Menelisik Eksistensi dan Sejarah Perkembangan Islam di Negeri Ginseng

sejarah masuknya islam di korea

“Bersama dalam dakwah adalah keindahan batin, walau harus mengalami ragam rasa melampaui segala keterbatasan sebagai apa pun”

Korea adalah sebuah negara di belahan bumi bagian timur yang terletak di Semenanjung Manchuria. Wilayah ini sejak berabad- abad merupakan negara yang sangat penting dalam sejarah Asia. Bangsa Korea merupakan turunan dari beberapa suku Mongol yang berpindah-pindah dari Manchuria. Menurut beberapa ahli praaksara, bangsa Korea adalah turunan rumpun Suku Ural-Altai di Mongol yang migrasi sejak zaman batu baru (Neolitikum), yang bermukim pada abad ke-10 SM hampir di seluruh Semenanjung Korea dan sebagian wilayah Manchuria. Kini, antara Bangsa Korea dan puak mereka Bangsa Mongol, berbaur menjadi satu bangsa walau terpisahkan dari segi geografi dan tetap menyatu meski dengan watak yang berbeda-beda. Dari puak bangsa Mongol, kini menjadi bangsa China, Korea, maupun Jepang. Bangsa Korea disatukan oleh satu bahasa, satu tradisi, satu kebudayaan dan satu sejarah yang panjang, yang telah berusia ribuan tahun. Baru belakangan ini pengaruh urbanisasi dan perkembangan ekonomi yang sangat besar menciptakan perubahan besar dalam struktur sosial dan pandangan filosofis rakyat Korea.

Berkembangnya ajaran Islam ke seluruh penjuru dunia dan diyakini oleh berbagai bangsa, termasuk di negara Korea Selatan, merupakan buah dari upaya dakwah yang tidak kenal henti dari para juru dakwah yang menyampaikan ajaran Islam dan menyerukan kepada umat agar masuk ke dalam Islam. Maka dibutuhkan rumusan strategi dan metode dakwah sesuai dengan kondisi masyarakat negara yang dihadapi oleh para juru dakwah. Korea Selatan sendiri laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi diikuti pula dengan intelektualisasi masyarakat penerima dakwah. Kegiatan dakwah Islamiyah mencakup seluruh dimensi kehidupan, baik kehidupan sosial, ekonomi, politik, budaya dan lain sebagainya yang semua itu dapat dijadikan sebagai wahana untuk melakukan dakwah Islam.

Sejarah Masuknya Islam di Korea 

Pendekatan sejarah agama Islam di Korea dimulai dari migrasi pedagang yang berasal dari Arab, yaitu pada 15 Mei 1024, pada zaman Dinasti Koryo yang diperintah oleh Raja Hyun Jong. Pernyataan itu tercatat dalam sejarah Korea yang ditulis oleh sejarawan Korea yang bernama Lee Hyun Hae, Jung Young Kook, dan Nam Du Young. Menurut Lee Hyun Hae, pendekatan orang Arab pertama-tama melalui jalur perdagangan laut yang dibuktikan oleh suatu gambar di atas tembok gua tentang hubungan dagang antara orang- orang Korea dan orang-orang Arab. Jung Young Kook mengatakan bahwa orang-orang Arab datang pada saat pesta-pesta negara (Pal Kwan Hee) yang diadakan setahun sekali melalui Gae Kyung dan Suh Kyung (Geun, 2011:107).

Setelah Kerajaan Goryo runtuh pada tahun 1392, bersamaan dengan putusnya hubungan dengan orang-orang Arab, pengaruh Dinasti Ming di negara China mulai memperluas kekuasaannya dengan misi agama Konghuchu. Hal itu menunjukkan bahwa dahulu bangsa lain mudah masuk ke negara Korea. Dengan adanya kekuasaan Dinasti Ming, para pedagang Arab sulit datang ke negara Korea karena kekuasaan politik atau misi agama Konghuchu sangat mempengaruhi masyarakat Korea. Perubahan situasi mengharuskan rakyat mengikuti agama Konghuchu. Di negara China orang-orang Muslim pindah ke tempat lain dan kegiatan mereka mulai berkurang, seperti dagang dan dakwah (Geun, 2011:108).

