Pasang Surut Kebudayaan Maritim Orang Jawa

Kebudayaan maritim jawa

Ungkapan “nenek moyangku seorang pelaut” yang populer bagi bangsa Indonesia memang bukanlah ungkapan kosong belaka. Suku-suku bangsa di Nusantara sejak dahulu memang dikenal sebagai bangsa pelaut yang andal mengarungi lautan luas. Kebudayaan maritim memang telah berkembang sejak lama pada masyarakat di Nusantara.  Para sejarawan telah mencatat bahwa jaringan perdagangan dan pelayaran di Nusantara paling tidak telah berkembang sejak abad ke 2 Masehi dengan keberadaan Kerajaan Koying yang menguasai pelayaran di tenggara laut Sumatera (Hamid, 2013: 44). Selain itu kapal-kapal Jung yang dibuat oleh masyarakat Nusantara  telah diakui oleh para penjelajah Eropa karena ukuran dan kekukuhannya. (Hamid, 2013: 40)

Kendati demikian tidak semua suku bangsa di Nusantara selalu diidentikkan dengan aktivitas kemaritiman. Salah satunya contohnya yaitu Suku Jawa. Masyarakat  Jawa sejak lama sering diidentikkan sebagai bangsa agraris yang aktivitas utamanya kebanyakan terdiri atas kegiatan pertanian dan pengolahan tanah. Unsur-unsur agraris ini dapat kita temukan dalam kebudayaan masyarakat Jawa seperti dalam mitos-mitos, filosofi, dan gaya hidup masyarakat Jawa.

Padahal bila kita mundur pada periode-periode sebelumnya, dapat kita temukan periode sejarah di mana aktivitas-aktivitas maritim dan kebudayaan masyarakat pesisir memegang posisi yang dominan di Jawa.  Sebut saja Kerajaan Majapahit yang berpusat di Jawa, pada masanya merupakan salah satu imperium terbesar yang pernah berdiri di Nusantara. Pada masa kejayaannya sekitar abad 14, Majapahit berkembang menjadi imperium besar yang pengaruhnya meliputi Sumatera, Jawa, Bali, sebagian Kalimantan, Sulawesi, hingga Maluku. Superioritas kekuatan maritim Jawa pada masa kerajaan Majapahit terbilang cukup kuat. Bahkan disebutkan bahwa armada Jawa Majapahit tidak akan segan-segan “mengunjungi” wilayah-wilayah bawahannya yang tidak membayar upeti (Vlekke, 2016: 67-68).

 Kekuatan maritim Majapahit ditunjang dengan penguasaan teknologi persenjataan mereka yang terbilang cukup maju di zamannya. Kapal-kapal perang Majapahit saat itu telah dilengkapi dengan persenjataan hebat di masanya, seperti meriam-meriam kecil atau yang sering disebut cetbang. Sayangnya perang saudara dan berbagai konflik lainnya akhirnya sedikit demi sedikit melemahkan Majapahit. Kekuatan bekas Imperium besar ini akhirnya merosot jauh dan sisa-sisa kekuatan Majapahit pun terpaksa mundur ke pedalaman Jawa.

Baca Juga  Menelisik Sejarah Perkembangan Islam di Cina

Kebudayaan maritim Jawa selanjutnya terus berkembang pada masa Kerajaan Demak. Kemunculan Demak tidak bisa dilepaskan dari peranan  pesisir utara Jawa sebagai jalur lalu-lintas perdagangan dan pelayaran Internasional yang menghubungkan jalur rempah-rempah dari Maluku dengan wilayah barat Nusantara. Pelabuhan-pelabuhan di pesisir utara Jawa menjadi tempat transit serta pangkalan-pangkalan para pelaut dari penjuru dunia yang terlibat dalam perdagangan rempah. Kota-kota pelabuhan di  Jawa menyediakan berbagai perbekalan terutama beras dan air bersih yang dibutuhkan para pelaut. Bandar-bandar perdagangan rempah juga banyak berdiri di pelabuhan Jawa sehingga para pedagang tidak perlu jauh-jauh berlayar ke Maluku. 

Kota-kota pelabuhan di pesisir utara Jawa juga menjadi melting point, di mana banyak kebudayaan saling bertemu sehingga memperkaya kebudayaan masyarakat di pesisir. Salah satu yang paling dominan pada abad 15 yaitu penyebaran kebudayaan Islam yang dibawa oleh para pedagang dan pelaut dari Arab, Persia maupun India. Menguatnya kegiatan ekonomi yang didominasi pedagang-pedagang Islam di pesisir utara Jawa ini pada akhirnya turut menjadikan berkembangnya banyak kota-kota Islam di pesisir utara Jawa seperti Demak, Tuban, Jepara, Gresik, Cirebon, dan Banten. (Daliman, 2012: 122)

Dari banyak pusat-pusat pengaruh Islam tersebut, Demak berhasil muncul sebagai kekuatan pesisir baru yang mengambil alih kekuasaan atas pulau Jawa dari sisa-sisa kekuasaan Majapahit yang semakin melemah di pedalaman Jawa.  Kekuatan maritim Jawa pada masa Kerajaan Demak masih menjadi kekuatan yang patut diperhitungkan di antara kekuatan-kekuatan maritim di Nusantara, meskipun memang tidak sesuperior Majapahit ketika masa jayanya. Masyarakat Jawa pada abad 16 digambarkan memiliki kebiasaan yang luar biasa sebagai masyarakat bahari yaitu sebagai pedagang dan pelaut yang pemberani, serta gemar merantau dan mendirikan koloni-koloni di berbagai tempat tanpa rasa takut. (Supriyono, 2013: 34)

