Biografi Christian Snouck Hurgronje, Tokoh Orientalis Asal Belanda

Biografi Christian Snouck Hurgronje

Nama lengkap Snouck Hurgronje adalah Willian Cristian Snouck Hurgronje.

Ia lahir di Oosterhoud Belanda pada 8 Februari 1857 dan merupakan anak keempat dari hasil perkawinan Pendeta JJ. Snouck Hurgronje dan Annamaria yang juga putri seorang pendeta.

Van Koningsveld menceritakan bahwa perkawinan kedua orang tua Snouck tersebut didahului oleh suatu skandal hubungan gelap, sehinga mereka dipecat dari Gereja Herford di Thalthen (Zeeland) (Koinigsvald, 1989).

Kisah tak sedap tersebut ternyata telah mendorong kedua orang tua Snouck untuk mempersiapkan anaknya menjadi seorang pendeta.

Hal ini diyakini sebagai penebus kesalahan masa lalu yang telah diperbuat oleh kedua orangtuanya.

Namun Snouck muda yang cemerlang itu, ternyata lebih tertarik mempelajari sastra semit hingga akhirnya ia masuk Universitas Leiden pada tahun 1875 di usia 18 tahun.

Snouck mendalami studi dalam bidang ilmu budaya di Universitas Leiden.

Sebagai seorang ilmuan, Snouck banyak dipengaruhi oleh “modernis Leiden”, yaitu para ilmuan Leiden yang menganggap bahwa agama hanyalah sekedar kesadaran etis yang ada pada setiap manusia dan memandang bahwa dunia Barat memiliki superioritas terhadap dunia Timur. Dalam sejarah Indonesia, Snouck lebih dikenal sebagai “Arsitek Pelumpuhan Islam”.

Riwayat Pendidikan dan Karir Snouck Hurgronje

Snouck Hurgronje merupakan seorang orintalis yang berkebangsaan Belanda.

Ia ahli dalam agama islam, ahli Bahasa dan kebudayaan , ahli dalam Bahasa arab, selain itu ia merupakan penasihat dalam masalah keislaman saat pemerintahan Hindia.

Dalam mempelajari Bahasa Latin dan Yunani, Snouck Hurgronje mengenyam pendidikannya di sekolah lanjutan H.B.S Breda.

Pada tahun 1875 dalam usia 18 tahun, ia mulai masuk pada Universitas Leiden di Fakultas Teologi, setelah itu ia pindah ke Fakultas Sastra jurusan Bahasa Arab.

Baca Juga  Kyai Raden Santri: Jalan Dakwah Sang Pangeran

Pada Tahun 1880, ia meraih gelar doctor sastra arab dengan hasil yang memuaskan, ia menulis disertasi mengenai Het Mekkaansche feest (perayaan di Makkah).

Setelah meraih gelar doctor, di Leiden Snouck mengajar pada Pendidikan khusus calon pegawai untuk Hindia Belanda (Indolgie).

Pada Tahun 1885, ia pergi ke Mekkah untuk memperdalam pengetahuan Bahasa arabnya selama sekitar 6 bulan (Februari-Agustus 1885).

Setelah itu, ia kembali ke Leiden dan mengajar di Universitas Leiden.

Pada tahun 1884, Snouck Hurgronje tinggal di Jeddah selama kurang lebih 5 bulan, kemudian pindah  dan tinggal di Makkah selama 7 bulan dengan tujuan membahas masalah Islam dengan para ulama sekaligus melihat buku dan naskah-naskah yang ada di Makkah.

Pada tahun 1885, ia menyatakan diri menjadi Islam dan merubah Namanya menjadi Abdul Gaffar di depan Qadi Jeddah yang disaksikan oleh dua orang.

Setelah muallaf, ia tinggal Bersama dengan salah satu rakyat Aceh yang bernama Aboebakar Djajadiningrat.

