Latar Belakang Terjadinya Perang Peloponnesos sebagai Puncak Keruntuhan Era Yunani Kuno

Perang Peloponnesos Yunani

Yunani Klasik terdiri dari berbagai polis-polis yang saling bersaing satu sama lain, polis-polis besar terutama, seperti Athena dan Sparta. Kedua polis tersebut merupakan polis terbesar dan paling berkuasa. Athena dan Sparta saling bersaing mendominasi Yunani. Terkenal dengan angkatan perangnya, keduanya menjadi pemimpin polis-polis Yunani dalam mengatasi serangan dari luar, seperti dalam perang melawan Persia.

Setelah berhasil mengusir Persia dari Yunani pada Perang Marathon, kekuatan militer Athena semakin kuat terutama armada lautnya. Dominasi Athena di Yunani menjadi semakin kuat baik di bidang politik maupun ekonomi saat itu. Tetapi persaingan antara Athena dan Sparta terus terjadi yang puncaknya ketika Perang Peloponnesus.

Setelah mengalahkan Persia, menurut Thucydides, Athena membentuk aliansi militer para polis anti-Persia. Aliansi militer Athena terdiri dari beberapa polis di sekitar kepulauan laut Aegea yang disebut Liga Delian dan dibentuk pada tahun 478 SM. Sedangkan Sparta lalu membentuk Liga Peloponesia yang beraliansi dengan polis-polis di tengah Yunani, termasuk juga salah satu polis dengan kekuatan besar yaitu Korintus.

Masa keemasan Athena memunculkan ambisi untuk memperluas kekuasaanya di Yunani. Salah satunya ingin mengontrol perdagangan di barat Yunani, terutama di Korintus yang merupakan polis maritim yang sebelumya sudah menguasai perdagangan di Laut Mediterania. Hal seperti itu tentunya tidak mungkin dibiarkan oleh pesaingnya yaitu Sparta, pejuang paling ditakuti pada masa kuno. Ini menjadi faktor utama latar belakang terjadinya Perang Peloponnesus.

Masalah paling awal Perang Peloponnesus bukan di Athena ataupun Sparta, tetapi polis Yunani yang relatif kecil, Epidamnus yang telah berurusan dengan beberapa masalah domestik. Pada tahun 430-an SM, rakyat memberontak, menggulingkan aristokrasi, dan mendirikan demokrasi baru. Para bangsawan, yang ingin mempertahankan kekuasaan, bergabung dengan musuh-musuh Epidamnus dan menyerang kota. Epidamnus tidak dapat melawan musuh, jadi mereka mengirim duta untuk meminta bantuan kepada Corcyra pemilik armada laut yang besar di Yunani. Corcyra merupakan pendiri Epidamnus, tetapi Corcyraeans juga salah satu kota yang paling netral secara politik di Yunani, jadi mereka memutuskan untuk tidak membantu.

Baca Juga  Sejarah Perkembangan Filsafat Yunani Klasik, Dari Thales Sampai Kaum Sofis

Masih membutuhkan bantuan, Epidamnia pergi ke kota lain yang kuat yaitu Korintus. Orang Korintus juga memiliki ikatan leluhur dengan Epidamnus, tetapi mereka masih berseteru dengan Corcyra. Korintus telah mendirikan Corcyra, dan masih menuntut agar kota yang lebih muda memperlakukan yang lebih tua sebagai atasan, terlepas dari kenyataan bahwa Corcyra telah menjadi sangat kaya dan berkuasa sendiri. Jadi, Korintus memutuskan untuk mengirim pasukan untuk membela Epidamnus, sebagian sebagai penghinaan terhadap bekas jajahannya.

Orang-orang Corcyra geram terhadap Korintus, dan memutuskan untuk mengirim kapal-kapal mereka untuk bergabung dengan kaum bangsawan Epidamnus dalam mengepung kota. Dengan 100 kapal yang mereka miliki, Corcyrian dapat memenangkan pertempuran.

