Garis Imajiner Yogyakarta: Urutan, Makna, dan Filosofi

“Yogyakarta bukan hanya sekedar kota, Yogyakarta adalah sebuah kenyamanan, kedamaian, dan cinta”

Yogyakarta, selalu menarik untuk dikisahkan. Dari setiap sudut kotanya punya banyak sisi romantis yang tak pernah gagal mengajak kita untuk selalu mengenang kota ini. Yogyakarta juga terbuat dari rindu, yang membuat kita selalu ingin kembali lagi dan lagi. Setiap orang yang pernah tinggal ataupun sekedar liburan di Jogja pasti merasakan kenyamanan. Tidak sulit rasanya menemukan alasan mengapa Yogyakarta hingga kini menyandang gelar “Istimewa”. Di setiap sisinya, hampir dipastikan kamu akan menemukan berbagai kehangatan yang ada. Bagi siapa saja yang pernah datang dan tinggal di sini, Yogyakarta bukan hanya sebuah kota biasa. Ada banyak memori yang membuat banyak orang yang pernah datang dan tinggal sulit melupakan cerita.

Ngomong-ngomong tentang keistimewaan Yogyakarta memang banyak sekali. Namun pada kesempatan kali ini izinkanlah saya menuliskan salah satunya, yaitu Garis Imajiner Yogyakarta. Mungkin teman-teman akan bertanya-tanya, apasih sebenarnya Garis Imajiner Yogyakarta itu? Bagaimana sih sejarahnya? Makna dan filosofinya apa? Sepenting apa sih garis ini bagi Yogyakarta?

Sebelum membahas Garis Imajiner Yogyakarta, terlebih dahulu akan saya sampaikan bahwasanya  Kraton Yogyakarta, Kraton Surakarta, dan era Mataram Islam itu menggunakan sistem tata letak atau tata kota (urban planning) seperti dengan di zaman Majapahit, yaitu dengan menggunakan konsep “Catur Gatra Manunggal,” yang mana catur itu kan ada empat, gatra itu susunan, dan manunggal itu artinya menjadi satu. Meliputi pusat pemerintahan pertama itu di kraton, kedua religi untuk beribadah di masjid agung, yang ketiga alun-alun sebagai halaman, dan keempat pasar sebagai perputaran bisnis dan ekonomi.

Sejarah awal pembangunan Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat dimulai ketika Pangeran Mangkubumi mengobarkan perang yang disebut dengan Perang Palihan Nagari (Perang Giyanti) pada 1746-1755 karena disebabkan oleh campur tangan VOC (Kompeni) dalam tampuk pemerintahan dan suksesi kraton, selain itu juga disebabkan tidak kunjung diberikannya tanah Sukowati kepada Pangeran Mangkubumi karena propaganda VOC dan Patih Pringgalaya. Inilah yang menyebabkan akhirnya Pangeran Mangkubumi pergi meninggalkan kraton dan mengobarkan perang.

Baca Juga  K.G.P.A.A. Paku Alam VIII: Sang Raja Jawa dan Nasionalis Indonesia

Setelah perang berlangsung selama 8 tahun, akhirnya VOC menyadari bahwasanya apabila perang ini diteruskan lebih lama lagi VOC akan bangkrut dan mengalami kekalahan, maka akhirnya Gubernur VOC untuk Jawa Utara, Nicholas Hartingh mengambil sikap, untuk menyelamatkan daerah operasionalnya, secara tertutup Hartingh melakukan perundingan dengan Pangeran Mangkubumi. Setelah berkali-kali melakukan perundingan akhirnya Hartingh sepakat dengan keinginan Pangeran Mangkubumi. Pada 23 September 1754, nota kesepahaman antara VOC dan Pangeran Mangkubumi terlaksana dan nota tersebut disampaikan kepada Sunan Pakubuwono III sang pengganti Sunan Pakubuwono II. Nota tersebut menyatakan bahwa Pangeran Mangkubumi mendapatkan wilayahnya (Yogyakarta).

Pada 4 November 1754, Sunan Pakubuwono III menyatakan persetujuannya terhadap hasil perundingan Hartingh dengan Pangeran Mangkubumi tersebut. Surat pernyataan itu kemudian disampaikan oleh Sunan Pakubuwono III kepada Gubernur Jenderal VOC, Jacob Mossel. Kesepakatan ini akhirnya mendorong terjadinya sebuah perjanjian besar yang ditandatangani di Desa Janti (Kabupaten Karanganyar), beberapa kilometer disebelah timur Surakarta yang kemudian dikenal dengan Perjanjian Giyanti. Penandatanganan perjanjian Giyanti ini menjadi pangkal dari terbelahnya Mataram Islam menjadi dua bagian atau yang dikenal dengan istilah Palihan Nagari.

Hal tersebutlah yang menjadi awal mula naik tahtanya Pangeran Mangkubumi di Yogyakarta sebagai Sri Sultan Hamengkubuwono I sejak ditandatangani perjanjian tersebut pada 13 Februari 1755. Dua hari kemudian pada 15 Februari 1755 ada pertemuan antara Sunan Pakubuwono III dan Sultan Hamengkubuwono I untuk membahas pembagian atribut-atribut kraton antara lain pusaka, bahasa, tari, pakaian dan lain-lain. Akhirnya diputuskan bahwa Yogyakarta meneruskan tradisi Mataraman dan Surakarta mengkreasi sendiri.

