Gardu: Sang Penjaga Memori yang Kini Mulai Terlupakan

sejarah gardu

“Dalam menghadapi sejarah Indonesia yang penuh dengan pancaroba, gardu beradaptasi, kadang-kadang menjadi momok yang menakutkan dari peristiwa besar, kadang-kadang menghilang melalui persatuan dengan kehidupan sehari-hari. Meskipun identitasnya berubah terus, ia tidak pernah dianggap mewakili budaya luhur bangunan (seperti halnya pendopo dan gedung artdeco), tapi ia menyaksikan dan ikut, dari pinggiran mungkin perjalanan panjang sejarah Indonesia, kadang-kadang sebagai partisipan yang ganas, kadang-kadang sebagai bulan-bulanan zaman. Mungkin karena itulah, gardu tidak pernah dianggap masuk sejarah karena ia masih hidup dan mungkin akan hidup terus untuk supaya kita bisa melupakannya.”

 

-Abidin Kusno, dalam pengantarnya di buku Penjaga Memori: Gardu di Perkotaan Jawa

Coba teman-teman tengok ke ujung jalan/gang, pertigaan, perempatan, pintu masuk sebuah kompleks perumahan/perkampungan, ada satu bangunan kecil yang mungkin tak menarik perhatian kita. Mungkin karena kita anggap tidak penting atau karena kita tidak pernah singgah di sana. Gardu (mungkin di daerah lain penyebutannya berbeda), demikian bangunan kecil itu disebut. Sepi di siang hari, tapi ramai di malam hari (kalau ada yang ronda/beraktivitas di sana). Bangunan kecil ini memang kalah penting dibandingkan dengan bangunan/monumen megah yang berdiri kokoh dan menghabiskan dana yang besar. Di samping itu gardu juga tidak pernah menjadi obyek wisata dan jarang bahkan tidak ada orang yang khusus berfoto ria berlatar belakang gardu. Sungguh ironi memang, gardu ini ibarat seseorang yang kesepian, punya teman bila ada yang butuh dan ditinggalkan atau bahkan dilupakan bila tidak dibutuhkan lagi.

Membahas tentang gardu, sebenarnya sudah ada sejak prakolonial, namun fungsinya tidak dimaksudkan sebagai simbol pertahanan dan keamanan, melainkan untuk menunjukkan simbol kuasa raja sebagai pusat kosmos.

Pembentukan citra gardu secara signifikan terjadi pada masa kolonialisme Belanda yang pada saat itu di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Herman Williem Daendels (1805-1811). Meski memerintah dalam kurun waktu yang singkat, Daendels berhasil mencitrakan gardu sebagai garis pemisah teritorial suatu wilayah sekaligus sebagai pos keamanan dan transit. Daendels juga menggunakan gardu sebagai pusat pengawasan lalu lintas yang dibangun setiap 9 kilometer di sepanjang Groote Postweg (Jalan Raya Pos) yang terbentang mulai dari Anyer sampai Panarukan. Kemungkinan sejak saat itulah muncul istilah “gardu” yang berasal dari bahasa Prancis yakni garde yang berarti menjaga. Nah, mengapa berasal bahasa Prancis bukan Belanda? Ya jawabannya seperti yang kita tahu bahwasanya Daendels ini memerintah di Hindia Belanda itu bukan atas nama pemerintah kolonial Belanda, melainkan atas nama pemerintah Prancis yang mana waktu itu Belanda dikuasai Prancis dan diperintah oleh Louis Bonaparte (adik Napoleon Bonaparte), jadi wajar pengaruh Prancis pada waktu itu sangat kental pada berbagai aspek.

Baca Juga  3 Tokoh Filsafat Skolastik yang Pemikirannya Berpengaruh

Beralih pada masa pendudukan Jepang, Gardu mulai diakui sebagai tradisi dan warisan lokal Indonesia dengan berbagai wacana dan status yang disematkan pada gardu sehingga berdampak pada mentalitas penduduk Indonesia. Jepang memperkenalkan sistem Tonarigumi (Asosiasi Lingkungan atau yang kita kenal sekarang sebagai RT/RW). Sistem Tonarigumi ini menggunakan gardu sebagai fasilitas untuk mengawasi, mendidik sekaligus memobilisasi rakyat agar dapat membantu memenangkan Perang Asia Timur Raya melawan Sekutu dengan membentuk sebuah organisasi keamanan yang disebut Keibodan.

Gardu tidak hanya mempresentasikan keamanan kampung, namun juga sebagai tempat pertemuan guna merangsang berkembangnya semangat kebersamaan antara penguasa dan masyarakat. Melalui gardu, Jepang juga melibatkannya sebagai institusi yang memberangus sistem pemisahan kekuasaan yang menjadi ciri khas pemerintah kolonial Belanda dengan menciptakan Keibodan sebagai medium yang memisahkan antara penguasa dan masyarakat.

Pascakekalahan Jepang dan Indonesia mendapatkan kemerdekaannya, lahirlah masa Revolusi yang mana justru menciptakan pertumpahan darah dan kekerasan yang merenggut banyak nyawa. Guna menciptakan keadaan yang kondusif, tentara Indonesia memberlakukan pemeriksaan-pemeriksaan untuk mengidentifikasi orang Republiken dan non-Republiken. Masa Revolusi ditandai dengan patroli keamanan dan ronda kampung baik di kota maupun di desa.

