Gerakan September Tiga Puluh

gerakan september tiga puluh

Tanggal 30 September, tepatnya 55 tahun lalu, telah terjadi sebuah gerakan yang menyebut dirinya dengan nama Gerakan September Tiga Puluh yang telah berusaha untuk melakukan subversi atau mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi Komunis.

Untuk melancarkan aksinya mereka berencana menyingkirkan tujuh orang petinggi TNI yang dianggap merintangi sepak terjang mereka. Adapun ketujuh orang yang menjadi target adalah : Jend (Anumerta) Ahmad Jani, Letjend (Anumerta) R. Soeprapto, Letjend (Anumerta) M.T Harjono, Letjend (Anumerta) S. Parman, Mayjend (Anumerta) D.I Pandjaitan, Mayjend (Anumerta) Soetojo Siswomihardjo, dan Jend. Abdul Haris Nasution.

Mereka nantinya akan dijemput oleh pasukan Cakra Birawa yang akan dimulai pada dini hari tanggal 30 September dan pada pukul 04.00 tanggal 1 Oktober, semua harus sudah sampai di tempat tujuan. Akan tetapi, Jend. A.H Nasution berhasil meloloskan diri dengan memanjat dinding belakang rumahnya dan orang yang rela menggantikan dirinya adalah Kapten (Anumerta) Piere Tendean.

Putri dari A.H Nasution yang bernama Ade Irma Suryani saat itu harus menjadi korban kebrutalan Cakra Birawa sehingga menderita luka tembak di bagian punggung dan akhirnya meninggal dunia di RS Gatot Soebroto setelah dirawat beberapa hari. Adapun mereka yang gugur di daerah Kentungan, Yogyakarta adalah Kol (Anumerta) Katamso Dharmokusumo, Letkol (Anumerta) Sugijono, Brigpol (Anumerta) K.S Tubun.

Para petinggi TNI yang sudah ditangkap oleh pasukan Cakra Birawa dikumpulkan disebuah rumah di tengah hutan karet di daerah Jakarta Timur. Mereka disiksa dengan kejam sebelum akhirnya ditembak mati dan akhirnya dikubur disebuah sumur tua–yang diameternya hanya 70 cm–yang disebut sumur lubang buaya.

 Berdasarkan penelusuran fakta, dapat diketahui bahwa peristiwa ini didalangi oleh D.N Aidit, Sjamkamaruzaman, Nyoto, yang bekerjasama dengan Letkol. Untung, Brigjend. Soepardjo, dan Kol. Doel Arief yang menyebut diri mereka sebagai dewan revolusi. Mereka menuduh pihak-pihak yang berseberangan dengan Ir. Soekarno dan menolak paham Komunisme sebagai antek-antek Kapitalis yang harus diberantas.

Baca Juga  Siapakah Dalang di Balik Pembunuhan Benazir Bhutto?

Terlepas dari banyak versi dan segala misteri maupun intrik-intrik yang menyelimutinya, peristiwa Gestapu atau G30/S PKI adalah sebuah peristiwa kelam yang memang pernah terjadi di Indonesia.

Setelah dikumandangkannya proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 dan ditetapkannya Pancasila sebagai ideologi negara, banyak pihak yang tidak setuju dan berusaha mengganti ideologi tersebut dengan ideologi lainnya.

Maka dari itu, pada momen peringatan G30/S PKI kita sebagai generasi penerus bangsa hebdaknya bisa mengambil sebuah pelajaran bahwa ideologi Pancasila adalah satu-satunya ideologi yang ada pada bangsa Indonesia.

Pancasila akan tetap menjadi pandangan hidup bangsa Indonesia sampai kapanpun. Para petinggi TNI yang menjadi korban keganasan para berandal PKI adalah bukti bahwa mereka rela untuk menjadi martir demi tegaknya Pancasila. Suara mereka tetap se-iya sekata “Pancasila” meskipun nyawa adalah taruhannya.

Dengan momen peringatan ini pula, hendaklah kita meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya laten komunisme di Indonesia. Waspada terhadap munculnya bibit-bibit neo-PKI yang setiap saat bisa muncul kembali dan menancapkan kekuasaannya lagi. Apakah kita rela jika peristiwa G30/S PKI akan terulang (lagi)?.

.

Penulis: Victor Antonio Jevon

Editor: Adien Tsaqif