Kegagalan Kubilai Khan dalam Menaklukkan Jawa Tahun 1293

Kegagalan Kubilai Khan Menaklukan Jawa

Dinasti Yuan merupakan dinasti asing penguasa Cina yang berasal dari bangsa Mongol. Kubilai Khan menjadi pendiri dinasti ini setelah menjadi kaisar pada tahun 1260 M. Bergelar Yuan Shi Chou atau Yuan Shih-Tsu, Kubilai Khan menjadi kaisar di Cina setelah mengalahkan Sung Selatan. Memiliki wilayah yang sangat luas, yang meliputi seluruh Cina, Mongolia, Manchuria, Korea, Siberia, dan Tibet (Agung S, 2015: 47).

Sebelum menaklukkan Dinasti Sung, bangsa Mongol sudah terlebih dahulu menjadi kerajaan yang besar.  Prosesnya dimulai dengan bangkitnya  Temuchin pada tahun 1203 M, seorang tokoh yang terampil, yang mampu menyatukan seluruh federasi Mongol dan suku-suku nomaden lainnya menjadi satu kekuatan tempur yang besar. Pada 1206 M Temuchin mengambil gelar Jenghis Khan, atau “Penguasa Lautan (dunia).” Memiliki pejuang yang terampil dan galak, orang-orang Mongol di bawah Jenghis Khan, dan kemudian putranya, Ogodai, mendirikan ibu kota mereka di kota oasis sekarang di Karakorum, Mongolia. Pasukan Mongol diorganisir dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari 100, 1.000 dan 10.000, dan ada 129 ribu tentara ketika Jenghis Khan meninggal pada tahun 1227 (Ropp, 2010: 79).

Dengan keganasan dan keefektifan militer yang jarang terlihat dalam sejarah dunia, mereka melanjutkan selama lima puluh tahun ke depan untuk menaklukkan tidak hanya Dinasti Sung tetapi juga Korea, semua Asia Tengah, kota-kota Rusia Moskow dan Kiev di barat laut, Hungaria dan Polandia di ujung barat, dan kota Persia di barat daya.

Cucu-cucu dari Jenghis Khan melanjutkan kekuasaan bangsa Mongol. Mengingat jarak yang sangat jauh yang terlibat dan ketegangan alami yang muncul di antara keturunan Jenghis Khan, yang akhirnya terpecah menjadi empat kekuasaan yang terpisah (Ropp, 2010: 81). Pertama Khanate of the Great Khan di Cina, lalu Chigatai Khanate di Asia Tengah, Il Khan Khanate di Persia, dan Khanate of the Golden Horde di Eropa Timur.

Pada 1264, Khubilai Khan memindahkan ibukotanya dari Mongolia ke Dadu (sekarang Beijing), dan pada 1271 ia menyatakan dirinya kaisar Dinasti Yuan (Khanate of the Great Khan) dan pewaris sah “Mandat Surga”. Sebagai Kaisar Yuan Shizu, Khubilai mempekerjakan banyak penasihat dan pejabat Tiongkok dan dengan cepat mengatur mereka untuk menaklukkan Cina selatan dengan mempekerjakan insinyur Cina yang mahir dalam menggunakan ketapel dan bahan peledak dan memerintahkan kapal dan pelaut Tiongkok untuk mengalahkan angkatan laut Sung Selatan. Dengan penggunaan pasukan Cina, Khitan, Jurchen, Korea, Uighur, dan Persia yang efektif, bangsa Mongol mampu merebut sebagian besar Cina selatan pada tahun 1276, dan pada tahun 1279 kaisar Sung terakhir terbunuh dalam pertempuran laut di selatan.

Kubilai Khan setelah mengalahkan Sung Selatan dan mewarisi wilayah taklukan kakeknya Jenghis Khan yang sangat luas, masih memiliki keinginan untuk memperluas kekuasaanya. Wilayah yang terdiri dari Cina, Mongolia, Manchuria, Korea, dan Siberia dianggap belum cukup bagi Kubilai Khan.

