Eksotisme Rempah-Rempah: Aroma yang Menggerakkan Peradaban Dunia

sejarah rempah-rempah

Rempah-rempah atau “spice” merupakan salah satu dari sedikit barang penting yang keberadaannya memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan sejarah umat manusia. Kisah mengenai rempah-rempah dalam berbagai peradaban manusia bahkan telah ditemukan sejak ratusan tahun yang lalu. Kendati demikian, penyebutan kata “rempah-rempah” sendiri hingga sekarang masih rawan akan ambiguitas dimana para ahli dari disiplin keilmuan yang berbeda belum menemukan definisi yang seragam terhadap kata ini. Selain itu, cakupan barang yang termasuk dalam kategori rempah-rempah dalam sejarahnya juga sering berubah-ubah. Namun secara umum rempah-rempah dapat didefinisikan sebagai produk dari berbagai jenis tanaman yang berasal dari buah, biji, daun maupun akarnya yang mengandung cita rasa pedas atau panas dan biasa ditemukan di daerah tropis, seperti jahe, kunyit, pala, lada, cengkeh, kayu manis, dan sebagainya.

Pada masa kejayaannya, rempah-rempah menjadi komoditi yang sangat berharga dan digandrungi oleh berbagai bangsa. Mulai dari kaisar China di Timur, para raja Eropa di Barat, hingga Firaun Agung di Lembah Sungai Nil adalah sekian dari banyaknya penikmat semerbak aroma rempah ini. Para kaisar China mempercayai rempah-rempah sebagai ramuan untuk umur panjang. Sementara di Mesir, rempah-rempah menempati posisi sentral dalam upacara pemakaman dan pengawetan jasad para Firaun. Sedangkan di Barat pada Abad Pertengahan, hidangan yang mengandung rempah-rempah merupakan suatu kemewahan yang hanya bisa dinikmati para raja dan orang-orang kaya saja. Rempah-rempah saat itu memang begitu glamor dan populer. Kegandrungan bangsa-bangsa tadi terhadap rempah-rempah bahkan sering dilukiskan dalam berbagai karya sastra mereka.

Pesona rempah-rempah pada perkembangannya juga melahirkan berbagai mitos yang menyelimutinya. Berbagai macam mitos tidak masuk akal mengenai rempah-rempah tersebut sangat populer pada Abad Pertengahan di Eropa. Beberapa orang Eropa Abad Pertengahan percaya mitos bahwa rempah-rempah diturunkan oleh Tuhan dan dialirkan lewat sungai Nil. Lain lagi dengan anggapan beberapa pendeta Kristen Abad Pertengahan yang menjauhi rempah-rempah karena percaya bahwa rempah-rempah adalah buah yang dirasuki setan karena keberadaannya dianggap dapat meningkatkan nafsu dan melalaikan manusia dari Tuhan.

Baca Juga  Simbol Bulan Sabit dan Kaitannya dengan Peradaban Islam

Rempah-rempah juga menjadi salah satu produk yang memiliki andil besar dalam jalannya arus perubahan sejarah umat manusia. Khasiatnya, keglamorannya dan misteri yang menyelimutinya bahkan telah berhasil melayarkan sekian banyak kapal para penjelajah Eropa untuk mengarungi samudra guna menemukan tempat asal rempah-rempah tersebut. Hal tersebut tidaklah mengherankan karena pada masa itu harga rempah-rempah terutama di Eropa bahkan bisa disejajarkan dengan logam mulia. Harapan akan keuntungan yang melimpah itulah yang membuat tidak sedikit orang yang tertarik untuk terjun dalam perdagangan rempah.

Meskipun penyebaran dan penggunaannya telah berlangsung dalam kurun waktu yang sangat lama di berbagai belahan dunia, tidak banyak yang tahu asal-usul keberadaan rempah-remah sebelum dimulainya masa pelayaran samudera. Hal ini khususnya bagi kalangan orang Eropa yang tinggal sangat jauh dari tempat asal ditanamnya rempah-rempah tersebut. Alur perdagangan rempah yang panjang dan melalui banyak perantara memiliki andil dalam melanggengkan ketidaktahuan tersebut. Katakanlah cengkeh misalnya, ia ditanam di kepulauan Maluku di wilayah Indonesia sekarang. Untuk bisa sampai menuju meja makan raja Romawi, maka ia harus melewati perjalanan panjang mulai dari para pengepul Maluku, kemudian cengkeh tersebut beralih pada para pemborong rempah dari Jawa, Sumatera maupun semenanjung Malaya. Selanjutnya cengkeh dibeli oleh para pedagang China, India maupun Arab. Cengkeh yang berada di tangan para pedagang China selanjutnya dijual dibawa ke Romawi melalui Jalur Sutra yang panjang, melelahkan serta rawan akan perampokan. Sementara dari para pedagang Arab, cengkeh tersebut dibawa melalui Laut Merah sebelum akhirnya tiba di Romawi. Gambaran tersebut merupakan bentuk penyederhanaan dari rangkaian perdagangan rempah lintas benua yang pada kenyataannya jauh lebih rumit dan penuh dengan risiko, namun juga menjanjikan keuntungan yang menggiurkan.

Baca Juga  Geliat Kemajuan Pendidikan di Mangkunegaran

Jalur rempah yang sangat luas dan melewati banyak sekali perantara tersebut memang membuat harganya melonjak hingga berkali-kali lipat. Namun jalur panjang itulah yang juga mampu menghidupkan perdagangan dari berbagai bangsa yang dilewatinya. Sayangnya kedatangan bangsa Eropa sedikit demi sedikit mengancam keteraturan ini. Politik monopoli pasar yang diterapkan bangsa-bangsa Eropa telah mematikan peran para pedagang lokal dan menghancurkan perekonomian perdagangan bangsa-bangsa di Asia dan Afrika. Bahkan sering kali orang Eropa melaksanakan tujuannya tersebut dengan kekerasan. Pada akhirnya kita semua tahu episode sejarah yang terjadi selanjutnya, yaitu timbulnya kolonialisme dan imperialisme terhadap bangsa-bangsa di Asia dan Afrika. Tidak salah memang bila rempah-rempah dikatakan bagai pedang bermata dua. Pada satu sisi keberadaannya membawa kekayaan pada para pemiliknya. Namun di sisi lain keberadaannya juga mendatangkan penderitaan akibat penjajahan.

.

Penulis: Ardiyan Agung Nugroho

Editor: Fastabiqul Hakim