Penelitian Pendidikan Sejarah dalam Masa Pandemi Covid-19

Pendahuluan

Permasalahan pokok yang hendak saya diskusikan dalam tulisan ini adalah teknis pelaksanaan penelitian di bidang Pendidikan sejarah dalam masa pandemi covid-19.  Diskusi ini berupaya mencari jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi mahasiswa semester akhir dalam menyusun strategi dan melakukan penelitian di tengah pandemi covid-19 tanpa meninggalkan kaidah, kualitas, dan kelayakan penelitian ilmiah.

Untuk mengurai permasalahan tersebut, saya perlu melakukan kategorisasi pencapaian penelitian mahasiswa. Kategorisasi yang saya buat adalah sebagai berikut: (1) mahasiswa yang menyusun proposal penelitian, (2) mahasiswa yang telah bersiap melakukan penelitian lapangan, (3) mahasiswa yang sedang melakukan penelitian di lapangan dan terhenti karena pandemi covid-19, dan (4) mahasiswa yang telah menyelesaikan penelitian lapangan.

Mahasiswa telah menyelesaikan penelitian lapangan

Untuk mahasiswa yang telah menyelesaikan penelitian lapangan dapat meneruskan penyusunan skripsi dengan melakukan pembimbingan secara online. Selanjutnya, mahasiswa dapat mendaftar dan melakukan ujian skripsi secara online. Patut disyukuri, beberapa perguruan tinggi, telah memiliki prosedur teknis untuk ujian skripsi online. Pendek kata, untuk mahasiswa yang masuk dalam kategori ini hal yang perlu dilakukan adalah memanfaatkan masa physical distancing untuk menyelesaikan skripsi.

Mahasiswa sedang menyusun proposal

Mahasiswa yang sedang berada pada tahap penyusunan proposal memiliki ruang untuk merumuskan topik dan metode penelitian yang mampu dilakukan selama masa pandemi covid-19. Penelitian yang melibatkan observasi lapangan atau aktivitas pembelajaran dengan siswa (Penelitian Tindakan Kelas) sebaiknya dipertimbangkan ulang. Sebaliknya, penelitian historis, penelitian survey berbasis online, kajian literatur, content analysis, kajian buku teks, dan kajian lain yang sekiranya mampu dilaksanakan oleh mahasiswa dapat menjadi pilihan alternatif. Pertimbangan utama yang perlu dipikirkan oleh mahasiswa adalah ketersediaan data empiris yang dapat diperoleh selama masa pandemi covid-19.

Mahasiswa yang telah bersiap melakukan penelitian lapangan

Dalam kategori ini, mahasiswa telah selesai menyusun proposal tetapi belum terjun ke lapangan. Bagi mahasiwa yang menggunakan metode historis, kondisi seperti ini dapat diselesaikan melalui kajian sumber sekunder. Selain itu, ketersediaan sumber primer yang telah terdigitalisasi dan dapat diakses mahasiswa untuk memperoleh data historis dan melakukan penelitian skripsi dapat menjadi sumber alternatif. Permasalahan yang lebih rumit dihadapi oleh mahasiswa yang mengambil metode kualitatif, kuantitatif, dan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Setidaknya dalam pandangan saya, hanya terdapat satu jalan: REVISI, dengan dua opsi yang dapat diambil: (1) merevisi metode penelitian, (2) melanjutkan penelitian dengan merevisi rumusan masalah dan unit analisis penelitian dengan resiko memperpanjang masa penelitian.

Baca Juga  Nama-nama Walisongo dan Perannya dalam Penyebaran Agama Islam

Opsi yang pertama dapat diambil oleh para mahasiswa yang menggunakan metode PTK, kuantitatif atau metode kualitatif yang melibatkan aktivitas siswa, observasi lapangan, dan wawancara dalam skala besar. Revisi metode membutuhkan waktu. Dalam perhitungan kasar, setidaknya mahasiswa membutuhkan waktu antara 1 sampai dengan 3 minggu untuk menyusun ulang proposal penelitian. Tetapi bagaimanapun juga, hal ini perlu dilakukan jika tidak ada jalan yang lain. Satu hal yang dapat dilakukan dalam kegiatan revisi ini adalah mempersingkat jumlah halaman proposal dengan penekanan terhadap aspek-aspek penting dalam kajian. Mahasiswa dapat beralih ke metode historis, kajian buku teks, content analysis, survey online, atau metode lain.

