Kepemimpinan Agensial

Kepemimpinan Agensial

Pemimpin dan kepemimpinan menjadi bagian penting dalam sebuah perubahan dan kemajuan suatu masyarakat. Secara umum, pemimpin merujuk pada sosok manusia, sementara itu kepemimpinan adalah suatu sifat, karakter, dan kemampuan yang dimiliki oleh seorang manusia untuk seorang pemimpin. Tipe ideal dari pemimpin dan kepemimpinan dikonstruksi oleh masyarakat dengan berbasis pada norma, nilai, dan kebutuhan mereka. Oleh karena itu, definisi pemimpin dan kepemimpinan bersifat dinamis mengukuti tuntutan masyarakat di zamannya.

Dalam konteks masyarakat Amerika dan Eropa, Stogdill (1948) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah aspek bawaan atau sifat (trait) dari seorang pemimpin. Stogdill mengemukakan definisi kepemimpinan selepas era Perang Dunia (1948) yang menekankan aspek bawaan tersebut meliputi karakteristik fisik, kepribadian, dan kemampuan intelektual. Pada tahun, 1960-an terjadi pergeseran definisi kepemimpinan dari aspek-aspek individu menuju pada aspek-aspek organisasional dalam kepemimpinan (Bolman and Deal, 1991).

Selanjutnya, teori-teori kepemimpinan organisasional kemudian memengaruhi definisi kepemimpinan. Burn (1978) menyodorkan teori tentang kepemimpinan transformatif yang menekankan pada peranan pemimpin dalam menyokong kemajuan organisasi dan masyarakat. Bass (1990) menekankan pada aspek keterampilan seorang pemimpin untuk mengembangkan suatu organisasi atau masyarakat. Blake dan Mouton (1985) mengembangkan kepemimpinan dalam pendekatan gaya yang menekankan pada perilaku pemimpin dalam suatu organisasi. Blanchard (1985) menekankan pada pendekatan kepemimpinan situasional yang menekankan pada aspek situasi yang terjadi di sekitar pemimpin. Pada kajian-kajian kontemporer, pemimpin dan kepemimpinan didefinisikan sebagai hasil dari proses sosial dan dialektika antara sifat dan proses sosial (Glassman and Glassman, 1997).  Kajian-kajian diatas menunjukkan bahwa perubahan selalu digerakkan sekaligus dipengaruhi oleh jiwa zaman dan kebutuhan masyarkat.

Lantas bagaimana dengan pemimpin dan kepemimpinan di Indonesia? Dalam bentang sejarah, masyarakat Nusantara telah mengenal beberapa tipe ideal seorang pemimpin mulai dari tipe ideal pandhita-ratu sampai dengan tipe ideal Ratu Adil yang begitu popular pada akhir abad ke 19 hingga awal abad 20 di kaum pergerakan. Sudut pandang lain dapat kita amati dari perubahan teks Asthabrata memungkinkan kita untuk melihat perubahan tipe ideal kepemimpinan dalam masyarakat Jawa dan Nusantara pada umumnya.

Astha-brata secara umum menjabarkan delapan watak dewa yang dijadikan nilai, pedoman dan patokan masyarakat Jawa untuk menentukan dan membentuk figur pemimpin ideal. Delapan watak dalam astabrata yang harus dimiliki oleh seorang raja atau pemimpin adalah Endra, Surya, Bayu, Kuwera, Baruna, Yama, CĂ´ndra, dan Brama (Moertono, 1987). Periode temporal penulisan Kakawin Ramayana beserta astabrata adalah antara abad ke-8 hingga abad ke-9. Pada periode tersebut, yaitu sekitar tahun 856 M, terjadi konflik internal di dalam kerajaan Mataram Kuno antara Rakai Pikatan dan Balaputradewa (Coedes, 2015). Aichele (1969) melihat keterkaitan antara penulisan Kakawin Ramayana dengan konflik tersebut. Aichele berpendapat bahwa Kakawin Ramayana adalah sebuah alegori politis yang mengacu pada peristiwa sejarah. Dengan demikian, Rama harus dilihat sebagai Rakai Pikatan, Sinta adalah Pramodawardhani, Rawana adalah Balaputra dan Bharata adalah Rakai Kayuwangi (Aichele, 1969).

