Geger Pecinan: Awal Runtuhnya Keraton Kartasura dan Lahirnya Kota Surakarta

geger pecinan surakarta

Akhir paruh pertama abad ke-18 menjadi tahun-tahun yang penuh kegemparan di pulau Jawa. Jatuhnya perdagangan rempah-rempah dan persaingan yang kian ketat dengan EIC membuat VOC harus memutar otak demi terus dapat mengalirkan pundi-pundi keuangan. Kegusaran VOC kian bertambah dengan melihat semakin banyaknya imigran dari Tionghoa yang keberadaannya semakin berpengaruh terhadap perekonomian di Jawa. VOC khawatir keberadaan mereka dapat menjadi ancaman baru bagi monopoli perdagangan VOC di Jawa.

Sentimen VOC terhadap imigran Tionghoa ini kemudian membuat VOC mulai tahun 1738 memperketat kebijakan imigrasi terhadap para imigran dari Tionghoa. Razia terhadap imigran Tionghoa liar juga mulai marak diadakan. Mereka yang tidak dapat menunjukkan surat izin secara lengkap akan dideportasi. Banyak orang Tionghoa menjadi bulan-bulanan VOC dan pungutan liar menjadi hal yang marak ditemui. Selain ini muncul rumor yang sangat menggelisahkan bahwa para imigran yang dideportasi akan dibuang ke tengah laut oleh VOC.

Puncak ketegangan tersebut yaitu pada peristiwa pembantaian besar-besaran terhadap orang Tionghoa di Batavia pada 10 Oktober 1740 dimana diperkirakan terdapat lebih dari 7.000 orang yang tewas. Orang Tionghoa yang selamat kemudian bersatu dan mempersenjatai diri untuk melakukan perlawanan terhadap VOC. Perlawanan digencarkan dari Batavia dan bergerak melalui peisir Jawa menuju wilayah Mataram di bagian tengah Jawa. Pemimpin mereka yang terkenal yaitu Kapitan Sepanjang (Tay Wan Soey) dan Singseh (Tan Sin Ko).

Perlawanan mendapat simpati dari orang Jawa yang sama-sama menaruh kebencian terhadap kesewenang-wenangan VOC. Termasuk di dalamnya yaitu Raja Mataram Pakubuwono II pada Agustus 1741 yang menyatakan dukungannya demi mengusir VOC dari tanah Jawa. Perang semesta yang digencarkan pasukan koalisi Mataram-Tionghoa ini bahkan sempat memojokkan VOC hingga pertahanan mereka di Semarang.

Baca Juga  Garis Imajiner Yogyakarta: Pantai Parangkusumo

Sayangnya, koalisi tersebut tidak bertahan lama. Arah angin pertempuran yang berubah menjadikan Pakubuwono II pada akhir Desember 1741 terpaksa memutuskan koalisinya dengan pasukan Tionghoa dan berbalik bekerjasama dengan VOC. Meskipun demikian pemberontakan tetap tidak mereda karena banyak orang Jawa dan bangsawan Mataram yang tetap setia berjuang bersama orang Tionghoa melawan VOC. Salah satunya yaitu Patih Notokusomo yang memilih untuk meninggalkan Keraton.

Orang Jawa yang memberontak merasa kecewa dengan sikap Pakubuwono II yang diaanggap sudah ingkar janji terhadap perjuangan melawan VOC. Dalam kebudayaan Jawa, kata-kata seorang raja dianggap sebagai sebuah sabda yang harus dipatuhi karena posisi raja sebagai wakil Tuhan di dunia sehingga seorang raja harus berhati-hati dalam mengambil setiap keputusannya. Seorang raja yang mengingkari kata-katanya sendiri dianggap sudah kehilangan legitimasinya sehingga sudah tidak dapat lagi dianut perintahnya.

Pasukan koalisi Jawa-Tionghoa terus mengobarkan perlawanan. Kali ini tidak hanya terhadap VOC namun juga terhadap Kerajaan Mataram yang telah bersekutu dengan VOC. Pada Juni 1742 pasukan koalisi mulai melakukan serangan menuju ibukota Mataram di Kartasura. Pada 30 Juni mereka berhasil memasuki Kota Kartasura dan mengepung benteng Istana Keraton Kartasura. Sunan Pakubuwono II yang sudah terkepung kemudian melarikan diri melalui belakang Keraton. Sunan bersama  rombongan disertai Kapten Von Hohendorff dan para prajurit VOC yang tersisa bergerak menuju Magetan untuk menyelamatkan diri dan menggalang kekuatan kembali. Orang Jawa menandai peristiwa tersebut dengan candrasengkala, Pandito Enem Angoyog Jagad.