Baca Juga  Gerbang Panas Manado

Salah satu bukti kekuatan armada Demak yaitu kehadiran mereka dalam membantu pangeran Samudera dari Kalimantan untuk mendirikan Kesultanan Banjarmasin. Kekuatan maritim orang Jawa pada masa itu juga diakui tidak hanya oleh sesama suku bangsa Nusantara tetapi juga oleh orang-orang Eropa. Demak bahkan dengan berani mengirimkan armadanya di bawah pimpinan Pati Unus untuk melabrak Malaka yang saat itu dikuasai oleh Portugis pada 1513. Tidak hanya sekali, tercatat armada Jawa terus melakukan penyerangan terhadap kedudukan Portugis di Malaka pada tahun 1535, 1551, dan 1574. (Kartodirjo, 1999: 41)

Sayangnya pada sekitar abad 17 kekuasaan Jawa mengalami konflik hebat yang berkutat pada perebutan hegemoni antara kekuatan pesisir dan pedalaman. Konflik antara pesisir dengan pedalaman Jawa ini akhirnya dimenangkan oleh pihak pedalaman dengan berpindahnya kekuasaan dari Demak ke Pajang. Perubahan ini pada akhirnya berdampak pada menurunnya kekuatan maritim Jawa. Keberadaan ibukota Pajang di pedalaman Jawa membuat perekonomian lebih difokuskan pada kegiatan-kegiatan agraris dibanding perdagangan dan pelayaran. Kebijakan ini terus dilestarikan oleh Kerajaan Mataram sebagai pengganti Kerajaan Pajang sebagai penguasa Jawa. Bahkan, Mataram dibawa Sultan Agung  dalam rangka untuk menjaga stabilitas politik Jawa memutuskan untuk meluluhlantakkan kota-kota pesisir karena khawatir mereka akan bangkit memberontak terhadap Mataram. Satu persatu kota pesisir yang memberontak berhasil ditundukkan Mataram, mulai dari Jepara (1599), Pati (1600), Pasuruan (1616), Tuban (1619), Surabaya (1625), dan Madura (1624) (Vlekke, 2016: 122). Kota-kota pesisir ini tidak hanya ditaklukkan oleh Mataram, namun potensi kekuatan mereka juga ikut dihabisi, seperti dengan perusakan kapal dan armada perang milik kota-kota pesisir. Pada satu sisi penaklukan beserta penghancuran kota-kota pesisir ini memang membuat ancaman pemberontakan terhadap Mataram mereda, namun di sisi lain hal ini menjadikan degradasi yang luar biasa bagi kekuatan maritim Jawa yang tidak akan pernah pulih pada masa-masa selanjutnya.

Baca Juga  Simbol Bulan Sabit dan Kaitannya dengan Peradaban Islam

Konflik yang terjadi pada kerajaan Mataram dan campur tangan VOC dalam berbagai konflik tersebut turut berdampak pada semakin mundurnya kebudayaan maritim masyarakat Jawa. Pada masa kekuasaan Amangkurat III di Mataram terjadi perebutan kekuasaan yang dikenal sebagai Perang Suksesi Jawa Pertama. Konflik tersebut disebabkan oleh Pangeran Puger (paman Amangkurat III) yang ingin merebut takhta Mataram. Dengan bantuan VOC, Pangeran Puger akhirnya berhasil berkuasa menjadi Raja Mataram dengan gelar Pakubuwono I. Meskipun demikian Mataram harus membayar biaya besar sebagai balas jasa terhadap VOC. Salah satu poin yang sangat berpengaruh dalam penurunan aktivitas maritim orang Jawa yaitu larangan bagi orang Jawa untuk berlayar lebih jauh dari Lampung, Lombok, dan Kalimantan. (Daradjadi, 2017: 107)

Puncak degradasi kekuatan Maritim Jawa yaitu dengan adanya perjanjian antara VOC dan Mataram pada 1743. Perjanjian tersebut merupakan konsesi yang diperoleh VOC atas bantuan mereka terhadap Mataram dalam menghadapi pemberontakan “Geger Pecinan”. Salah satu poin perjanjian tersebut yaitu dengan melepaskan kabupaten-kabupaten pesisir dari kekuasaan Mataram. Dengan demikian, Kerajaan Mataram menjadi terkurung di pedalaman Jawa tanpa memiliki kendali atas wilayah pesisir untuk berhubungan dengan dunia luar. Akhirnya kekuatan maritim orang Jawa yang dahulu pernah berjaya praktis berakhir sudah. (Daradjadi, 2017: 232)

Lebih parahnya kemunduran kebudayaan maritim masyarakat Jawa semakin dilanggengkan oleh kemunculan berbagai mitos mengenai laut. Misalnya seperti mitos mengenai keberadaan Kanjeng Ratu Kidul dan Nyi Roro Kidul sebagai penguasa gaib dari laut selatan. Mitos-mitos yang hadir tersebut dampaknya banyak membuat orang Jawa takut terhadap laut dan lebih memilih untuk mengembangkan kebudayaan agraris. Akhirnya, periode keemasan orang Jawa sebagai bangsa maritim yang kuat kini tinggal sejarah.

.

Penulis: Ardiyan Agung Nugroho

Editor: Fastabiqul Hakim