Namun, ia mengatakan kepada Theodor Noldeke bahwa ia melakukan idhar al-Islam, atau bersikap islam sebatas lahiriah saja dengan tujuan menipu orang Indonesia agar mendapatkan informasi .

Setelah dari Makkah, ia ke kota Leiden untuk mengajar.

Pada tahun 1887, ia meminta izin pada Pemerintah Belanda untuk pergi ke Hindia Belanda, untuk lebih lanjut menelaah agama Islam selama dua tahun.

Pada tahun 1889, Snouck Hurgronje melakukan perjalanan ke Indonesia, tepatnya pada kota Penang, dengan maksud ke pedalaman Aceh dengan tujuan mengumpulkan informasi-informasi militer dan strategi untuk membantu perang di Aceh.

Namun ternyata pihak militer kolonial Belanda di Aceh tidak setuju dengan strategi menyusup , karena dikhawatirkan akan keselamatannya.

Karena tidak disetujui, akhirnya Snouck kembali ke Batavia dan sampai tujuan pada 11 Mei 1889.

Baca Juga  Raja Ali Haji: dari Melayu untuk Persatuan Indonesia

Pada tanggal 16 Mei 1889, Gubernur Jenderal mengangkat Snouck sebagai petugas peneliti Indonesia selama dua tahun, dan ia menetap di Batavia untuk meneliti islam di daerah Jawa.

Selain itu, Snouck juga diangkat menjadi penasehat bahasa-bahasa Timur dan hukum Islam. Pada tanggal 9 Juli, ia menetap di Aceh, tepatnya di Kutaraja.

Setelah hamper setahun berada di Aceh, pada 4 Februari 1892 Snouck kembali ke Batavia. Antara tahun 1898 sampai 1903 Snouck Hurgronje sering pergi ke Aceh untuk membantu Van Heustz.

Snouck juga menjabat sebagai penasehat urusan Pribumi dan Arab pada tanggal 11 Januari 1899.

Tak hanya itu, ia juga diangkat menjadi guru besar di Universitas Leiden sekaligus menjadi Penasehat Menteri Jajahan. Jabatan tersebut bertahan hingga Snouck menghembuskan nafas terakhirnya pada usia 79 tahun.

Snouck memang terkenal dalam bidang politik, ia juga yang merumuskan “politik Islam”.

Selain itu, Snouck juga dikenal sebagai sosok orientalistik dan politikus kolonialis yang produktif. Dari hal tersebut, mampu kita beri kesimpulan bahwa Snouck memiliki karir yang sangat mengagumkan, terbukti ia juga selalu dipertahankan oleh pemerintah kolonial Belanda.

Karya-karya Christian Snouck Hurgronje

Karya ilmiah Snouck Hurgronje terbagi dalam dua jenis, yaitu karya dalam bentuk buku dan dalam bentuk makalah-makalah kecil.

Di antara hasil besarnya adalah tulisannya tentang kota makkah yang terbit pada tahun 1888 dan 1889. Karya yang lain berjudaul De Atjeher (1893, 1894), Daerah Gayo dan penduduknya (1903).  

Sementara karyanya yang berbentuk makalah adalah Munculnya Islam, Perkembangan Politik Islam, Islam dan Pemikiran Modern.

Semua makalahnya itu telah dikumpulkan oleh muridnya yang bernama A. J. Wensinck dengan judul Bungan Rampai dari tulisan  Snouck Hurgronje kedalam enam jilid.

Baca Juga  Biografi Abraham Maslow, Bapak Psikologi Humanistik

Referensi:

Badawi, Abdurrahman. 2003. Mausu’ah al-mustasyrikin. Ter. Ensiklopedi Tokoh Orientalis oleh Amroeni Drajad. Yogyakarta: Lkis Yogyakarta. Hal.185-186.

Khuluq, Lathiful. 2002. Strategi Belanda Melumpuhkan Islam:  Biografi C. Snouck Hurgronje. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. hlm. 12.