Kondisi Perekonomian pada Masa Pemerintahan Pu Sindok sampai Kerajaan Kediri

kondisi perekonomian pada masa pu sindok

Dalam catatan tinta sejarah, pada masa akhir kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah terjadi masalah yang besar yang menjadikan seorang Pu Sindok memindahkannya ke Jawa Timur. Ada yang berpendapat bahwa pertama, hal yang menjadikan Kerajaan Mataram Kuno dipindahkan ke dari Jawa Tengah ke Jawa Timur adalah karena bencana alam letusan gunung berapi yang sangat dahsyat (Mahapralaya). (Van Beummellen, Boehari, 1976)

Kedua, karena serangan musuh atau menghadapi ancaman musuh (kemungkinan dari Sriwijaya) yang dalam prasasti Kota Kapur (606 Saka = 684 M) disebutkan bahwa di batas wilayah kerajaan Sriwijaya yang (sangat berusaha) menaklukkan Bumi Jawa yang tidak tunduk kepada Sriwijaya (Poerbatjaraka, 1952). Kemungkinan ketiga karena masalah ekonomi rakyat yang hancur akibat rakyat banyak dikorbankan untuk membangun bangunan-bangunan candi yang besar-besar. (B. Schrieke, 1956)

Entah apa yang terjadi sebenarnya yang jelas bahwa kebijakan yang diambil oleh Pu Sindok ini nantinya akan sangat mempengaruhi eksistensi Kerajaan Mataram Kuno ataupun keturunan-keturunannya yang mendirikan kerajaan baru nantinya. Nantinya berkat kebijakan Pu Sindok inilah lahirlah kerajaan-kerajaan seperti Kerajaan Kediri, Kerajaan Singasari, ataupun Kerajaan Majapahit yang sangat masyhur dan tersohor namanya.

Tentunya setelah kepindahannya ke Jawa Timur, Pu Sindok harus membangun kerajaan ini seperti sebelumnya ketika di Jawa Tengah. Tentu saja yang andil besar dan menjadi tonggak utama dalam pembangunan kerajaan baru ini ialah perekonomian. Dengan naik takhtanya Pu Sindok sebagai Raja dengan gelar Sri Isyanatunggadewawijaya dan mengatasnamakan sebagai dinasti baru yaitu Dinasti Isyana menyebabkan seakan-akan kerajaan baru ini sudah tidak terikat lagi dengan kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah.

Di wilayah baru ini, untuk memajukan kerajaannya Pu Sindok mengandalkan sektor pertanian dan perdagangan karena wilayah ini sangat subur untuk pertanian dan sangat strategis, serta dilalui oleh dua sungai besar yaitu Sungai Brantas dan juga Sungai Bengawan Solo yang sangat baik untuk perdagangan. Lalu dalam sistem birokrasi kerajaan ini menganut sistem birokrasi tradisional yang dibagi menjadi tiga, yaitu birokrasi tingkat tinggi (pemerintah pusat), birokrasi tingkat menengah yang terdapat pada wilayah pesisir (wateg) atau Mancanegara, lalu yang ketiga birokrasi tingkat rendah atau desa (wanua).

Baca Juga  Garis Imajiner Yogyakarta: Pantai Parangkusumo

Perpindahan pusat pemerintahan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur jelas membawa dampak yang sangat menguntungkan karena secara tidak langsung Jawa Timur dimasukkan ke dalam jaring-jaring perdagangan yang membentang dari Indonesia Timur hingga ke Selat Malaka. Selain itu wilayah di Jawa Timur dialiri oleh dua sungai besar yaitu Sungai Brantas dan Sungai Bengawan Solo yang sangat penting untuk jalur lintas pelayaran dan perdagangan dari daerah-daerah pedalaman ke daerah-daerah pesisir maupun sebaliknya. Sungai Brantas yang bermuara ke Gunung Penanggungan, karena hal itulah Sungai Brantas dapat diarungi hingga ke pedalaman.