Baca Juga  Latar Belakang Terjadinya Perang Peloponnesos sebagai Puncak Keruntuhan Era Yunani Kuno

Kekuatan militer yang besar menyebabkan Kubilai Khan makin berambisi untuk memperluas wilayah. Salah satu alasan keberhasilan militer bangsa Mongol adalah penggunaan teror yang efektif sebagai senjata. Jika sebuah kota menolak atau menolak untuk menyerah, orang-orang Mongol akan membakar, menjarah, dan membunuh tanpa pandang bulu dan memperbudak para penyintas. Jika sebuah kota menyerah, penduduknya mungkin selamat tanpa terluka dan diizinkan untuk melanjutkan kehidupan mereka dengan cara yang normal.

Memiliki kekaisaran dan kekuatan militer yang besar tentunya menambah rasa percaya diri Kubilai Khan untuk menaklukkan wilayah di sekitarnya. Penaklukan ini bertujuan untuk mendapatkan pengakuan dari kerajaan-kerajaaan lain di luar wilayah Kekuasaan Dinasti Yuan. Pengakuan dari kerajaan-kerajaan tersebut berupa upeti yang harus dibayarkan kepada Sang Kaisar Yuan Shih-Tsu.

Setelah penaklukan mereka di Cina selatan, orang-orang Mongol dengan ambisius melakukan ekspedisi penaklukan angkatan laut melawan Jepang pada 1274 dan 1281 dan melawan kerajaan Jawa pada 1292-1293. Mereka juga melancarkan serangan ke Vietnam dan Burma, gagal dalam kedua kasus tetapi memenangkan “penyerahan” simbolis dari negara-negara itu kepada Khubilai Khan. Peperangan ini menguras sumber daya negara secara serius dan hanya menunda pemulihan ekonomi Yuan dari dislokasi tahun-tahun awal mereka (Ropp, 2010: 82).

Keadaan Jawa ketika Dinasti Yuan Berkuasa

Dinasti Yuan mulai berkuasa di Cina pada abad ke 13 tepatnya tahun 1260 M. Ketika itu pulau Jawa berada dalam naungan Kerajaan Singasari di bawah pemerintahan Raja Kertanegara. Singasari merupakan kerajaan yang didirikan oleh Ken Angrok pada tahun 1222 M setelah runtuhnya Kerajaan Kadiri. Berpusat di Daha atau sekitar Malang, Jawa Timur, Singasari menjadi kerajaan maritim yang besar.

Kertanegara berkuasa sejak tajun 1268 M menggantikan Ronggowuni. Ia bergelar Sri Maharajadiraja Sri Kertanegara. Kertanegara merupakan raja yang paling terkenal di Singhasari. Ia bercita-cita, Singhasari menjadi kerajaan yang besar. Untuk mewujudkan cita-citanya, maka Kertanegara melakukan berbagai usaha.

Kertanegara menginginkan wilayah Singhasari hingga meliputi seluruh Nusantara. Beberapa daerah berhasil ditaklukkan, misalnya Bali, Kalimantan Barat Daya, Maluku, Sunda, dan Pahang. Penguasaan daerah-daerah di luar Jawa yang merupakan pelaksanaan politik luar negeri bertujuan untuk mengimbangi pengaruh Kubilai Khan dari Cina. Pada tahun 1275 M Raja Kertanegara melaksanakan Ekspedisi Pamalayu di bawah pimpinan Mahesa Anabrang (Kebo Anabrang).

Selain ia membangun hubungan dengan Tanah Malayu, Raja Kertanagara membangun hubungan pula dengan Campa. Petunjuk tentang adanya hubungan itu terdapat dalam prasasti Po Sah dekat Parang yang berangka tahun 1306 M, yang menyebutkan bahwa salah seorang permaisuri Raja Campa ialah putri dari Jawa yang bernama Tapasi (Poesponegoro, 2008: 414).

