Pengaruh Terusan Suez terhadap Perdagangan Dunia Masa Kolonial (1869-1956)

dampak ekonomi terusan suez

Terusan Suez dianggap sebagai rute atau jalur perdagangan dunia yang menjadi penghubung antara benua Asia dan Eropa. Terusan ini merupakan sistem jalur air buatan yang memotong wilayah Mesir dan berfungsi sebagai penghubung antara dua laut, yaitu Laut Mediterania dari Port Said di samping wilayah Al Qabuti di Mesir (berdekatan dengan Port Fouad di Sinai) dan Samudera Hindia melalui Laut Merah (dari kota Suez di Teluk Suez) yang digunakan sebagai jalur pelayaran. Dibangunnya Terusan Suez membantu mengurangi jarak antara dunia Timur dan Barat.

Konstruksi dimulai pada bulan April 1859, dan selanjutnya dibuka pada bulan November 1869. Pembangunan Terusan Suez membutuhkan waktu 10 tahun untuk menyelesaikannya. Menurut statistik yang disediakan oleh Otoritas Terusan Suez di Republik Arab Mesir, terusan tersebut memiliki panjang 164 kilometer (102 mil) dan kedalaman 8 meter pada tahun 1869. Setelah dilakukan beberapa proyek untuk memperbesarnya, pada tahun 2010 terusan tersebut ukuran panjang 193,30 kilometer (120,11 mil), kedalaman 24 meter, dan lebar 205 meter. (Suezcanal.gov.eg. 2019. Canal Characteristics)

Sejarah Pembangunan Terusan Suez

Orang Venesia pada abad ke-15 dan Perancis pada abad ke-17 dan ke-18 berspekulasi tentang kemungkinan membuat terusan yang akan memungkinkan kapal-kapal mereka untuk berlayar langsung dari Mediterania ke Samudra Hindia. Dengan tujuan menghindari monopoli perdagangan India Timur yang dimenangkan pertama kali oleh Portugis, kemudian oleh Belanda, dan akhirnya oleh Inggris, semuanya menggunakan rute di sekitar Tanjung Harapan.

Sampai pada pendudukan Perancis di Mesir (1798-1801), Napoleon berencana membangun terusan dan secara pribadi menyelidiki sisa-sisa terusan kuno. J.M. Le Père, kepala insinyur komunikasi Perancis saat itu keliru menghitung bahwa tingkat Laut Merah adalah 33 kaki (10 meter) di atas Mediterania. Hal tersebut menjadi pertimbangan mengenai kondisi buruk untuk para surveyor Prancis bekerja karena kepercayaan yang ada pada perbedaan tingkat kedua lautan tersebut, akibatnya proyek pertama gagal dilakukan. (Charles Gordon Smith dan William B. Fisher. 2019. Suez Canal)

Mengetahui kekeliruan tersebut, pembangunan Terusan Suez lalu digagas kembali oleh seorang pengusaha dan insinyur asal Perancis yaitu Ferdinand de Lesseps. Saat itu, tepatnya sekitar tahun 1850-an Mesir berada dibawah pemerintahan Kekaisaran Ottoman. Ferdinand de Lesseps bisa mendapatkan perizinan proyek pembangunan terusan setelah membujuk Sa’id Pasha, Wali (istilah Arab untuk “gubernur”) Mesir dan Sudan untuk menandatanganinya. Perizinan yang disetujui pun membuka jalan pendirian perusahaan finansial bernama Universal Suez Ship Canal Company atau Perusahaan Terusan Suez.

Baca Juga  Kebebasan Beragama di Indonesia dalam Konteks Sejarah

Proyek dilakukan pada awal tahun 1859 yang dimulai dari bagian paling utara terusan. Pembangunan melibatkan kira-kira 1.5 juta pekerja paksa, yang sebagian besar orang Mesir dan Sudan. Banyak korban berjatuhan yang diperkirakan sekitar puluhan ribu pekerja ketika bekerja yang disebabkan oleh wabah kolera di tahun 1865 dan peyebab-penyebab lainnya. Setelah satu dekade kesulitan membangun, terusan tersebut selesai dan berhasil diresmikan pada 17 November 1869.

Proyek ini memberikan dorongan ekonomi positif setengah untuk publik (pemerintah Sa’id) dan setengahnya lagi untuk pribadi (investasi de Lesseps) milik Perusahaan Terusan Suez. Proyek inovatif ini juga memungkinkan jalan pintas untuk perjalanan dan rute perdagangan yang praktis dan lebih mudah dari Asia ke Eropa tanpa menggunakan Cape Route yang dimonopoli Inggris, yang merupakan rute dari India selatan ke ujung Afrika Selatan dan kemudian ke utara menuju Eropa (Nassef. M. Adiong, 2012: 3).