Cabang Sungai Brantas sebelah kanan adalah Sungai Porong, sungai ini mengalir ke arah tenggara dan bermuara di daerah Surabaya dan Bangil. Cabang sebelah kiri adalah Sungai Mas atau sering disebut Kali Mas yang mengalir ke arah timur laut, melintasi kota Surabaya dan bermuara di Selat Madura. Sedangkan sungai Bengawan Solo bermula di bukit sebelah selatan Surakarta. Sungai ini melalui daerah Sukowati, Jagaraga, Madiun, Jipang, Blora, Tuban, Sedayu, dan bermuara di Gresik.

Penduduk desa di tepi Sungai Brantas dan Bengawan Solo dapat membawa para pedagang dan barang dagangannya dengan perahu, sekaligus dapat berhubungan langsung dengan pedagang dari luar Jawa bahkan mancanegara. Jenis-jenis komoditi yang diperdagangkan di pasar ialah hasil bumi seperti padi (beras), buah-buahan, sirih pinang, bawang, merica atau lada, cabai, kelapa, kemukus, kapulaga, mengkudu, bunga, dan hewan ternak.(Titi Surati. N, Pasar Di Jawa Pada Masa Mataram Kuna. Jakarta, Dunia Pustaka. 2003:49).

Selain perdagangan masa Pu Sindok mengandalkan pertanian. Dapat dilihat wilayah kekuasaan Pu Sindok berada di tepian Sungai Brantas dan di lereng Gunung Penanggungan, yang pada daerah tersebut tanahnya sangat subur untuk bercocok tanam. Hasil bumi di daratan tepian Sungai Brantas yang utama ialah padi. Dalam Prasasti Kamalagyan (1037 M) disebutkan bahwa dibangun sebuah waduk untuk membendung air ketika musim hujan dan dialirkan untuk pengairan pada musim kemarau. Selain itu, di dalam Prasasti Harinjing menyebutkan dibangun pula sebuah bendungan untuk menghindari banjir.

Pada masa Wangsa Isyana juga dijelaskan kondisi masyarakatnya banyak yang berprofesi sebagai petani, pedagang, dan juga peternak. Hal ini disebabkan pada wilayah Jawa Timur menguntungkan u pertumbuhan ekonomi masyarakatnya dan juga didukung oleh beberapa faktor yaitu sebagai berikut (1) Pada sektor pertanian sangat cocok karena wilayah Jawa Timur berada di dataran rendah dan juga untuk memiliki struktur tanah yang subur sehingga sangat cocok untuk dijadikan lahan pertanian. (2) Banyaknya masyarakat yang berdagang karena didukung oleh adanya wilayah yang strategis yang dialiri oleh dua sungai yaitu sungai Brantas dan juga Sungai Bengawan Solo. (3) Wilayahnya sangat cocok untuk peternakan mulai dari ayam, kambing, hingga sapi. Hal ini didorong oleh tanaman untuk pakan ternak yang tumbuh subur.

Baca Juga  Gerakan September Tiga Puluh

Selain mengandalkan hasil komoditi pertanian dan peternakan, pada masa Wangsa Isyana juga mengandalkan hasil komoditi hasil industri rumah tangga seperti tekstil, benang, payung, keranjang, barang-barang anyaman, kajang, kepis, gula, arang, kapur sirih, garam, terasi, alat-alat rumah tangga, alat-alat pertanian, dan senjata yang terbuat dari perunggu, tembaga dan besi.

Dalam catatan Chou Yu Kua, menyatakan bahwa Bandar dagang di Porong merupakan sebuah pelabuhan yang besar dengan pajak murah dan kantor-kantor dagang yang berjejer dengan suasana yang menyenangkan. Kantor-kantor dagang tersebut mengurusi palawija, emas, gading, perak, dan kerajinan tangan yang selalu disenangi orang-orang Arab (Hariyono. Kultur Cina dan Jawa. 1993:16). Lalu menurut catatan seorang pedagang dari Cina bernama Chou Ku Fei, bahwa kondisi subur tanah Jenggala yang banyak dikelilingi sungai-sungai besar yang tembus sampai gunung Penanggungan.