Pengenalan agama Islam di Korea dan China berlangsung pada tahun 1895-1928. Lebih kurang 10 ribu orang Korea pindah ke negeri Manchu di China. Tujuan mereka ke negara China, antara lain, adalah bersembunyi atau menyelamatkan diri dari ancaman orang-orang Jepang sebagai kolonial di Korea. Perpindahan itu terjadi, terutama sejak adanya gerakan yang bertentangan dengan tentara-tentara Jepang. Pada saat itu, banyak orang-orang Korea pindah ke negara China untuk mencari kesempatan untuk merebut kembali negeri Korea. Di samping itu, banyak tentara Jepang mengirim orang Korea ke negara China untuk mengambil bahan-bahan baku yang dipergunakan untuk membuat peralatan perang (Yoon, 1988:9).

Sejumlah orang Korea yang dikirim ke negara China, secara pribadi berhubungan dengan orang-orang Islam di China dan mempelajari agama Islam. Di antaranya adalah Imam Muhammad Yoon Du Young, Haji Sabri Suh Jung Kil, dan Haji Omar Kim Jin Kyu. Tugas mereka sebetulnya bekerja sebagai perwakilan, di samping memperdalam ajaran agama Islam. Umumnya mereka tertarik kepada agama Islam karena orang-orang Islam di China sangat jujur dan ramah. Agama Islam adalah juga agama universal yang mempercayai keesaan Tuhan tanpa melalui perantara dan tidak memberikan beban berat bagi umat yang menganut agama Islam. Hal-hal tersebut menyebabkan mereka tertarik dan mulai belajar dan mengikuti ajaran agama Islam.

Pada 25 Juni 1950 terjadi perang saudara antara Korea Selatan dan Korea Utara sehingga PBB mengirim pasukan keamanan yang terdiri dari 16 negara. Salah satu dari 16 negara yang mengirim pasukan itu adalah Turki. Selain membantu perang, Turki giat menyebarkan agama Islam ke Korea Selatan sebagai agen of change yaitu tentara untuk membantu perang sambil menyebarkan agama Islam. Imam tentara yang terkenal dengan aktivitas dakwah Islamnya di Korea ialah Zubair Kochi, yaitu pasukan pimpinan tentara Turki. Kehadiran agama Islam mulai maju tahap demi tahap sebagai penerang (pelita) bagi umat Islam di Korea. Walaupun orang Korea sama sekali buta dalam pengetahuan Islam, perkembangan ini merupakan hal yang sangat baik bagi umat muslimin dan muslimat Korea.

Sejarah Perkembangan Islam di Korea

Di dalam sejarah Islam dicatat bahwa Semenanjung Korea adalah sebagai negara yang tanahnya subur dan kehidupannya yang makmur. Setelah 1.000 tahun orang-orang Islam dari Arab datang ke Semenanjung Korea, lalu Korea menjadi negara yang gersang karena perang. Pengenalan Islam pertama itu dimulai pada pertengahan abad ke-9 dimasa itu Islam diartikan bukan dianggap sebagai agama tetapi dianggap sebagai budaya. Setelah muncul agama Islam pada pertengahan abad ke-7 dari Islam Arab Persia terus melakukan pendekatan dengan negara China, kegiatan yang terus menerus akhirnya telah mempengaruhi budaya Islam abad ke-9 melalui jalur laut masuk ke negara Shilla bersatu di Semenanjung Korea.

Baca Juga  Geliat Kemajuan Pendidikan di Mangkunegaran

Dengan kenyataan seperti di atas para saudagar Islam datang secara langsung atau tidak langsung mencoba melakukan pendekatan. Penukaran budaya seperti ini sebenarnya sudah ada sejak lama. Tetapi Agama Islam di Korea telah dipengaruhi perkembangannya secara langsung pada 1950 perang antara Korea Selatan dan Korea Utara. Para pendukung yang membantu Korea Selatan di antaranya anggota PBB yaitu Amerika Serikat dan Turki. Tentara Turki selain membantu perang dan membangun sekolah “Angkara” untuk anak yatim di masa perang demi pendidikan juga memberikan jasa pertolongan.

