Garis Imajiner Yogyakarta: Pantai Parangkusumo

“Aku ibumu, dudu dinggo disembah, dudu dadi sing ngabulke kepinginanmu, aku ora seneng nyilakani wong, nyeret nganggo ombak utawa ngilangake sukmane wong, aku ibumu, tak baleni pisan maneh, aku ibumu, sing mung pengen dihormati, kyo o ngormati ibumu ning ndoya sing sak tenane (aku ibumu, bukan untuk disembah, bukan jadi yang mengabulkan keinginanmu, aku tidak senang mencelakai orang, menyeret menggunakan ombak atau menghilangkan nyawa seseorang, aku ibumu, ku ulangi sekali lagi, aku ibumu, yang hanya ingin dihormati, seperti menghormati ibumu di dunia yang sebenarnya)”

-Pantai Parangkusumo-

Yogyakarta memang selalu menarik untuk dikisahkan, cerita tentangnya memang serasa tak kan pernah habis tuk dituturkan. Banyak kisah tentang daerah istimewa ini yang selalu memantik rasa penasaran banyak orang yang ingin mendengar kisahnya. Memang daerah pecahan Mataram ini memang tiada duanya untuk urusan membuat orang nyaman datang dan tinggal.

Setelah pada tulisan sebelumnya, saya mengulas Garis Imajiner Yogyakarta, maka sesuai janji saya, pada tulisan kali ini saya akan mengulas lebih mendalam mengenai tempat-tempat yang berhubungan langsung dengan Garis Imajiner Yogyakarta. Dan tempat pertama yang akan saya ulas adalah Pantai Parangkusumo.

Pantai Parangkusumo merupakan salah satu pantai di bagian selatan Yogyakarta, tepatnya di daerah Kretek, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dahulunya Pantai Parangkusumo ini bernama Pantai Parankusumo, namun karena kebiasaan lidah Jawa yang lebih sering menyebut dengan kata “parang” sehingga berubahlah menjadi Pantai Parangkusumo. Arti dari “paran” sendiri adalah tempat dan “kusumo” adalah jiwa, sehingga dapat dikatakan Parankusumo adalah tempat untuk melatih jiwa seseorang.

Pantai Parangkusumo sering digunakan untuk upacara labuhan, terutama pada saat hari kelahiran Sultan yang berkuasa karena Pantai Parangkusumo merupakan manifestasi dari simbol ibu yang mempunyai sifat mengayomi. Tapi tak jarang orang melakukan ritual lain di sini karena banyaknya cerita yang membuat banyak orang salah kaprah dalam mengaplikasikan ritualnya. Sehingga menimbulkan kesan bahwa datang ke Pantai Parangkusumo ini untuk menyembah sang penguasa laut selatan yang dalam hal dikenal sebagai G.K.R. Kencanasari (G.K.R. Kidul). Padahal seharusnya jika orang datang ke pantai ini adalah untuk mencari kedamaian, ketenangan batin, menikmati alam, rekreasi, dan mengungkapkan rasa terima kasih pada semesta.

Baca Juga  Tragedi Chernobyl dalam Konstruksi Film 'Chernobyl'

Membicarakan Pantai Parangkusumo tidak terlepas dari dua hal, yaitu sosok yang sudah sering kita dengar yaitu G.K.R. Kencanasari (G.K.R. Kidul) dan Panembahan Senopati (Raja Mataram Islam yang pertama) yang mana dikatakan mereka bertemu di pantai ini tepatnya di tempat yang sekarang kita kenal dengan Cepuri Parangkusumo. Menurut sejarah, setelah diberi hadiah tanah Hutan Mentaok karena berhasil membunuh Arya Penangsang, Danang Sutawijaya (Panembahan Senopati) bersama ayahnya, Ki Ageng Pemanahan dan para pengikutnya pun membabat Hutan Mentaok untuk dijadikan wilayah kekuasaannya. Namun rupanya membabat Hutan Mentaok tak semudah yang dibayangkan, banyak halang rintang yang harus dihadapi bahkan banyak pengikutnya yang sakit dan meninggal. Melihat hal tersebut, Danang Sutawijya pergi menemui pamannya, Ki Juru Mertani untuk meminta wejangan mengenai kondisi di Mentaok yang sedang dibabat. Atas saran Ki Juru Mertani yang berdasarkan Q.S. Ar-Rahman ayat 33, Danang Sutawijaya diminta untuk bertapa di tepi pantai selatan meminta agar G.K.R. Kidul dan para pengikutnya agar tidak mengganggu jalannya babat Hutan Mentaok.

