Keadaan Sosial Budaya Masyarakat di Sekitar Sungai Nil pada Zaman Mesir Kuno (3400-2475 SM)

kebudayaan masyarakat mesir kuno

Pada rentan waktu 3400 SM-3160 SM seorang raja bernama Menes berhasil menyatukan dan menguasai wilayah Sungai Nil yang sebelumnya terpecah menjadi dua kerajaan yang saling bertentangan. Sementara raja yang berhasil menyatukan wilayah Mesir Hulu dan Mesir Hilir ialah Raja Horaha. Kemudian Kerajaan ini berdiri dengan nama Kerajaan Mesir dengan gelar ‘Firaun’ sebagai rajanya.

Seperti kita ketahui bahwasanya kodrat seorang manusia adalah memiliki hak asasi penuh atas kehidupannya sendiri bahkan sejak dalam kandungan. Namun, nyatanya tidak semua orang memiliki hak penuh atas kehidupannya tersebut. Hal ini juga terjadi di dalam masyarakat pada zaman Mesir Kuno yang waktu itu sistem kasta diberlakukan dengan keras.

Pada Zaman Mesir Kuno terjadi pembagian kelas yang terbagi atas 3 golongan. Golongan pertama diisi oleh para bangsawan sekaligus keluarga kerajaan serta para pendeta. Golongan Kedua diisi oleh pegawai pemerintah kerajaan, saudagar besar, dan para tuan pemilik tanah. Sementara golongan terbawah diisi oleh para budak, petani, dan buruh. (Lihat: 1 Mustofa Umar. (2009). Mesopotamia dan Mesir Kuno: Awal Peradaban Dunia. No. 3, Vol. 13, hlm. 211)

Pada kelas bawah ini yang paling menjadi sorotan karena mereka tidak dapat menikmati kekayaan dari Sungai Nil. Hal ini terjadi karena hasil kerja mereka telah habis untuk dibayarkan pada pajak yang telah diterapkan oleh pemerintah Kerajaan Mesir di bawah pimpinan Raja Firaun. Tentu hal ini sangat berbanding terbalik dengan peradaban yang terjadi pada sekitar Sungai Nil yang menjadi sumber kehidupan.

Sebenarnya, dengan adanya Sungai Nil ini aktivitas masyarakat menjadi lebih tercukupi karena mereka mendapatkan aliran air langsung dari Sungai Nil untuk pasokan air mereka yang digunakan sebagai sumber kehidupannya. Ditambah lagi kondisi di sekitar Sungai Nil yang sangat subur menjadi penunjang pertanian mereka untuk memperoleh hasil pertanian yang maksimal. Mengapa daerah tersebut bisa subur? Daerah di sekitar Sungai Nil bisa subur karena lahan di sekitar Sungai Nil diisi oleh tanah yang berisi lumpur-lumpur yang terbawa ke daratan ketika terjadi banjir di Sungai Nil. Nah, tanah inilah yang nantinya dijadikan lahan untuk pertanian pada masyarakat setempat. Sehingga rata-rata mata pencaharian masyarakat di sekitar Sungai Nil bekerja pada sektor pertanian dengan hasil komoditi seperti padi, jagung, dan gandum.

Baca Juga  Afrika dan Perdagangan Budak Atlantik

Kaitannya dengan peran pria dan wanita juga disoroti dalam kehidupan masyarakat pada masa Mesir Kuno. Kebebasan peran wanita dalam urusan pekerjaan sudah didapati pada masyarakat zaman Mesir Kuno, hal senada juga diterapkan pada sistem hukumnya yaitu pria dan wanita memiliki kedudukan yang sama di mata hukum. Meskipun demikian, peran wanita masih dibatasi karena dalam urusan pendidikan dan administrasi wanita masih dipandang di bawah pria.

Dari segi komunikasi, bahasa yang digunakan oleh masyarakat Mesir Kuno adalah bahasa Afro-Asiatik dengan dialek khas regional di wilayah tersebut. Bahasa Afro-Asiatik dinilai mirip dengan bahasa Berber dan Semit.

