti Kayumwungan, dalam prasasti itu disebutkan bahwa, Samarattungga memiliki seorang putri bernama Pramudawardani yang meresmikan sebuah jinalaya yang sangat indah. Prasasti ini dianggap berhubungan dengan pembangunan Candi Borobudur.

Baca Juga  Sejarah Singkat Berdirinya Kerajaan Cirebon

5. Pramudawardani (833-856 M)

Pramudawardani merupakan putri dari Samarattungga yang terkenal sangat cerdas dan cantik. Beliau memiliki gelar Sri Kaluhunan, yang berarti seorang sekar keraton yang menjadi tumpuan harapan untuk rakyat, gelar Sri Kalihunan juga terdapat pada Prasasti Tri I Tepussan (842 M) yang berisi tentang penetapan Desa Tri I Tpussan menjadi sima bagi kamulan di Bhumishambara atas perintah Sri Kaluhunan. Pramudawardani kelak menjadi permaisuri untuk Raja Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya

6. Balaputradewa (856-850 M)

Balaputeradewa merupakan putra dari Raja Samarattungga dengan ibunya yang bernama Dewi Tara, Putri dari raja Sriwijaya. Menurut Prasasti Ratu Boko, tertera bahwa terjadi perebutan takhta kepemimpinan kerajaan oleh Rakai Pikatan suami Pramudawardani. Belaputradewa merasa lebih berhak mendapatkan takhta itu sebab beliau adalah anak laki-laki berdarah Syailendra dan tidak setuju terhadap takhta yang diberikan Rakai Pikatan yang merupakan keturunan Sanjaya. Dalam perang saudara tersebut Balaputradewa mengalami kekalahan dan melarikan diri ke Palembang.

Referensi:

Suwardono. (2013). Sejarah Indonesia Masa Hindu-Buddha. Yogyakarta: Ombak.