Opsi yang kedua adalah tetap melanjutkan penelitian. Opsi ini beresiko menempatkan mahasiswa pada periode hibernasi karena harus menunggu berakhirnya pandemi. Tentu hal ini bukan menjadi opsi yang disarankan karena akan memengaruhi ketepatan kelulusan siswa. Upaya yang dapat ditempuh adalah melakukan revisi terhadap rumusan pertanyaan dan unit analisis yang akan diteliti. Dapat dimungkinkan, rumusan pertanyaan disusun secara lebih sederhana dengan menggunakan unit analisis yang dapat dengan mudah diakses mahasiswa. Misalnya, dalam penelitian kualitatif rumusan masalah awal mengharuskan adanya triangulasi data dari dokumen, guru, observasi lapangan, dan siswa. Dengan menyederhanakan rumusan masalah, mahasiswa dapat hanya mengambil triangulasi guru dan siswa berbasis wawancara online atau data dokumen dari kurikulum. Dalam posisi ini, penelitian masih dapat dilakukan meskipun dengan menurunkan derajat rumusan masalah menjadi lebih sederhana. Perlu digarisbawahi, cara ini kemungkinan besar hanya dapat dilakukan pada metode penelitian kualitatif. Sedangkan untuk metode penelitian lain, diperlukan penyesuaian yang bersifat praksis.

Mahasiswa yang sedang melakukan penelitian dan terhenti karena Covid-19

Dalam posisi mahasiswa yang sedang melakukan penelitian dan terhenti karena covid-19 satu aspek yang perlu diperhatikan adalah seberapa banyak dan seberapa dalam data lapangan yang telah diperoleh mahasiswa. Mahasiswa dapat menggunakan data empiris tersebut dan mencari sumber data sekunder untuk melengkapi kekurangan data penelitian.

Baca Juga  Garis Imajiner Yogyakarta: Tugu Golong Gilig

Untuk mahasiswa dengan penelitian historis, sumber primer yang tersedia dapat diperdalam menggunakan sumber-sumber sekunder. Dalam posisi ini, penelitian masih dapat dilanjutkan.

Bagi mahasiswa yang menggunakan metode kualitatif, hal yang dapat dilakukan adalah menyesuaikan rumusan masalah dengan ketersediaan data empiris yang didapat dari lapangan. Keberadaan sumber sekunder menjadi penting untuk memperdalam analisis penelitian kualitatif. Pada posisi ini, proses pengerjaan skripsi masih dapat terus dilakukan.

Sementara itu, bagi mahasiswa yang mengambil metode kuantitatif dan PTK, permasalahan menjadi lebih rumit. Dalam kasus metode kuantitatif, pencapaian mahasiswa perlu menjadi tolak ukur terhadap keputusan yang akan diambil. Apabila mahasiswa telah sampai pada proses pengambilan data lapangan (misalnya data angket), maka tidak ada permasalahan dan analisis dapat dilanjukan.

Akan tetapi, jika mahasiswa masih berada pada tahap persiapan pengambilan data lapangan maka tantangan yang dihadapi akan semakin berat. Dalam kondisi seperti ini, mahasiswa akan terbentur situasi karena tidak mungkin melakukan pengambilan data dalam masa transisi dan adaptasi pembelajaran daring di sekolah. Untuk itu, saya akan mencoba menyodorkan satu solusi untuk permasalahan ini pada bab berikutnya dalam tulisan ini.

Pada kasus PTK, mahasiswa perlu memperhitungkan sejauh mana siklus yang telah dilakukan di lapangan. Apabila telah mencapai dua siklus, siklus dapat dihentikan, analisis dapat dilakukan dan penelitian dapat dilanjutkan.