Negeri Shilla sebelum dipecah menjadi 3 negara (Koguryo, Bakje, Shilla) menjadi persatuan 60 tahun yang lalu. Di negara Arab telah didapatkan suatu wahyu dari Nabi Muhammad SAW pada 634 M yang telah menyatukan Semenanjung Arab dan mempropagandakan kekuasaan versi Islam Arab di negara dunia. Pada tahun 642 M di negeri Persia dan pada 651 M dakwah Islam sampai ke negeri Dang China dan selanjutnya mulai memperkenalkan Islam di Korea. Dengan latar belakang seperti itu orang Islam mulai berhubungan melalui pertemuan yang dinamakan Persatuan Negeri Shilla sekitar akhir tahun (661-935). Shilla kerjasama dengan negeri Dang China berhasil mempersatukan 3 negeri dalam Semenanjung Korea dibantu oleh negara Dang China hingga antara kedua negara tersebut berhubungan erat. Pada saat itu Shilla didukung oleh bidang politik, ekonomi dan budaya.

Hal ini ada di dalam buku sejarah yang disampaikan bahwa salah seorang saudagar Islam namanya “Cho Young” dalam buku dokumentasi “Sam Kuk Sagi” saudagar-saudagar Islam tersebut berjumlah 4 orang termasuk “Cho Young” mereka untuk tinggal bersama-sama dan 3 orang di antaranya telah meninggal dan tersisa hanya satu orang “Cho Young” masih hidup di masa itu yang kemudian berdagang serta dianggap sebagai seorang Islam dari kalangan saudagar. Tetapi selain dalam buku Islam, ada juga dalam sejarah Korea sendiri tercatat bahwa pendekatan pertama dengan para saudagar Islam adalah pada permulaan abad ke-11 di zaman Dinasti Koryo. Dinasti Koryo Raja Hyung Jong di masa pemerintahannya yang ke-15 (1024) pada September, lalu Al-Raza bersama rombongannya sebanyak 100 orang. Dan tahun berikutnya bulan September Tashi dari negeri asing yaitu bernama Hasan. Al-Raza mereka beratus-ratus orang datang dan masing-masing negeri menyampaikan komoditas mereka serta menghadiahkan kepada rajanya,.

Rombongan mereka (dalam bahasa China disebut Tshih, bahasa Arab, Tazir atau pada saat itu orang-orang China mengatakan “negeri Song mereka disebut Tasih. Pertama-tama orang China menyebutnya “Daesik” dan pada abad ke-12 dalam bahasa China lagi disebut “Hui-Hui (Sun, 1985) dan orang Mongol dibuat negara Won dalam bahasa Islam Hae Kyo atau Hae Hae Kyo dan sampai sekarang di negara Korea dipakai juga Hae Kyo atau Suku Wigro, di China Hae Kyo atau agama Chung Jin (yang berarti agama bersih dan jujur) di Korea disebut agama Islam atau Hae Kyo. Islam Korea yang pertama diperkenalkan oleh para saudagar Arab melalui kontak perdagangan internasional, ini artinya bagi orang-orang muslim pada saat itu disebut “Daesik” tetapi di Semenanjung Korea agama Islam secara tampak jelas yang masuk pada abad ke 13-14 yaitu di awal zaman Dinasti Koryo dan di akhir Dinasti Koryo. Saat itu Dinasti Koryo telah dipengaruhi oleh kerajaan Mongol saat menguasai negeri Won dan mulailah orang-orang Islam banyak mulai masuk kepertengahan Asia dan sampai ke Koryo, akhirnya di Semenanjung Korea masuklah hubungan pertemuan dengan budaya Islam.

Di dalam kota Gae Seong, pernah dibangun gedung agama Islam pertama diberi nama “Yegung” yang dipimpin oleh para Doro sebagai pemimpin agama dan mereka telah mengikuti adat istiadat, syariat agama Islam serta mengikuti cara pelaksanaan sembahyang dan pemimpin agama tersebut dipilih secara langsung oleh kelompok itu juga. Kadang-kadang pimpinan agama diundang dalam upacara kerajaan setempat, saat menghadiri upacara tersebut mereka memberikan doa dengan tata cara mereka yaitu secara Islam. Doa dan tata upacara juga menggunakan khas arab kepada para hadirin kerajaannya. Tetapi sampai di kemudian hari tidak ada satu pun bekas peninggalan budaya orang arab di masa itu. Tetapi walau bagaimanapun ada di antara mereka yang menjalankan pernikahan dengan perempuan setempat dan memberikan misi dakwah Islam di Semenanjung Korea tersebut. Hal itu merupakan suatu peninggalan sejarah tidak bisa dihindari secara ilmiah.

