Islam Van Afrika Selatan dan Memoar Syekh Yusuf Al Makassari (1652-1699)

syekh yusuf afrika selatan

Pra-Islam di Afrika Selatan

Datangnya agama-agama tidak terlepas dari penjajahan yang terjadi di Afrika itu sendiri. Pada tahun 1652 di Selatan sudah terdapat kontrol VOC pada daerah yang mereka sebut sebagai Afrika Selatan (Zuid Afrika). Salah satunya ialah Cape Town yang menjadi pijakan bagi VOC untuk sampai ke Hindia. Di dalamnya terdapat budak-budak yang ternyata ada dari Belanda juga dari Melayu yang diasumsikan sama haknya. Belanda yang terlihat sebagai zoon politicon punya andil besar dalam penyebarluasan Agama Kristen akibat friksi di negara induk. (Oliver, 2017: 1)

Akulturasi pada akhirnya mencipta keberagaman dalam Afrika itu. Dilihat dari polanya, penjajahan Belanda tak ubahnya sama dengan pola Perancis yaitu, pemerintahan direct rule. Sistem ini mampu membuat bangsa yang terjajah mengalami asimilasi atau percampuran. Dengan demikian, golongan Afrika mirip dengan penjajahnya sehingga, terprovokasi dan teragitasilah suatu kelompok masyarakat dalam kemasan tanah jajahan yang mengikuti jalan kepercayaan “tuannya”. Walhasil, terjadilah kristenisasi secara cepat dan bertahan lama. (Riyadi, 2016: 69-70)

Gelombang Muslim dan Memoar Syekh Yusuf 

Pada tahun 1652, gelombang Muslim dari Melayu sampai di Afrika Selatan. Dalam berbagai literatur, mereka ini berasal dari Melayu yang diindikasikan juga dari Batavia dan daerah lainnya. Mereka sampai di Cape Town sebagai pekerja atau budak-budak dengan alasan ekonomi (Mahida, 1993: 1). Pun sebagai muslim, tak lupa mereka menyiarkan Islam ataupun sekadar mewarnai kehidupan benua hitam itu.

Dua tahun berselang, 1654 Belanda benar-benar membuat Cape Town sebagai batu pijakan mereka ke Hindia Timur. Di masa itu juga, Pengadilan Tinggi Belanda di Batavia menetapkan kriminal yang melawan hukum Belanda mendapat hukuman sebagai buruh kasar di Mauritius dan Cape Town atau yang dikemudian hari mereka kenal dengan Tanjung Harapan (Mahida, 1993: 3). Ini merupakan gelombang kedua arus muslim yang datang ke Afrika yang berasal dari Asia. Oleh karena itu, makin eratlah perpaduan kultur antara pribumi dan pendatang.

Baca Juga  Kegagalan Kubilai Khan dalam Menaklukkan Jawa Tahun 1293

Setelah itu berturut-turut, datang beberapa gelombang muslim lagi. Tibalah Mardykers dan Orang Kayen di Afrika. Mereka datang dari kurun tahun 1658 dan 1657. Orang Kayen inilah yang berasal dari Nusantara. Ada pihak yang berpendapat mereka berasal dari Sumatra. Mereka di buang ke Afrika Selatan utamanya di Cape Town, karena Belanda takut akan mencederai “singgasana” politik dan ekonominya. (Mahida, 1993: 2)

Dari situlah terkenal tokoh-tokoh Islam atau mubalig yang berasal dari Nusantara. Pra-Syekh Yusuf adalah Syekh Abdurrahman dan Syekh Mahmud. Mereka adalah golongan Asy’ariah yang dicerminkan Ahlussunnah wal Jamaah menentang ajaran-ajaran yang berbau sesat (takhayul, bidah, khurafat). Syekh Yusuf yang kerap kali merepotkan Belanda karena hasil menyemai pemikiran di Arab membuat gerakan-gerakan perlawanan. Beliau beraksi di Makassar (Gowa Tallo) dan Banten. Buntut aksinya di Banten membuatnya ditangkap dan dibuang pada umur 68 tahun tanggal 7 Juli 1693. (Lihat: Raditya, 2018)

Bertahan di Sri Lanka sebentar, Belanda langsung mengirim Syekh Yusuf ke Cape Town dan beliau sampai di sana pada tahun 1694. Di Cape Town ia dihormati dan disegani oleh Gubernur Jenderal Simon van Stel. Meskipun begitu, kiprah penyebarluasan pengaruh Islam di Cape Town khususnya juga membuat Belanda gusar. Berikutnya, datang Raja dari Tambora (Sultan Abdul Basi). Melihat pengaruh dua sosok itu yang semakin mengganas dalam penyebaran Agama Islam dalam memperkeruh air kolonisasi dan mengingat memori perlawanan di Nusantara serta Sri Lanka yang mendapat banyak dukungan masyarakat, alhasil keduanya dipisahkan. (Lihat: Rizkiyansyah, 2016)

Duka menyelimuti Cape Town. Pada tanggal 23 Mei 1699 Syekh Yusuf wafat. Pada tahun 1704 kerabatnya meminta Syekh Yusuf untuk dikebumikan di Nusantara (Hadi & Sustianingsih, 2015: 318). Selepas Syekh Yusuf wafat, gelombang muslim sebagai budak/buangan politik datang. Namun, mereka bukan hanya berasal dari Nusantara lagi melainkan dari daratan Asia lainnya.

Baca Juga  Dari Bawah Tanah Paman Sam: Jalan Damai Pembebasan Budak oleh Gerakan Underground Railroad (1810-1850)

Dampak Gelombang Muslim di Afrika Selatan

Berkat beliau, Cape Town telah menjadi suatu kekuatan Islam yang besar. Maka tak heran pada tahun 1841, populasi muslim di Cape Town mencapai 6.492 dan belum termasuk daerah lainnya (Mahida, 1993: 19). Terbentuklah komunitas Islam yang berasal dari pengikut Syekh Yusuf yang kawin dengan pribumi hingga menjadi mualaf. Atas jasanya, sebagian warga Afrika Selatan menganut Agama Islam sampai sekarang.

Pada tahun 1918, Afrika Selatan pun merdeka dari Inggris. Kendati demikian, mereka masih dicengkeram Politik Rasialis Apartheid. Sosok kulit hitam Nelson Mandela yang kerap mengenakan batik dalam suatu kesempatan berkata bahwa Syekh Yusuf merupakan Putra Afrika yang kemudian menjadi teladan rakyat. Nelson Mandela ingin mengungkapkan bahwa Syekh Yusuf ialah tokoh yang menginspirasinya dalam melawan Apartheid (Lihat: Habib, 2018). Kristalisasi semangat itu diungkapkan Pemerintah Afrika Selatan pada tahun 2009 oleh Presiden Afrika Selatan pada saat itu, Thabo Mbeki yang menyatakan gelar kepahlawanannya. Namun, Pemerintah Republik Indonesia lewat Presiden Soeharto ternyata lebih dahulu 7 Agustus 1995 telah menganugerahkan gelar pahlawan nasional pada beliau. (Hadi & Sustianingsih, 2015: 315)

.

Penulis: Muhammad Ath Thaariq

Editor: Fastabiqul Hakim