Pada masa Orde Baru, fungsi dan peranan gardu lebih ditekankan pada fungsi keamanan dan ketertiban. Gardu pada masa Orde Baru identik dengan kehadiran petugas pertahanan sipil (Hansip) dan juga pensiunan tentara sebagai perpanjangan tangan dan mata-mata penguasa untuk mengontrol ruang publik dan juga memberantas komunisme karena mengingat pada masa itu komunisme ini menjadi isu yang sangat sensitif. Gardu pada masa Orde Baru menciptakan komunitas tergerbang (Gated Communities) dan memancangkan batas-batas sosial dan lingkungan. Kita tentu sering membaca imbauan “Tamu Wajib Lapor 1×24 Jam” yang ditempel di tembok gardu atau rumah-rumah pemimpin setempat. Meskipun metode ini tidak pernah benar-benar diterapkan karena banyak masyarakat yang tidak tampak melaporkan tamu-tamu mereka, tetapi peranan gardu pada masa itu setidaknya lumayan berhasil menciutkan nyali tamu-tamu tak diundang itu untuk membuat podium ilegal untuk memobilisasi massa melawan penguasa.

Baca Juga  Islam Masuk ke Nusantara pada Abad ke-7 atau ke-13 Masehi?

Pasca runtuhnya Orde Baru pada 21 Mei 1998, lahirlah Reformasi yang banyak membawa pembaruan pada berbagai aspek, tak terkecuali fungsi dan peranan gardu. Gardu yang semula hanya sebagai objek pertahanan dan keamanan semata berubah menjadi fungsi politis. Hal tersebut bermula tatkala pasca runtuhnya Orde Baru terjadi banyak kekacauan di hampir seluruh wilayah Indonesia. Nah, untuk mengatasi hal tersebut masyarakat baik di kota maupun desa memagari dan menambah jumlah gardu di lingkungan tempat tinggal mereka dan juga menggalakkan ronda malam secara lebih intens. Selain itu mereka juga menyewa polisi dan tukang pukul untuk membantu mengawasi jalan-jalan dari gardu-gardu yang mereka bangun itu. Dalam waktu kurang dari satu tahun, jumlah gardu mengalami peningkatan yang berlipat ganda dan menjadi ciri permanen wajah kota maupun desa.

Hal tersebut pun kemudian segera dimanfaatkan para elite politik Indonesia sebagai upaya menarik perhatian publik. Pada tahun 1998, tokoh-tokoh politik partai berlambang banteng, memprakarsai gardu untuk digunakan sebagai posko (Pos Komunikasi) partai dan juga sebagai alat politik di seluruh pelosok negeri. Pembangunan posko-posko ini menuai beragam tanggapan dari berbagai kalangan baik itu pujian maupun kritik. Sebagai contoh, Gus Dur dalam kritiknya terhadap partai berlambang banteng tersebut mensinyalir bahwa sebagian masyarakat telah menggunakan posko untuk mabuk-mabukan, berjudi, menggelapkan uang, dan transaksi seksual (Kompas, 12 Januari 1999). Selain Gus Dur, kritik juga datang dari Gubernur DKI Jakarta yang menilai bahwasanya posko-posko tersebut merusak estetika dan kenyamanan kota dengan baliho, bendera dan aksesoris partai yang dipasang di posko-posko tersebut (Demokrasi dan Reformasi, 9-15 Agustus 1999:28).

Meskipun menuai banyak kritik dan kecaman dari berbagai pihak, partai ini tetap tidak memedulikannya posko-posko tersebut tetap gencar didirikan. Bagi mereka, pendirian posko-posko (juga perusakan yang dilakukan para pesaing politiknya) merupakan bagian dari suatu manuver politik yang tujuannya menjamin keberlangsungan dan perluasan pengaruh ditingkat publik. Mereka juga bersaing dengan plakat-plakat besar dan iklan-iklan yang tersebar di seantero kota dan desa. Sehingga dengan demikian, posko-posko dan bendera partai berlambang banteng ini ikut meramaikan kapitalisme pasar dan keduanya mencari bentuk dan hak untuk tampil bersama-sama di kota maupun di desa.

Baca Juga  Menyuarakan Kembali Selokan Mataram

Di masa modern sekarang ini justru peran dan fungsi gardu justru semakin dilupakan. Banyak struktur bangunannya yang sudah menua dan rapuh dimakan usia tak kunjung direnovasi dan mendapat perhatian masyarakat setempat. Mereka seakan dibiarkan menua sampai akhirnya tidak kuat lagi berdiri dan akhirnya roboh dengan sendirinya. Saya harapkan setelah membaca tulisan ini, teman-teman bisa tergugah dan bisa menghargai bangunan-bangunan tua di sekitar kita, termasuk gardu di dalamnya. Meskipun hanya bangunan kecil dan tak semegah bangunan di sekitarnya, setidaknya gardu ini punya kenangan sejarah dan juga pernah eksis pada masanya.

Demikian pembahasan tentang gardu dari masa ke masa, mudah-mudahan bermanfaat dan menambah literasi panjenengan sedoyo, apabila ada tambahan bisa ditambahkan di kolom komentar dan tetap nantikan tulisan-tulisan saya selanjutnya. Matur Suwun.

.

Penulis: Almas Hammam Firdaus

Editor: Fastabiqul Hakim