Belanda Hitam Berlayar ke Jawa (1831-1872)

belanda hitam

Angkatan Militer Hindia Belanda

Pasca berakhirnya Perang Jawa (1825-1830), lebih dari 45% pasukan Eropa yang dikirim untuk memadamkan pemberontakan Diponegoro tewas. Banyaknya korban dari tentara Eropa tidak hanya diakibatkan peluru, kondisi alam tropis amatlah mematikan bagi orang–orang Eropa. Kualitas tentara yang ada di Hindia Belanda juga dapat diragukan, karena berkarir militer di negara jajahan bukanlah sesuatu yang dianggap cemerlang. Oleh karena itu para tentara di Hindia Belanda pastilah orang yang berkarir demi bayaran semata maupun para desersi yang dihukum.

Kondisi ini diperparah dengan diadakannya pemisahan resmi antara Angkatan Darat Belanda dengan Tentara Kolonial Hindia Belanda. Otomatis Gubernur Jenderal yang saat itu dijabat Johannes van den Bosch mengepalai tentara kolonial. Tentara kolonial tidak lagi berada di bawah Kementerian Urusan Perang melainkan Kementerian Daerah Jajahan. Baru pada 1839 dibentuk Koninklijk Nederlands-Oost Indisch Leger, yang satu abad kemudian dikenal luas dengan singkatan KNIL (M.P. Bossenbroek, 1986: 97).

Perubahan status ini membuat Gubernur Jenderal harus mandiri dalam melakukan aksi militer di Hindia Belanda. Den Haag memberikan persetujuan untuk merekrut para serdadu Negro. Mereka dipilih karena tahan penyakit dan prima di iklim tropis. Mereka harus waspada menghindari anggapan perdagangan budak serta menghormati Inggris untuk menjaga hubungan diplomatik.

Berangkat ke Jawa

Pada 6 Desember 1831 Syahbandar di Elmina, Last menyambut kedatangan kapal Rotterdam Welvaren yang hendak menjemput 50 rekrutan ke Jawa. Untuk menggaet rekrutan Belanda menawarkan empat galon rum dan sehelai katun. Lalu gaji sesuai dengan jenjang dan jaminan hidup selama di Hindia Belanda yang disediakan negara. Kesalahan besar terjadi karena kultur orang Afrika yang tidak bisa hidup jauh dari tanah kelahirannya. Sehingga berbagai tawaran yang ada tidak menarik para pemuda.

17 Desember 1831, kapal berangkat dengan hanya 18 rekrutan yang bersedia berangkat. Last mulai putus asa dan mengirim Jacob Simons ke Kumasi, ibukota Kerajaan Ashanti. Setelah berminggu-minggu sang raja baru menemui Simons dan mengatakan bahwa ia menghormati Belanda, namun ia masih ingin berhubungan dagang dengan Inggris yang melarang perdagangan budak. Last pasrah melihat ketiga kapal yang berangkat hanya terisi separuh. Sementara itu Gubernur Van den Bosch di Batavia terkejut dengan tingginya biaya yang harus dikeluarkan tidak sebanding dengan jumlah personil yang datang.

Baca Juga  Solusi Airlangga untuk Menghindari Perang Saudara

Kembali ke Perbudakan

Syahbandar Lans pengganti Syahbandar Last mulai melanjutkan program ini, namun dengan cara yang lebih keras. Raja Ashanti yang beralasan tidak memiliki orang untuk diserahkan kepada Belanda, justru mengorbankan 3000 orang tiap tahun untuk upacara adat. Lans menyimpulkan bahwa Inggris sengaja menghambat upaya Belanda. Lans lantas mengambil keputusan untuk langsung membeli budak di pedalaman Afrika. Perjanjian seputar perbudakan antara Inggris-Belanda ditabraknya, karena Inggris dianggap mengganggu terlebih dahulu (Inneke van Kessel, 2011: 50).

Para budak diberi uang untuk membayar majikan mereka, selanjutnya budak yang bebas akan dikirim ke Jawa untuk dinas militer. Lans yang mendapat keuntungan pribadi dari praktik ini lantas menyuruh para bawahannya untuk melakukan hal yang sama. Keuntungan Lans sangat besar dalam proses pembelian budak ini (Inneke van Kessel, 2011: 51).

Oktober 1936, dalam catatannya Lans menulis “Saya mendapatkan tawaran membeli tenaga manusia dari berbagai pihak dan juga kepentingan sang majikan”. Para pemilik budak mulai melirik Lans dan memberikan budaknya untuk diberangkatkan ke Jawa. Tidak hanya itu, para kepala suku juga dengan terbuka menjual budaknya. Sementara itu biaya hidup para budak menjadi tanggungan dari KNIL.

Cara ini menimbulkan kecaman dari banyak pihak, namun dalam sisi lain terbukti lebih efisien. Selain itu Raja Ashanti juga mengirim protes karena Lans melanggar perjanjian seputar hadiah perak dan 6000 pucuk senjata. Lans meminta ganti emas atau budak untuk perak dan senjata yang diberikan, namun Raja Ashanti berpikir bahwa perak adalah hadiah untuknya.

Pada 11 Mei 1836, Kerajaan Belanda mengeluarkan keputusan, Raja Willem I menginginkan perekrutan serdadu Negro dalam jumlah lebih besar. Mayor Jenderal Jan Verveer diutus untuk berunding dengan Kerajaan Ashanti. Targetnya adalah 2000 serdadu tiap tahunya dan terus bertambah. Verveer diperkenankan menyusun misinya sendiri tanpa perlu persetujuan dari Den Haag. Verveer lantas menyusun syarat rekrut untuk diserahkan kepada Raja Ashanti.