Sistem Agama

Dalam sistem agama yang dianut oleh masyarakat di sekitar Sungai Nil terutama pada zaman Mesir kuno berupa pemujaan terhadap dewa-dewa dan belum mengenal sistem Ketuhanan Yang Maha Esa. Agama yang pasti belum diketahui secara pasti namun mereka mempercayai bahwasanya Dewa merupakan sosok yang mengatur kehidupannya termasuk melindungi manusia serta mencabut nyawa seperti layaknya Tuhan yang mengatur itu semua.

Kepercayaan Mesir Kuno ada konsep yang namanya Dewa yang bersifat nasional, dalam hal ini yang menjadi Dewa nasional yaitu Dewa Amon Ra. Dewa Amon Ra sendiri memiliki arti Dewa Matahari. ini menandakan bahwa Dewa yang paling diagungkan adalah Dewa Amon Ra tersebut. Dalam cara pemujaan terhadap Dewa Amon Ra mereka membangun Kuil Karnak pada masa Raja Thutmosis III. (Mustofa Umar, 2009: 212-213)

Kemudian ada juga yang namanya Dewa lokal, seperti konsepnya Dewa lokal ini dipuja di daerah lokal tertentu. Jadi setiap daerah belum tentu memiliki Dewa yang sama antara daerah satu dengan yang lainnya. Contoh dari Dewa lokal ini adalah Dewa Osiris (hakim alam baka), Dewi Isis (Dewa kecantikan) Dewa Aris (Dewa kesuburan) Dewa Anubis (Dewa kematian).

Baca Juga  Sejarah Perkembangan Filsafat Yunani Klasik, Dari Thales Sampai Kaum Sofis

Selain itu, ada juga kepercayaan tentang anggapan terhadap Raja Firaun. Dalam konsep ini, Raja Firaun dianggap sebagai; 1) Dewa Huros (anak dari Osiris) yang kelak akan bersatu dengan Osiris setelah mati. 2) Perantara bangsa Mesir dengan dewa-dewa mereka. 3) Penguasa yang harus menjadi pemersatu antara manusia dan Dewa, serta antar alam dan manusia. 4) Pemelihara kemakmuran di Kawasan Sungai Nil. (Lihat: Yulia Monika. (2016). Potensi Sosial, Budaya dan Agama Peradaban Mesir Kuno)

Yang terakhir adalah konsep mumi, ini bukan konsep bertuhan namun lebih pada kepercayaan yang dianut. Pembuatan mumi dimaksudkan untuk menyadarkan bahwa manusia tidak bisa melawan takdir atas kehendak dewa maut sementara kemauan manusia ingin hidup abadi.

Kebudayaan Masyarakat

Salah satu kebudayaan yang berkembang di sekitar Sungai Nil pada masa Mesir Kuno sekaligus yang terkenal adalah tentang pembuatan mumi (mumifikasi). Pembuatan mumi ini tidak asal mengasal tanpa ada maksudnya, tentu saja ada maksud yang sudah menjadi keinginan masyarakat pada waktu itu. Maksud tersebut memiliki filosofi untuk mempertahankan tubuh yang dipercaya sebagai tempat bagi jiwa mereka setelah kematiannya.

Dalam pembuatan mumi ini barang-barang yang digunakan orang pada masa waktu masih hidup ikut dimasukkan di dalam makam. Hal ini dipercaya bahwa pada saat menjalani kehidupan setelah kematian mereka membutuhkan barang-barang tersebut. Biasanya barang-barang tersebut adalah harta benda yang dimiliki orang tersebut ketika masih hidup.

Dengan adanya kebudayaan ini maka muncul ilmu tentang pengawetan jenazah. Metode yang dilakukan menggunakan teknik cara pembalsaman. Adapun ketentuan lain agar jenazah tetap awet, mereka mengambil organ dalam jenazah karena organ dalam paling cepat membusuknya. Namun, mereka membiarkan hati karena hati adalah sumber intelegensia manusia dan perasaan manusia yang akan dibutuhkan pada kehidupan selanjutnya.

Baca Juga  Sejarah Politik Asimilasi Prancis di Afrika

.

Penulis: Yoneka Noorca Erlangga

Editor: Fastabiqul Hakim