Garis Imajiner Yogyakarta: Panggung Krapyak

“Aku adalah lambang rahim kehidupan yang nantinya akan melahirkan sebuah peradaban.

-Panggung Krapyak-

Setelah sebelumnya saya mengulas tentang Pantai Parangkusumo yang mana masih merupakan tempat yang berhubungan dengan Garis Imajiner Yogyakarta, maka pada tulisan kali ini saya akan mengulas tempat yang berhubungan langsung dengan Garis Imajiner Yogyakarta lainnya. Tempat tersebut adalah Panggung Krapyak.

Secara administratif, Panggung Krapyak terletak di Kampung Krapyak, Kelurahan Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Berdasarkan lokasinya, Panggung Krapyak berada di sebelah selatan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan berjarak kurang lebih tiga kilometer dari Alun-alun Kidul (selatan). Keberadaan Panggung Krapyak ini menarik untuk diulas. Bangunan empat sisi ini memiliki nilai historis bagi perjalanan Kraton Yogyakarta. Panggung Krapyak ini dahulunya berfungsi sebagai arena berburu menjangan bagi Sultan maupun para Pangeran Kraton Yogyakarta.

Panggung Krapyak diperkirakan dibangun sekitar tahun 1760 pada masa Sultan Hamengkubuwono I berkuasa di Yogyakarta. Tinggi bangunan ini sekitar 10 m dan luasnya 17 m x 15 m. Terdapat empat lubang pintu dan delapan jendela yang menghiasi masing-masing sisinya. Ternyata tercatat dalam sejarah bahwa dahulunya sebelum Panggung Krapyak ini dibangun, tempat tersebut masih berupa hutan belantara yang disebut dengan Alas Krapyak (Hutan Krapyak). Alas ini dahulunya sering digunakan oleh Raja Mataram Islam yang kedua yaitu Panembahan Hanyakrawati untuk berburu menjangan. Raja yang ketika muda bernama Raden Mas Jolang ini memang sangat gemar berburu.

Dalam sejarah juga dikisahkan bahwa Alas Krapyak inilah yang menjadi tempat wafatnya Panembahan Hanyakrawati sehingga ia juga dikenal sebagai Panembahan Seda Krapyak. Namun mangkatnya Panembahan Hanyakrawati ini agaknya sangat janggal, sehingga menimbulkan banyak pertanyaan, “apakah ada suatu konspirasi politik dibelakangnya?” Mataram Islam dibawah pimpinan Panembahan Hanyakrawati selama 12 tahun dari 1601-1613 hanya sibuk repot mengurus berbagai pemberontakan saudara-saudaranya sendiri yaitu pemberontakan Raden Mas Kejuron/ Pangeran Puger (Adipati Demak) putra dari Selir Panembahan Senopati yang bernama Nyai Adisara pada tahun 1602, pemberontakan Raden Mas Bathotot/ Pangeran Jayaraga (Adipati Ponorogo) putra dari Selir Panembahan Senopati yang berasal dari Kajoran pada tahun 1608.

Baca Juga  Sejarah Berdirinya Partai Komunis Australia

Dalam ”Serat Nitik Sultan Agung, Panembahan Hanyakrawati” disebutkan wafat secara misterius pada  malam Jumat tanggal 1 Oktober 1613 (Babad Sengkala, 1535 Jawa). Penyebab kematiannya hingga kini tidak diketahui secara pasti, hanya dikisahkan bahwa Panembahan Hanyakrawati wafat karena kecelakaan akibat diserang banteng gila yang mengamuk sewaktu berburu menjangan di Alas Krapyak (Hutan Krapyak). Apakah sedemikian lemah proteksi keamanan seorang Raja hingga tak terlindungi bahkan tewas diseruduk seekor banteng gila? Kisah banteng Alas Krapyak yang mengamuk ini kesannya mirip kisah Jaka Tingkir yang membunuh Kebo Danu yang mengamuk di alun-alun Demak hingga membuka jalan mulus baginya menuju suksesi kekuasaan Demak Bintoro pada era 1549-1582.

Sedangkan Babad Tanah Jawi memberitakan jika Panembahan Hanyakrawati meninggal di Alas Krapyak karena sakit parah, tanpa kejelasan, apa penyakitnya? Sumber lain, Babad Mataram menyebutkan jika Panembahan Hanyakrawati tewas akibat diracun oleh Juru Taman Danalaya, abdi kesayangan Raja sendiri. Abdi ini dikisahkan sering menimbulkan keonaran di lingkungan kraton dengan menyamar menjadi raja, sehingga menyesatkan para istri dan selir raja. Kisah ini juga diinterpretasikan dalam “Suluk Wujil” yang berisikan wejangan mistik Kanjeng Sunan Bonang pada abdi kesayangan Raja Majapahit.

