Kehidupan Sosial Budaya Kerajaan Mataram Kuno Jawa Timur hingga Kerajaan Kediri

kehidupan sosial budaya kerajaan mataram kuno di jawa timur

Ketika Pu Sindok memindahkan istananya ke Jawa Timur, mungkin saja Kerajaan Kanuruhan sebagai bawahan Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Timur memberikan dukungan terhadap perpindahan tersebut. Sebab dapat diketahui bahwa Kerajaan Kanuruhan ini menurut Casparis merupakan suatu perkembangan dari sebuah kerajaan tertua di Jawa Timur yang pernah berdiri pada abad ke VIII, yaitu kerajaan Kanjuruhan. Raja-raja keturunan Kerajaan Kanjuruhan tetap berkuasa sebagai penguasa daerah dengan gelar Rakryan Kanuruhan (Casparis, 1949:449). Kerajaan Mataram Kuno era Pu Sindok memperhatikan stratifikasi sosial dan kebudayaan. Menurut berita dikelilingi oleh dinding dari batu bata dan batang-batang kayu terdapat istana raja yang juga dikelilingi oleh dinding.

Begitu pula dengan kerajaan Kadiri. Berbagai prasasti dari masa Kadiri banyak ditemukan, yang hingga saat ini menjadi sumber sejarah Kerajaan Kadiri. Mulai dari Prasasti Pandeglan (1116 M), Prasasti Lawadan (1205 M). Semua prasasti tersebut nantinya berkenaan dengan masa pemerintahan raja-raja Kerajaan Kadiri secara kronologis. Sumber yang menarik pula adalah dari berita asing, yaitu catatan dari Cina zaman Dinasti Song (960-1279 M) yang berkaitan dengan Kerajaan Kadiri adalah bahwa (1109 M) ada utusan dari Raja She-p’o ke Cina dengan membawa Upeti. Kehidupan sosial masyarakat Kadiri tercantum dalam Kitab Ling-wai-tai-tayang ditulis oleh Chou Ku-Fei.

Sejak zaman praaksara, sebenarnya manusia sudah mengenal struktur sosial dan kebudayaan walaupun masih sangat sederhana. Dalam perkembangannya, itu semua mengalami peningkatan dan menjadi semakin kompleks, perkembangan itu terbukti dengan berdirinya Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Begitu pun dengan Kerajaan Mataram Kuno dan Kerajaan Kadiri. Pada masa Pu Sindok memerintah Kerajaan Mataram Kuno, Ia memindahkan istananya ke Jawa Timur dikarenakan adanya peristiwa mahapralaya atau kehancuran besar yang identik dengan zaman kaliyuga dalam kepercayaan Hindu. Pada masa Pu Sindok dapat diketahui bagaimana keadaan sosial masyarakatnya melalui prasasti-prasasti yang dibuat pada saat itu. Di saat pusat kerajaan pindah ke Jawa Timur tidak jauh berbeda dengan masyarakat Jawa Kuna pada masa kerajaan masih berpusat di Jawa Tengah. Masyarakat terbagi menjadi dua, yaitu masyarakat desa dan masyarakat kota. Masyarakat kota adalah mereka-mereka yang hidup di istana atau sekitar istana raja. Sedangkan masyarakat kota adalah masyarakat yang hidup jauh dari istana raja. Mereka hidup di suatu wilayah yang disebut wanua yang diatur oleh pejabat wanua, yaitu rama. Penduduk desa disebut anak wanua pada masa Pu Sindok, sedangkan padamasa Airlangga disebut anak thani. Mereka hidup dari pola agraris yang ditunjang bermacam-macam keahlian. Dalam prasasti disebut nama-nama pekerjaan mereka seperti petani, pengrajin, dan pedagang dan sebagainya.