Pada zaman Dinasti Koryo pada 1274 Raja “Chung Ryeol” istri dari putri kerajaan negeri Won mengikuti para pengikut orang Arab dan Suku Uyghur. Pada saat itu ada orang yang bernama Samga datang ke Koryo dan mendapat jabatan tinggi, beliau menikah dengan seorang wanita Korea. Dan ia mendapat nama baru yaitu “Jang Soon Ryeong” hadiah dari Raja “Chung Ryeol”. Menurut buku sejarah Suku Jang dalam catatan tersebut menjelaskan bahwa asal nenek moyang mereka aslinya adalah dari muslim Arab. Sampai sekarang keturunan mereka mencapai lebih dari 50.000 orang dan yang namanya orang Samga disebut orang Arab asli atau keaslian Turki berasal dari Uyghur. Ada yang bilang Uyghur karena mereka di zaman permulaan awal Dinasti Chosun sering menghadiri upacara kerajaan saat itu sebagai bahasa asing utama adalah bahasa Uyghur serta dipelajari secara khusus.

Banyak muslim mendatangi Semenanjung Korea. Masyarakat Korea telah dipengaruhi budaya-budaya Islam. Saat itu yang menjadi pusat perhatian adalah kalender muslim (Hizra) diambil dan pernah dipakai oleh Raja Sejong untuk mengembangkan cara-cara pertanian karena kalau menggunakan kalender lama yang berasal dari tradisi itu banyak salah dan keliru. Sehingga diambil kalender dari China melalui mereka belajar cara-cara penggunaan kalender Islam. Hal itu digunakan oleh orang-orang Korea dahulu sebagai “Tae Em Ryeok“ seperti kalender Jawa, sementara kalender Korea di sebut “Chil Jung San Wae Pyun”. Kemudian Raja Sejong memerintahkan membuat kalender Islam yang disesuaikan dengan kalender tradisi Korea. Pada awal permulaan zaman Dinasti Chosun dari segi perkembangan teknologi banyak dipengaruhi juga budaya Islam.

Baca Juga  Latar Belakang Terjadinya Perang Korea

Pada saat itu ada beberapa hal yang mempunyai kesamaan dengan budaya-budaya Korea, yaitu ada unsur-unsur bekas peninggalan dari budaya Arab seperti: 1) seorang wanita keluar dari rumah wajah harus ditutup dengan hijab/cadar yang di Korea disebut “Bojagi”; 2) Kaum laki-laki dan perempuan dalam penempatan belajar Sohdang tidak boleh dicampur. Laki-laki dan perempuan harus dipisahkan seperti di tempat Shalat yaitu masjid; 3) Lukisan-lukisan banyak terlihat bercorak bekas peninggalan budaya yaitu lukisan Arab dan yang ditemukan melalui sebuah gua, di atas dinding batu tersebut; 4) Keramik jaman Dinasti Chosun, Koryo, Baekje disebut keramik Chosun, keramik Koryo Cheongja, Keramik Baekje semua keaslian warna, motif, corak banyak dipengaruhi oleh saudagar- saudagar pedagang Arab.

Pertengahan abad ke-15 kontak hubungan Islam telah menurun karena di bagian Eropa antara lain Spanyol dan Portugis telah menempuh pengembangannya secara geografi baik jalur darat maupun laut. Dalam arti negara Islam pada zaman keemasan/kejayaannya sudah mulai menurun tetapi di negara Eropa sendiri mulai berkembang. Di negeri China “Myeong” telah mengembangkan agama Konghuchu sehingga di dalam negeri China sendiri mulai menurun pengaruh budaya agama Islamnya. Semenanjung Korea sendiri telah dipengaruhi budaya China dan agama Konghucu yaitu pada 1427, akhirnya di China sendiri kekuasaan pengaruh Islam menurun dan umat muslim sendiri yang mulai bersosialisasi di China terus terpengaruh sampai arus reformasi sampai pada abad ke-20.

