krisis fashoda

Krisis Fashoda: Puncak Sengketa antara Inggris dan Prancis di Afrika (1898)

Ketika ekspedisi Inggris tiba di Fashoda, Lord Kitchener melihat ada bendera Prancis dikibarkan di wilayah Fashoda. Ketegangan antara kedua pemimpin tersebut tidak dapat dihindari, Kitchener mengatakan bahwa pengibaran bendera Prancis di tanah Fashoda merupakan suatu tindakan pelecehan. Namun, pernyataan itu dibalas Marchand sebagai bentuk tunduk kepada pimpinan pemerintahnya yang dia harus menguasai wilayah Bahr-el-Ghazal dan Fashoda. Pertemuan kedua pemimpin ini tidak menemukan titik terang sehingga Kitchener memberikan usul agar masalah-masalah di Fashoda diselesaikan melalui pemerintahan Inggris dan Prancis.
belanda hitam

Belanda Hitam Berlayar ke Jawa (1831-1872)

Kedatangan orang Negro di Jawa membuat hierarki kemiliteran berubah. Pada posisi teratas terdapat serdadu Eropa, lalu Negro, Ambon, dan terakhir serdadu Jawa. Nama dan kedudukan yang mirip dengan orang Eropa membuat para Negro mendapat julukan Londo Ireng yang berarti ‘Belanda Hitam’. Ironisnya, banyak dari orang Negro tidak bisa menyesuaikan perilaku layaknya serdadu Eropa. Tidak kenal takut, tidak punya lelah, dan perkasa dalam iklim tropis merupakan harapan tinggi yang tersemat pada serdadu Negro.
kebudayaan masyarakat mesir kuno

Keadaan Sosial Budaya Masyarakat di Sekitar Sungai Nil pada Zaman Mesir Kuno (3400-2475 SM)

Salah satu kebudayaan yang berkembang di sekitar Sungai Nil pada masa Mesir Kuno sekaligus yang terkenal adalah tentang pembuatan mumi (mumifikasi). Pembuatan mumi ini tidak asal mengasal tanpa ada maksudnya, tentu saja ada maksud yang sudah menjadi keinginan masyarakat pada waktu itu. Maksud tersebut memiliki filosofi untuk mempertahankan tubuh yang dipercaya sebagai tempat bagi jiwa mereka setelah kematiannya.
dampak ekonomi terusan suez

Pengaruh Terusan Suez terhadap Perdagangan Dunia Masa Kolonial (1869-1956)

Meskipun lalu lintas kurang dari yang diharapkan selama dua tahun pertama beroperasi, Terusan Suez memiliki dampak besar pada perdagangan dunia dan memainkan peran kunci dalam penjajahan Afrika oleh kekuatan Eropa.
Politik Asimilasi Prancis di Afrika

Sejarah Politik Asimilasi Prancis di Afrika

Tujuan politik asimilasi yang dilakukan oleh Prancis ini tidak lain dan tidak bukan adalah dalam rangka mencapai tujuannya sendiri yaitu menjadikan Afrika sebagai koloninya. Politik ini sebenarnya dilakukan Prancis untuk mengintegerasikan daerah-daerah milik Prancis di seberang lautan. Cara yang dilakukan Prancis dalam mencapai tujuannya itu adalah pelajaran tentang Bahasa Afrika dan kebudayaannya tidak diberikan dalam pendidikan kolonial Prancis
Nasionalisasi Terusan Suez

Dampak Ekonomi Nasionalisasi Terusan Suez oleh Mesir (1956)

Nasionalisasi Terusan Suez yang diumumkan Gamal Abdul Nasser pada 1956 telah dinyatakan dalam Undang Undang Nasionalisasi sehingga secara mutlak Terusan Suez menjadi hak milik Mesir tanpa ada campur tangan dari pihak lain. Nasionalisasi Terusan Suez ini juga merupakan salah satu  strategi Nasser untuk mendapatkan sumber dana dalam pembangunan Bendungan Aswan yang semula akan didanai oleh Amerika Serikat dan Inggris namun batal. Program pembangunan Bendungan Aswan di Sungai Nil ini dibangun pada tahun 1960 dan selesai di tahun 1970.
Perdagangan Budak Atlantik

Afrika dan Perdagangan Budak Atlantik

Perdagangan budak atlantik dimulai sekitar akhir abad ke-15, yaitu saat kedatangan bangsa Portugis di Afrika Barat yang kemudian membentuk sebuah koloni. Pada masa itu, memang bangsa Eropa sedang gencar melakukan penjelajahan samudera. Tujuan penjelajahan ini salah satunya adalah untuk memperluas wilayah kekuasaannya dengan membentuk koloni–koloni di daerah lain.