Baca Juga  Nama-nama Walisongo dan Perannya dalam Penyebaran Agama Islam

Di dalam tubuh Kakawin Ramayana juga tampak muatan penguatan kuasa raja. Kakawin Ramayana memuat narasi yang berisi suatu pujian kepada raja dimana sang penggubah berharap bahwa Kakawin Ramayana dapat mendorong masyarakat untuk cinta kepada raja yang ditutup dengan harapan bahwa sang penggubah dapat menempatkan dirinya di antara sesama cendekiawan (Ras, 2014).

Melihat paparan tersebut, produksi Kakawin Ramayana pada abad ke-8 atau ke-9 dipersembahkan kepada Rakai Pikatan untuk melegitimasi kekuasaannya di tanah Jawa dan memperkuat konstruksi kekuasaan serta dukungan rakyat kepada sang raja. Sementara itu, ajaran dan nilai astabrata dimunculkan dalam narasi Kakawin Ramayana sebagai suatu nasihat dan anjuran tersembunyi dari pujangga kepada Rakai Pikatan untuk menyelaraskan perilaku, peran dan tindakan raja sebagaimana sifat dan watak dari para dewa-dewa lokapala.

Delapan nilai kepemimpinan dalam Asthabrata mengalami perubahan makna pada awal abad ke 19. Pada awal abad 19, Asthabrata direproduksi kembali oleh Yasadipura I di dalam Serat Rama. Dalam Serat Rama, teks asthabrata menjadi lebih panjang. Oleh karena itu, makna dari asthabrata juga mengalami perubahan. Perubahan makna tersebut disebabkan oleh latar belakang Jawa abad awal 19 yang memang sedang menghadapi berbagai permasalahan. Dalam masa krisis tersebut, intelektual Jawa yaitu para pujangga berupaya untuk mengembalikan kestabilan kerajaan dengan mereproduksi manuskrip-manuskrip Jawa, salah satunya adalah Kakawin Ramayana yang digubah dalam bentuk Serat Rama. Asthabrata juga turut digubah dengan muatan politik dan kestabilan kekuasaan.

Oleh karena itu narasi asthabrata yang ditulis pada abad 9 mengarahkan seorang raja untuk bertindak sebagai panditha-ratu atau pendeta ratu yang menekankan pada penguasaan moralitas. Sementara itu, asthabrata yang ditulis ulang pada abad ke 19 lebih menekankan pada kepemimpinan raja yang absolut khas Jawa yang menuntut penguasaan mutlak terhadap sumber daya manusia, alam, dan spiritual. Pada titik ini, dapat terungkap perubahan tipe ideal kepemimpinan dari pandhita-ratu ke kepemimpinan strukura-absolut.

Baca Juga  Sebuah Bangsa yang Menolak Warisannya
Kepemimpinan Agensial

Berdasarkan pengamatan diatas, saya mencoba menyodorkan konsep kepemimpinan agensial sebagai bentuk alternative dari kepemimpinan struktural. Kepemimpinan agensi tidak dipandang dari aspek struktural, melainkan fokus pada bagaimana peranan seorang pemimpin dalam progres masyarakat. Kepemimpinan agensi ini identik dengan perspektif Anthony Giddens (1984) mengenai agen dan agency. Agen adalah aktor sosial yang memiliki agency atau kemampuan untuk melakukan tindakan diluar struktur dan sistem sosial yang ada. Dengan demikian, kepemimpinan agensi yang dimaksud dalam tulisan ini adalah figur pemimpin yang tidak semata-mata harus berada pada suatu ranah struktural masyarakat. Anda dapat menjadi seorang pemimpin tanpa harus menjadi pemimpin sturuktural.

Setidaknya, terdapat, empat dimensi kepemimpinan agensial (Abidin, 2017): (1) self-dimension atau dimensi diri yang terdiri dari kompetensi, etika dan kharisma; (2) social-dimension atau dimensi sosial yang terdiri dari sifat integratif dan kolaboratif; (3) transformational dimension atau dimensi transformatif yang terdiri dari sifat berpengarhuan dan transformatif; dan (4) altruistic dimension atau dimensi alturistik yang meliputi sifat pluralistik seorang pemimpin. Saya gambarkan empat dimensi itu sebagai berikut:

Berdasarkan kerangka tersebut, pengembangan kepemimpinan alturistik idealnya berawal dari aspek self-dimension atau aspek diri dari seorang pemimpin. Elemen self ini tidak dapat serta merta dikaitan dengan sifat (trait) tetapi merupakan unsur kompetensi, etika dan kharisma yang berada dalam diri seorang pemimpin dan terus mengalami perkembangan. Dalam ranah self-dimension pemimpin harus menemukan dan meningkatkan kemampuan dan keterampilan khususnya dimilikinya melalui pengalaman dan pembelajaran. Untuk mengembangkan etika, seorang pemimpin harus memperkuat aspek sprititualitas dan religiusitas untu memberikan pedoman beretika sosial. Pada aspek pembentukan kharisma, pemimpin idealnya harus memberikan contoh baik yang konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah memperkuat aspek self-dimension aspek selanjutnya yang perlu diperkuat oleh pemimpin adalah social-dimension. Dalam ranah social-dimension pemimpin berkewajiban untuk mengintegrasikan dan mengelaborasikan berbagai kepentingan dan tujuan pada suatu masyarakat ke dalamsatu visi dan tujuan kolektif. Oleh karena itu, pemimpin harus memiliki kemampuan untuk menjelaskan visinya, memahami visi orang lain, mempengaruhi  dan membangun komitmen bersama. Pemimpin juga harus memperkuat keahliannya untuk menyatukan berbagai kepentingan dalam satu kolaborasi mutual sehingga masyarakat dan pemimpin dapat mencapai tujuan kolektif secara bersama-sama.

Baca Juga  Solusi Airlangga untuk Menghindari Perang Saudara

Dimensi  selanjutnya yang perlu dikembangkan adalah transformative-dimension yang terdiri dari unsur berpengetahuan (knowledgeable)dan transformatif. Seorang pemimpin harus mengembangkan pengetahuannya untuk menghadapi tantangan di masa depan. Pengetahuan ini berguna untuk menghasilkan kemampuan transformatif yang akan membantu masyarakat mencapai kemajuan. Kemampuan transformatif ini tercipta melalui ajakan, motivasi dan stimluasi intelektual dari pemimpin kepada masyarakat. Setelah memiliki basis self, social, dan transformatif, pemimpin kemudian mencapai titik puncak dengan mengembangkan altruism melalui kesadaran untuk menerima keberadalam serta toleransi dan saling menghargai untuk mencapai koeksistensi dalam masyarakat. Pada tahap ini pemimpin harus berupaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tanpa mengharapkan kompensasi apapun.

Apakah kepemimpinan ideal dapat diwujudkan atau memiliki bukti empiris? Saya rasa perkembangan teknologi dan media sosial lambat laun menunjukkan bahwa kepemimpinan agensial memungkinkan untuk menjadi satu alternatif tipe ideal kepemimpinan. Untuk selanjutnya, silakan berkontemplasi apakah memungkinkan anda menjadi seorang pemimpin tanpa duduk di puncak struktural suatu entitas/kelompok masyarakat? Apakah memungkinkan tipe kepemimpinan agensial ini mendorong revolusi atau kemajuan dalam masyarakat? Apakah politik menjadi tidak begitu penting lagi ketika kepemimpinan agensial menjadi tipe ideal kepemimpinan Indonesia di masa mendatang?

References:

Abidin, Nur Fatah. (2017) Model Pembelajaran Sejarah berbasis Nilai Asthabrata dengan Pendekatan Dekonstruksi untuk Meningkatkan Sikap Kepemimpinan. (thesis tidak dipublikasikan)

Aichele. (1969). Vergessene Metaphern als Kriterien der Datierung des Altajavanischen Ramayana. Oriens Extremus, 16, 127-166.

Bass, B. (1990). Bass & Stogdill`s Handbook of Leadership: Theory, Research, and Managerial Application. New York: Free Press.

Blake, R., & Mouton, J. (1985). The Managerial Grid III. Houston: Gulf Publishing.

Blanchard, K. (1985). SLII: A Situational Approach to Managing People. Escondido: Blanchard Training and Development.

Coedes, G. (2015). Asia Tenggara Masa Hindu-Budha. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia & EFEO.

Giddens, A. (1984). The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration. Cambdridge: Polity Press.

Ras, J. (2014). Masyarakat dan Kesusastraan di Jawa. Jakarta: Buku Obor.

.

*Tulisan ini disusun untuk kegiatan Diskusi dan Talkshow Future Leader Movement, Gedung IKA UNS, Sabtu 14 September 2019 yang diselenggarakan PMII Kentingan.