Keruntuhan dan krisis Islam mulai sejak zaman Dinasti Song dan negeri Won Mongol sebagai hubungan yang baik dengan Kerajaan Koryo yang pada 1274 diperintah raja Chung Ryeo. Saat itu agama yang dianut oleh negeri Won Mongol dipengaruhi oleh Islam yang mereka sebut Haekyo dan telah diperkenalkan sampai Semenanjung Korea. Pengenalan Islam di Korea terus menerus melalui kontak perdagangan sampai zaman Dinasti Chosun, akan tetapi di zaman Dinasti Ming, China memang dikuasai oleh mereka yang sebelumnya rakyat bebas memilih agama yang mereka ingin anut, tetapi sejak dikuasai oleh kerajaan zaman Dinasti Ming secara paksa menyuruh untuk menganut agama Konghucu, sehingga pada 1427 di China kekuasaan terhadap pengaruh budaya Islam menurun dan terisolasi, sementara agama Konghucu berkembang dengan pesat dan terus menerus tak ubahnya seperti tumbuhnya jamur di musim hujan (Hisao, 2005:35).

Korea sendiri banyak dipengaruhi oleh perkembangan agama Konghucu di China, karena agama Konghucu tidak jauh berbeda dengan ajaran agama yang sejak dulu dipegang teguh masyarakat Korea. Yaitu agama Buddha, yang sekaligus dapat dikatakan merupakan agama nasional. Sejak perkembangan agama Konghucu yang begitu pesat, para pedagang Arab atau budaya Islam China tidak banyak mempengaruhi pola perkembangan Islam di Semenanjung Korea (Hisao, 2005:36). Selain itu di negara-negara Asia-Tengah saat itu telah menjalin hubungan dengan budaya Persia, Arab, Turki, dan mulai tahun 1940 di Asia Tengah telah memulai menggunakan bahasa Arab dan budaya mereka mulai berkibar. Suku-suku Turki telah menerima agama Islam dan mulai menerima pendakwah (dai) yang beraliran sufisme, seperti Jalaluddin Rumi, dll.

Pada abad ke-13 sebelum Zingkis Khan menguasai, semua kegiatan dan aktivitas masyarakat muslim berjalan baik, tetapi pada akhir abad ke-15 di Asia Tengah, Saibeni khan dan Wuzbehke mulai terjadi proses perubahan. Pada akhir abad ke-16 pemerintahan Rusia mulai muncul, sehingga budaya Islam dan agama Islam itu sendiri mulai tergeser dan tersingkirkan. Penyebab lain dari kepakuman perkembangan Islam di Semenanjung Korea adalah kompleksitas berbagai macam budaya, seperti Persia, Arab, Mongol, Turki, Rusia, di mana masing-masing negara memiliki budaya masing-masing dan cenderung terpecah-pecah. Hal ini juga dapat disebut sebagai penyebab tidak terlalu dikenal oleh pemerintah. Penyebab lain terhadap kepakuman perkembangan Islam adalah tidak mau bekerja sama dengan negara-negara lain, yang mereka sebut Saebuk-jungkek. Hal tersebut juga sangat terpengaruhi oleh budaya-budaya hegeonik. Hal tersebut dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan ekonomi di Korea dibanding negara Jepang pada saat itu, dan tidak dapat menerima perkembangan ekonomi dan budaya termasuk budaya Islam (Hisao, 2005:35).

Perang Semenanjung Korea (Juni 1950-Juli 1953) dalam masa keruntuhan dan krisis, Islam mulai ditanamkan kembali di Korea. Di masa itu negara Turki memasukkan Islam kembali ke Korea dalam masa perang oleh persaudaraan pimpinan Zubadi Kochi dan Abdul Khaman berusaha menyampaikan dakwah bil hal, yaitu dakwah Islamiyah di Korea.

