Kepercayaan Suku Aborigin sebelum Kedatangan Bangsa Inggris

kepercayaan suku aborogin

Aborigin merupakan penduduk asli Australia, Elkin mengelompokkan khusus mereka ke dalam ras Australoid. Ras Australoid dapat dikenali dari ciri-cirinya yang berambut ikal, kulit berwarna hitam, alis mata menonjol, mulut lebar, rahang menonjol, tinggi bada rata-rata 5 kaki, serta memiliki rongga mata yang dalam. Elkin menyebutkan penduduk asli Australia memasuki Australia dari arah utara dengan pintu masuk Australia dari garis pantai utara, dari Semenanjung York di sebelah timur, sampai pantai daerah Kimberley di sebelah barat.

Sebenarnya belum ada keseragaman pendapat mengenai kapan masuknya penduduk asli Australia, tetapi dalam rangka peringatan dua ratus tahun Australia terbitlah buku The Official Bicentennial Diary yang berisi “During all that time and through millenia more, the occupatiers of the unkwown continent were the Aboriginals. They had arrived, in at least two waves but probably more, at least 40.000 years ago, maybe even 70.000 years ago”. Dengan didukung oleh carbon test yang dilakukan Clark, maka muncullah pendapat bahwa 30.000 bahkan mungkin 40.000 ribu tahun lamanya penduduk asli sudah memasuki dan menetap di Australia.

Sebelum kontak dengan bangsa Inggris pada abad ke-18, Aborigin memiliki kepercayaannya sendiri. Dalam kehidupan tradisional Aborigin, mereka sangat dipengaruhi oleh dreamtime. Dreamtime adalah suatu kepercayaan Aborigin mengenai periode ketika nenek moyang mereka menciptakan dunia dan isinya seperti flora, fauna, manusia, hukum, musim, adat, nyanyian, upacara.

Di sini setiap kelompok suku Aborigin memiliki istilah sendiri dalam penyebutan dreamtime, Contohnya orang Ngarinyin di barat laut Australia menyebutnya sebagai Ungud, Yolngu di utara timur Arnhem Land menyebutnya sebagai Wongar, di Broome menyebutnya sebagai Bugarai, Aranda Australia Tengah sebagai Aldjerinya, dan Pitjantjatjara di barat laut Australia Selatan menyebutnya dengan Tjukurpa.

Setiap kelompok Aborigin memiliki kisah dreamtime-nya sendiri, namun ada beberapa yang sama dan terkenal yaitu Rainbow Serpent, merupakan istilah perwujudan dari makhluk berbentuk ular dan memiliki nama lain Almudji. Lalu untuk istilah dreamtime merupakan istilah bahasa inggris yang diciptakan pada tahun 1896 oleh F.Gillen, dan muncul pertama kali di Antropolgis Literatur setelah tahun 1932.

Baca Juga  Akhir Kisah Cinta Sang Paduka: Sunan Amangkurat I, Rara Oyi, dan Pangeran Anom

Orang awam melihat suatu mimpi sebagai refleksi yang samar dari dunia nyata, namun hal ini sangat berbeda halnya dengan Aborigin, mereka melihat mimpi sebagai suatu realitas yang mendasar yang menjadi pedoman kehidupan mereka. Konsep dreamtime adalah tidak menganggap dunia dari kekosongan “Creatio ex Nihilio” tapi mereka mengasumsikan bahwa memang sudah ada zat sebelumnya dan sering digambarkan dengan hamparan berair dan dataran.

Saat terjadi dreamtime, orang Aborigin berpendapat bahwa arwah leluhur bangkit dari tanah yang tak terbentuk lalu membawa pengetahuan, budaya dalam wujud manusia dan menciptakan kehidupan. Setelah nenek moyang mereka menyelesaikan tugas, lalu leluhurnya pun berubah menjadi sungai, pohon, hewan-hewan, gunung, lubang berair, bintang yang nantinya akan menjadi situs suci dari orang Aborigin.

Untuk penyebaran dreamtime sendiri, suku Aborigin tidak memandang bulu terhadap siapa pun, entah itu tua, muda, laki-laki maupun perempuan, yang terpenting adalah faktor “siap menerima”. Penyebaran ini dilakukan dengan meneruskan kisah-kisah mimpi dari satu generasi ke generasi yang lain. Dimana cerita yang di kisahkan oleh Aborigin senior dianggap paling berharga. Suku Aborigin tidak memiliki pengetahuan menulis, sehingga mereka melakukan penyebaran melalu

i praktik lisan dan diekspresikan pada batu dan gua dengan wujud lukisan. Orang Aborigin telah melukis batu setidaknya satu abad, pada awal abad ke-18 Aborigin membuat lukisan untuk ritual dan tradisi lisan.Mereka menggunakan cat dari tanah liat yang dicampur dengan batu dan membuat sikat yang terbuat dari ranting yang telah dikunyah.

Hal yang tidak kalah pentingnya adalah, Aborigin sangat menghargai tanah, yang diartikan sebagai gereja atau tempat suci, dan tanah tersebut mengandung unsur sakral dan esensi leluhur mereka.

Baca Juga  Sejarah Ideologi Konsumerisme

Referensi:

Dean, Colin. 1996. The Australian Aboriginal Dreamtime. Its History, Cosmogenesis Cosmology and Ontology. Victoria: Gamahucher Press, Diakses dari: http://gamahucherpress.yellowgum.com/books/religion/DREAMTIME1.pdf

Edwards, Collin Bourke. 1994. Aboriginal Australia: An introductory reader in Aboriginal Studies. Queensland: University of Queensland Press.

Fitriani, Amalia. 2010. Penerapan Kebijakan Asimilasi Terhadap Anak-Anak Aborigin     “Half-Caste di Australia (1937-1967). Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya. Universitas           Indonesia. Diakses dari:     http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20161083-RB04A261p-Penerapan%20kebijakan.pdf

Koh, Living. What Is Aboriginal Dreamtime? Diakses dari: https://www.kohliving.com.au/journal/what-is-aboriginal-dreamtime/

Morin, Paul. Aboriginal Dreamtime. Diakses dari: http://www.lindakreft.com/pdf/dreamtime.pdf

Siboro. 1989. Sejarah Australia. Bandung: Tarsito.

.

Penulis: Amalia Diah Saputri 

Editor: Fastabiqul Hakim