Kertanegara berkuasa sejak Dalam sistem pemerintahan Kertanegara menciptakan pemerintahan yang kuat dan teratur, Kertanegara telah membentuk badan-badan pelaksana. Raja sebagai penguasa tertinggi. Untuk menciptakan kestabilan politik dalam negeri, Kertanegara melakukan pembenahan dalam lingkungan para pejabat.

Baca Juga  Sebuah Bangsa yang Menolak Warisannya

Usaha Penaklukan Jawa oleh Kubilai Khan

Sejak 1260 M di Cina, berkuasa Kaisar Shih-Tsu Kubilai Khan (Dinasti Yuan). Kublai Khan dengan kekuatan tentara Mongolnya melakukan ekspansi ke wilayah Asia. Tujuannya agar kerajaan-kerajaan yang berada di wilayah tersebut mengakui kekuasaan, serta mengirimkan upeti.

Kitab Pararaton menuliskan adanya utusan Kublai Khan datang ke Singasari hingga penyerangan tentara Tartar ke Jawa. Utusan Kublai Khan mulai datang pada 1280 M dan 1281 M, menuntut supaya ada seorang pangeran yang dikirim ke Cina sebagai tanda tunduk kepada Kekaisaran Yuan (Sudarmono, 2019: 174).

Menghadapi pengaruh ekspansi Kublai Khan ini, awalnya Kertanegara hanya mendiamkan saja, tetapi ketika ketika kondisinya semakin mendesak dengan datangnya utusan dari Cina, yaitu Meng-chi pada 1289, kesabarannya habis, Meng-chi dilukai mukanya, disuruh kembali ke negerinya. Tindakan demikian berarti tantangan perang oleh Kertanegara kepada Kublai Khan (Santoso, 1964:141- 146).

Sebelum pasukan Tartar kiriman Sang Kaisar berlabuh di Jawa, terjadi kekacauan politik di Kerajaan Singasari. Terdapat pemberontakan untuk melawan Raja Kertanegara. Pemberontakan tersebut dilakukan oleh Jayakatwang yang berasal dari daerah Kadiri. Pertahanan Singasari saat itu sedang melemah diakibatkan sebagian besar kekuatan militer sedang digunakan untuk melakukan Ekspedisi Pamalayu. Serangan Jayakatwang berasal dari dua arah, Raja Kertanegara memerinahkan Raden Wijaya, meantunya untuk menghadapi serangan tersebut. Tetapi Singasari dapat dikalahkan, Raja Kertanegara terbunuh di dalam istananya. Raden Wijaya dapat melarikan diri ke hutan dan mendirikan sebuah desa bernama Majapahit.

Bertepatan waktu dengan waktu pembentukan Desa Majapahit tersebut, menurut catatan Cina dari Dinasti Yuan, armada Cina yang diperintahkan oleh Kaisar Kublai Khan bertolak dari C’uan-chou. Armada tersebut akhirnya mendarat di Pulau Kolan (Biliton), dan berhenti untuk mengatur siasat perang. Ike Mise berangkat terlebih dahulu dengan 500 orang dan 10 kapal lainnya berangkat melalui Kar Karimunjawa) menuju Tu-ping-tsuh (Tuban). Sesudah sampai di Tuban separuh tentara melanjutkan pelayarannya ke arah timur di bawah pimpinan Shih-pi, menuju muara Sungai Su-ga-lu (Sedayu) (Poesponegoro, 2008: 424), namun menurut Heru Sukadri, Su-ga-lu adalah Hujunggaluh (1976:34).

Dari Su-ga-lu, Ike Mise mengirim tiga orang perwira kepada Majapahit. Tiga perwira tersebut diperintahkan untuk menyampaikan pesan kaisar kepada Raden Wijaya. Jika tugas itu telah selesai dilaksanakan, mereka diharapkan untuk segera kembali dan menggabungkan diri dengan tentara lainnya, yang akan berangkat ke Sungai Pat-sieh (Kall Mas). Ketiga perwira itu kemudian kembali dan memberitahu kepada Shih-pi bahwa Raja Jawa, Raden Wijaya bersedia untuk tunduk. Namun Wijaya sedang berada dalam peperangan dengan Raja Kalung (Gelang-Gelang), yaitu Haji Katang (Haji Jayakatwang) Haji Jayakatwang telah membunuh Haji Katamakala (Kertanegara).