Akan tetapi, apabila mahasiswa masih berada pada siklus pertama, terdapat dua jalan yang dapat ditempuh: pertama, menunggu wabah mereda dan melakukan siklus kedua yang tentunya akan sulit dilakukan; kedua melakukan perubahan metode dari PTK ke kuantitatif untuk menganalisis korelasi atau perbandingan variable penelitian dengan data empiris yang tersedia. Perubahan ini menuntut revisi pada pendahuluan, metode penelitian, dan beberapa bagian lain di tubuh skripsi. Di samping itu, perubahan ini juga perlu didukung oleh instrument penelitian (misalnya angket) yang sebelumnya sudah valid dan reliabel. Dalam arti lain, metode penelitian disesuaikan dengan data empiris yang tersedia. Secara metodologis, hal ini tentu kurang tepat, tetapi dalam kondisi luar biasa dan dengan pertimbangan tertentu, saya rasa hal ini dapat dilakukan sejauh mengikuti kaidah ilmiah yang harus diikuti dengan tidak memberatkan beban terlalu besar pada mahasiswa.

Baca Juga  Gerbang Panas Manado
Sharing data

Satu diskusi yang masih tertinggal dari jabaran diatas adalah satu jalan keluar bagi tantangan penelitian kuantitatif yaitu sharing data. Konsep sharing data dapat diartikan sebagai proses berbagi data empiris untuk menganalisis topik penelitian tertentu berdasarkan data empiris yang sama. Misalnya, salah satu siswa telah selesai melakukan PTK dengan menggunakan instrument penelitian yang valid dan reliabel. Data per siklus dari mahasiswa tersebut, dapat dipakai oleh mahasiswa lain untuk mengukur korelasi, perbandingan, atau melakukan studi eksperimen dengan menggunakan metode kuantitatif. Begitu juga dengan metode kualitatif, sharing data dapat dilakukan dengan beberapa pertimbangan metodologis.

Pada dasarnya, sharing data menekankan pada kerelaan berbagi data empiris untuk diteliti. Perlu digaris bawahi, sharing data tidak ditujukan untuk duplikasi penelitian, melainkan mengambil topik analisis yang berbeda dengan menggunakan data empiris yang sama.

Secara etis, sharing data ini diperbolehkan asalkan menggunakan kaidah dan etika ilmiah, salah satunya adalah kesediaan peneliti pertama dan para pembimbingnya untuk membagi data penelitiannya kepada peneliti yang lain. Dengan konsep sharing data, para mahasiswa yang terbentur hal-hal teknis dapat menggunakan data empiris dari mahasiswa yang lain. Tentu, tidak semua mahasiswa dapat melakukan hal tersebut. Analisis data empiris tentunya dapat mengalami kejenuhan. Sebagai contoh, data PTK hanya dapat digunakan dan diolah untuk penelitian korelasi, perbandingan, dan eksperimen. Apabila dipaksakan maka akan menyebabkan duplikasi penelitian yang mengarah pada plagiarisme. Oleh karena itu, perlu berhati-hati dalam mengolah data tersebut.

Penutup

Secara normatif, berbagai permasalahan mahasiswa dapat diselesaikan dengan berkonsultasi dan berkomunikasi dengan para pembimbing penelitian skripsi. Tulisan pendek ini hanya pemantik semangat dan optimisme para mahsiswa yang saat ini sedang berjuang menyelesaikan skripsi di tengah pandemi covid-19. Tentu, tulisan ini memiliki banyak kekurangan dan sekiranya diperlukan kritik dan masukan lebih lanjut. Akhir kata, semoga tulisan ini bermanfaat dan akan saya perbarui jika ada kesempatan dan perkembangan lebih lanjut.

#tetapdirumahsaja

*Tulisan ini ini adalah opini pribadi penulis. Kritik dan masukan silakan kirim via email: ikbenfatah@gmail.com