Biografi Syekh Siti Jenar

Syekh Siti Jenar
Gambar (Istimewa)

Syekh Siti Jenar adalah tokoh yang mengajarkan suatu ajaran tauhid al-wujud dalam tradisi Jawa. Sejarah hidup Syekh Siti Jenar sangat sulit dilacak dan dipenuhi banyak mitos. Salah satu pendapat mengatakan bahwa Syekh Siti Jenar berasal dari cacing tanah yang diubah Sunan Bonang menjadi sosok seorang manusia laki-laki (Wahyudi: 2004).

Jika dilihat arti dari nama Syekh Siti Jenar yaitu Siti yang berarti tanah sedangkan Jenar berarti merah. Pendapat lain menyebutkan bahwa ia bukanlah seorang yang berasal dari Jawa asli namun berasal dari Malaka.

Kemudian muncul versi lain yang mengatakan bahwa ia berasal dari Persia  Kemudian muncul versi yang baru lagi, yang ,mengatakan bahwa Syekh Siti Jenar adalah anak dari raja-pendeta di wilayah Cirebon  yang memiliki nama asli Ali Hasan.

Bahkan ia mampu mempraktikan semua ilmunya (Chodjim, 2005). Muncul pendapat lagi bahwa Syekh Siti Jenar adalah tokoh fiktif untuk membendung arus dari faham Syi’ah termasuk sekte Wahdatul wujud.

Namun pendapat lain menerangkan bahwa Syekh Siti Jenar bukanlah tokoh fiktif buktinya masih banyak masyarakat yang menganut ajaranya secara diam-diam seperti di Cirebon, Jawa Tengah, Jawa Timur (Agus).

Dari semua pendapat memang sejarah Syekh Siti jenar sangat rumit dan sulit untuk menafsirkanya.

Ketika Syekh Siti Jenar masih kecil, ia diasuh oleh Ki Danusela. Syekh Siti Jenar saat berumur 5 tahun, ia tumbuh di pesantren Giri Amparan Jati.

Jenar di sana mempelajari tentang ilmu-ilmu Al-quran, dan pada usia 8 tahun ia sudah mampu menghafalkan Al-Quran. Menurut lliteratur buku menyebutkan bahwa Syekh Siti Jenar adalah kakak kelas dari Sunan Gunung Jati (Afifi, 2016).

Ia juga belajar di berbagai tempat yaitu Padjajaran disana Jenar belajar tentang kitab Catur Viphala yang merupakan kitab warisan dari Kertawijaya dari kerajaan Majapahit.

Baca Juga  Menelisik Eksistensi dan Sejarah Perkembangan Islam di Negeri Kanguru

Kemudian ia belajar di Palembang untuk mempelajari hakikat ketunggalan alam semesta.

Lalu daerah Malaka yang menjadi tujuan selanjutnya, di sana Jenar mulai tertarik dengan bisnis dan mulai melakukan perdagangan.

Daerah selajutnya adalah Bagdad, belajar agama dari guru syi’ah, sufi, dan mu’tazilah dan Jenar juga memperdalam ajaran Sufi.

Tempat tujuan terakhir adalah Mekkah yaitu ia ingin melangsungkan ibadah haji (Sidqi, 2017).

Bagi Pengikutnya Syekh Siti Jenar dianggap sebagai wali yang memiliki kedekatan dengan Allah dan menerima karunia-Nya. Namun dipandangan yang bukan pengikutnya dianganggap sebagai wali yang murtad karena ia mengjarkan dan menyebarkan suatu ajaran sesat dan keluar dari isalam. Pandangannya sangat bersimpangan dengan wali songgo (Utomo, 2006).

Ada pendapat yang menyebutkan tahun kematian Syekh Siti Jenar yaitu pada tahun setelah  1527 Masehi, peristiwa tersebut ditandai dengan takhluknya Kerajaan Rajagaluh, Dermayu, Galuh Pakuan, dan Telaga di Bumi Pasundan,dan runtuhnya Majapahit karena serbuan pasukan Kudus dan Giri namun setelah tahun 1527 Wali Songgo sudah meninggal dunia sehingga terjadi kerancuan kronologis (Suntoyo, 2004).

Dari beberapa pendapat menyebutkan jika kematian Syekh Siti Jenar memiliki kemiripan dengan sufi Al-Hallaj, yaitu dengan pancung.

Siti Jenar dijatuhi hukuman mati oleh wali Songo dan ada yang berpendapat bahwa darah yang mengalir dari tubuh Syekh Siti Jenar berbau harum dan darah tersebut membentuk sebuah tulisan laa ilaha illa Allah Muhammad Rasul Allah (Rahimsyah, 2006).

Namun pendapat lain menjelaskan bahwa kematiannya tidak melalui pacung namun ia memilik kematiannya sendiri.

Penulis: Aditya Muhammad, Agustina Dwi, & Desy Fitria