Geliat Kemajuan Pendidikan di Mangkunegaran

Kemajuan pendidikan Mangkunegaran

“Kemajuan kita sebagai bangsa tidak bisa lebih cepat daripada kemajuan kita dalam pendidikan. Pikiran manusia adalah sumber daya fundamental kita”

-John F. Kennedy-

Salah satu faktor dari kemajuan sebuah negara/ bangsa adalah pendidikan. Begitu pun dengan Mangkunegaran, yang mana pendidikan menjadi modal awal Mangkunegaran untuk maju sekaligus melepaskannya dari bayang-bayang Kraton Kasunanan Surakarta.

Sepak terjang kemajuan pendidikan di Mangkunegaran dimulai sejak masa pemerintahan K.G.P.A.A Mangkunegara VI. Sebenarnya pada mulanya Mangkunegara VI ini kurang memperhatikan bidang ini, mengingat dia harus fokus untuk menyelesaikan krisis ekonomi yang melanda Mangkunegaran, namun karena melihat politik etis yang hanya menyediakan pendidikan untuk para Bangsawan membuatnya tergerak untuk juga menyediakan pendidikan bagi rakyatnya.

Oleh karenanya akhirnya Raja yang nama mudanya B.R.M Suyitno ini mulai mencanangkan pembaruan di bidang pendidikan. Pembaruan tersebut dimulai dengan membangun sarana dan prasarana yang mendukung serta memberikan beasiswa (studie fonds) bagi siswa yang kurang mampu. Sarana dan prasarana itu di antaranya adalah sekolah, lembaga-lembaga pendidikan, dan buku-buku pelajaran yang dibutuhkan oleh para siswa.

Pola pengajaran sekolah di Mangkunegaran menggunakan pola barat seperti bahasa yang digunakan adalah bahasa Belanda, namun masih terdapat kekhasan tersendiri yaitu tetap mengajarkan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar dalam mata pelajarannya (berhitung, ilmu bumi, membatik, membaca dan lain-lain). Tujuannya adalah untuk menghasilkan manusia yang hebat dengan pemikiran-pemikiran yang maju, namun tetap menjunjung tinggi nilai-nilai budaya Jawa.

Beberapa sekolah yang didirikan Mangkunegara VI yaitu pertama Pamong Siswo, sekolah ini merupakan sekolah dengan pengantar bahasa Jawa yang mengajarkan tentang tata cara adat Jawa seperti etika hidup orang Jawa, sejarah terbentuknya Praja Mangkunegaran, dan manajemen modernisasi etika yang meliputi ajaran (piwulang) tentang tata krama, kesetiaan, dan kecintaan terhadap Praja mungkin kalau sekarang ini mirip seperti mata pelajaran PPKN, namun Pamong Siswo ini hanya sebatas pada lingkup keluarga Kraton saja  dan jauh dari sistem pengajaran Barat.

Baca Juga  Dari Bawah Tanah Paman Sam: Jalan Damai Pembebasan Budak oleh Gerakan Underground Railroad (1810-1850)

Sekolah kedua yang didirikan adalah Sekolah Siswo, sekolah yang didirikan pada 1912 ini merupakan perubahan dari Pamong Siswo yang mana pembaruan yang dibuat antara lain sekolah siswo ini juga memberikan pelajaran-pelajaran Barat, selain itu juga sekolah ini tidak hanya ditujukan untuk ruang lingkup keluarga Kraton saja namun juga ditujukan untuk anak pegawai Mangkunegaran dan anak para prajurit Legiun Mangkunegaran. Sekolah ini yang kemudian menjadi Sekolah Rendah Angka Siji (nomor satu). Dua tahun kemudian sekolah itu diubah menjadi Holand Indlandsche School (HIS) atau dikenal juga dengan Mangkunegaran School.

Selain mendirikan sekolah, Mangkunegara VI juga mencetuskan Studie Fonds (beasiswa) yang ditujukan untuk para anak pegawai (narapraja) Mangkunegaran yang ingin melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi namun tidak mampu secara ekonomi. Mereka wajib mengganti biaya studi itu dengan cara mengangsur kelak ketika sudah bekerja.

Selain membangun sekolah untuk anak laki-laki, pada tahun 1912 Mangkunegara VI juga membangun sekolah untuk anak perempuan yang diberi nama Siswo Rini atau Sekolah Ongko Loro. Sekolah yang bertempat di halaman Puro Mangkunegaran itu merupakan sekolah perempuan yang mengajarkan bahasa Jawa dan tata adat serta etika Jawa.

