Dengan Olahraga Afrika Selatan Mengubah Pandangan Dunia

rugby afrika selatan

Afrika Selatan dikenal luas oleh dunia sebagai salah satu negara yang pernah mempraktikkan bentuk diskriminasi rasial yang berdasarkan warna kulit atau yang lebih dikenal dengan apartheid. Dalam bahasa Afrikaans, kata “apartheid” memiliki arti “pemisahan”, yang mana adalah sebuah sistem sosial yang diterapkan oleh pemerintah kolonial kulit putih di Afrika Selatan terhadap rakyat berkulit hitam. Politik apartheid yaitu politik pemisahan kelompok penduduk berdasarkan pada warna kulit. Dalam teorinya, apartheid bertujuan untuk menjaga identitas rasial golongan kulit putih akan tetapi dalam praktiknya, apartheid dilaksanakan dengan membuat undang-undang yang memisahkan golongan rasial dalam aspek kehidupan sosial ekonomi, segala sesuatu terpisah, perumahan, pendidikan, rekreasi, pengangkutan, perkawinan, dan sebagainya.[1]

Perjuangan Nelson Mandela Melawan Apartheid

Nelson Mandela dikenal dunia sebagai salah satu aktivis yang menentang kebijakan politik apartheid yang sangat merugikan golongan masyarakat kulit hitam. Pria kelahiran Mvezo, Afrika Selatan 18 Juli 1918 ini terus menggalakan kampanye anti apartheid dan menentang rasisme kulit hitam kala itu hingga akhirnya pada tahun 1962, ia ditangkap dan dipenjara selama kurang lebih 27 tahun ia habiskan di Pulau Robben. Akhirnya pada tanggal 11 Februari 1990 ia dibebaskan berkat desakan dunia internasional dan bantuan dari rekan sekaligus warga kulit putih yang antiapartheid yaitu FW de Klerk yang kala itu menjabat sebagai presiden Afrika Selatan.

Setelah bebas dari masa tahanan, Nelson Mandela melanjutkan perjuangannya menentang politik apartheid dan berusahan mempersatukan Afrika Selatan. Akhirnya pada tahun 1994, Nelson Mandela bersama partainya yaitu African National Congress (ANC) memenangkan pemilihan umum dengan suara mayoritas dari masyarakat kulit hitam, Nelson Mandela terpilih sebagai presiden kulit hitam pertama di Afrika Selatan setelah pada masa sebelumnya dijabat oleh warga kulit putih, ia menunjuk FW de Klerk sebagai wakil presiden untuk mendampinginya. Nelson Mandela mengunakan berbagai cara untuk menyingkirkan dampak politik apartheid dari negerinya dan berusaha mempersatukan masyarakat kulit hitam, salah satu caranya yaitu melalui bidang olahraga.

Baca Juga  Tentara Asing Jepang dalam Perang Dunia II dari Asia Timur

Permainan Rugby untuk Mempersatukan Negeri

Nelson Mandela bersama rekan-rekannya dan ANC membutuhkan waktu bertahun-tahun menggunakan permainan rugby untuk menyatukan seluruh negeri dan mengalahkan orang kulit putih. Rugby merupakan sejenis olahraga bola besar yang dimainkan oleh dua tim, dan setiap tim terdiri dari maksimal 15 orang di dalam lapangan. Permainan ini bertujuan untuk mencetak angka dengan cara melakukan tendangan atau menyentuhkan bola di belakang garis lawan, pemenang ditentukan dengan banyaknya poin yang diperoleh. Awal mula permainan rugby ini adalah pada sebuah pertandingan sepak bola tahun 1823 di kota Rugby, Inggris, seorang anak bernama William Webb Ellis mengambil bola dan berlari menuju garis lawan.[2] Begitulah awal mula munculnya permainan rugby  yang kini telah menjadi salah satu permainan populer dunia termasuk di Afrika Selatan.

Permainan rugby di Afrika Selatan bermula pada tahun 1861, kepala sekolah keuskupan Diocesan College di Cape Town bernama Canon George Ogilvie memperkenalkan sejenis permainan sepak bola yang boleh memakai tangan, lalu pertandingan pertama rugby di Afrika Selatan yaitu saat tim Officers of the Army melawan tim Gentlemen of the Civil Service di Green Point, Cape Town tahun 1862. Sejak awal diperkenalkan hingga sebelum undang-undang apartheid tahun 1948, permainan rugby menjadi semacam simbol rasialisme di Afrika Selatan sebab olahraga ini hanya dimainkan oleh orang kulit putih.

Tahun 1956, pemerintah Afrika Selatan memperketat undang-undang olahraga yang dimana hanya warga kulit putih saja yang boleh mewakili Afrika Selatan pada laga internasional. Hal inilah yang membuat Perserikatan Bangsa-Bangsa memerintahkan seluruh negara untuk memboikot turnamen olahraga yang digelar di Afrika Selatan dan menyebabkan kemunduran olahraga di negeri itu. Setelah bertahun-tahun mengalami isolasi di bidang olahraga dan penghapusan apartheid membuka kembali Afrika Selatan dalam agenda turnamen internasional, akhirnya pada tahun 1995, Afrika Selatan ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia Rugby.

Baca Juga  Islam Van Afrika Selatan dan Memoar Syekh Yusuf Al Makassari (1652-1699)

Karena ketenaran Rugby, Nelson Mandela ingin melakukan perubahan terhadap rugby. Ia ingin menjadikan permainan rugby sebagai permainan tanpa memandang kelas dan ras, dan di sisi lain Mandela juga harus melakukan pendekatan dan memberi pemahaman terhadap warga kulit hitam yang tidak suka dan cenderung membenci rugby. Akhirnya tujuan Nelson Mandela pun terwujud, semua golongan masyarakat antusias dan semangat, tidak ada yang peduli lagi dengan perbedaan warna kulit. Bahkan pada Piala Dunia Rugby tahun 1995, tim Afrika Selatan berhasil menjadi juara setelah mengalahkan tim All Blacks dari Selandia Baru dalam laga final di stadion Ellis Park, Johannesburg, Afrika Selatan. Seluruh warga Afrika Selatan pun merayakan kemenangan itu.

[1] Emerita Wagiyah. (1995). Sekilas Tentang Politik Apartheid di Afrika Selatan. Arena Almamater volume X-35.

[2] Tony Biscombe, Peter Dreweet. (2010). Second Edition Rugby Steps to Success. United States: Human Kinetics.

.

Penulis: Budi Fathuttamam

Editor: Fastabiqul Hakim

Ilustrasi: Adien Tsaqif