Pedang Terhunus Jepang di Timor

Pasukan Jepang di Timor
Pasukan Payung Jepang di Kupang, 1942 (Sumber foto: G. Rottman dan A. Takizawa, 2005)

Pangkalan Amfibi Manado, 12 Januari 1942 pagi hari merupakan saksi bisu keampuhan pasukan payung Angkatan Laut Jepang. Pasukan Jepang kembali memfokuskan penyerangan guna menjepit ABDA Com. ( American British Dutch Australian Command) atau koloni Hindia Belanda yang mempunyai salah satu cadangan minyak dan mineral terbesar di dunia yang terpusat di Lembang, Bandung, Jawa bagian barat. Tentara Sekutu sedianya telah mengantisipasi invasi kulit kuning di pulau hitam itu. Timor terbagi dalam dua daerah koloni, barat oleh Belanda dan timur di Portugis. Angkatan Perang Kerajaan Hindia Belanda (KNIL), sampai Tentara Ekspedisi Australia diberangkatkan untuk memperkuat garnisun Timor. Meskipun bersikap netral selama perang, Portugis tetap memobilisasi serdadunya ke Timor.

Rencana strategis Jepang melalui jalur timur ini dieksekusi oleh Armada Laut ke-3 dengan komando Laksamana Madya Jisaburo Ozawa. Dari Filipina serdadu Jepang dipecah ke Maluku dan Timor. Momentum jatuhnya Singapura, membuat Inggris ketakutan. Berikutnya, kacamata Jepang merencanakan kejatuhan Darwin dengan terlebih dahulu menguasai Bali juga Timor.

Permainan akhirnya dimulai. Garnisun Portugis di Timor dinilai terlampau lemah sehingga, mengundang minat Jepang untuk menyambanginya dengan coba membangun relasi udara dengan Timor Portugis awal 1941. Belanda dan Australia tidak menafikan hal tersebut, dengan mengirim dua kali ekspedisi Dili. Tanggal 16 Desember 1941, 260 prajurit Belanda dan keesokan harinya sebanyak 400 prajurit KNIL dan 250 prajurit Australia di bawah komando Letkol. van Straten. Portugis kemudian marah, karena status netralnya di Perang Dunia II baik di Eropa maupun Pasifik dibuat naif oleh Sekutu. Akibat hal tersebut, pun menjadikan alasan bagi Jepang untuk menguasai seluruh Timor baik daerah Jajahan Belanda juga Portugis.

Baca Juga  Biografi Abraham Maslow, Bapak Psikologi Humanistik

Serangan dari Kaigun dimulai tertanggal 17 dan 18 Februari 1942, Resimen Infanteri ke 228. Terbagi dalam dua gelombang, dengan ekspedisi pertama pimpinan Mayjen Ito Takeo (batalion pertama) dan ekspedisi kedua oleh Kolonel Doi (batalion kedua) yang berlayar dari Ambon ke Timor. Gelombang pertama dikerahkan sembilan kapal pengangkut, delapan kapal perusak dan sebuah kapal induk Jintsu. Gelombang kedua berikutnya dikerahkan lima kapal pengangkut dan dua kapal perusak serta beberapa kapal kecil.

Awal Januari 1942, Yokosuka 3rd Special Naval Landing  Forces dimobilisasi dari Davao ke Tarakan yang selanjutnya dari Tarakan, Borneo menuju Kendari, Celebes. Mengevaluasi pengalaman tempur di Manado,  lokasi pendaratan berada 10,5 mil timur laut arah pangkalan udara. Dengan 28 pesawat pengangkut Mitsubishi Type-96 “Tina”, Kawasaki Ki-56 Army Freight Transport Type-1 “Thalia” dan 17 pesawat pembom medium Mistubishi G4M Attack Bomber Type-1 “Betty” bertolak dari pangkalan udara Kendari, Celebes 20 Februari pagi hari. Gelombang pertama serangan dikepalai oleh Mayor Fukumi dengan 1st dan 3rd Co. berturut-turut dengan Letnan Yamabe serta Yamamoto dengan total 308 serdadu. Gelombang kedua dikepalai oleh Letnan Sakurada dengan total 323 personel tertanggal 21 Februari 1942, sebagai 2nd Co. Gusar tampak pilot Australia diucapkanlah doa singkat “Tuhan, lindungilah Australia’’—pasca ketakjubannya melihat penerjunan pasukan payung itu.

(Sumber foto: Forum Axis History)

Operasi gelombang pertama menghasilkan kerugian sebanyak 22 tewas dan 30 tewas bagi Jepang. Sebelum mendarat, sedianya lokasi pendaratan diamankan lewat serbuan bom dari pesawat pembom. Gelombang pertama terjun pukul 10.45 lalu berkumpul pukul 11.30 lalu berjalan ke selatan menuju Babau juga Kupang. Di Babau, mereka mendapat serangan berat dengan Belanda sampai menyuguhkan kendaraan ber-armor serta tankettes pukul 1 siang. Mereka bertempur hingga matahari tenggelam dengan menghasilkan kemenangan bagi pasukan payung. Untuk melewati Pasukan Sekutu, Mayor Fukumi memerintahkan untuk memotong lewat hutan daripada tetap di jalan raya menuju Pangkalan Udara Penfui yang nantinya disangka akan bertemu kekuatan yang lebih besar dari sebelumnya.

Baca Juga  Berbagai Masalah yang Muncul Pasca Kamboja Merdeka

Gelombang kedua dikomandoi oleh Sakurada mengerahkan 26 pesawat pengangkut yang bertolak dari Kendari, 21 Februari 1942 pukul 6 pagi. Mereka terjun di lokasi yang sama dengan gelombang pertama. Meskipun bertempur kecil-kecilan dengan Tentara Australia membuahkan 14 korban jiwa, dengan arahan dari Mayor Fukumi mereka kemudian masuk jalur hutan bergabung dengan pasukan gelombang pertama. Keesokan harinya, pasukan payung 3rd Yokosuka SNLF ini mencapai Pangkalan Terbang Penfui pagi hari 22 Februari 1942. Pertempuran di lokasi tersebut kemudian selesai sehari berikutnya setelah Sekutu menyerah.

Referensi

Oktorino, Nino. (2013). Runtuhnya Hindia Belanda. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Remmelink, Willem. (2015). The Invasion of the Dutch East Indies. Leiden: Leiden University Press.

A. Takizawa dan G. Rottman (2005). Japanese Paratroop Forces of World War II. Oxford: Osprey Publishing.

.

Penulis: Muhammad Ath Thaariq

Editor: Fastabiqul Hakim