Islam Masuk ke Nusantara pada Abad ke-7 atau ke-13 Masehi?

Islam masuk ke nusantara abad ke-7 atau 13?

Adanya dua teori yang menyebut dugaan kuat Islam masuk antara kurun waktu Abad ke-7 Masehi atau sezaman setelah Rasulullah SAW dan  diteruskan oleh Ali bin Abi Thalib RA hingga dinasti setelahnya. Hal tersebut disampaikan oleh seorang tokoh bangsa yang masyhur dalam Seminar Masuknya Agama Islam ke Indonesia di Medan tahun 1963. Tokoh bangsa itu tiada lain ialah Prof. Dr. Buya Hamka, seorang cendekiawan religius. Ia mendasari teorinya oleh Berita Cina Dinasti Tang dan bukti wiraniaga Arab di pantai barat Sumatera, sehingga lahirlah Kerajaan Lamuri tahun ±800 M dan klaimnya tentang Samudera Pasai Abad ke-13 Masehi ialah peristiwa berkembangnya Agama Islam (Suryanegara, 2009, p. 99).

Berbeda dengan Prof. Dr. Buya Hamka, Snouck Hurgronje yang santer disebut sebagai ahli Islam di Hindia Belanda, menyatakan Islam yang ada di Indonesia berasal dari abad ke-13 Masehi. Pertimbangannya ada pada pendekatan kultural yang berasal dari Gujarat. Ia mendasari teorinya di letak bukan dari mana agama itu berasal namun, dari siapa itu dibawa. Maka, jelaslah ia menyimpulkan India lebih-lebih Persia yang bukan Arab pun menghadirkan Mazhab Syiah yang jelas-jelas bukan mayoritas di Indonesia. Ia secara gambling menyebut pandangannya saat orasi ilmiah tahun 1883 dengan judul “Arti Agama Islam bagi para Pemeluknya di Hindia Belanda” (Saifullah, 2010, p. 14).

Dari dua perspektif ini dapat kita mengambil sebuah jalan keluar. Kami akan menguraikan menjadi dua topik ,yakni dibawa oleh siapa dan apakah itu berhasil menyebarluas ke masyarakat? Ini menjadi menarik untuk kita gali bilamana, banyak sumber-sumber yang cukup bisa dijadikan sebagai acuan. Selain interpretasi pencetus teori yang baik dan berhubungan pada maksud dari historiografi yang subyektif semakin membuat kita berpikir untuk mencari sebuah keobjektivitasan itu. Topik ini bertujuan untuk mengkritisi penulisan sejarah kita selama ini.

Baca Juga  3 Tokoh Filsafat Skolastik yang Pemikirannya Berpengaruh

Dari topik yang pertama Islam dibawa masuk oleh siapa. Ada wiraswasta yang berasal dari Arab atau guru-guru tasawuf dari India Gujarat? Arab sebagai definisi mengartikan sebuah daratan yang dikurung lautan. Maka, tahun 622-632 Masehi terjadinya peperangan regional di Hijaz/Arab yang tidak berdampak berarti setelahnya 632-661 Masehi, kontak niaga justru semakin lancar. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya temuan makam pemuka agama serta makam paman Rasulullah SAW di Kanton, Cina yang pastinya lewat Nusantara (Arnold, 1979). Ada dugaan Islam telah ada di masa itu berarti semasa Sriwijaya di barat Sumatera lewat para pedagang tadi dengan memanfaatkan angin. Maka, selama itu tidaklah para pedagang tadi menikahi pribumi?

Menguraikan topik kedua inilah yang menjadi perdebatan klasik kita selama ini. Memang diambil secara gamblang lewat temuan sebaran masyarakat kita menyadari bahwa Perlak dan Samudera Pasai di abad ke-13 Masehi sebagai sebuah power system. Maka dapat secara mudah kita cerna sebagai Islam sudah berdiri tegak menjadi entitas politik. Adapun kita paham, abad ke-7 Masehi dibenarkan Islam sudah sampai dan abad ke-13 Masehi telah berkembang sebegitu besar di pintu jalur perdagangan. Namun, kenapa Islam baru mendapat cahayanya Jawa di abad ke-15? Studi kasus menyebut Islam itu perlahan melewati jalan damai bukan invasi perang maka sasarannya selalu di daerah pesisir. Dengan demikian, benarlah bandar-bandar di Jawa menjadi pionir cahaya Islam (Pigeaud, H.J. de Graaf , 1985, p. 6).

Referensi:

Arnold, T. W. (1979). Sejarah Da’wah Islam, Penterjemah Drs. H.A. Nawawi. Jakarta : Rambe Widjaja.

Pigeaud, H.J. de Graaf . (1985). Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa: Peralihan dari Majapahit ke Mataram. Jakarta: Grafitti Pers & KITLV.

Baca Juga  Akhir Kisah Cinta Sang Paduka: Sunan Amangkurat I & Ratu Mas Malang

Saifullah. (2010). Sejarah dan Kebudayaan Islam di Asia Tenggara. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suryanegara, A. M. (2009). Api Sejarah. Bandung: Salamadani Pustaka Semesta.

.

Penulis: Muhammad Ath Thaariq

Editor: Fastabiqul Hakim