Gerakan Snouck Hurgronje dalam Memecah Belah Islam

Snouck Hurgronje memecah belah islam

Sejarah memperlihatkan bahwa perlawanan rakyat Aceh terhadap penjajah Belanda merupakan salah satu perlawanan tersengit dari umat Islam di Indonesia terhadap Belanda. Perlawanan rakyat Aceh bukan perlawanan yang dilandasi pemikiran sempit nasionalisme. Perlawanan mereka adalah perlawanan ideologis dan aqidah antara umat islam yang terjajah oleh penjajah Belanda. Pemikiran ini di bawa oleh para ulama dan tokoh Aceh yang pulang dari Mekkah setelah melakukan ibadah haji.

Fenomena ini dipahami betul oleh Snouck Hurgronje.setelah melakukan pengamatan terhadap fakta perang Aceh dari perbincangan orang-orang Aceh yang berziarah ke Mekkah. Snouck berinisiatif menawarkan bantuan kepada pemerintah belanda untuk mematikan semangat perlawanan rakyat Aceh. Hal yang segera disampaikan kepada Belanda adalah mengusahakan pemisahan Islam dan Politik di negeri jajahan.

Berdasakan konsep Snouck, pemerinth kolonial Belanda dapat mengahiri perlawanan rakyat Aceh dan meredam munculya pergolakan-pergolakan di Hindia Belanda yang dipelopori oleh umat Islam. Pemikiran Snouck berdasarkan pengetahuan dan pengalamanya menajdi landasan doktrin bahwa “musuh kolonialisme bukanlah Islam sebagai Agama, melainkan Islam seabagai doktrin politik”.

Tidak semua orang islam diposisikan sebagai musuh, tidak semua orang Islam di Indonesia fanatik dan memusuhi pemerintah Belanda. Bahkan para ulamanya pun jika tidak diusik dalam kegiatan ubudiah maka para ulama tidaka akan menggerakkan umatnya untuk memberontak terhadap pemerintah kolonial Belanda. Namun, disisi lain Snouck menemukan Fakta bahwa agama Islam mempunyai potensi untuk mengusai seluruh kehidupan umatnya, baik dari segi sosial maupun politik.

Snouck memformulasikan dan mengkategorikan permasalahan Islam menjadi tiga bagian, yaitu bidang agama murni, bidang sosial kemasyarakatan dan bidang poltik. Dalam bidang agama murni dan ibadah selama tidak mengganggu kekuasaan, maka pemerintah kolonial memberi kemerdekaan kepada umat Islam untuk melaksanakan ajaran agamanya. Pemerintah harus memperlihatkan sikap seolah-olah memperhatikan agama Islam dengan memperbaiki tempat peribadatan, serta memberikan kemudahan dalam melaksanakan ibadah Haji.

Baca Juga  Tokoh Filsafat Cina Kuno: Meng Zi, Han Fei Zi, Zhuang Zi, dan Mo Zi

Dalam bidang politik, bentuk-bentuk agitasi politikm Islam yang akan membawa rakyat kepada fanatisme dan kebangkitan Islam harus ditumpas. Penumpasan itu jika diperlukan dilakukan dengan kekerasan dan kekuatan senjata. Setelah memperoleh ketenangan, pemerintah kolonial harus menyediakan pendidikan , kesejahteraan dan perekonomian, agar kaum pribumi mempercayai maksud baik pemerintah kolonial dan akhirnya rela diperintah oleh Belanda.

Sedangkan dibidang sosial kemasyarakatan, pemerintah kolonial memanfaatkan adat kebiasaan yang berlaku dan membantu menggalakkan rakyat agar tatap berpegang pada adat tersebut yang telah dipilih agar sesuai dengan tujuan mendekatkan rakyat kepada budaya Eropa. Snouck menganjurkan membatasi meluasnya pengaruh ajaran Islam, terutama dalam hukum dan peraturan.

Starategi Snouck kemudian didukung oleh pemerintah Belanda dengan menerapakan konsep devide et impera dengan memanfaatkan klompok elit priyayi dan Islam abangan untuk meredam kekuasaaan Islam dan pengaruhnya di tengah masyarakat. Kelompok ini diberi kesempatan untuk menempuh jalur pendidikan Barat sebagai bagaian dari “Politik Asosiasi”.

Politik asosiasi sendiri adalah program yang dijalankan lewat jalur pendidikan bercorak barat dan pemanfaatan kebudayaan Eropa terhadap kaum pribumi agar mereka lebih terasosiasi dengan negri dan budaya Eropa. Pribumi hasil didikan Barat ini yang kemudian di jadikan perpanjangan tangan pemerintah kolonial dalam mengemban dan mengembangkan amanat politik asosiasi. Secara berangsur-angsur pejabat Eropa dikurangi, digantikan oleh pribumi pangreh praja yang telah menjadi ahli waris budaya asosiasi hasil didikan sistem Barat. Akhirnya Indonesia diperintah oleh pribumi yang telah berasosiasi dengan kebudayaan Eropa.

Sosok Snouck Hurgronje yang Sebenarnya

Snouck merupakan sosok yang penuh warna. Bagi Belanda, ia adalah pahlawan yang berhasil memetakan struktur perlawanan rakyat Aceh. Bagi kaum Orientalis Snouck adalah sarjana yang berhasil. Tapi bagi rakyat Aceh, ia adalah penghianat yang tanpa tanding.

Baca Juga  Menelisik Sejarah Perkembangan Islam di Cina

Selain tugas memata-matai Aceh, Snouck juga terlibat sebagai peletak dasar segala kebijakan kolonial Belanda bagi kepentingan umat Islam. Atas sarannya, Belanda mencoba memikat Ulama untuk tidak menentang dengan melibatkan massa. Tak heran, setelah Aceh, Snouck pun memberi masukan baagaimana menguasai beberapa bagian wilyah Jawa dengan “memanjakan dan meninabobokkan” ulama. Begitulah sosok Snouck Hurgronje yang dianggap kontroversial, namun jelas-jelas menorehka luka khususnya bagi kaum Muslimin Indonesia, terutama Kaum Mus;im Aceh