Kampanye Australia ke Papua

Australia perang pasifik

Terlibat Perang Dunia II

Pada tahun 1931, Australia secara resmi keterkaitan terhadap parlemen Inggris yang kemudian dikenal oleh Statue of Westminster. Meskipun demikian, Australia tetap berporos soal kebijakan politik luar negerinya kepada Inggris dan melihat Pangkalan Royal Navy di Singapura sebagai pertahanan Australia arah utara. (Siboro, 1996: 178) Perang Dunia kemudian dimulai dengan serbuan Nazi Jerman ke Polandia tertanggal 1 September 1939. Karena Inggris sebagai sekutu Polandia mendeklarasikan perang terhadap Nazi Jerman, Australia pun berikutnya melakukan hal serupa lewat Perdana Menterinya dari Partai Liberal, Robert Menzies di bulan itu juga. Meskipun tidak peduli dengan nasib Polandia, Australia mengirim Angkatan Laut Australia (Royal Australian Navy) dan Angkatan Udara Australia (Royal Australian Air Force) dikirim ke Mediterania atau Afrika Utara menghalau invasi Blok Axis di daerah itu. Lebih lanjut, Australia mengirim 2nd Australian Imperial Force di antaranya dari Divisi 6,7,8, dan 9 tahun 1940-1941 namun, Australia kemudian segera menarik Divisi ke 8 ke Malaya.

Alih-alih nasib geopolitik negara-negara benua biru, Australia lebih melihat “virus kuning” sebagai ancaman yang nyata. Pada tanggal 15 Februari 1942, Singapura jatuh dan Royal Navy Inggris pun keok sehingga, 1.700 tewas, 1.300 terluka dan 15.000 serdadu lainnya di sisi Australia. (Marston, 2006: 143) Sebelumnya, HMAS Sydney kebanggaan AL Australia juga ditenggelamkan Jepang dalam pertempuran di Selat Sunda November 1941. Semua hal itu semakin membuat Australia tak tenang dan berujung pada perubahan patron. Australia kemudian memandang Amerika Serikat sebagai pelindung mereka dan menolak ajakan Inggris mempertahankan Burma, memilih membarengi Amerika Serikat mempertahankan Australia. Didalangi dengan jatuhnya Pemerintahan Menzies Agustus 1941 lalu, digantikan oleh John Curtis dari Partai Buruh satu bulan kemudian. (Macintyre, 2009: 192-193)

Baca Juga  Lika-Liku Politik Apartheid di Afrika Selatan (1948-1994)

Bertempur di Teritori Papua

Alarm Australia berbunyi ketika ofensif Jepang mendekati Nugini (Papua). Efek sampingnya ialah sebuah operasi bersandi “Mo” dengan nama populer Pertempuran Laut Koral. Tanggal 19 Februari, Jepang mengirim delapan puluh satu pembom dan delapan belas pesawat serbu dengan misi meluluh-lantahkan Darwin. Tujuan Jepang tiada lain mengisolasi Sekutu menuju Hindia Belanda dengan menguasai Selat Torres juga memotong jalur laut antara Townsville dengan Oahu. (Johnson, 2006: 108-109) Berikutnya, Jepang mencoba menginvasi Port Moresby sebagai ibukota daerah selatan dan Tulagi di Guadalcanal namun, hanya Tulagi yang berhasil dikuasai meskipun dengan berpayah-payah April 1942 oleh Pasukan Pendaratan Spesial Angkatan Laut ke-3 Yokosuka. (Nila & Rolfe, 2006: 9)

Kegagalan Jepang pada Port Moresby membuat Australia dan Amerika Serikat merencanakan Kampanye Jalur Kokoda. Maksud operasi masa depan yang dibidangi Jenderal Douglas MacArthur dari Amerika Serikat menuai respons positif Jenderal Sir Thomas Blamey dari Australia dengan maksud mempertahankan sisi utara dari ancaman Jepang. (Milner, 1957: 40-44) Jepang bergerak cepat dengan diamankannya sisi utara Papua, tepatnya Buna oleh Pasukan Angkatan Darat ke-18 pada tanggal 21 Juli 1942. (Jowett, 2002: 5) Pertempuran Jalur Kokoda serta pertempuran penting di sisi utara lainnya yakni, Milne Bay akhirnya dimulai. Pertempuran di Jalur Kokoda antara Port Moresby sampai dengan Buna menjadi perhatian utama dalam Kampanye Australia di Papua Nugini yang berlangsung selama lima bulan itu.

