Kyai Raden Santri: Jalan Dakwah Sang Pangeran

Kyai Raden Santri

“Saya bahagia setiap kali mendengar saya bukan siapa-siapa. Kenyataan yang menjadi alasan untuk terus berlari menuju Allah SWT, menjadi milik-Nya seutuhnya.”

– Firman Nofeki –

Kala pertama kali menjejakkan kaki di Gunung Pring, saya ingat sekali waktu itu masih SD. Kala itu kebetulan saya bersama simbah dan saudara saya ikut rombongan ziarah Dusun saya ke makam-makam para Kyai pendakwah Islam di Keresidenan Kedu dan Yogyakarta. Jujur pada waktu itu di antara kunjungan ziarah para Kyai di Keresidenan Kedu dan Yogyakarta yang paling berkesan bagi saya adalah pada waktu ziarah di Gunung Pring. Alasannya klasik (berhubung saya masih SD) karena banyak bakulnya (pedagangnya). Jadi setelah masuk gapura makam Gunung Pring itu, untuk menuju ke kompleks makam, kita harus menaiki anak tangga yang kira-kira panjangnya setengah kilometer, nah di sepanjang anak tangga itulah berjejer para pedagang yang jualannya pun macam-macam. Jadi bayangkan saja bagaimana naluri anak-anak saya tidak menggeliat coba melihat para pedagang sebanyak itu.

Lupakan soal para pedagang, jadi setelah saya sampai di puncak dan masuk ke kompleks makam, di antara makam-makam di situ, ada satu makam yang menarik perhatian saya. Dipapan plangnya yang berwarna putih bertuliskan “Pesarean Pangeran Singosari (Kyai Raden Santri) Trah Prabu Brawijoyo Ing Mojopahit Kalebet Wewengkon Dalem Keraton Ngayogjokarto Hadiningrat”. Seketika itu pikiran saya pun bertanya-tanya siapa itu Pangeran Singosari (Kyai Raden Santri), siapa Prabu Brawijoyo dan apa hubungannya dengan Majapahit dan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Siapa Sebenarnya Kyai Raden Santri?

Seiring usia saya yang sudah bertambah, saya pun banyak mencari referensi mengenai Kyai Raden Santri dan saya berkesimpulan sebagai berikut. Jadi, pasca Kerajaan Majapahit dikuasai oleh Raja Girindrawardhana Dyah Ranawijaya dari Keling menyebabkan Raja Brawijaya V harus menepi di Gunung Lawu pun dengan putra-putrinya yang juga menyebar ke berbagai daerah. Satu di antara pangeran tersebut adalah Raden Bondan Kejawen yang mana merupakan putra dari Raja Brawijaya V dan Putri Wandan dari Bandaneira (Maluku). Beliaulah ayah dari Ki Ageng Getas Pendawa yang kemudian menurunkan Ki Ageng Selo. Ki Ageng Selo berputra Ki Ageng Enis. Ki Ageng Enis berputra Ki Ageng Pemanahan. Ki Ageng Pemanahan kemudian menikah dengan Nyai Sabinah yang mana kemudian melahirkan anak yang salah duanya adalah Danang Sutawijaya dan Raden Santri.

Baca Juga  Menelisik Sejarah Perkembangan Islam di Cina

Berbeda dengan sang kakak, Danang Sutawijaya yang kemudian menjadi raja di Mataram dengan gelar Panembahan Senopati. Sang adik, Raden Santri justru malah memilih meminggirkan diri dari lingkaran kekuasaan. Sedari awal, Raden Santri ini memang tidak tertarik dengan kekuasaan dan lebih menekuni ilmu agama dan banyak berguru kepada kiai-kiai. Setelah Mataram kokoh sebagai Perdikan, Danang Sutawijaya pun tidak serta merta melupakan adiknya, Raden Santri. Meskipun Raden Santri tidak tertarik dengan kekuasaan, Danang Sutawijaya tetap memberikannya gelar Pangeran Singosari.