Masa awal dakwah dan pengembangan agama Islam yang pertama didirikan oleh Korean Muslim Federation yang diketuai pertama oleh orang Korea asli bernama Kim Jin Kyu dilanjutkan dengan diadakannya misi hubungan negara-negara muslim yang dimulainya melalui pengiriman pelajar-pelajar Islam Korea yang dikirim ke Malaysia dengan tujuan sebagai misi dakwah. Di Indonesia sendiri orang yang pertama membantu dakwah Islam Korea adalah seorang muslim Indonesia dari salah satu Staf Kedutaan Korea di Indonesia yang bernama Amir Patas, beliau memberi dorongan berupa dakwah Islam Korea dengan mengirim mahasiswa muslim Korea melalui Masjid Seoul sebanyak 11 orang, mereka belajar di berbagai tempat pendidikan Islam di Indonesia, yaitu pada (1983-1985), antara lain, di Pesantren Assyafi’iah, Pesantren Darunajah, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Bandung, Unisma Malang dan berbagai tempat yang berhubungan dengan pendidikan Islam. Amir Patas menikah dengan seorang wanita Korea di Seoul dan jasa beliau banyak membuat hubungan dengan misi dakwah Islam di Korea. Dan tidak lupa juga seorang dokter Sensae berasal dari Korea bernama Dr. Kil, beliau orang pertama masuk Islam di Indonesia dan menyampaikan dakwah Islam pada masyarakat Assosiasi Korea atau para pelajar Islam Korea di Jakarta.

Baca Juga  Kehidupan Sosial Budaya Kerajaan Mataram Kuno Jawa Timur hingga Kerajaan Kediri

Setiap agama di mana pun pada awalnya akan mengalami masa kemunduran dan kemajuan begitu juga agama Islam akan mengalami hal seperti itu. Tetapi walaupun dalam kesulitan mereka tetap berjuang demi mengembangkan Dakwah Islam dan telah diberikan ijin oleh pemerintah dalam mendirikan Yayasan Korea Muslim Federation (Nomor Perijinan 114.67.3.13) dan secara resmi dibuka untuk mengembangkan dakwah Islam di Korea secara jelas.

Pada 1976 telah didirikan masjid yang pertama di Seoul, Itaewon yang terletak di tengah-tengah kota Seoul di atas bukit dengan pemandangan yang sangat indah. Sebanyak 50 orang dari 20 negara telah menyaksikan kehadiran Islam pertama di Korea dan Islam mulai berkembang dengan pesat. Pada 1979 untuk kali pertama kali Muslim Korea melaksanakan Ibadah Haji di Mekkah, Arab Saudi. Seiring berkembangnya Islam di Korea ada beberapa peristiwa di dunia antara lain: booming-nya pembangunan konstruksi di Arab Saudi, adanya perkembangan pariwisata dalam memperkenalkan budaya Islam, bertambahnya masyarakat Korea untuk belajar bahasa asing yaitu Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia, kedaulatan minyak pada 1970, hubungan bilateral yang baik antara pemerintah Korea dan negara-negara Timur Tengah, booming kembali proyek konstruksi di Dubai, peristiwa 11 September di New York hancurnya gedung WTC (pengaruh dari Osama Bin Laden) dan masyarakat luas mulai mengenal Islam lebih banyak, penyanderaan missionaries agama Kristen sebanyak 21 orang oleh sekelompok terorisme di Afganistan, dan cara pandang Islam yang negatif menjadi positif teori komunikasi, postpostivisme (Miller, 2005:78).

Esensi kajian dalam artikel ini menunjukkan bahwa perkembangan Islam di Korea dari tahun ke tahun dominan dipengaruhi oleh proses difusi dan akulturasi Islam dengan budaya dan kondisi sosial pada masyarakat Korea melalui kontak perdagangan dan kontak budaya dan dinamika Islamisasi di Korea berjalan secara damai dan harmonis. Kajian ini menunjukkan bahwa difusi dan akulturasi budaya dalam proses perkembangan sosial keagamaan sangat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal dari agama dan budaya itu sendiri.

Faktor internal; agama sebagai sebuah ajaran atau konsep terhadap realitas sosial selalu dapat beradaptasi dan bersifat kontekstual. Sedangkan faktor eksternalnya adalah keterlibatan para penganut agama, terutama para fungsionaris agama (dai, ulama, pastor, pendeta, biksu, dan sejenisnya), dalam mentransformasikan nilai-nilai kemanusiaan kepada masyarakat. Faktor eksternal berikutnya adalah adanya co-eksistensi dan asimilasi antara konsep terhadap realitas sosial (dalam hal ini agama), dengan budaya lokal, sehingga agama dapat diterima sebagai sebuah ajaran dalam komunitas masyarakat.

