Menyuarakan Kembali Selokan Mataram

Yogyakarta merupakan wilayah yang secara geografis sungguh-sungguh istimewa. Meminjam istilah dari seorang peneliti dari Amerika Serikat, Clifford Geertz, Yogyakarta merupakan perpaduan sempurna dari empat unsur kehidupan: tanah, api, air, dan angin. Tanah di Yogyakarta pada umumnya adalah vulkanik muda, yaitu tanah hasil pelapukan  bahan padat dan bahan cair yang dikeluarkan gunung berapi. Tanah tersebut sangat subur, sehingga sungguh pantas apabila digambarkan dalam dunia pedalangan sebagai negeri yang gemah ripah loh jinawi, tuwuh kang sarwa tinandur.

Api adalah kekuatan dari gunung berapi yang di Yogyakarta bernama gunung Merapi. Gunung ini aktivitasnya tergolong sangat sering, tetapi tidak pernah dalam kategori sangat membahayakan. Berkat Merapi, cadangan humus tersedia melimpah di daerah hulu dan dikirimkan sedikit demi sedikit ke daerah hilir, sehingga secara alami kesuburan tanahnya selalu terjaga.

Air adalah kekuatan kehidupan yang tergambarkan dalam sungai. Aliran sungai di Yogyakarta ini pendek dan deras, sehingga dapat dengan cepat menghantarkan humus dari daerah hulu ke hilir. Karakteristik sungai itu juga menjadikan secara alamiah, wilayah Yogyakarta tidak akan terlanda banjir, karena air dapat dengan cepat masuk ke Samudera Indonesia.

Angin adalah kekuatan kehidupan yang tergambarkan dalam musim. Secara silih berganti, setiap enam bulan, musim di Yogyakarta berganti dari penghujan ke kemarau dan sebaliknya. Angin musim ini menjadi berkah, karena keseimbangan alam menjadi terjaga dengan sangat baik. Musim kemarau tidak sungguh-sungguh kering, dan musim penghujan tidak mengakibatkan banjir.

Perpaduan keempat unsur kehidupan itu menjadikan Yogyakarta bagaikan swargo ndonya dalam arti sesungguhnya. Oleh karena itu, menjadi layak dan pantas apabila Yogya menjadi salah satu pusat peradaban dari zaman Mataram Kuno (Syailendra) sampai sekarang. Karakteristik peradaban yang berkembang adalah memayu hayuning bawana dalam pengertian menjaga harmoni alam semesta, baik alam kebendaan, alam roh maupun alam kehidupan, karena hanya dengan jalan itu, kehidupan manusia dapat memperoleh kedamaian sejati.

Baca Juga  Garis Imajiner Yogyakarta: Pantai Parangkusumo

Dalam lingkup peradaban seperti itulah di Yogyakarta lahir silih berganti tokoh-tokoh pemikir dan pejuang yang kehebatannya tidak diragukan lagi. Panembahan Senapati dan Sultan Agung dengan renaissance kebudayaan Jawanya yang pengaruhnya dapat kita rasakan sampai sekarang. Ki Hajar Dewantara dengan konsep pendidikan pamongnya yang sampai sekarang belum ada yang mampu mengalahkan. Dan yang hari ini kita suarakan kembali pemikirannya, yaitu Sultan Hamengku Buwono IX. Beliau sosok yang sungguh lengkap kehebatannya. Pemikiran beliau melintang waktu jauh melampaui zamannya.

