Mengulik Serat Tripama: Sebuah Doktrin Bela Negara ala Mangkunegara IV

Serat tripama Mangkunegara IV

Sebuah karya sastra biasanya menceritakan mengenai tokoh-tokoh besar dan tokoh-tokoh yang dianggap agung oleh masyarakat yang bersangkutan. Karya sastra merupakan salah satu hasil dari kebudayaan manusia  yang sangat penting dan keberadaannya telah mewarnai kehidupan masyarakat di berbagai peradaban. Setiap kebudayaan di muka bumi hampir bisa dipastikan memiliki karya sastranya masing-masing.  Bentuknya pun bermacam-macam seperti prosa, puisi, maupun kisah-kisah yang berhubungan dengan leluhur maupun makhluk gaib.

Namun, bagaimana bila sebuah karya sastra justru mengangkat tokoh utama yang berasal dari tokoh yang dikenal masyarakat sebagai tokoh antagonis. Bagaimana bila si penjahat dikisahkan kembali sebagai pahlawan yang membela tanah airnya. Bukan tidak mungkin bahwa karya sastra semacam itu akan menjadi sangat kontroversial.

Namun, karya sastra yang seperti  itu bukanlah hal yang mustahil. Perkenalkanlah dengan salah satu karya besar K.G.P.A.A. Mangkunegara IV yang bernama Serat Tripama. Mangkunegara IV merupakan salah satu penguasa yang bisa dibilang “nyentrik” pada masanya. Pemikirannya yang cemerlang sangat jauh dari sekedar feodal jawa biasa. Ia tidak hanya seorang raja jawa, namun juga seorang prajurit, business man, dan sekaligus juga seorang pujangga.  Banyak karya satra yang ia ciptakan seperti Serat Tripama, Serat Wirawiyata, Serat Wedhatama dan Serat Wirawiyata. Kebanyakan karyanya tersebut bertemakan keprajuritan. Hal itu tidak lepas dari latar belakang beliau yang banyak berkarier di dunia kemiliteran.

Serat Tripama sebenarnya merupakan serat yang cukup singkat dengan hanya terdiri tas 7 bait tembang Dhandhanggula.Kata Tripama yang berasal dari kata Tri yang artinya “tiga”dan pama atau umpama yang artinya “perumpamaan”. Serat ini menceritakan mengenai keteladanan dari tiga tokoh pewayangan yaitu Kumbakarna, Suwanda dan Adipati Karna. Uniknya,  tokoh-tokoh tersebut dalam pewayangan tradisional biasanya ditampilkan memiliki watak yang kurang baik. Namun, secara bijak Mangkunegara IV berusaha mencari sisi lain dari ketiga tokoh teresbut untuk disajikan sebagai sebuah tuntunan, yang utamanya ditujukkan bagi prajurit Mangkunegaran dan umumnya kepada setiap pembacanya. Bagaimanapun, setiap tokoh bahkan tokoh yang jahat sekalipun memiliki sesuatu untuk diteladani.

Baca Juga  Simbol Bulan Sabit dan Kaitannya dengan Peradaban Islam

Pada bait pertama dan kedua serat ini meceritakan mengenai keteladanan tokoh bernama Patih Suwanda. Tokoh ini berasal dari Kisah Pewayangan Ramayana. Ia merupakan seorang Patih yang mengabdi pada Raja Arjuna Sasrabahu di negeri Maespati. Ia merupakan seorang yang sangat setia kepada rajanya. Pada Serat Tripama ia diceritakan memiliki tiga keutamaan yakni guna, kaya dan purun. Sifat guna artinya pandai atau trampil. Karena sikap guna ini maka segala tugas yang diberikan kepadanya pasti diselesaikan dengan sukses. Sikap ini dicontohkan dengan kemenangannya  ketika ia ditgaskan oleh Sang Raja untuk membantu perang di Negeri Magada. Yang kedua yaitu sifat Kaya yang artinya merasa cukup.  Sewaktu ia kembali dari keberhasilannya dalam peperangan, ia membawakan harta hasil rampasan perang dan delapan ratus orang puteri untuk dipersembahkan semua kepada rajanya. Disini dapat menjadi contoh kepada kita untuk bisa mengendalikan diri dan tidak mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Sifat yang ketiga yaitu sifat Purun yang diartikan sebagai sifat pemberani. Keberanian tersebut ia tunjukan ketika ia tidak ragu untuk ditugaskan dalam peperangan melawan negeri Alengka yang dipimpin oleh Dasamuka atau Rahwana. Ia gugur sebagai pahlawan yang membela negaranya  dalam perang tanding melawan Dasamuka.