Di sebuah tanah perbukitan disisi barat Gunung Merapi-lah, Raden Santri akhirnya menetap. Bukit yang tidak seberapa tinggi tersebut memiliki gerombol rumpun bambu yang sangat lebat. Dari kejauhan tampaklah bukit tersebut seperti gunung yang diselubungi rumpun bambu. Itulah sebabnya daerah tempat menetap Raden Santri ini kemudian lebih dikenal dengan nama Gunung Pring yang mana berasal dari kata gunung dan pring (bambu). Karena Raden Santri ingin benar-benar nyawiji membaur dengan rakyat, maka beliau justru sengaja menutupi identitas kepangerannya. Masyarakat pun kemudian lebih mengenal beliau sebagai Kyai Raden Santri karena kealiman dan keistikamahan beliau dalam berdakwah.

Kyai Raden Santri tergolong ulama awal yang berdakwah di wilayah sekawan kiblat gangsal, pancernya Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan deretan Pegunungan Menoreh di sepanjang Kali Progo. Menjelang Kerajaan Mataram berdiri, Kyai Raden Santri pernah diberi tugas sebagai senapati perang sekaligus imam salat para prajurit Mataram.

Pada tahun 1611, Kyai Raden Santri wafat, jasad beliau kemudian dikebumikan di puncak Gunung Pring yang secara administrasi sekarang berada di Desa Gunung Pring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Saat ini kepemilikan kompleks makam Gunung Pring ini di bawah pengelolaan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat di bawah Reh Kawedanan Hageng Sriwandowo bagian Puroloyo.

Baca Juga  Akhir Kisah Cinta Sang Paduka: Sunan Amangkurat I, Rara Oyi, dan Pangeran Anom

Kompleks makam Kyai Raden Santri dan anak cucunya yang kebanyakan juga berada di kawasan Gunung Pring kini menjadi tempat ziarah yang ramai dikunjungi umat Islam dari berbagai penjuru tanah air. Apabila ingin ziarah, untuk memasuki kaki bukit sebagai akses masuk ke kompleks makam, pengunjung akan disambut terminal parkir dan gapura berlambang Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Untuk naik ke atas bukit ada dua pilihan akses jalan berundak yang dapat dilalui, satu berada di sebelah Masjid Kyai Raden Santri melewati sisi timur dan satu lagi melewati Musala Raden Santri lewat sisi utara bukit.

Setiap tanggal 1 Muharam di halaman rumah Gus Jogorekso dan makam Gunung Pring rutin diadakan acara Haul Kyai Raden Santri yang mana diisi dengan pembacaan Al-Quran, tahlil, kirab budaya, dan diakhiri dengan pengajian oleh para ulama dan Kyai. Yang menarik dari Haul ini adalah acara Kirab Budaya oleh para abdi dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Deretan barisan pembawa tumpeng dan rangkaian hasil tani sebagai simbol bentuk syukuran. Selain itu Kirab Budaya tersebut juga dimeriahkan oleh masyarakat sekitar dengan menggunakan delman dan berpakaian ala wali bagi pria sedangkan bagi perempuan berkerudung. Barisan tersebut berangkat dari halaman rumah Gus Jogorekso kemudian melewati Jalan Pemuda, Muntilan menuju kompleks makam dan dilanjutkan dengan berziarah membaca tahlil kemudian makan bersama.

Adapun keturunan Kyai Raden Santri di antaranya Kyai Krapyak I, Kyai Krapyak II, Kyai Krapyak III, Kyai Harun, Kyai Abdullah Sajad, Kyai Gus Jogorekso, Raden Moch Anwar, Raden Qowaid Abdul Sajak, Kyai Ahmad Abdulhaq, hingga Kyai Dalhar Watucongol. Anak keturunan Kyai Raden Santri inilah yang kemudian menjadi ulama penyebar dakwah Islam di wilayah Gunung Pring hingga kini yang mana kini peran tersebut dilanjutkan melalui Pondok Pesantren Darussalam di Watucongol, Magelang, Jawa Tengah.

Baca Juga  Islam Van Afrika Selatan dan Memoar Syekh Yusuf Al Makassari (1652-1699)

.

Penulis: Almas Hammam Firdaus

Editor: Fastabiqul Hakim