Neraka Itu Bernama Dien Bien Phu

Vietnam adalah babak awal terjadinya perang dingin. Dimulai dari Konferensi Kairo tahun 1943, Sekutu mulai memikirkan bagaimana kelanjutan nasib-nasib negara sekutu beserta daerah taklukannya. Seperti kasus yang sudah-sudah, Asia Tenggara mengalami dekoloniasi. Indocina menjadi perhatian Perancis setelah Jerman Nazi bertekuk lutut Mei 1945. Di masa itu, Perancis memulai kehidupan barunya sebagai pemenang namun, tak punya daya untuk memulai perang kembali. Bahkan, parlemen politiknya selalu di tentang oleh rakyat mereka sendiri. Alhasil, wajib militer gagal waktu itu juga.

Sikap itu tidak menggetarkan Jenderal Charles de Gaulle pun sejak Konferensi dengan Sekutu di Kasablanka, 1943. Ia bercita-cita merebut kembali Indocina yang dirampas oleh Dai Nippon. Sesudah Sekutu benar-benar menang, Amerika Serikat salah satu pihak Sekutu yang digdaya, sempat meragukan Perancis untuk kembali di Indocina. Tidak hanya itu, perseturuan antar pihak nasionalis dan sosialis di parlemen Perancis membuat kekacauan yang berdampak pada tidak ada dukungan untuk perang di Indocina. Akan tetapi, sikap ejek antar kubu yang di maki dengan sebutan Poros Moskow itulah membuat Amerika Serikat makin yakin memberikan bantuan kepada Perancis supaya tidak terpengaruh Soviet ataupun masuk dalam sekutunya (Nino Oktorino, 2014:44).

Perancis pun akhirnya masuk NATO tahun 1949 dan sebelumnya telah mendapat dukungan penuh dari Amerika Serikat dan Sekutunya alam bentuk simpati hingga bahan persenjataannya yang mutakhir. Hal tersebut langsung di respon seteru dingin Amerika Serikat dan sekutunya pada waktu itu yaitu Republik Rakyat Tiongkok dengan Mao Tse Tung. Tahun 1949, Setelah menyingkirkan Kuomintang (nasionalis) besutan Chiang Kai-Sek. Di Tahun 1946 Vietnam memulai upaya untuk mempertahankan kemerdekaan. Kendati hal tersebut sudah dipersiapkan namun, sedikit ada kekhawatiran dari pihak Vietnam, Ho Chi Minh dan Jendral-nya Vo Nguyen Giap. Di masa itu, akhirnya persahabatan rakyat Vietnam dengan Amerika Serikat semasa musuh Jepang pun sirna. Masa-masa indah dengan Amerika Serikat berupa pembentukan badan intelijen AS yang bernama OSS hingga terjadi beberapa ksesepakatan hingga ribuan pucuk senjata dikirimkan Angakatan Bersenjata Amerika Serikat selama Perang Dunia 2.

Baca Juga  Riwayat dan Kemelut Dakwah Islam di Korea

Vo Nguyen Giap dan Ho Chi Minh menghela nafas. Mempersiapkan skeneario terburuk bilamana mereka harus bertempur sendirian melawan raksasa itu. Walaupun demikian, optimisme pejuang Vietminh begitu meledak. Berkaca dari pengalaman sebelumnya, Perancis pun keok dari Indocina begitu juga dengan Negara Induknya yang tak berdaya dalam serangan cepat Jerman Nazi. Anggapan superioritas Perancis tidak kembali tercermin di benak pejuang Vietminh.

Dentuman meriam perang dimulai, meskipun berjalan lambat, dengan pasti Vietminh berbalik unggul. Setelah sekiranya terdesak di Tonkin, Jenderal Henri Navarre mengambil tampuk kekuasaan dari Korps Ekspedisi Perancis di bawah Jnderal Salan per Mei 1953. Di lain tempat Perang Saudara Cina dimenangkan oleh Komunis, Mao Tse Tung sepakat mengirimkan senjata besar-besaran guna membantu sekutu merah mereka Vietminh. Selanjutnya, Navarre merancang apa yang disebut Rencana Navarre dan sebelumnya juga dicetuskan oleh Washington dan Paris. Navarre akhirnya memilih Dien Bien Phu, selain strategis juga mempertimbangkan pasukan komunis Pathet Lao yang seringkali menghambat gerakan Tentara Perancis di Indocina. Ia juga berpendapat mampu memotong laju pergerakan Vietminh menuju Laos dan mencoba menyerang Vietminh lewat perbukitan dekat Dien Bien Phu.