Baca Juga  Clash di Tasikmadu 1948 : Awal Pertempuran Saudara di Solo dan Pra Madiun Affair

Sementara itu para prajurit Tartar telah membuat perkampungan di suatu tempat yang letaknya strategis, yaitu muara sungai. Jika seseorang menyusuri dan menurutkan sungai itu, maka ia akan sampai di Istana Raja Tumapan (Tumapel). Tempat tersebut diduduki setelah dapat mengalahkan musuh yang menjaga tempat tersebut (pasukan Kadiri) (Sudarmono, 2019: 184).

Kemudian datanglah utusan dari Raden Wijaya untuk memberitahukan bahwa tentara Raja Jayakatwang mengejarnya sampai Majapahit. Raden Wijaya pun kemudian meminta bantuan kepada mereka. Ike Mise segera berangkat ke Majapahit diiringi oleh tentaranya sampai Canggu. Kau Shing juga ikut pergi ke Majapahit. Pada malam harinya ternyata datang serangan dari tentara Jayakatwang. Serangan tersebut datang dari tiga arah, namun dengan mudah dapat dikalahkan oleh tentara Tartar (Poesponegoro, 2008: 425).

Delapan hari kemudian tentara Tartar mengadakan persiapan ntuk menyerang Taha (Daha), ibukota Singasari yang sudah dikuasai Jayakatwang. Tentara Tartar dibagi menjadi tiga pasukan. Pasukan pertama berlayar menuju hulu sungai, satu pasukan di bawah pimpinan Ike Mise menuju Daha dari arah timur, sedangkan pasukan Kau Shing menyerang dari arah barat. Telah ditetapkan bahwa pada hari yang keempat, tiga pasukan tersebut akan bertemu di Kota Daha, sementara tentara Majapahit bergerak belakangnya. Pada hari keempat itulah kota Daha diserang dari berbagai penjuru. Istana Jayakatwang dikepung dan membuat dirinya menyerah. Menurut Pararaton, Raja Jayakatwang kemudian dibawa oleh panglima tentara Tartar ke benteng pertahanan mereka di Hujung Galuh, dan ditawan di sana. Di dalam penawanannya, Raja Jayakatwang sempat menggubah sebuah kakawin yang diberi nama Wukir Polaman, dan sesudah itu ia meninggal.

Empat belas hari kemudian ketika tentara Tartar yang sedang berangkat ke Majapahit dari Daha untuk menerima hadiah, malah diserang oleh tentara Raden Wijaya. Sepanjang jalan sekitar 300 li (157 km) sampai ke Pelabuhan Pat-shieh, serangan tentara Raden Wijaya tidak pernah berhenti. Demikianlah akhirnya tentara Tartar yang sudah kelelahan tersebut terpaksa menghindari perang yang berkepanjangan. Mereka bertolak dari Hujunggaluh pulang ke negerinya dengan membawa beberapa tawanan dari Kadiri sekitar 100 orang, dan barang-barang lainnya, seperti peta, daftar penduduk, kemenyan, tenunan, minyak wangi, serta surat berhuruf emas, kejadian tersebut dicatat pada hari ke-24 bulan ke-4 tahun Cina, atau sama dengan 31 Mei 1293 M (Soekadri, 1976: 91). Kaisar sangat marah dengan akhir ekspedisi yang gagal tersebut. Shih-pi dan Ike Mise mendapat hukuman, tetapi tidak lama kemudian mereka diberi ampunan.

Dua tahun setelah peristiwa Kertanegara dihabisi Jayakatwang, Khubilai Khan wafat tepatnya pada 18 Februari 1294. Ambisinya dalam melakukan peneklukka akhirnya tak melulu terpenuhi. Kejadian tersebut menandai seorang Kubilai Khan, kaisar besar yang gagal dalam upaya menaklukkan Jawa.