Namun bagaimanapun wafatnya Panembahan Hanyakrawati pasti ada titik terang dikemudian hari, kapan waktunya, Wallahualam. Namun yang jelas sebelum Panembahan Hanyakrawati wafat, Sang Raja bagai telah mendapat firasat, sehingga Raja Mataram Islam itu memanggil para pangeran dan kerabat disaksikan oleh Adipati Mandaraka serta Pangeran Purbaya, untuk berkumpul di pasowanan,  Pendopo Prabayeksa Kraton guna menerima wasiat agar Raden Mas Rangsang (Sultan Agung Hanyakrakusumo) diangkat menjadi Raja Mataram Islam jika ia mangkat.

Wasiat Panembahan Hanyakrawati tersebut didasarkan atas ramalan Panembahan Bayat (penasihat spiritual kraton) yang menyatakan bahwa Raden Mas Rangsang akan membawa kejayaan bagi Kraton Mataram Islam dengan menguasai Jawa. Namun, sebelum menerima ramalan tersebut, Panembahan Hanyakrawati sebelumnya justru telah berjanji bahwa Raden Mas Wuryah (Adipati Mertapura) yang akan menggantikannya.

Baca Juga  Garis Imajiner Yogyakarta: Pantai Parangkusumo

Keputusan Raja tersebut berkembang menjadi polemik karena janji politiknya sendiri yang mana akan mengangkat Raden Mas Wuryah, putra Prameswari Ratu Kulon Tulungayu sebagai Raja Mataram Islam, yang didukung pihak keluarga Adipati Ponorogo dan Adipati Mandaraka. Sebaliknya, Prameswari Ratu Wetan Dyah Banowati didukung keluarga Adipati Pajang dan Pangeran Purbaya juga menagih janji Panembahan Hanyakrawati yang menunjuk Raden Mas Rangsang sebagai penggantinya.

Akhirnya diputuskan bahwa Raden Mas Wuryah naik tahta menjadi Raja Mataram Islam dengan gelar Adipati Mertapura hanya sehari saja sebagai pemenuhan janji kepada Ratu Kulon Tulungayu, selain karena janji pengangkatan Adipati Mertapura sebagai Raja sehari saja ini juga didasarkan karena kondisi Adipati Mertapura yang menderita tuna grahita sejak lahir yang mana dalam adat Kraton Jawa seorang raja tidak boleh cacat serta usia Adipati Mertapura yang lebih muda dari Raden Mas Rangsang. Oleh karena itu, keesokan harinya Adipati Mertapura harus turun tahta dan digantikan oleh Raden Mas Rangsang.

Melompat pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono I berkuasa di Yogyakarta, diinisiasikanlah pembangunan Panggung Krapyak di Alas Krapyak untuk digunakan sebagai tempat perlindungan dan pengintaian untuk berburu sultan dan para pangeran, oleh karenanya Panggung Krapyak juga sering disebut sebagai Kandang Menjangan. Selain untuk tempat perlindungan dan pengintaian ketika berburu, Panggung Krapyak ini juga digunakan untuk tempat pengintaian musuh dan sebagai benteng pertahanan. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya struktur tembok pertahanan di sekitar Panggung Krapyak, yang sayangnya struktur tembok tersebut sekarang sudah tidak dapat terlihat karena tertutup warung dan perumahan penduduk.

Sedangkan filosofi dari Panggung Krapyak sendiri menggambarkan manusia saat dalam kandungan rahim ibu. Pun dengan nama-nama tempat di sekitar Panggung Krapyak, seperti Kampung Mijen di sebelah utara Panggung Krapyak yang digambarkan sebagai lambang benih manusia. Selain hal tersebut, filosofi perjalanan hidup manusia juga digambarkan dengan perburuan, yang mana anak panah yang mengenai menjangan menggambarkan bersatunya sel sperma dan sel telur.

Baca Juga  Islam Van Afrika Selatan dan Memoar Syekh Yusuf Al Makassari (1652-1699)

Dalam sejarahnya Panggung Krapyak juga pernah rusak yaitu akibat Gempa Jogja tahun 2006. Setelahnya untuk menjaga agar Panggung Krapyak tidak roboh, diadakanlah upaya pemugaran serta penambahan jeruji besi di setiap pintu dan jendela agar tidak sembarang orang bisa memasukinya. Di zaman modern sekarang Panggung Krapyak ini merupakan bangunan bersejarah yang harus senatiasa dijaga dan dilindungi keberadaannya mengingat adanya nilai historis dan filosofis di dalamnya. Sesuai dengan SK Menteri NoPM.89/PW.007/MKP/2011, Panggung Krapyak ditetapkan sebagai bangunan situs cagar budaya.

Demikian pembahasan tentang Panggung Krapyak yang merupakan titik selanjutnya dari Garis Imajiner Yogyakarta setelah Pantai Parangkusumo, mudah-mudah bermanfaat dan menambah literasi panjenengan sedoyo, apabila ada tambahan bisa ditambahkan di kolom komentar. Dan untuk pembahasan selanjutnya saya akan membahas tempat-tempat yang berhubungan dengan Garis Imajiner Yogyakarta lainnya. Jadi tetap nantikan tulisan-tulisan saya selanjutnya. Matur Suwun.

.

Penulis: Almas Hammam Firdaus

Editor: Fastabiqul Hakim

Ilustrasi: Muhammad Alif