Dampak Peristiwa Balibo Five terhadap Hubungan Bilateral Australia dan Indonesia

Peristiwa Balibo Five

Dalam Pengantar Ilmu Hubungan Internasional (2005) karya Anak Agung Banyu Perwita dan Yanyan Mochamad Yani, hubungan bilateral merupakan suatu keadaan yang mengambarkan hubngan timbal balik antara kedua belah pihak yang terlibat, di mana tokoh utama dalam pelaksanaan hubungan bilateral tersebut adalah suatu negara. (Lihat: Arum Sutrisni Putri)

Sedangkan hubungan antara Australia dan Indonesia sendiri, sudah terjalin sejak awal kemerdekaan Republik Indonesia. Pada saat bangsa Indonesia masih berjuang melawan Belanda dalam rangka mempertahankan kemerdekaan pasca proklamasi, pihak Australia juga memberikan dukungan kepada Indonesia. (Handoko, 2013: 21)

Dukungan dari Australia seperti, pada masa Agresi Militer I, Australia memberikan nasehat kepada pihak Indonesia agar meminta bantuan langsung kepada Dewan Keamanan PBB. Kemuadian pada masa Agresi Militer II, Australia justru meminta bantuan langsung kepada Dewan Keamanan PBB untuk menghentikan aksi militer Belanda itu. (Siboro, 2012: 129-130)

Hubungan yang awalnya berlangsung baik, kemudian menjadi merenggang ketika Indonesia menuntut wilayah Irian Barat dari kekuasaan Belanda. Pihak Australia kurang setuju dengan tindakan Indonesia itu, sebab Australia menganggap bahwa Irian Barat merupakan benteng pertahan alam mereka.

Lalu pada masa awal pemerintahan Orde Baru, hubungan Australia dan Indonesia mulai membaik dengan ditandai oleh kunjungan Perdana Menteri Gorton ke Indonesia pada tahun 1968 dan kemudian diikuti kunjungan Perdana Menteri penggantinya yaitu, McMahon. Akan tetapi, tidak belangsung lama hubungan Australia dengan Indonesia kembali bersitegang ketika Indonesia melakukan intregasi Timor Timur ke dalam wilayah Indonesia.

Pada tanggal 7 Desember 1975, Tentara Nasional Indonesia dan masyarakat sipil yang dipersenjatai menjalankan operasi militer untuk menguasai Dili (Ibu Kota Timor Timur). Operasi ini disebut dengan Operasi Seroja, di mana sehari setelah operasi dimulai Indonesia telah berhasil menguasai kota Dili. (Arif, 2013: 195)

Baca Juga  Neraka Itu Bernama Dien Bien Phu

Peristiwa Balibo Five

Peristiwa Balibo Five merupakan sebutan untuk lima jurnalis atau wartawan yang meninggal saat bertugas meliput di Timor Timur. Wartawan yang meninggal pada kejadian tersebut adalah Greg Shackleton (29 tahun), Tony Stewart (21 tahun), Gary Cunningham (27 tahun), Brian Peters (24 tahun), dan Malcholm Rennie (29 tahun). (Lihat: Farid, 2013)

Menurut pihak Indonesia, mereka tidak dapat mempertanggungjawabkanya karena koresponden atau wartawan tersebut tidak menggunakan prosedur resmi melalui Jakarta.

Terdapat perbedaan pendapat antara pihak Australia dengan pihak Indonesia mengenai meninggalnya lima wartawan tersebut. Pihak Australia mengatakan bahwa lima wartawan itu sengaja dibunuh oleh tentara Indonesia untuk menutupi serangan Indonesia ke Timor Timur. Berbeda dengan pernyataan pihak Indonesia yang mengatakan bahwa kelima wartawan tersebut terjebak dalam baku tembak antara tentara Indonesia dengan gerilyawan Fretelin. Bahkan hingga saat ini masalah Balibo masih diperdebatkan karena antar kedua negara belum mencapai titik temu.

Dampak Peristiwa Balibo Five terhadap Hubungan Indonesia dan Australia

Peristiwa meninggalnya lima wartawan Australia di Timor Timur ini menambah keruh hubungan Indonesia dengan Austalia. Bahkan peristiwa tersebut menyebabkan Indonesia untuk tidak memperpanjang ijin tinggal dua koreponden Australia Broadcasting Corporation (ABC) yaitu Warwick Butler dan Joe Comman yang akan berakhir tanggal 15 Juli 1980.

Berarti berakhir pula peliputan ABC di Indonesia yang sudah berlangsung selama 20 tahun. Selain itu mulai bermunculan kritikan dari masyarakat Australia yang menganggap bahwa wartawan melakukan hal tersebut karena menyangkut profesinya dan juga mereka merupakan para aktivis HAM yang selalu pempermasalahkan invansi itu.

Maka dapat disimpulkan bahwa hubungan Indonesia dengan Australia tidak selamanya mesra. Di mana hubungan antara kedua negara tersebut begitu rentan dengan konflik dan berbagai gosip.

Baca Juga  Akhir Kisah Cinta Sang Paduka: Sunan Amangkurat I, Rara Oyi, dan Pangeran Anom

Hal itu disebabkan oleh sejarah, tradisi dan budaya politik yang berbeda antar keduanya. Hubungan Indonesia dengan Australia juga dipengaruhi oleh isu-isu yang melibatkan citra kedua negara sehingga menyebabkan terbentuknya persepsi-persepsi yang tidak sesuai dengan kenyataan. Tentunya kedua negara, baik Indonesia maupun Australia telah mencoba melakukan berbagai upaya untuk mengembalikan hubungan bilateral tersebut. (Handoko, 2013: 21)