Pada 11 Januari 1916, Mangkunegara VI mengundurkan diri sebagai Raja Mangkunegaran dan bermukim di Surabaya, takhta kemudian diserahkan kepada keponakannya B.R.M Suerjo Soeparto yang ketika naik takhta bergelar K.G.P.A.A Mangkunegara VII. Di masa pemerintahan Mangkunegara VII pendidikan di Mangkunegaran semakin maju pesat. Hal tersebut wajar mengingat Mangkunegara VII sedari muda memang sangat haus akan pendidikan. Maka tak heran ketika naik takhta, pendidikan rakyatnya menjadi salah satu perhatian utamanya.

Selain membuatkan gedung baru untuk HIS, Mangkunegara VII juga mendirikan sekolah baru di Wonogiri, Mangkunegara VII juga memberi bantuan dana untuk mendirikan sekolah-sekolah swasta dan membiayai operasional tahunan. Sekolah-sekolah juga ditingkatkan mutunya dengan menambah mata pelajaran bahasa Belanda. Mangkunegara VII juga menutup sekolah Rini pada tahun 1923 dan menggantinya dengan Huishood Cursus Siswa Rini, yang pada 1939 juga kembali berubah menjadi Sekolah Kerumahtanggaan.

Baca Juga  Menelisik Sejarah Perkembangan Islam di Cina

Namun sekolah-sekolah itu masih terbatas untuk anak-anak kerabat dan pegawai Mangkunegaran. Untuk memberi pendidikan bagi rakyatnya, Mangkunegara VII mendirikan Sekolah Desa. Jumlah Sekolah Desa terus bertambah dari tahun ke tahun, mulai dari 19 sekolah pada 1918 menjadi 82 sekolah pada 1931. Seiring bertambahnya jumlah Sekolah Desa, jumlah murid pun terus meningkat. Pada 1918, jumlah murid di Sekolah Desa hanya sekitar 1000 murid. Pada 1930, jumlah murid hampir mencapai 7000 siswa.

Membangun sekolah tanpa membangun perpustakaan bagai memasak sayur tanpa garam tentu kurang enak dan lengkap, maka akhirnya guna mendukung pembangunan pendidikan, Mangkunegara VII membangun perpustakaan baru yaitu Perpustakaan Sana Pustaka. Berbeda dengan Perpustakaan Reksa Pustaka yang diperuntukkan untuk kalangan Kerabat dan Narapraja Mangkunegaran, Perpustakaan Sana Pustaka diperuntukkan untuk umum sehingga siapa pun dari kalangan mana pun boleh mengunjungi Perpustakaan Sana Pustaka.

Mangkunegara VII juga menunjuk ahli hukum dan sastrawan Mr. Noto Soeroto, rekannya semasa kuliah di Belanda sebagai pengelola Perpustakaan Sana Pustaka. Jumlah koleksi buku di Perpustakaan Sana Pustaka pada 1936, mencapai 1727 buku berbahasa Belanda, 300 buku berbahasa Melayu, 300 buku berbahasa Sunda, 193 buku berbahasa Jawa dan hampir 500 buku lainnya. Selain memiliki koleksi buku, Perpustakaan Sana Pustaka memiliki koleksi koran dan majalah.

Betapa pun hasilnya, geliat kemajuan pendidikan di Mangkunegaran patut diapresiasi mengingat pembangunan pendidikan atas inisiatif bangsawan bumiputra seperti Mangkunegara VI dan Mangkunegara VII merupakan suatu prestasi yang cemerlang pada zamannya. Hal ini merupakan hal yang unik, karena di daerah-daerah lain umumnya inisiatif pembangunan pendidikan berasal dari pemerintah Hindia Belanda.

Namun, apa pun itu, hal yang dilakukan oleh kedua raja Mangkunegaran ini membuktikan bahwasanya pada masa itu sudah ada kesadaran akan pentingnya pendidikan untuk kemajuan sebuah bangsa/negara. Hal ini pun tidak sia-sia mengingat kebijakan pendidikan yang diberlakukan kedua raja Mangkunegaran ini ternyata membuahkan hasil dan berpengaruh terhadap berkembangnya Praja dan masyarakat Mangkunegaran di kemudian hari dalam menghadapi perubahan zaman.

Baca Juga  Pengaruh Terusan Suez terhadap Perdagangan Dunia Masa Kolonial (1869-1956)

.

Penulis: Almas Hammam Firdaus

Editor: Fastabiqul Hakim