Basis Dien Bien Phu itu mulai dibangun kembali Perancis lewat divisi Para-nya setelah merebutnya dari Vietminh. Dien Bien Phu di pililh oleh perwira dari Unit Kavaleri Perancis yang terkenal radikal yaitu Castries. Dia memetakan Dien Bien Phu lewat tiga basis utamanya Bukit Gabrielle, Beatrice, dan Isabelle dan pos-pos kecil lainnya. Uniknya, semua dianamai dengan nama wanita yang pernah ia taklukannya (sebagai pacar).

Bagi Perancis, kunci kemenangan perang mereka ada pada landasan pacu Dien Bien Phu yang mana kunci masuk/keluarnya kebutuhan mereka serta pengiriman tentara terluka nantinya. Dan bagi Vietnam, ada pada malam hari saat kuli-kuli sukarelawan mereka mengirim logistik dan peralatan/senjata yang tak dapat dipergoki pesawat-pesawat intai serang Perancis. Kedua belah pihak punya kesempatan menang. Kendati demikian, taktik Perancis dengan menyerang jalur perbelakangan Vietminh gagal membuat Vietminh selangkah lebih baik daripada Perancis.  

Vo Nguyen Giap percaya kemenangan sedikit lagi. Setelah kemenangan meyakikan di Cao Bang 1951, tidak akan yang akan mengehntikan Vietminh lagi, sekalipun itu Amerika Serikat. Tanggal 13 Maret, gerakan Vietminh sempat dipergoki oleh Perancis dekat Beatrice ialah dua resimen dari Divisi 312 Tentara Pembebasan Rakyat. Namun, hal tersebut awal keterpurukan dari Perancis. Beatrice yang jauh dan seakan terisolasi dari yang lain dapat direbut. Ganasnya pertenmpuran itu, membuat Kolonel Gaucher tewas oleh muntahan meriam 105 mm bantuan Cina. Meskipun 14 Maret Hanoi mengirim Divisi ke 5 Para Vietnam, kembali dengan kekuataan yang tak terelakan Vietminh kembali menguasai.

Baca Juga  Kegagalan Kubilai Khan dalam Menaklukkan Jawa Tahun 1293

Gabrielle juga tinggal menghitung hari. Meriam-meriam 105 mm serta bantuan roket peluncur mirip Katyusha juga mulai digunakan untuk menguasai pertahanan sengit De Castries, Langlais dan Charles Piroth. Charles Piroth yang merupakan komandan artileri di Dien Bien Phu, bunuh diri setelah terbukti tentang omong-kosongnya mengenai artileri Vietminh. Perawat menggambarkan pertempuran itu hampir sama dengan Monte Casino 1943. Vietminh mulai mengganggu alat vital Perancis yaitu lapangan udara.

Pada tanggal 31 Maret 1954, De Catries mengabarkan pada Hanoi bahwa dia masih menguasai keadaan. Hal tersebut terjadi saat dia mengirim sebuah Batalyon Maroko untuk menguasai kembali Bukit Gundul setelah enam kali berpindah tangan. Regu penyembur api sontak mengejutkan Vietminh di parit pertahanan. Namun, Vietminh masih bertahan di Dominique dan mengejutkan Perancis saat menguasai landaan pacu.

Dengan penguasaannya Vietminh atas landasan pacu Dien Bin Phu, praktis mesin perang Perancis mulai kendor. C-47 dan C-119 terpaksa menjatuhkan suplai logistik dan amunisi bahkan lebih tingg dari batas normal akibat flak Vietminh. Dengan begitu, banyak yang jatuh juga di Vietminh dan dikirim kembali k pos-pos Perancis di Dominique sebagai kehancuran. Memang riskan, bahkan Navarre pun merasa tidak ada lagi harapan Tonkin dapat dimenangkan.  