Dalam konteks tersebut di atas, perkembangan Islam di Korea dari tahun ke tahun dominan dipengaruhi oleh proses difusi dan akulturasi Islam dengan budaya dan kondisi sosial pada masyarakat Korea melalui kontak perdagangan dan kontak budaya. Ekspresi Islam beragam menunjukkan bahwa ada proses dialog dan akulturasi yang terus menerus antara Islam normatif dan realitas yang dinamis, yang menghasilkan peradaban serta bahwa proses Islamisasi di Korea melalui jalur perdagangan oleh para pedagang dari Arab dan Persia.

Kelancaran implementasi akulturasi dan difusi nilai-nilai Islam ke dalam kebudayaan Korea selama ini ditentukan oleh banyak faktor, dan yang terpenting di antaranya adalah agen-agen akulturasi itu sendiri yang terdiri dari para dai dari Timur Tengah dan para pedagang muslim yang menyampaikan dakwah Islam secara damai dan bersahaja. Adapun faktor-faktor pendukung kesuksesan para agen akulturasi tersebut adalah adanya pendidikan- pendidikan keislaman yang didirikan oleh komunitas muslim Korea, begitu juga pengiriman-pengiriman kader-kader dai dan agamawan yang berasal dari Korea sendiri ke pusat-pusat studi keislaman, seperti ke Mesir, Makkah, Madinah, Maroko, Yordan, Malaysia dan Indonesia. Setelah selesai studi, mereka kembali ke Korea untuk mengembangkan keilmuan keagamaan kepada masyarakat Korea dengan dakwah yang bijak dan damai sesuai misi Islam rahmatan li al-alamin.

Peluang dan tantangan dakwah Islam di Korea sebagai sebuah dinamika dapat disimpulkan dalam beberapa aspek: pertama, tantangan utama terhadap pengembangan dakwah Islam di Korea, disebabkan oleh adanya beberapa faktor seperti kebiasaan masyarakat Korea dari makanan dan minuman, keadaan yang belum memungkinkan melaksanakan ajaran agama Islam, kurangnya tenaga dai, dan hambatan penyebaran Islam melalui komunikasi. Begitu juga faktor penghambat perkembangan Islam di Korea, antara lain; orang Korea masih menganggap Islam sebagai agama baru, Islam sebagai agama teroris, terutama isu propaganda peristiwa 11 September di New York, dan Islam sebagai agama budaya

Sedangkan dinamika Islam dalam aspek peluang dapat dilihat dari dinamika yang terjadi di komunitas muslim Korea, seperti Perubahan PIK menjadi organisasi KMF di mana kegiatan PIK tidak begitu berkembang karena biaya kurang. Setelah resmi menjadi organisasi Islam kegiatan mulai berkembang dan dana dari pemerintah sudah mulai diberikan. Begitu juga terbentuknya Koran Islam Herald peluang strategis untuk penyebaran Islam, adanya Lembaga Bahasa Arab untuk mengajar masyarakat Korea yang membutuhkan pelajaran bahasa Arab, dalam rangka dakwah Islam, KMF mulai menerbitkan sastra Islam sebagai alat kegiatan dakwah dan merupakan rangkaian proses menjadi seorang muslim. Organisasi Kesejahteraan Muslim Korea berdiri dengan tujuan untuk memelihara kesejahteraan muslim Korea dan untuk memperluas kegiatan dakwah Islam Federasi Muslim Korea. Peluang yang lain yang dapat disebut sebagai dinamika Islam di Korea, seperti terbentuknya beberapa lembaga pemerintahan yang lebih memihak kepada komunitas minoritas. Misalnya terbentuknya, lembaga perlindungan hak asasi manusia (HAM) muslim Korea. Terbentuknya lembaga percetakan guna mencetak buku-buku keislaman dan kajian Islam secara menyeluruh. Adanya lembaga penerjemahan Al-Quran ke dalam bahasa Korea, terbentuknya Korea Institute of Islamic Culture dan pendirian Islamic Center di Jeonnam.

.

Penulis: Almas Hammam Firdaus

Editor: Fastabiqul Hakim