Baca Juga  Garis Imajiner Yogyakarta: Gunung Merapi

Sederet nama yang banyak sekali menunjukkan keahlian masing-masing antara lain puhawang (nakoda kapal), wulu-wulu (pejabat rendahan), pangurang kring (pendeta yangminta-minta), manimpiki (pencipta seni), watu tajam (tukang asah senjata), sukun (dukun yang mengobati orang sakit), malandang (pengatur arena judi), tangkil (pembuat tempat alat musik), palamak (pembuat tikar), pangaruhan (tukang emas), juru gusali (pandai logam), pabesar (pembuat kain sutra), tuha dagang (kordinator pedagang), pinilai (penabuh gamelan istana), mapadahi (tukang gendang), manidung (penyanyi), mabanol (pelawak dengan gerakan), parwuwus (pelawak dengan ucapan), tunggu durung (penunggu lumbung padi), huluwras (pengurus persediaan beras), hulair (pengurus pengairan sawah), wereh (kelompok muda mudi desa). Selain itu, masih ada orang-orang yang hidup sebagai buruh atau menjadi pembantu. Mereka disebut hulun, dasa atau dasi, dan masih banyak lagi.

Dari nama-nama keahlian di atas dapat dibayangkan kompleksnya kehidupan pada masa itu yang memerlukan hubungan internal maupun eksternal. Baik hubungan dengan masyarakat sedesa (wanua), maupun hubungan antar desa yang mencakup wilayah watak (daerah). Interaksi masyarakat tersebut sampai juga ke tingkat yang lebih luas lagi yaitu tingkat karajyan (negara). Dari prasasti zaman Airlangga, yaitu Prasasti Patakan disebutkan para warga kilalan, yaitu para pedagang asing yang tinggal di kerajaan Airlangga untuk melakukan perdagangan. Mereka adalah orang Keling (Kalingga), Aryya (India Utara), Singhala (Srilanka), Pandikira (Pandichery), Drawida, Champa, Remen, dan Khmer. Tingkat hubungan yang sedemikian itu memang mustahil dilakukan tanpa adanya birokrasi yang tertata dengan baik.

Dalam segi kesenian, pada masa Dharmawangsa Teguh dapat disebut beberapa karya sastra yang sampai kepada kita, yaitu Kitab Adiparwa, Wirataparwa, Bhismaparwa, dan, Uttarakanda,yang diketahui rajalah yang menyuruh menyalin kitab tersebut dari bahasaSanskerta ke dalam bahasa Jawa Kuna (Zoetmulder, 1985:111). Adiparwa (bahasa Sanskerta: आदिपर्व, Ādiparva) adalah buku pertama atau bagian (parwa) pertama dari kisah Mahabharata. Pada dasarnya bagian ini berisi ringkasan keseluruhan cerita Mahabharata, kisah-kisah mengenai latar belakang cerita, nenek moyang keluarga Bharata, hingga masa muda Kurawa dan Pandawa). Kisahnya dituturkan dalam sebuah cerita bingkai dan alur ceritanya meloncat-loncat sehingga tidak mengalir dengan baik. Penuturan kisah keluarga besar Bharata tersebut dimulai dengan percakapan antara Begawan Ugrasrawa yang mendatangi Begawan Sonaka di Hutan Nemisa.

Baca Juga  Mpu Sindok: Raja dari kerajaan Medang, Pendiri Wangsa Isana

Wirataparwa adalah bagian keempat dari epos Mahabarata. Menceritakan kisah ketika para Pandawa harus bersembunyi selama setahun lagi dengan menyamar tanpa ketahuan, setelah mereka dibuang selama dua belas tahun di hutan gara-gara kalah berjudi dengan Kurawa. Kisah pembuangan di hutan ini diceritakan dalam bagian Wanaparwa.

Bhismaparwa konon merupakan bagian terpenting Mahabharata karena kitab keenam ini mengandung Kitab Bhagawad Gita. Dalam Bhismaparwa dikisahkan bagaimana kedua pasukan, pasukan Korawa dan pasukan Pandawa berhadapan satu sama lain sebelum Bharatayuddha dimulai. Lalu sang Arjuna dan kusirnya sang Kresna berada di antara kedua pasukan. Arjuna pun bisa melihat bala tentara Kurawa dan para Pandawa, sepupunya sendiri. Ia pun menjadi sedih karena harus memerangi mereka. Walaupun mereka jahat, tetapi Arjuna teringat bagaimana mereka pernah dididik bersama-sama sewaktu kecil dan sekarang berhadapan satu sama lain sebagai musuh. Lalu Kresna memberi Arjuna sebuah wejangan. Wejangannya ini disebut dengan nama Bhagawad Gita atau “Gita Sang Begawan”, artinya adalah nyanyian seorang suci.

