Pendudukan Australia di Papua New Guinea (1906-1975)

Australia perang pasifik

New Guinea merupakan nama lain dari pulau yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Pulau Papua. Nama “Papua” juga sebenarnya dipercaya sebagai nama asli dari pulau ini sebelum ditemukan oleh bangsa Barat. Nama “New Guinea” diberikan karena wilayahnya yang menyerupai Guinea di Afrika. Di masa kolonial, pulau terbesar kedua di dunia setelah Greenland ini pernah menjadi daerah jajahan dari tiga negara, yaitu Inggris, Belanda, dan Jerman. Separuh Papua bagian barat dikuasai Belanda.

Sedangkan separuh bagian timur dibagi dua, di utara menjadi wilayah Jerman dan di selatan dikuasai oleh Inggris. Sekarang, pulau ini menjadi bagian dari dua negara yaitu Papua New Guinea dan Indonesia.

Australia sebagai negara yang dekat dengan pulau ini memiliki peran dalam sejarah berdirinya Papua New Guinea. Sebelum Commonwealth of Australia berdiri, koloni Inggris di Benua Australia yaitu Queensland pernah menganeksasi wilayah Pulau Papua bagian tenggara pada tahun 1883, sebelum diserahkan ke pemerintah Inggris setahun setelahnya. (Siboro, 1996: 80-81)

Pada tahun 1906-1975, di bagian timur Pulau Papua secara bertahap menjadi wilayah koloni milik Australia sebelum berdiri menjadi negara sendiri, Papua New Guinea.  

Territory of Papua (1906)

Di tahun 1901, Commonwealth of Australia baru berdiri secara resmi menjadi sebuah negara federasi, di parlemen Australia saat itu memutuskan suatu keinginan bersama. Mereka ingin menjadikan koloni Inggris di wilayah tenggara Papua (British New Guinea) sebagai bagian wilayah Australia. Mereka saat itu bersedia untuk menyelesaikan beban ekonomi pemerintah Inggris di British New Guinea. (Griffin, 2017: 21)

Atas dasar itu, Inggris secara cuma-cuma melepaskan koloninya tersebut kepada Australia. Pada 1905 disahkanlah Papua Bill, sebagai bentuk keseriusan pemerintah Australia terhadap koloni tersebut. Kemudian di tahun 1906, Papua Bill resmi dikenalkan di Port Moresby (ibukota koloni) dan menjadi awal berpindahnya status koloni tersebut dari Inggris ke Australia. Nama “British New Guinea” pun diubah menjadi “Territory of Papua”. (Primrose: 1973: 219-220)

Baca Juga  Sejarah Kaum Mu’tazilah, Pelopor Rasionalisme Islam

Dengan bergantinya nama koloni tersebut, Australia ingin untuk memberikan suasana baru mengenai peralihan kekuasaan dan sebagai tanda pemerintah yang baru dan berbeda. Australia menerapkan kebijakan-kebijakan baru mengganti kebijakan lama Inggris dalam menjalankan pemerintahannya di Territory of Papua.

Mereka berkomitmen untuk tidak mengulangi tindakan kriminal yang dilakukan kepada masyarakat Aborigin. Hal ini diatur dalam Papua Act yang berusaha mengatur untuk tidak merampas tanah penduduk asli, menjual alkohol kepada mereka, ataupun mengurangi jumlah mereka. Namun, Territory of Papua ini ternyata menjadi ladang subur bagi Australia untuk mendapatkan tenaga buruh yang selama masa kerjanya hanya mendapat gaji yang rendah dan kehidupan yang kurang. (Griffin, 2017: 22)

Territory of New Guinea (1914)

Ketika berlangsung Perang Dunia I, Australia juga ikut serta dengan melawan Jerman di Papua New Guinea. Jerman sebelumnya juga memiliki koloni di bagian timur utara Papua New Guinea (German New Guinea). Orang Australia pergi membantu Inggris dalam Perang Dunia I dengan berlayar ke utara untuk merebut koloni Jerman tersebut.

Pemerintahan Jerman di Papua New Guinea pun kemudian berakhir pada 17 September 1914. Dalam kampanye singkat di Kota Rabaul, Pasukan Angkatan Laut dan Ekspedisi Australia dengan 1500 pasukannya dapat menguasai koloni. (Griffin, 2017: 46)

Perdana Menteri Australia, Hughes membuat jumlah tentara yang jatuh menjadi bahan tawar-menawar pada konferensi perdamaian Paris. Setelah menginvestasikan begitu banyak nyawa Australia, ia menggunakan alasan jumlah korban dengan sangat efektif, menuntut kendali atas semua pulau Pasifik Selatan yang diambil dari Jerman. Akhirnya secara resmi pada tahun 1914, Liga Bangsa-Bangsa memberikan mandat wilayah bekas koloni Jerman tersebut kepada Australia. (O’Lincoln, 2013)

Jatuhnya German New Guinea membuat wilayah koloni Australia bertambah. Sekarang, Australia menguasai dua wilayah sekaligus di Pulau Papua. German New Guinea oleh pemerintah Australia diubah namanya menjadi Territory of New Guinea. Wilayah ini secara administratif tetap terpisah dengan wilayah koloni Territory of Papua di timur selatan.