Tidak lama lagi Dien Bien Phu dan Utara Vietnam akan menjadi bagian dari Vietminh. Pukulan terakhir itu tepat antara 6-7 Mei.  Meskipun Perancis mengerahkan semua peralatan perang udara mereka seperti 47 pesawat pembom B-26, 18 Corsair, 26 Bearcat, 16 Heliver, dan 5 Privateer, serangan Vietminh tak dapat di bendung lagi. Menjelang malam 6 Mei, dengan awalan tembakan meriam Vietminh bersiap untuk serangan terakhirnya. Pertempuran berlangsung hingga pukul 05.30-06.00 namun, Eliane 4 bertahan hingga pukul 22.00.

Baca Juga  Perang Korea Jilid Pertama 1950-1953: Hello Commie!

Suasana di Eliane 2 pun mencekam. Dua kompi dari satuan mencoba untuk melakukan gerakan keluar menuju Laos, satunya lagi juga pergi entah kemana. Namun, upaya itu juga akan menimbulkan korban yang besar. Sementara itu, Langlais mencoba membentuk sebuah pasukan guna serangan balsan ke Eliane 2, tetapi dipatahkan oleh Vietminh saat memperbarui pasukannya pagi hari tanggal 7 Mei.

Akhirnya Vietminh berada beberapa ratus meter saja dari pos komando De Castries. Hanya tersedia beberapa prajurit yang mempertahankan suatu garis lemah di tepi sungai timur. Kolonel Langlais berinisiatif untuk menyerang namun, perwira mereka berkata tidak ada siapapun yang siap untuk bertempur. Pada pukul 11.00 7 Mei, De Castries mengirim pesan ke Hanoi bahwa Dien Bien Phu sudah tidak dapat dipertahankan. Jendral Cogny membalas dengan memerintahkan untuk melakukan gencata senjata pukul 17.30 serta merusak segala fasilitas (senjata, transmisi, dsb.) supaya tidak dapat dimanfaatkan oleh musuh.

Pukul 14.00 pertempuran mereda.  De Castries mengirimkan pesan heroik terakhir, ”Kami akan bertempur hingga akhir… Hidup Perancis!’’. Pukul 17.40, Vietminh mengibarkan benderanya di atas pos komando De Castries. Kendati demikian, Isabelle sempat menerima meriam untuk menembak meriam ke posisi De Castries. Hal tersebut tidak pernah dilakukan artileri Isabelle. Vietminh pun mendobrak pintu dengan mata penuh amarah dan dendam berpasang sangkur di senapan mereka. Sebelum di bawa ke kamp tawanan, De Castries sempat berbincang kepada dedengkot Vietminh antara lain Kolonel Tran Do, Kolonel Hoang Cam dan komandan artileri Kolonel Le Trong Tan.

Untuk pertama kalinya, bangsa yang terjajah seperti Vietnam mampu mengalahkan secara militer kekuatan besar kolonialis kulit putih. Seperti setahun sebelumnya di Panmunjom, Korea, gencatan senjata diadakan di Jenewa, Swiss mendapat hasil yang mirip. Vietminh mendapat wilayah utara dan Vietnam versi Kaisar Bao Dai mendapat bagian selatan yang di pisah garis lintang 17º. Pham Van Dong yang mewakili Vietminh tampil gagal saat konferensi itu. Sebaliknya, Georges Bidault tampak suram.

Kekalahan memalukan Dien Bien Phu 7 Mei 1954 dan tentunya Perang Indocina 20 Juli 1954 memberi kerugian besar Perancis. Perdana Menteri Joseph Laniel mengundurkan diri tanggal 12 Juni. Navarre di pecat dari dinas aktif tahun 1956. Cogny akhirnya berdinas di Maroko namun tewas dalam kecelakaan pesawat terbang 1968. De Castries meninggalkan angkatan darat tahun 1954. Total 95.000 prajurit dan orang sipil Perancis tewas sementara itu, Vietminh kehilangan 300.000 patriot. Buruknya lagi, veteran perang Indocina di benci dan dimusuhi oleh rakyat Perancis sendiri sampai-sampai mereka dikucilkan dari masyarakat, di tindas, di paksa berscerai dengan istrinya, dsb.