Dari berbagai jejak historis yang beliau tinggalkan untuk masyarakat, salah satu yang sangat fenomenal adalah Selokan Mataram. Bangunan sepanjang lebih dari 30 km ini, dalam ingatan masyarakat, mampu memadukan tiga kepentingan, yaitu praktis, idealis dan mistis. Dari segi praktis, pembangunan Selokan Mataram menjadi solusi terhadap berbagai tekanan pemerintah pendudukan Jepang kepada Sultan HB IX untuk menyediakan keperluan perang pasifik, seperti bahan pangan dan tenaga kerja romusha. Dalam Tahta untuk Rakyat dikisahkan bahwa:

Apabila daerah-daerah di Indonesia mengalami penderitaan yang luar biasa beratnya karena tuntutan Jepang …, Yogyakarta boleh dikatakan sedikit lebih mujur. Mengelakkan permintaari Jepang sama sekali tak akan mungkin, tetapi Sultan Hamengku Buwono IX ternyata cukup pandai untuk “mengelabui” tentara pendudukan Jepang…

Dengan menyusun angka statistik yang palsu ia berhasil menekan angka jumlah padi, ternak atau bahan makanan lain yang diminta oleh penjajah. Ia kemudian malah berhasil meyakinkan kepala pemerintahan · pendudukan Jepang di Yogya bahwa daerahnya sungguh minus. Artinya daerah itu tidak mampu menghasilkan bahan pangan dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan penduduk…

Dengan alasan agar wilayahnya dapat membantu menyumbangkan hasil bumi untuk bala tentara Jepang seperti yang .diinginkan, Sultan Hamengku Buwono IX berdiplomasi agar diberi bantuan dana untuk membangun sarana irigasi. Tak disangka-sangka ia berhasil.

Selokan Mataram atau disebut juga sebagai kanal Yoshiro, dari perpektif ini, merupakan bentuk kepokilan Sultan dalam menghadapi tekanan Jepang, sehingga masyarakat Yogyakarta tidak “buntung” dalam arti menderita seperti daerah lain, tetapi malah “untung” karena memperoleh bantuan dana cukup besar dan areal romusha yang dekat dari rumah.

Dari segi idealisme, Selokan Mataram mampu menjaga ketersediaan air, baik bagi masyarakat kota maupun pertanian di desa. Air adalah salah satu kebutuhan utama manusia, sehingga ketersediaannya secara mencukupi merupakan prasyarat penting bagi terciptanya kesejahteraan lahir batin.Dari sudut pandang ini, gagasan Sultan HB IX sungguh briliant dan visioner. Briliant karena mampu menggabungkan antara kepentingan ekonomi (meningkatkan taraf hidup masyarakat) dengan kepentingan lingkungan hidup (menyuburkan daerah-daerah tandus. Oleh karena itu, berbagai pihak menyematkan gelar sebagai raja environmentalis pada Sri Sultan HB IX. Gelar itu tidak berlebihan, karena memang HB IX memiliki perhatian besar terhadap lingkungan hidup. Dalam catatan PJ Suwarno, pada masa pendudukan Jepang, HB IX melakukan reboisasi di Kulonprogo seluas 6.346 ha. Hal yang sama juga dilakukan di Gunungkidul.

Dari segi mistis, di masyarakat Yogyakarta berkembang cerita rakyat yang menyatakan bahwa Selokan Mataram merupakan perwujudan dari pemikiran Sunan Kalijaga yang menyatakan bahwa  bumi Mataram akan subur makmur apabila mampu menyatukan dua sungai besar yang mengapitnya, yaitu Sungai Progo dan Sungai Opak. Meski dari sudut pandang rasional sulit diterima, karena Sunan Kalijaga wafat tahun 1513, sedang Mataram Kotagede berdiri tahun 1582, tetapi dalam religi Jawa hal itu sangat mungkin terjadi, melalui media yang dikenal sebagai wisik. Sultan HB IX sendiri mengakui pentingnya wisik bagi perjalanan hidupnya. “Wisik itu adalah sumber dasar bagi saya! Saya yakin dan percaya penuh bahwa petunjuk dari nenek moyang saya itu benar dan harus saya ikuti”.

Sumber

Antakusumah, penyunting, Tahta Untuk Rakyat: Celah-Celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX. Jakarta: Gramedia, 1982.

Geertz, Clifford, Involusi Pertanian. Jakarta: Bhratara Karya Aksara, 1983.

Suwarno, P.J., Hamengku Buwono IX dan Sistem Birokrasi Pemerintahan di Yogyakarta 1924 – 1974. Yogyakarta: Kanisius, 1994