Baca Juga  Menelisik Eksistensi dan Sejarah Perkembangan Islam di Negeri Kanguru

Kemudian penemuan emas besar-besaran di tahun 1920-an di bagian timur New Guinea di Sungai Bulolo (anak sungai dari Sungai Markham) dan Edie Creek, dekat Wau, menyebabkan serbuan aktivitas yang sangat meningkatkan dampak pada bidang ekonomi dan sosial di Territory of New Guinea. (Jackson & Standish, 2019)

Territory of Papua and New Guinea (1949)

Pada Perang Dunia II, Territory of New Guinea ini sempat jatuh ke tangan Jepang. Pada 4 Januari 1941, Jepang menyerang Kota Rabaul, Territory of New Guinea.  Australia dan Jepang pun terlibat dalam peperangan hingga tahun 1945. Namun dalam perang ini Australia dibantu oleh pasukan Amerika Serikat. Jatuhnya bom di Hiroshima dan Nagasaki, berakibat menyerahnya Jepang kepada Sekutu, yang akhirnya juga menghentikan peperangan di New Guinea. (Griffin, 2017: 73-75)

Setelah Perang Dunia II berakhir, beberapa Pemerintah Australia ingin kembali ke tatanan sebelum perang, sementara yang lain ingin memberdayakan penduduk setempat sebagai rasa terima kasih atas bantuan mereka dalam pertempuran. Pemerintah Australia sadar memiliki kewajiban untuk memberi mereka kesehatan dan pendidikan yang lebih baik, lebih banyak partisipasi dalam kemakmuran negara mereka dan akhirnya memiliki suara dalam pemerintahannya.

Administrasi sementara akan menjadi satu wilayah, kedua koloni digabung menjadi Territory of Papua and New Guinea, dengan satu layanan publik, dan sebagai langkah pertama dalam kesepakatan baru Pemerintah Australia mengungkapkan Buruh di Territory of Papua and New Guinea ditingkatkan gaji minimumnya, mengurangi jam kerja menjadi 44 jam seminggu (sebelumnya 50 jam) dan membatasi kontrak hingga dua belas bulan. (Griffin, 2017: 102)

Pada awalnya, penduduk bagian Highland (dataran tinggi) oleh Australia dimanfaatkan sebagai sumber tenaga kerja baru yang sangat besar untuk perkebunan pesisir. Sejak tahun 1950-an, penanaman kopi arabika oleh petani kecil menyebar dengan cepat ke sebagian besar wilayah Highland, memberikan sumber pendapatan lain dan mempertahankan penduduk di desa mereka.

Baca Juga  Eksperimen Senjata Biologis Jepang Masa Perang Dunia II oleh Unit 731

Sementara itu, kakao dengan cepat diadopsi sebagai perkebunan dan tanaman rakyat di pulau-pulau dan sekitar Madang. Terlepas dari kurangnya pembangunan ekonomi di Papua, Kota Port Moresby berkembang pesat dan menarik banyak pendatang, terutama dari daerah-daerah yang lebih miskin seperti di Highland. (Jackson & Standish, 2019)

Pada tahun 1949 Australia secara resmi menggabungkan pemerintahannya di Papua dan pemerintahan sebelumnya ke dalam Territory Papua and New Guinea, yang dikelola dari Canberra melalui Port Moresby.

Sejak tahun 1946 Australia mengelola separuh Pulau Papua (bagian timur) sebagai wilayah kepercayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pada tahun 1950-an Australia mengambil pendekatan bertahap untuk mendidik penduduk dan meningkatkan layanan kesehatan.

Papua New Guinea (1975)

Namun, sejak tahun 1960 tekanan internasional membuat Australia mempercepat upaya untuk menciptakan elite terpelajar dan memperbaiki kondisi sosial, meningkatkan ekonomi, dan mengembangkan struktur politik di Territory Papua and New Guinea (Jackson & Standish, 2019). Semuanya itu bertujuan untuk persiapan dekolonisasi atau kemerdekaan.

Pemilihan umum untuk House of Assembly (badan legislatif) diadakan pada tahun 1964, 1968, dan 1972; pemerintahan sendiri dapat dicapai pada 1 Desember 1973. Kemudian akhirnya, kemerdekaan penuh dari Australia didapat pada 16 September 1975 dan resmi berdiri negara baru yaitu Papua New Guinea. Namun sama seperti Australia, Papua New Guinea menjadi negara Commonwealth. Di awal berdirinya Papua New Guinea, Australia juga memberikan bantuan pembangunan dengan menyediakan hampir setengah dari anggaran nasional. Sampai sekarang, hubungan antara Australia dengan Papua New Guinea masih berjalan dengan baik.