Terlepas dari kemenangan ini, Corcyra tetap merasa khawatir. Mereka secara sebenarnya merupakan polis netral, yang menjauhi politik Yunani, tetapi mereka pergi berperang melawan Korintus atas nasib Epidamnus. Ini berpotensi menimbulkan masalah karena Korintus adalah sekutu terpenting Sparta. Saat itu Sparta adalah pemimpin dari aliansi polis-polis yang disebut Liga Peloponnesia, yang didirikan untuk menantang kekuatan Athena yang semakin besar. Menyadari bahwa mereka dapat membutuhkan sekutu juga, Corcyra pergi ke Athena.

Athena memutuskan untuk memberi Corcyra aliansi, tetapi hanya dalam kasus kota itu diserang. Motivasi mereka adalah menjaga Sparta agar tidak merebut angkatan laut Corcyra yang besar, namun tetap senetral mungkin. Athena mengirim armada kecil ke Corcyra dengan perintah untuk mempertahankan kota jika perlu, tetapi tidak memulai apapun. Namun, tidak lama kemudian, kapal-kapal Corcyrian dan Korintinus mulai saling menyerang di dekat Sybota, tidak jauh dari Corcyra sendiri. Menurut Thucydides, lebih dari 200 kapal terlibat dalam pertempuran ini, menjadikannya pertemuan maritim terbesar hingga saat itu dalam sejarah Yunani. Khawatir bahwa Korintus akan mencoba untuk menyerang Corcyra secara langsung, kapal-kapal Athena memasuki pertarungan.

Baca Juga  Kaum Sofis: Penyebab Munculnya, Karakteristik, dan Ciri-Ciri

Kemudian Korintinus dan koloninya Megara menyatakan perang dengan Athena. Athena membalas Megara dengan melakukan embargo perdagangan. Embargo ini menjadi yang pertama dalam sejarah perdaganagan. Megara kehilangan akses untuk melakukan perdagangan dengan polis-polis Liga Delian. Akibatnya, ekonomi Megara menurun drastis, ini membuktikan bahwa kekuatan Athena saat itu sangatlah besar.

Sparta tidak ingin lagi membiarkan Athena menjadi lebih kuat. Sparta pun menyatakan perang dengan Athena. Ini bukanlah awal dari Perang Peloponnesus tetapi merupakan awal konflik antara Athena dan Sparta. Konflik ini berakhir dengan adanya perjanjian perdamaian antara keduanya yang disebut “Peace of  30 Years” pada tahun 446 SM.

Tetapi tidak sampai 30 tahun perjanjian damai, peperangan terjadi kembali antara Liga Peloponnesia dan Liga Delian. Pada tahun 431 SM, pecahlah perang Peloponnesia ketika musim semi yang ditandai dengan penyerangan ke Attica yang dilakukan oleh Raja Sparta, Arcidhamus II.

Sumber:

Christhoper Muscato. Peloponnesian War: Epidanmus, Corcyra & Potidaea. https://study.com/academy/lesson/peloponnesian-war-epidamnus-corcyra-potidaea.html diakses pada tanggal 1 Maret 2020

Encyclopedia Britannica. Peloponnesian War. https://www.britannica.com/event/Peloponnesian-War diakses pada tanggal 1 Maret 2020

Greenwald, Bryon. (2016). Thucydides’ History of the Peloponnesian War: The Thinking Man’s Guide. The Marine Corps gazette. hlm. 76-77.

  1. E. Lendon. (2007). Athens and Sparta and the Coming of the Peloponnesian War. hlm. 263-267

National Geographic. The Peloponnesian War. https://www.nationalgeographic.org/encyclopedia/peloponnesian-war/ diakses pada tanggal 1 Maret 2020

Ricard Crawley. (2009). The History of the Peloponnesian War, by Thucydides 431 BC. https://www.gutenberg.org/files/7142/7142­h/7142­h.htm. hlm 9-10