Lalu pada masa Dharmawangsa Teguh, kerajaan semakin maju dan perekonomian maju sangat pesat yang membuat Sriwijaya merasa tersaingi dan menghasut Raja bawahan dari Medang yaitu Wurawari (diperkirakan Banyumas) untuk memberontak, dan siasat itu pun berhasil sehingga Raja Wurawari mengadakan pemberontakan secara besar-besaran pada saat Raja Dharmawangsa Teguh sedang mengadakan acara pernikahan putrinya dengan Airlangga (keturunan Raja Udayana dari Bali).

Akibat serangan pemberontakan ini seluruh keluarga kerajaan tewas termasuk Raja Dharmawangsa Teguh dan putrinya, kecuali Airlangga yang berhasil melarikan diri ke daerah Wonogiri. Serangan ini digambarkan seperti bencana air bah yang menerjang sebuah kerajaan atau disebut pralaya (Prasasti Pucangan). Setelah berhasil melarikan diri Airlangga pun berencana untuk menuntut balas, ia pun melakukan siasat menyusun rencana, setelah rencana matang ia pun menyerang Medang yang sudah dikuasai Wurawari dan berhasil.

Baca Juga  Sejarah Berdirinya Negara Islam Pakistan

Pada masa pemerintahan Airlangga, berdasarkan Prasasti Kamalagyan (1037 M) yang menyebutkan karena pada saat musim hujan sawah dan desa-desa sering terjadi banjir karena meluapnya Sungai Brantas, dibangunlah bendungan Waringin Sapto sehingga bersuka citalah para penduduk dan petani karena sawah dan desanya tak lagi kebanjiran pada saat musim hujan tiba.

Di masa tuanya Airlangga memilih sebagai pertapa, ia pun mengutus Mpu Barada untuk membagi kerajaannya menjadi dua yaitu Panjalu dan Jenggala karena kedua putranya berebut untuk naik takhta. Namun hal tersebut pun tidak menyelesaikan masalah karena tetap saja kedua putra Airlangga tersebut tetap bertengkar dan akhirnya salah satu harus takluk yaitu Jenggala. Sejak saat itu Panjalu berubah menjadi pewaris tunggal Kerajaan Medang dan berubah nama menjadi Kediri.

Pada masa kerajaan Kediri perekonomian mengandalkan sektor agraris dan maritim. Penduduk pedalaman bermata pencarian petani dan peternak sedangkan penduduk pesisir bermata pencarian nelayan dan pedagang. Pada masa itu mata uang terbuat dari emas dan campuran antara perak, timah, dan tembaga. Sungai Brantas pun banyak digunakan sebagai lalu lintas perdagangan antara daerah pesisir dan pedalaman sehingga perekonomian tumbuh dan maju pesat.

Baik dari kerajaan Mataram kuno masa pemerintahan Pu Sindok (Dinasti Isyana), lalu Kahuripan, sampai kerajaan Kediri sama-sama mengandalkan sektor agraris dan maritim untuk menopang perekonomiannya. Semuanya pun mengandalkan aliran sungai untuk jalur lalu lintas pemasokan barang dagangan dari daerah pedalaman ke daerah pesisir ataupun sebaliknya. Semuanya memanfaatkan aliran sungai Bengawan Solo dan Sungai Brantas untuk pelayaran dan perdagangan. Namun yang jelas bahwa perpindahan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur oleh Pu Sindok punya andil besar dalam memajukan kerajaan Mataram Kuno pun hingga keturunan-keturunannya yang mendirikan Kerajaan Kahuripan, Kerajaan Kediri, Kerajaan Singasari, bahkan sampai Kerajaan Majapahit sekalipun.

.

Penulis: Almas Hammam Firdaus

Editor: Fastabiqul Hakim