Baca Juga  Dampak Peristiwa Balibo Five terhadap Hubungan Bilateral Australia dan Indonesia

Rekrut berusia antara 17-22 tahun, tidak memiliki cacat tubuh dan memiliki tinggi minimal 1,57 m. Para rekrutan diusahakan orang Ashanti yang terlahir merdeka. Apabila terdapat budak, segera dibebaskan sesuai adat daerahnya baru masuk dinas militer. Lantas mereka akan menandatangani kontrak 15 tahun. Semua tunjangan dan rincian sehari–hari lainya akan setara dengan serdadu Eropa.

Inggris tidak tinggal diam mengetahui manuver dari Belanda. Mereka mengirimkan nota protes tentang perbudakan yang nyatanya masih dilakukan. Verveer pun mengelak dengan menyatakan bahwa para rekrutmen akan memperoleh balasan yang setimpal. Untuk menghindari konflik dengan Inggris, pada 1850 perekrutan dihentikan. Namun pada 1855, rekrutmen kembali dilakukan yang tentu mengandalkan pembelian budak.

Usaha Verveer tidak hanya mendapat halangan dari luar, tetapi dari dalam pula. Raja Ashanti enggan melepas para budak Ashanti dan menggantinya dengan para Donko dari pedalaman. Bahkan dalam waktu 16 bulan raja hanya mengirimkan 75 orang, jauh dari kesepakatan 1000 orang per tahun. Akibatnya kualitas rekrutmen yang dikirim sangatlah rendah dan tidak sesuai standar.

 

Berdinas di Hindia Belanda

Kedatangan orang Negro di Jawa membuat hierarki kemiliteran berubah. Pada posisi teratas terdapat serdadu Eropa, lalu Negro, Ambon, dan terakhir serdadu Jawa. Nama dan kedudukan yang mirip dengan orang Eropa membuat para Negro mendapat julukan Londo Ireng yang berarti ‘Belanda Hitam’. Ironisnya, banyak dari orang Negro tidak bisa menyesuaikan perilaku layaknya serdadu Eropa. Tidak kenal takut, tidak punya lelah, dan perkasa dalam iklim tropis merupakan harapan tinggi yang tersemat pada serdadu Negro.

Terdapat dua kondisi umum yang dijumpai di antara para serdadu Negro. Pertama mereka yang masih hijau di Jawa tidak dapat mengikuti gaya hidup serdadu. Kedua bagi yang sudah akrab dengan orang Eropa akan terus menuntut hak dan persamaan nasib yang dijanjikan pada awal. Puncaknya dalam kurun waktu 1838-1840 terjadi pemberontakan serdadu Negro di Batavia, Surabaya, Padang, Semarang, dan Purworejo.

Kiprah para serdadu Negro dimulai pada 1832 ketika perang Lampung pecah. Sebanyak 44 orang dari gelombang pertama turut berperang melawan pemberontak Bantam yang berhubungan dengan perang Jawa. Beberapa orang di antaranya menjadi korban dalam perang ini. Setelah dua tahun bertempur, para pemberontak akhirnya dapat dikalahkan.

Baca Juga  Kegagalan Kubilai Khan dalam Menaklukkan Jawa Tahun 1293

Perang serdadu Negro selanjutnya adalah perang Padri. Pada 1835 mereka mulai turut berperang bersama serdadu Eropa dan Bugis. Masalah kedisiplinan dan pengalaman kembali muncul, namun kisah heroik serdadu Negro bermunculan. Pada 1838 orang-orang Padri mulai menunjukkan tanda kekalahan. Pujian untuk para serdadu Negro pun diutarakan para perwira Eropa (Inneke van Kessel, 2011: 141).

Berselang lama, Bali menjadi medan perang serdadu Negro. Pada ekspedisi pertama, tercatat dari 3700 serdadu, 1250 di antaranya adalah serdadu Negro. Ekspedisi kedua diikuti 50 orang diwarnai dengan insiden yang menyebabkan citra serdadu Negro tercoreng. Barulah pada ekspedisi ketiga citra mereka kembali pulih setelah mendapat pujian akibat keberanian dalam medan perang.

Kawasan timur Hindia Belanda juga pernah menjadi tempat tugas serdadu Negro. 60 orang serdadu turut berpartisipasi di Timor pada 1857. Dua tahun kemudian satu kompi Negro diturunkan untuk mengganti pasukan yang sakit di Sulawesi, mereka dilaporkan sangat tangguh dari penyakit. Karena ketangguhan mereka pada 1862, lima puluh orang dikirim ke Banjarmasin untuk ekspedisi (Inneke van Kessel, 2011: 147).

Perang terakhir dan terbesar yang dilakukan serdadu Negro ialah Perang Aceh. Mereka mulai turun dalam ekspedisi kedua (1874) setelah ekspedisi pertama gagal dan Belanda kalah karena buta arah. Pada ekspedisi ini hampir sepertiga dari jumlah mereka tewas karena kolera dan penyakit lainnya. Medan Aceh membalik semua anggapan bahwa serdadu Negro kebal penyakit.

Orang Aceh juga sangat segan dengan serdadu Negro, mereka tidak takut dengan serdadu Eropa dan Jawa. Pujian tentang keberanian juga mengalir kepada mereka. Tugas yang diemban serdadu Negro juga lebih bervariatif dibanding pasukan lainnya. Selanjutnya jumlah serdadu Negro terus menurun dan pada awal abad 20 perlahan hilang (Nino Oktorino, 2018: 29).

.

Penulis: Nogo Gading Sasongko

Editor: Fastabiqul Hakim