Masa Kejayaan dan Keruntuhan Kerajaan Demak

Kerajaan Demak

Pati Unus memerintah Kerajaan Demak sejak 1518 hingga 1521, dalam Babad Tanah Jawi Pati Unus dikenal sebagai Pangeran Sabrang Lor sedangkan dalam Serta Kandha disebut dengan nama Raden Surya.

Mengenai hubungan keluarga antara Pati Unus dengan Raden Patah terdapat perbedaan anatara sumber Portugis dengan sumber asli dari Jawa sendiri, yang dimana sumber Portugis menyatakan bahwa Pati Unus adalah menantu dari Rodin Senior atau Raden Patah, sedangkan sumber asli Babad Tanah Jawi dan Serat Kendha menyatakan bahwa Pati Unus adalah anak kandung Raden Patah.

Kebesaran individu raja Demak ini diakui oleh sumber dari Portugis, Tome Pires menyebutnya “persona de grande syso” yang artinya orang yang tegas dalam mengambil keputusan dan “cavaleiro” yang artinya seorang ksatria sedangkan dalam Babad Tanah Jawi, Pati Unus dikenal dengan Pangeran Sabrang Lor yang dikaitkan dengan daerah tempat tinggalnya yang di seberang utara atau daerah Jepara, ia memerintah dengan kurun waktu yang singkat.

Pasca meninggalnya pangeran Sabrang Lor pada tahun 1521, Sultan Trenggana ditakhtakan sebagai raja Demak yang memerintah dari tahun 1521 hingga 1546, yang pada masa pemerintahannya ini menandai peristiwa-peristiwa besar yang mengantarkan Kerajaan Demak kepada masa kejayaannya.

Wilayah kekuasaan kerajaan diperluas hingga ke barat dan ke timur dan Masjid Demak dibangun kembali sebagai wujud lambang kekuasaan Islam, dan juga Sunan Gunung Jati menobatkan Sultan Trenggana sebagai Sultan Ahmad Abdu’l Arifin.

Seorang penulis dari Portugis yaitu Mendez Pinto menyatakan kebesaran raja ini dengan memberi gelar “emperador” atau maharaja.

Ekspansi Kerajaan Demak ke barat dimulai dengan ekspedisi Syekh Nurullan atau Sunan Gunung Jati ke Jawa Barat yang berhasil mendirikan Kerajaan Cirebon dan Banten yang menurut tradisi-tradisi lisan Jawa dari Cirebon dan Banten sangat penting artinya bagi perkembangan Islam, bahasa, dan kebudayaan Jawa di sepanjang pantai utara Jawa Barat.

Baca Juga  Sejarah Runtuhnya Kerajaan Cirebon

Babad Sangkala banyak menceritakan ekspansi Demak ke Jawa Timur dan untuk memastikan kadar historisnya perlu didampingi penggunaan sumber lain, dalam hal ini De Graaf banyak membandingkan dan menghubungkan dengan sumber-sumber Portugis.

Penyerangan ibukota Majapahit yang terakhir menurut Babad Sangkala adalah Kediri sedangkan menurut Tome Pires adalah Dayo.

Penyerangan terhadap Majapahit ini mengandung makna simbolis yang penting karena jatuhnya Kerajaan Majapahit seperti halnya yang tersirat dalam candrasengkala historiografi tradisisonal “sirna hilang kertaning bumi” (1400 saka atau 1475 M) dipandang sebagai saat berakhirnya suatu periode yang penting, peristiwa itu dipandang sebagai garis pemisah antara zaman Indonesia Hindu dengan zaman Indonesia Islam (Indonesia Kuno ke Indonesia Madya).

