Menilik Seni Musik pada Masa Dinasti Abbasiyah

seni musik pada masa dinasti abbasiyah

Bani Abbasiyah telah menjadi dinasti kekhalifahan sepanjang sejarah (750-1258 M), dinasti ini berpusat di kota Baghdad, sebelum menaruh kekuasaan di kota Baghdad, Dinasti Abbasiyah memiliki ibukota Damaskus, hingga akhirnya pada tahun 762 M memutuskan memindahkan ibukota ke Baghdad.

Pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah semua bidang mengalami kemajuan, salah satunya adalah seni musik. Dalam tulisan Shubi Mahmashony, larangan terhadap penggunaan alat musik dari para ahli fikih tidak memberikan pengaruh pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah di Baghdad. Para ahli sejarah membuktikan bahwa Khalifah al-Mahdi selalu mengundang penyanyi asal Mekah, Siyath (739-785 M). Khalifah al-Mahdi menganggap musik lebih menghangatkan suasana dari mandi air panas.

Kemudian muncul musisi yang terkenal bernama Ibrahim al-Maushili (742-804 M), ia merupakan murid dari Siyath. Dikisahkan bahwa Ibrahim al-Maushili merupakan orang yang gigih dalam mempelajari musik klasik, ia pernah diculik oleh penjahat, ketika diculik bukanya memberontak tetapi malah menyampatkan mempelajari musik yang biasa dimainkan oleh para penculiknya tersebut.

Ibrahim al-Maushili merupakan kerabat dekat Khalifah al-Rasyid, Khalifah al-Rasyid kerap menghadiahi Ibrahim al-Maushili seratus lima puluh ribu dirham dan tunjangan setiap bulan sebeesar seratus ribu dirham. Khalifah al-Rasyid merupakan khalifah yang baik hati terhadap musisi, ia sering memberikan upah yang begitu banyak terhadap musisi, bahkan ia sering juga memberikan honor sebesar seratus ribu dirham untuk satu kali nyanyian.

Pada masa itu istana Khalifah al-Rasyid menjadi wadah para musisi untuk mengembangjan kreativitas seni musik klasik. Dalam catatan Afghani, ‘Iqd, Nihayah, Fihrst, dan juga Kisah Seribu Satu Malam, Khalifah al-Rasyid mendukung diadakanya festival musik yang rutin diadakan setiap tahun dan dihadiri lebih dari dua ribu musisi. Para musisi dikawal oleh budak laki-laki maupun perempuan. Pada saat itu semua orang menari hingga terbit matahari.

Baca Juga  Sejarah Restorasi Meiji, Tonggak Awal Modernisasi Jepang

Musisi yang menjadi kesayangan Khalifah al-Rasyid adalah Mukhariq (wafat tahun 845 M). Pada masa mudanya Mukhariq dibeli oleh seorang penyanyi perempuan, penyanyi perempuan itu tertarik kepadanya karena ia mengetahui Mukhariq menangis dengan suara yang begitu kuat dan bagus. Mukhariq akhirnya dibeli oleh Khalifah al-Rasyid dengan harga seratus ribu dinar dan ia memerdekakan Mukhariq, tidak hanya itu, Mukhariq juga diberi kehormatan dengan memberinya satu tempat duduk di sebelah Khilafah. Dikisahkan Mukhariq sering keluar pada malam hari untuk menyusuri Sungai Tigris dan bernyanyi dengan obor yang menyala di setiap sudut jalanan kota Baghdad yang dibawa oleh penduduk sekitar untuk mendengarkan seorang penyanyi yang masyhur pada masa itu.

Tidak hanya Khalifah al-Rasyid, Khalifah al-Mutawakkil dan al-Makmun juga menunjukkan ketertarikannya pada seni musik. Ia memiliki seorang kerabat bernama Ishaq ibn Ibrahim al-Maushili (767-850 M). Ishaq ibn Ibrahim al-Maushili dikenal sebagai ahli musik Arab klasik yang sangat mahir. Dia juga merupakan musisi yang fenomenal, dikisahkan suatu ketika ia menyatakan bahwa yang mengarahkan alunan melodi-molodi alat musiknya bukan dia sendiri, melainkan dengan bantuan jin.

Tidak hanya kalangan khilafah, tetapi ilmuan islam Abbasiyah mahsyur, al-Farabi juga sangat peduli dengan seni musik. Al-Farabi memiliki nama lengkap Abu Nasr Muhammad ibn Muhammad ibn Tarkhan ibn Uzlag al-Farabi. Al-Farabi merupakan seorang ilmuwan yang sangat cerdas. Dia mempelajari filsafat, logika, matematika, etika, ilmu politik, dan musik.

Salah satu ciri musik dan nyanyian Bangsa Arab yang merupakan warisan Dinasti Abbasiyah adalah ringkas dalam melodi akan tetapi kuat dalam ritme. Musik Arab juga terkenal sulit ditafsirkan ihwal makna yang terkandung dalam musik tersebut.

Baca Juga  Krisis Fashoda: Puncak Sengketa antara Inggris dan Prancis di Afrika (1898)

Dari sini bisa kita pahami bahwa kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad telah melahirkan banyak musisi serta ilmuwan yang peduli terhadap musik. Mungkin apa yang saya sampaikan di atas masih secuil dari sejarah perkembangan seni musik islam–khsusnya pada masa Dinasti Abbasiyah. Mungkin ini hanya menjadi refleksi bersama bahwasanya islam tidak pernah membenci seni musik, sejarah telah membuktikanya, bahwasanya seni musik di zaman Abbasiyah malah dianggap sebagai hal yang luar biasa dan mendapat kehormatan. Bukankah sebuah paradoks jika kita menganggap bahwa seni musik itu haram?.

.

Penulis: Adien Tsaqif

Editor: Adien Tsaqif