Lalu tentang Garis Imajiner Yogyakarta merupakan sebuah garis filosofis antara Pantai Parangkusumo-Panggung Krapyak-Kraton Yogyakarta-Tugu Golong Gilig-Gunung Merapi yang membentuk suatu jalur linear dan menghubungkan beberapa simbol fisik yang mempunyai makna nilai filosofis. Garis Imajiner Yogyakarta ini menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhan serta hubungan manusia dengan sosialnya.

Baca Juga  Sistem Pemerintahan Daendels di Indonesia

Pantai Parangkusumo dalam hal ini Laut Selatan memiliki makna kosmologis sebagai tempat yang sangat luas dan merupakan lambang gelombang dan dinamika masyarakat. Masyarakat adalah tempat manusia secara individual untuk ngangsu kawruh, yang oleh karenanya laut dan dalamnya ilmu pengetahuan sering disebut dengan lautan ilmu. Selain itu pula laut yang berelemen air juga memiliki filosofi sebagai ibu yang mempunyai sifat mengayomi.

Panggung Krapyak –Kraton Ngayogyakarta secara filosofis melambangkan awal Sangkan Paraning Dumadi (proses perjalanan hidup manusia). Yang mana mulai dari Panggung Krapyak sampai Alun-alun Selatan melambangkan fase kelahiran manusia. Lalu Alun-alun Selatan sampai Kraton Yogyakarta melambangkan fase pertumbuhan manusia muda, dan dari Kraton-Alun-alun Utara melambangkan fase masuknya manusia muda menuju dewasa. Selain itu juga kraton yang merupakan titik pusat dari garis imajiner juga melambangkan secara filosofis sebagai anak yang harus diayomi oleh Ibu yang dalam hal ini adalah Laut Selatan dan dilindungi serta dijaga oleh ayah yang dalam hal ini adalah Gunung Merapi.

Lalu dari Kraton-Tugu Golong Gilig meliputi dari Alun-alun Utara sampai Jalan Malioboro melambangkan fase kejayaan manusia (kehidupan pribadi dan karir), lalu dari Jalan Malioboro sampai Jalan Margopuro melambangkan fase masuknya manusia dewasa ke masa tua. Dan Tugu Golong Gilig melambangkan fase meninggalnya manusia dari alam duniawi dan masuk ke alam berikutnya. Selain itu pula Tugu Golog Gilig ini melambangkan simbol Manunggaling Kawula Gusti yang mana berarti bersatunya antara Raja (Golong) dan rakyat (Gilig) untuk saling bersinergi dalam membangun Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat. Lalu dalam arti spiritual atau religi melambangkan bersatunya antara Gusti (Tuhan Sang Pencipta) dan Kawula (hamba/manusia).

Baca Juga  Garis Imajiner Yogyakarta: Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Dan fase yang terakhir dari Tugu Golong Gilig sampai Gunung Merapi di Utara Yogyakarta melambangkan tempat terakhir dan tertinggi jiwa manusia akan bersemayam yang dalam hal ini adalah nirwana atau surga. Selain itu juga Gunung Merapi yang berelemen api memiliki filosofi sebagai ayah yang mempunyai sifat menjaga dan melindungi.

Berkat hal yang sudah dipaparkan diatas ini, Garis Imajiner Yogyakarta ini akhirnya dipertimbangkan oleh UNESCO untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Non-Benda (Intangible Cultural Heritage) Dunia. Pertimbangan utamanya adalah nilai keunikannya yaitu Yogyakarta merupakan salah satu kota di dunia yang memiliki garis imajiner yang menyimbolkan fase perjalanan hidup manusia dan nilai universal yaitu filosofi tersebut berlaku untuk semua manusia terlepas dari latar belakang etnis/ ras, sosio-ekonomi, sosio-budaya, dan lain sebagainya. Apabila Garis Imajiner Yogyakarta ini nantinya berhasil masuk dalam daftar warisan budaya dunia, maka akan menambah jumlah warisan dunia di Indonesia yang saat ini berjumlah sembilan situs. Untuk itu kita sebagai rakyat Indonesia wajib menjaga, merawat, mempelajari, mengunjungi, serta melindungi Garis Imajiner Yogyakarta ini, tidak hanya ini saja sebenarnya tapi semua situs-situs bersejarah yang ada di Indonesia agar nantinya situs-situs tersebut tetap awet sampai anak cucu kita pun dapat menikmatinya.

Demikian pembahasan tentang Garis Imajiner Yogyakarta, mudah-mudahan bermanfaat dan menambah literasi panjenengan sedoyo, apabila ada tambahan bisa ditambahkan di kolom komentar. Mungkin untuk pembahasan selanjutnya saya akan lebih rinci lagi membahas satu-persatu tempat-tempat dalam Garis Imajiner Yogyakarta ini. Jadi tetap nantikan tulisan-tulisan saya selanjutnya. Matur Suwun.

Penulis: Almas Hammam Firdaus

Editor: Fastabiqul Hakim

Ilustrasi: Muhammad Alif