Pertempuran di Jalur Kokoda merupakan yang terberat, dimana ambisi ekspansi Jepang menuju selatan dan semangat Australia mempertahankan tanah airnya dari invasi. Pada April 1942, sebanyak 46,000 serdadu kembali dari Timur Tengah, 63,000 lagi sudah menyelesaikan pelatihan ketentaraan dan 280,000 lainnya disiap-siagakan untuk melindungi teritorial Australia. (Sandler, 2001: 150) Sementara Jepang di bawah, Mayjen. Horii memobilisasi 13,500 serdadu dari berbagai jenis satuan. (Marston, 2006: 146) Pertempuran Jalur Kokoda terperiodisasi menjadi dua yakni, antara Juli-September, Jepang dan Australia sama-sama ofensif dan antara pertengahan September-November, Australia terus mendorong Jepang hingga kalah.

Baca Juga  Apa Itu Marxisme?, Sebuah Pengertian Singkat

Divisi 7 yang di antaranya terdapat Batalion ke-39 Australia bergerak maju dari Port Moresby. Sejatinya Pertempuran Isurava yang paling menegangkan antara kedua belah pihak namun, pasukan Jepang yang sukar bergerak ternyata bisa maju sampai ke Ioribaiwa. Pertempuran Isurava yang terjadi Agustus 1942 dimenangkan oleh Pasukan Horii. Bahkan kejaran Horii sempat mencapai posisi Batalion ke-39 di dekat Kali Eora. Sementara itu, berturut-turut pula ofensif oleh Jepang tertanggal 4-6 September di Brigade Hill lalu, pada 14-16 September di Ioribaiwa yang kemudian dipukul mundur Divisi 6 dan  7 Angkatan Darat Australia sejak 18 September 1942. (Collie & Marutani, 2012: 1-3)

Pada Oktober 1942, Kokoda yang berada di tengah jalur sudah dikuasai oleh Australia. Akan tetapi, pertempuran belum usai. Serangan terarah Australia terus dikonsolidasikan hingga November 1942. Divisi 7 maju sampai Buna, Gona dan Sanananda dan kemudian diperbantukan oleh Divisi ke-32 Amerika Serikat. (Sandler, 2001: 200) Pada Januari 1943, Sekutu membebaskan Buna, Gona dan Sanananda dari Jepang yang bersamaan dengan kembalinya Divisi ke-9 Australia selepas kemenangan di front Afrika Utara sebagai bantuan di akhir-akhir riwayat pertempuran. (Johnston, 2002: 138)

Akhirnya, Mayjen Horii pun tewas bersama ribuan serdadu Jepang lainnya. Australia dan Amerika Serikat juga mendapat kerugian yang mirip dengan total ribuan korban jiwa. Sukarnya pertempuran hujan tropis memang menjadi momok bagi Australia dan Sekutu. Di lain sisi terdapat hal yang menarik bahwa, posisi Jepang di Ioribaiwa ternyata sangat dekat dengan Port Moresby namun, tentara dari Pasukan ke-17 dan Divisi ke-18 Angkatan Darat gagal mengidentifikasinya. (Collie & Marutani, 2012: 1-3) Sinergi Australia dan Amerika Serikat kemudian bertahap berhasil memenangkan pertempuran pun diperbantukan oleh penduduk asli Papua terhadap tuannya “kulit putih”.

Baca Juga  Kondisi Perekonomian pada Masa Pemerintahan Pu Sindok sampai Kerajaan Kediri

.

Penulis: Muhammad Ath Thaariq

Editor: Fastabiqul Hakim