Gerbang Panas Manado

Setelah berhasilnya Unit Operasi Parasut Jerman di tahun 1940, Jepang juga menyempurnakan unit tempur parasut mereka dengan mengadopsi cara Jerman. Jepang membentuk pasukan payung ke dalam dua matra yakni Rikugun (AD) dan Kaigun (AL). Unit parasut dari Kaigun nantilah yang akan beraksi membebaskan Indonesia bagian tengah hingga timur dalam Pertempuran Manado dan Kupang guna merebut pangkalan terbang. Sejatinya, misi awal mereka ialah untuk merebut tempat vital lain seperti kilang minyak di Borneo yang diwujudkan kemudian (Nanke, 2018). Namun, karena lapangan terbang di Kepulauan Jolo belum dapat disiapkan, maka Manado menjadi sasarannya.

1st Yokosuka SNLF (Sumber : Forum Axis History)

Dibentuk tanggal 15 November 1941, 1st and 3rd Special Naval Landing Forces (Pasukan Pendaratan Angkatan Laut Khusus/Tokubetsu Rikusentai) setelah menyelesaikan pelatihan yang berat dan singkat, dengan persyaratan yang ketat. Dikepalai oleh Kol. Toyoaki Horiuchi, pasukan ini santer disebut dengan Pasukan Horiuchi dengan 750 personel tentara. Pasukan ini tak ubahnya sebuah unit khusus dan istimewa seperti negara lain karena teknologi pasukan payung baru dimutakhirkan menjelang Perang Dunia II dimulai. Misalnya Jerman yang menggunakan pasukan payungnya dalam serbuan ke Belgia, Belanda, hingga negara-negara Skandinavia dalam tempo singkat.

Mendarat di Langoan (Sumber : Scan Japanse Parachutisten Samoerai van de Tweede Wareldoorlog Journal)

Pada tanggal 11 Januari 1942 pukul 09.30 pagi, Pasukan Horiuchi bersiap mendarat dari langit Lapangan Terbang Langoan (Manado 2) yang berusaha merebut pangkalan itu yang juga pangkalan pesawat Amfibi Kakas. Diterjunkan lewat 26 pesawat pengangkut Mistubishi G3M type 96 “Tina” dan Mitsubishi G6M1-L2 type 1 membawa 334 pasukan beserta Horiuchi sendiri. Disambut hangat tembakan gencar musuh lewat pimpinan Letnan Satu Wielinga beserta 41 regu di Kampung Langoan yang 11 regu di antaranya bertahan di lapangan terbang plus satu truk overvalwagen dengan pimpinan Serma Robbemond (Takizawa, 2005).

Baca Juga  Sejarah Restorasi Meiji, Tonggak Awal Modernisasi Jepang

Pukul 10.20 rombongan penerjunan telah selesai namun, masalah kembali datang. Setelah dieliminasinya satu truk overvalwagen ternyata, Kapten van den Berg memerintahkan dua truk yang tersisa menyerang musuh. Sayang, hanya satu dari dua tadi yang dapat dieliminasi. Serangan pertama menghasilkan kerugian besar bagi pasukan payung. Pada pukul 11.30 berhasil menguasai lapangan terbang oleh kompi pertama Mutaguchi dan pukul 18.00 menguasai base Kakas oleh kompi kedua Saito. Keesokan harinya pukul 06.30, delapan belas pesawat pengangkut menerjunkan 74 pasukan dengan komando Sonobe (Remmelink, 2015, pp. 182-183). Namun, Belanda sudah mengetahui rencana para sudah meninggalkan kota dan memulai gerilya.

Dari pertempuran yang melibatkan pasukan payung angkatan laut ini, Jepang menyatakan kerugian. Alhasil, Komandan Kompi D, Lettu Wielinga, Serma Robbemond, Visscher dan sembilan Prajurit KNIL Manado ditusuk dengan sangkur atau dipenggal tambah dua lainnya yang meninggal di penjara setelah disiksa. Sebelum mundur dari kota atau pangkalan, pasukan Belanda lewat Kapten van den Berg dan perintah Mayor Schilmoller dirusakkanlah pangkalan MLD (Militaire Luchtvaart Dienst atau Dinas Penerbangan AL)  juga ML-KNIL (Militaire Luchtvaart-Koninklijke Nederlands Indische Leger atau Dinas Penerbangan Tentara Kerajaan Hindia Belanda) (Oktorino, 2013, pp. 112-113). Pasukan Pendaratan AL Khusus Yokosuka-1 merugi dengan perincian 20 terbunuh dan 32 lainnya terluka serta menewaskan 140 tentara musuh beserta menangkap 48 lainnya.

Bibliography

Nanke, A. K. (2018). Bibliografi Beranotasi Sumber Sejarah Masa Pendudukan Jepang. Jakarta: Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Oktorino, N. (2013). Runtuhnya Hindia Belanda. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Remmelink, W. (2015). The Invasion of the Dutch East Indies. Leiden: Leiden University Press.

Takizawa, G. R. (2005). Japanese Paratroop Forces of World War II. Oxford: Osprey Publishing.

Baca Juga  Representasi Film Hotel Rwanda terhadap Genosida di Rwanda 1994