Pasukan Jawa-Tionghoa yang telah menguasai Keraton Mataram kemudian mengangkat seorang raja baru yaitu Raden Mas Garendi dengan bergelar Sunan Amangkurat V. Ia merupakan putra bungsu dari Pangeran Teposono dan cucu dari Amangkurat III. Ia juga mendapat julukan sebagai Sunan Kuning atau Cun Ling yang artinya bangsawan tertinggi. Julukan tersebut juga diperoleh karena keberadaan pasukan dari orang Tionghoa yang berkulit kuning.

Baca Juga  Sebelum 8 Maret 1942 di Kalijati

Sayangnya kemenangan Sunan Amangkurat V dan pasukan Jawa-Tionghoa tidak berlangsung lama. Pakubuwono bersama VOC segera menyusun kekuatan demi membalaskan kekalahan mereka. VOC juga memanfaatkan pasukan Madura di bawah Cakraningrat IV yang memiliki dendam pribadi terhadap Mataram untuk menyerbu Keraton Kartasura.  Kini, pasukan Jawa-Tionghoa di Kartasura harus bertahan dari serangan yang datang dari dua sisi, dari timur oleh pasukan Madura dan dari arah Semarang oleh VOC.

Pada 26 November 1742 pasukan Madura berhasil menyerang pertahanan Jawa-Tionghoa di Kartasura sehingga pasukan Sunan Amangkurat V tersebut harus mundur keluar Keraton. Meskipun demikian, perlawanan pasukan Jawa-Tionghoa terus dilancarkan secara sporadis hingga akhir tahun 1743. Pada Desember 1743 Sunan Amangkurat  menyerahkan diri kepada VOC setelah sebelumnya terpisah dari para pemimpin pasukannya. Selanjutnya, sisa-sisa perlawanan pasukan Tionghoa-Jawa berangsur-angsur berhasil dipadamkan oleh VOC.

Setelah berhasil menguasai kembali Keraton di Kartasura. Sunan Pakubuwana II memutuskan untuk tidak memperbaiki Keraton yang telah hancur tersebut. Bagi kepercayaan masyarakat Jawa, Keraton yang telah jatuh ke tangan musuh menjadikannya kehilangan ‘wahyu’ atau kesakralannya sehingga Keraton mesti dipindahkan di tempat yang baru. Untuk keperluan tersebut maka diperintahkanlah Tumenggung Hanggawangsa, Tumenggung Mangkuyudha, Van Hohendorff untuk mencari lokasi pembangunan keraton yang baru.

Akhirnya dipilihlah sebuah lokasi yang berada di sekitar 20 km ke arah tenggara dari Kartasura, yaitu tepatnya di Desa Sala. Lokasi tersebut berada tidak jauh dari Sungai Bengawan Solo sehingga sangat strategis untuk arus arus perdagangan. Sebelum dibangun Keraton, daerah tersebut merupakan milik seorang lurah bernama Ki Gede Sala. Setelah pembangunan selesai, Sunan Pakubuwono II mulai menempati istana barunya pada 9 Februari 1746. Peristiwa Boyong Kedaton atau perpindahan dari ibukota lama di Kartasura menuju Keraton Surakarta diadakan secara megah dengan disertai berbagai iring-iringan. Keraton baru tersebut diberi nama Surakarta Hadiningrat. Dalam bahasa Jawa kata “sura”  artinya keberanian dan “karta” berarti makmur. Nama tersebut membawa harapan agar Surakarta dapat menjadi tempat yang makmur dan melahirkan para pejuang pemberani bagi bangsa dan negara.

Baca Juga  Perjuangan Laskar Kere dalam Mempertahankan Kedaulatan RI

Meskipun demikian, kembalinya takhta Pakubuwono II di Mataram atas bantuan VOC bukanlah sesuatu yang diperoleh dengan cuma-cuma.  Sebagai kompensasinya maka Pakubuwono II harus menyerahkan sebagian besar  kekuasannya terutama terhadap wilayah pesisir. Pajak cukai serta berbagai pajak lainnya juga harus diserahkan kepada VOC. Sunan juga harus membayar ganti rugi perang sejumlah 9.000 real serta 2.000 real untuk jaminan putra mahkota Mataram. Selain itu, pengangkatan patih dan bupati utama Keraton harus melalui persetujuan dari VOC. Campur tangan VOC dalam urusan pemerintahan tersebut secara praktis menandakan bahwa sebenarnya Kerajaan Mataram telah kehilangan kedaulatannya. Namun bagaimanapun Sunan Pakubuwono II sadar bahwa kekuatannya sekarang membuatnya berada dalam posisi yang tidak dapat menolak kontrak VOC tersebut.

.

Penulis: Ardiyan Agung Nugroho

Editor: Fastabiqul Hakim