Pengaruhnya Bagi Perdagangan Dunia Masa Kolonial

Setelah runtuhnya Konstantinopel tahun 1453, perdagangan dunia yang dulunya melalui jalur darat berpindah ke jalur laut. Para penjelajah samudra bangsa Barat membuka rute pelayaran mulai dari Eropa, Samudra Atlantik, Tanjung Harapan, pesisir timur Afrika, Samudra Hindia dan berakhir di Dunia Timur (Asia). Tentunya menjadi rute yang sangat panjang dan memakan waktu perjalanan yang lama, belum lagi ditambah cuaca yang ekstrim dan banyaknya perompak. Halangan mereka baru berakhir pada tahun 1869 ketika Terusan Suez selesai dibangun dan dibuka sebagai rute tembusan ke Asia atau sebaliknya ke Eropa.

Meskipun lalu lintas kurang dari yang diharapkan selama dua tahun pertama beroperasi, Terusan Suez memiliki dampak besar pada perdagangan dunia dan memainkan peran kunci dalam penjajahan Afrika oleh kekuatan Eropa. Namun, karena Perusahaan Terusan Suez mengalami krisis keuangan, pemerintah Inggris membeli saham yang dimiliki oleh kepentingan Mesir, yaitu milik Said Pasha, pada tahun 1875, seharga sekitar 400.000 poundsterling. Namun, Perancis masih merupakan pemegang saham mayoritas di perusahaan. Terusan Suez pun berada di bawah dua kekuasaan yaitu Pemerintah Inggris dan Perancis. (History.com. (2018). Suez Canal)

Terusan Suez juga mempercepat penggantian kapal layar dengan kapal uap dengan mesin dalam perdagangan dunia masa itu. Perairan yang tenang di Terusan Suez menyulitkan kapal layar untuk berlayar melintasinya. Industri kapal uap pun menjadi meningkat dari segi jumlah dan kualitas. Terusan Suez menghadirkan banyak peluang untuk eksploitasi kapal uap dan memaksakan percepatan dalam konstruksi kapal uap serta pengenalan massal mesin kompon, sehingga dapat mengurangi konsumsi bahan bakar hampir setengahnya dan memungkinkan kapal uap untuk berlayar sebagai pengangkut kargo di Timur dan di hampir semua rute perdagangan utama dunia. Tahun 1870 dan 1871 membawa keuntungan besar bagi pemilik kapal uap besar kelas satu yang dapat mengambil rute baru ke Timur melalui Terusan Suez. Keuntungan mereka meningkat dari 25% menjadi 45% per tahun (M. Fletcher, 1958: 561).

Baca Juga  Perkembangan Islam di Jepang pada Abad Ke-19 hingga Sekarang

Di Dunia Timur, pembukaan Terusan Suez membantu membentuk pola perdagangan segitiga abad ke sembilan belas yang sudah akrab di antara Inggris, India, dan negara-negara Eropa. Dengan mendominasi lalu lintas Terusan Suez, Inggris dapat memonopoli pasar India, dengan membuka pasar yang sangat penting untuk barang-barangnya dalam menghadapi penurunan pasar di daerah lain dan semakin meningkatkan lapangan kerja untuk armada pedagang. Negara-negara Eropa tidak mungkin memperluas pembelian bahan baku industri yang berat, besar, berbiaya rendah, dan bahan makanan dari India jika produk-produk itu harus menanggung biaya mahal pengiriman barang (jalur Cape Route). Jika negara-negara industri Eropa tidak banyak meningkatkan permintaan mereka akan bahan baku dan bahan makanan dari India, pada gilirannya India tidak akan dapat meningkatkan pembelian tekstil dan barang-barang industri dari Inggris (M. Fletcher, 1958: 561)

Terusan Suez memperpendek jarak dan waktu untuk perdagangan antara Asia dan Eropa. Ini membantu perdagangan kapas Bombay pada tahun 1870, berfungsi sebagai tempat penyaluran barang pedagang Mediterania pada tahun 1870–74, memungkinkan pengiriman daging beku dari Australia ke Eropa pada tahun 1877–96, mengembangkan perdagangan ekspor India selama tahun 1882–96 dan mengakomodasi perdagangan minyak Persia selama bertahun-tahun (Nassef. M. Adiong, 2012: 4). Singkatnya, Terusan Suez membuka perdagangan baru dan membantu ekonomi negara-negara di Asia, Afrika, dan Eropa. Namun, itu sepenuhnya menguntungkan Perancis dan Inggris dalam menghasilkan pajak perdagangan dan manuver strategis geopolitik di wilayah tersebut. Baru pada tahun 1956 kekuasaan mereka berakhir setelah presiden Mesir, Gamal Abdul Nasser menasionalisasi Terusan Suez.