Dampak VOC bagi Perekonomian di Indonesia

Dampak VOC

Indonesia merupakan negara yang strategis sehingga memiliki koneksi perdagangan yang luas.

Sebelum kedatangan VOC, Nusantara telah memberlakuka sistem perdagangan kapitalisme yang kuat. Tetapi sistem perdagangan tersebut tidak terlepas dari permasalahan politik, sehingga memunculkan sistem kapitalisme birokrat.

Nusantara telah terbentuk kawasan emporium- emporium perdagangan yang mempunyai aktivitas perdagangan yang sangat maju. Kejayaan perdagangan Nusantara telah melejit sejak zaman Sriwijaya.

Setelah kemerosotan Sriwijaya digantikan Kerajaan Pidie dan Samudera Pasai sebagai emporium perdagangan di Sumatra.

Semenanjung Malaka pada abad ke-15 menjadi pusat perdagangan yang maju tidak hanya di kawasan Asia Tenggara namun seluruh Asia, seperti Cina, Siam, Benggala, Persia, Arab, dan Gujarat.

Jawa dan Maluku serta pulau- pulau kecil di sekitarnya juga meraih keuntungan dalam emporium tersebut karena dapat menjajakan barang dagangannya serta mencari dangan mudah barang kebutuhan yang berasal pedagang luar negeri.

Pelaku emporium-emporium besar perdagangan terdiri dari peddlers (penjaja), dan merchant (saudagar) kapitalis. Di wilayah Jawa pasca keruntuhan kerajaan Majapahit terbentuk kota- kota bandar enterpot yang sangat maju seperti Tuban, Gresik, Sedayu, Cirebon, dan Sunda Kelapa,Banten menjadi emporium perdagangan terbesar di Jawa.

Kedatangan bangsa- bangsa Eropa terutama bangsa Belanda yang dijalankan badan usahanya Vereenigde Oost- Indische Compagnie (VOC) membawa berdampak besar terhadap sistem perekonomian di Indonesia.

VOC memberlakukan sistem monopoli yang didukung dengan kecanggihan militer serta strategi birokrasi yang cerdas berdampak pada kehancuran sistem perekonomian Indonesia.

Dalam melakukan monopoli, kekuasaan VOC mengambil langkah penguasaan birokrasi terlebih dahulu setelah itu penguasaan berlanjut pada sistem perekonomian. Dalam menjalankan misinya VOC menggunakan politik adu domba dan kekuatan militer.

Tujuan utama VOC menguasai nusantara untuk memperoleh kekuasaan mutlak  dalam hubugan antar pedagang- pedagang asia (inter Asean trade and shiping).

Pendudukan VOC di Indonesia berhadapan dengan emporium- emporium besar seperti Makasar, Aceh, Banten, dan Malaka dengan koneksi perdagangan internasional dengan sistem terbuka.

Baca Juga  Kelebihan dan Kekurangan Sistem Perdagangan VOC

Peraturan perdagangan mulai dari proses jual- beli, penawaran, dan penentuan harga mengikuti prosedur pasar bebas.

Dalam menjalankan politik monopoli VOC memberlakukan sistem yang bertentangan dengan sistem yang berlaku di Indonesia dan hukum internasional.

Pertama wilayah Nusantara yang ditaklukan VOC adalah Ambon, VOC melakukan monopoli rempah- rempah dan pakaian. VOC tidak menguasai sistem keuangan menjadi penyebab gagalnya memutus hubungan perdagangan Maluku dan beberapa daerah perdagangan  di Nusantara dengan portugis dan bangsa- bangsa mancanegara.

Untuk mengatasi kondisi tersebut VOC mulai menggunakan kekerasan dengan menebangi pala, cengkeh dan rempah- rempah di Maluku sehingga memusatkan pembudidayaan renpah- rempah di Ambon. VOC menutup akses pengangkutan kapal- kapal ekspor komoditi pribumi.

Barang- barang yang masuk ataupun keluar dari Nusantara tanpa melewati VOC dianggap sebagai aktivitas penyelundupan.

Dampak dari kebijakan VOC yang terlalu memonopoli dan memaksa tersebut membuat pedagang- pedagang manca negara mencari jalur lain yang tidak melewati Indonesia bagian timur seperti Maluku.

Hal tersebut mengakibatkan perpindahan pusat- pusat perdagangan ke wilayah barat seperti Sumatra.

Masa pendudukan jendral Pieteerzoon pada tahun 1619, Belanda memperketat kebijakannya.

Belanda menggunakan kekerasan dalam menjalankan misi monipolinya membumi hanguskan pelabuhan Jepara, membangun benteng untuk pusat perlindungan kemanan dengan kerja paksa menggunakan tenaga rakyat.

VOC membangun loji di Jakarta, J.P. Coen mendarat dan membakar semua rumah penduduk dan melakukan pengusiran untuk memperkuat kedudukannya meskipun tidak mendapat ijin bupati.

Dalam memperkuat kebijakan monipoli Coen tidak memperhatikan perjanjian di Eropa yang dilaksanakan pada 17 Juni 1619, dalam perjanjian tersebut mengharuskan VOC bekerjasama dengan East India Company (EIC).

Kebijakan- kebijakan VOC yang diberlakukan di Indonesia membuat rakyat semakin menderita dan menyengsarakan rakyat pribumi.

Baca Juga  Islam Masuk ke Nusantara pada Abad ke-7 atau ke-13 Masehi?

Terdapat beberapa dampak yang dilatar belakangi oleh kebijakan VOC dalam melaksanakan monopoli dan eksploitasi yaitu:

  • Pertama, Kedaulatan raja berkurang bahkan didominasi dan dikendalikan oleh VOC. Hal tersebut yang melatar belakangi terbentuknya kerajaan- kerajaan baru yang disokkong VOC, dan menyebabkan terpecahnya satu kerajaan menjadi beberapa cabang, seperti terjadi pada Mataram Islam.
  • Kedua, VOC yang memberlakukan hak oktroi dalam monopolinya menambah penderitaan serta kesengsaraan rakyat.
  • Ketiga, Adanya hak ekstirpasi VOC membuat matinya harapan atau sumber tingkat dari sektor pertanian yang berlebih.
  • Keempat, Pelayaran Hongidipandang sebagai perampasan, perampokan,dan pembunuhan, membuat perdagangan jalur laut Nusantara terhambat.
  • Kelima, melalui VOC, Nusantara dikenalkan sebuah sistem perekonomian uang modern,sistem pertahanan banteng, etika perjajian, dan prajurit dengan persenjataan modern.