Selanjutnya pada bait ketiga dan keempat menceritakan tentang tokoh Kumbakarna. Ia merupakan adik dari Rahwana sang Raja Alengka. Meskipun Ia diceritakan berwujud seorang raksasa, namun ia memiliki sifat-sifat keutamaan yang patut diteladani. Pada kisah Ramayana dikisahkan bahwa Rahwana meculik Dewi Sinta yang akhirnya mengundang peperangan dengan Sri Rama dari kerajaan Ayodhya. Melihat hal terebut, Kumbakarna berusaha menasehati sang kakak agar terhindar dari bencana yang akan melanda negerinya. Saran Kumabakarna tersebut diacuhkan oleh Rahwana sehingga akhirnya meletuslah peperangan melawan Kerajaan Ayodhya dan pasukan Wanara. Demi membela negerinya, Kumbakarna pun ikut maju dalam medan pertempuran. Meskipun ia sadar bahwa rajanya telah melakukan kesalahan, namun sebagai seorang ksatria adalah kewajiban untuk membela negaranya. Sikapnya tersebut mungkin dapat kita identikkan dengan slogan yang populer bagi bangsa Inggris, “Wrong or right is my Country”. Ia akhirnya gugur sebagai pahlawan yang berjuang mempertahankan tanah airnya.

Baca Juga  Nama-nama Walisongo dan Perannya dalam Penyebaran Agama Islam

Tokoh terakhir yang dikisahkan yaitu Adipati Karna atau juga disebut sebagai Suryaputra. Ia merupakan salah satu tokoh fenomenal dalam Kisah Mahabaratha. Ia sebenarnya merupakan saudara kandung dari para Pandhawa. Akan tetapi, perjalanan takdir membawanya terpisah dari saudara-saudara kandungnya. Singkat cerita ia kemudian dijadikan sahabat baik oleh Duryudhana dan diangkat sebagai panglima perang di pihak Kurawa. Ia bersumpah untuk mengabdikan hidupnya demi membalas budi kebaikan Duryudhana. Pada Perang Bharatayudha, ia dihadapkan pada situasi dilematis untuk membela negara dan sahabatnya dan melawan saudara-saudara kandungnya sendiri. Pada perangan tersebut,  Adipati Karna membuktikan loyalitasnya dengan gugur sebagai panglima perang yang membela negaranya.

Pada paragraf terakhir, Mangkunegara IV menekankan agar pelajaran dari ketiga tokoh tersebut agar dijadikan teladan bagi orang Jawa, terutama para prajurit Mangkunegaran agar mereka dapat mencapai keutamaan dan kemuliaan. Bila kita cermati, kandungan dalam Serat Tripama menjadi semacam pedoman konsep bela negara versi Mangkunegara IV. Ajaran loyalitas dan rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara yang tertuang dalam Serat Tripama tentunya sangat relevan untuk diteladani oleh para generasi muda.  Terlebih bagi para prajurit, sikap tersebut merupakan sebuah harga mati yang harus dimiliki.

Mangkunagara IV juga menyadari bahwa ketiga tokoh tersebut memiliki kelemahan masing-masing. Bahkan tokoh Kumbakarna dan Adipati Karna pada kisah pewayangan tradisional cenderung diidentikkan sebagai tokoh antagonis. Kumbakarna merupakan raksasa yang digambarkan memiliki watak yang pemarah dan rakus. Adipati Karnamemiliki sikap yang kurang baik yakni berani menentang ibunya dan tega melawan saudara-saudara kandungnya sendiri di medan peperangan. Sedangkan Suwanda meskipun dikenal karena kesetiaannya, nyatanya ia juga pernah berani menantang rajanya ketika jatuh cinta kepada salah satu putri yang awalnya ia boyong demi rajanya. Meskipun demikian, Mangkunegara IV menyadari bahwa sifat baik dan buruk itu merupakan sesuatu yang melekat pada diri setiap orang yang tidak dapat dipisahkan dari eksistensi manusia dalam kehidupannya.

Baca Juga  Gusti Nurul: De Bloem Van Mangkunegaran

Melalui Serat Tripama, Mangkunegara IV berusaha menyampaikan gagasannya mengenai sosok “pejuang ideal” yang memiliki kesetiaan penuh kepada negaranya. Mangkunegara IV sekaligus juga menyampaikan bahwa sosok “pejuang ideal” terebut bisa berasal dari manapun tidak peduli latar belakang yang ia miliki. Namun, untuk menjadi sosok “pejuang ideal” tersebut seseorang harus memiliki sikap rela berkorban dan mampu mendahulukan kepentingan bangsa dan negaranya melebihi kepentingan pribadi dan golongannya.

REFERENSI:

Niken Adaruyung, Niken. 2019.” Pendidikan Karakter dalam Serat Tripama ”. <http://jatengpos.co.id/pendidikan-karakter-dalam-serat-tripama/>

Supardjo. 2019. “Ajaran Luhur Dalam Sastra Klasik “Serat Tripama” Karya K.G.P.A.A. Mangkunegara IV”. <https://institute-javanologi.lppm.uns.ac.id/2019/12/31/ajaran-luhur-dalam-sastra-klasik-serat-tripama-karya-k-g-p-a-a-mangkunagara-iv/>