Uttarakanda adalah kitab ke-7 Ramayana. Diperkirakan kitab ini merupakan tambahan. Kitab Uttarakanda dalam bentuk prosa ditemukan pula dalam bahasa Jawa Kuno. Isinya tidak diketemukan dalam Kakawin Ramayana. Di permulaan versi Jawa Kuno ini ada referensi merujuk ke prabu Dharmawangsa Teguh.

Pada masa Kerajaan Kadiri dapat dilihat dalam kitab Ling-Wai-Tai-Ta yang disusun oleh Chou Ku-Fei. Kitab tersebut menyatakan bahwa Kerajaan Kadiri orang yang bersalah didenda dengan sejumlah emas. Keluarga-keluarga yang kaya dapat menimbun padinya di lumbung hingga sepuluh ribu pikul. Negeri ramai dengan perdagangan dan makanan berlimpah. Adapun keadaan yang khas dari lingkungan thani (desa), seperti yang digambarkan dalam Kitab Sumanasantakabahwa lumbung penduduknya kecil-kecil.

Baca Juga  Clash di Tasikmadu 1948 : Awal Pertempuran Saudara di Solo dan Pra Madiun Affair

Dari data prasasti kiranya diambil suatu pemahaman mengenai penataan wilayah pada zaman Kadiri yang berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Pembagian wilayah dapat dibagi menjadi tiga, yaitu wilayah rajya atau nagara (kota), di sini tinggal masyarakat yang terdapat dalam lingkungan raja dan beberapa kaum kerabatnya serta kelompok pelayannya. Wilayah wisaya (semacam federasi desa), yaitu golongan masyarakat yang terdiri atas para pejabat ataupetugas pemerintahan di wilayah wisaya yang juga terdiri dari unsur-unsur wilayah thani (desa), serta di dalam wilayah thani banyak pengurus duwan (mungkin sama dengan pengurus kampung).

Data dari berita Cina dapat disebutkan antara lain bahwa masyarakat Kadiri dalam kesehariannya memakai kain sampai bawah lutut dan rambutnya diurai. Rumah-rumah rata-rata sangat bersih dan rapi. Lantainya dibuat dari ubin yang berwarna kuning dan hijau. Pemerintahannya sangat memperhatikan keadaan rakyatnya sehingga pertanian, peternakan, dan perdagangan mengalami kemajuan cukup pesat. Selain golongan masyarakat yang disebut di atas terdapat pula golongan masyarakat yang tidak mempunyai kedudukan dan hubungan dengan pemerintah secara resmi atau masyarakat wiraswasta.

Penggambaran kehidupan di pedesaan dapat diketahui uraian karya sastra zaman Kadiri, misalnya dalam Kitab Sumanasantaka pupuh XXVIII baris 5-6, disebutkan bahwa rakyat sibuk membajak dan menanam, sedangkan anak-anak menggembalakan kerbau. Beberapa dusun di daerah pegunungan mengesankan kesederhanaannya dengan adanya lumbung-lumbung yang kecil, dengan lembunya yang kurus-kurus. Dusun-dusun yang makmur biasanya di dekat pertapaan. Mereka memiliki lampu dan pencucian serta pembuatan periuk. Selain itu terdapat pemukiman pertapaan dekat pantai dengan dusun-dusun tempat pembuatan garam, mereka memiliki tambak-tambak ikan (Ferdianus, 2006:119).

Dari zaman Kadiri dapat dikenali beberapa pujangga dengan karya sastranya. Mpu Sedah dan Mpu Panuluh mengubah Kitab Bharatayudha pada masa pemerintahan Raja Jayabhaya. Mpu Panuluh sendiri mengubah Kitab Hariwangsa pada masa Raja Jayabhaya dan Kitab Gatotkacasraya pada masa Raja Jayakerta. Mpu Dharmaja mengubah Kitab Smaradhahana pada masa Raja Kameswara. Mpu Monaguna mengubah Kitab Sumanasantaka dan Mpu Dharmaja mengubah kitab Kresnayana, keduanya pada masa Warsajaya. Masih ada lagi Kitab Bhomantaka, tetapi tidak diketahui siapa pengarangnya dan pada masa raja siapa.

.

Penulis: Victor Antonio Jevon

Editor: Fastabiqul Hakim