Setelah diberi wejangan oleh Ki Juru Mertani, Danang Sutawijya pun bergegas pergi ke tepi pantai selatan untuk melakukan tirakat dan tapa. Sesampainya disana, Danang Sutawijaya memutuskan untuk melakukan tapa di atas batu di tepi pantai selatan terebut (Serat Wedhatama Pupuh II (Sinom) karya K.G.P.A.A. Mangkunegara IV). Setelah olah spiritual yang dilakukan Danang Sutawijaya ini G.K.R. Kidul pun akhirnya keluar dari kerajaannya menemui Danang Sutawijya (Serat Wedhatama Pupuh II nomer 4). Lalu selanjutnya G.K.R. Kidul akhirnya menyanggupi untuk tidak mengganggu proses babat hutan Mentaok dan meminta Danang Sutawijaya untuk mempererat hubungan wilayahnya (Hutan Mentaok) dengan Kerajaan Laut Selatan (Serat Wedhatama Pupuh II nomer 5).

Baca Juga  Menilik Seni Musik pada Masa Dinasti Abbasiyah

Permintaan G.K.R. Kidul untuk mempererat hubungan ini yang kemudian menjadi cerita turun-tumurun tentang pernikahan raja-raja Mataram dengan Penguasa Laut Selatan tersebut. Namun, jika dimaknai lebih jauh berdasarkan petunjuk Ki Juru Mertani. Pertemuan tersebut dimaknai sebagai penaklukan atau dalam bahasa halusnya dimaknai sebagai akad penyerahan wilayah. Sehingga terwujudnya sebuah keselarasan lahir batin dan keselarasan jagad besar (makrokosmos) dan jagad kecil (mikrokosmos).

Singkat cerita, setelah perjanjian tersebut akhirnya hutan Mentaok pun berhasil dibabat dan dibangun menjadi desa bebas pajak yang kemudian dikenal dengan Mataram yang pusatnya di Kotagede yang lambat laun daerah ini pun berkembang dengan pesat dan menjadi kerajaan mandiri yang besar setelah berhasil mengalahkan Kesultanan Pajang. Tempat pertapaan Danang Sutawijaya pun dapat kita saksikan sampai hari ini dan dikenal dengan Cepuri Parangkusumo.

Lalu membahas tentang Garis Imajiner Yogyakarta, Pantai Parangkusmo ini menjadi titik pertama dari Garis Imajiner Yogyakarta. Pantai Parangkusumo dalam hal ini Laut Selatan memiliki makna kosmologis sebagai tempat yang sangat luas dan merupakan lambang gelombang dan dinamika masyarakat. Masyarakat adalah tempat manusia secara individual untuk ngangsu kawruh, yang oleh karenanya laut dan dalamnya ilmu pengetahuan sering disebut dengan lautan ilmu. Selain itu pula Laut yang berelemen air juga memiliki filosofi sebagai ibu yang mempunyai sifat mengayomi secara filosofis Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang mana digambarkan sebagai anak dari laut selatan dan Gunung Merapi secara filosofis.

Jadi, dapat disimpulkan keberadaan Pantai Parangkusumo yang dalam hal ini pantai selatan menjadi sangat penting sejak Kesultanan Mataram Islam sampai Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang sekarang baik secara sejarah ataupun secara filosofis (Garis Imajiner Yogyakarta). Tentunya kita sebagai generasi penerus, harus senantiasa menjaganya agar Pantai Parangkusumo dan segala yang berada di dalamnya ini tetap terjaga dan lestari baik wisata sejarahnya, wisata rekreasi pantai, wisata spiritual, ataupun tradisinya seperti Upacara Labuhan dan sebagainya bisa dinikmati hingga anak cucu kita nanti.

Baca Juga  Menyuarakan Kembali Selokan Mataram

Demikian pembahasan tentang Pantai Parangkusumo yang merupakan titik pertama Garis Imajiner Yogyakarta, mudah-mudah bermanfaat dan menambah literasi panjenengan sedoyo, apabila ada tambahan bisa ditambahkan di kolom komentar. Pembahasan selanjutnya, saya akan membahas tempat-tempat yang berhubungan dengan Garis Imajiner Yogyakarta lainnya. Jadi tetap nantikan tulisan-tulisan saya selanjutnya. Matur Suwun.

.

Penulis: Almas Hammam Firdaus

Editor: Fastabiqul Hakim