Kemudian secara berturut-turut penaklukan dilakukan di Wirasari (1525), Gagelang (Madiun) tahun 1529, Pasuruan (1535), Lamongan, Blitar dan Wirasaba yang ketiganya ditaklukkan pada tahun 1541 dan 1542, Gunung Penanggungan sebagai benteng elit Hindu Jawa dan segala tempat-tempat keramatnya (1543), Mamenang atau Kediri (1544), Sedang Sengguruh (Malang) di hilir sungai Brantas tahun 1545, dan penaklukan terakhir adalah ke Blambangan tahun 1546 yang merupakan benteng terakhir agama Hindu di bagian ujung tenggara Jawa Timur.

Berdasarkan cerita yang beredar, raja Brawijaya terakhir setelah kalah menghadapi serbuan Kerajaan Demak menugngsi ke Blambangan dengan tujuan agar mudah mendapat bantuan dari Bali yang masih setia beragama Hindu, dan akhirnya Blambangan juga menyerah terhadap Kerajaan Demak akan tetapi Sultan Trenggana juga ikut gugur.

Dengan gugurnya Sultan Trenggana ini berarti mengakhiri pula upaya ekspansi kekuasaan pusat kerajaan Islam baru di Jawa terhadap semua daerah yang sebelumnya dibawah kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Dari berbagai sumber yang ada dapat diungkap bahwa sepeninggal Sultan Trenggana terjadi kekacauan politik dan pemerintahan, menurut Fernandez Mendez Pinto menyatakan bahwa gugurnya Sultan Trenggana mengakibatkan terjadinya perebutan kekuasaan diantara calon penggantinya yang pada akhirnya mengakibatkan ibukota Demak hancur.

Baca Juga  Kehidupan Politik Kerajaan Demak

Menurut berbagai babad, Sultan Trenggana digantikan oleh putranya yaitu Susuhan Prawata.

Babad dan tambo Jawa Tengah menceritakan bahwa Susuhan Prawata dan istrinya dibunuh atas perintah Arya Penangsang sebagai balas dendam atas kematiaan ayahnya, Arya Penangsang adalah adipati di Jipang Panolan yang letaknya cukup jauh di daerah timur Demak.

Di masa kekacauan ini muncul Jaka Tingkir atau Pengeran Hadiwijaya yaitu menantu Sultan Trenggana dan berusaha merebut kekuasaan dan memindahkan pusat kerajaan ke Pajang setelah menyingkirkan lawannya yaitu Arya Penangsang.

Kericuhan dan kerusuhan yang terjadi di pusat kekuasaan Islam itu memberi kesempatan wialyah-wilayah dibawah kekuasaan Kerajaan Demak untuk merdeka misalnya seperti Cirebon dan Banten di Jawa Barat, serta Surabaya dan Gresik-Kediri di Jawa Timur.

Pusat perdangangan pun sejak pertengahan abad ke-16 sebagian besar telah berpindah ke Jepara yang sebagian disebabkan karena pendangkalan Selat Muria di jalan masuk pelabuhan Demak, dan Jepara memiliki peranan yang cukup penting bagi daerah sepanjang pantai utara Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Akan tetapi pasca jatuhnya kekuasaan Kerajaan Demak sesudah tahun 1546, ternyata tidak terlalu memudarkan wibawa religius Masjid Agung Demak, yang pada abad berikutnya masih menjadi pusat bagi orang alim di Pulau Jawa pada umumnya dan Jawa Tengah pada khusunya.

Keturunan raja-raja Demak pun masih dihormati dan disegani di keraton raja-raja Jawa lainnya, gelar “Susuhan” bagi Susuhan Prawata dipandang sebagai petunjuk bahwa pada masa akhir Kerajaan Demak wibawa religuis masih dipandang lebih penting daripada kekuasaan politik, walaupun keraton (istana) sudah tidak ada bekasnya lagi akan tetapi Makam dan Masjid Agung Demak masih tetap megah berdiri dan dipandang sebagai tempat keramat yang banyak diziarahi orang bahkan hingga masa kini.

Baca Juga  Sejarah Berdirinya Kerajaan Perlak dan Pidie

Penulis: Aisya Aroyani, Betty Mustikasari, Budi Fathuttamam