Perang Korea Jilid Pertama 1950-1953: Hello Commie!

Perang Korea Jilid Pertama
Tentara Korea Selatan (ROK) Maju Melintasi Perbukitan (Ridway & Clark, 1954)

Segera setelah serangkaian pertentangan dan adu argumen dalam parlemen masing-masing baik Korea Utara oleh Kim Il Sung dan Syngman Rhee Korea Selatan, jelaslah rencana penyerangan itu dipersiapkan oleh Tentara Rakyat Korea Utara (North Korea People Army). Subuh dini hari, Minggu 25 Juni 1950 pukul 4 pagi, tentara Korea Utara melintasi perbatasan garis lintang 38 derajat. Kota-kota penting dekat garis lintang tersebut segera jatuh seperti Chuchon, Ongjin, hingga Kaesong. Dengan berani, Kim Il Sung mengumumkan pernyataan perangnya berdasar agresi Selatan dalam saluran Radio Pyongyang. Kim dan tentaranya percaya menang bahkan, tentara Cina siap membantu sebanyak tiga divisi tepat setelah perang Saudara 1949 berakhir dan telah mendapat persetujuan dan dukungan oleh Moskow.

Dapat dilihat kombatan yang terjadi secara intensif dan frontal terjadi di kurun waktu awal perang. Empat pekan menjadi pekan yang menegangkan bagi pihak Korea Selatan, mengingat tidak sedikit rakyat bersimpati pada perjuangan Korea Utara yang dibuktikan pada Pemilu 25 Agustus 1948 yang dimenangkan, terdapat 77% rakyat berpartisipasi di Korea Selatan (Nasution, 1965). Secara garis besar, perang ini dibagi ke dalam tiga periode. Periode pertama mengenai serangan frontal dan intensif oleh kedua belah pihak antara Juli hingga Oktober 1950. Periode kedua antara Oktober sampai dengan Juli-Agustus 1951 yang ditandai dengan jatuhnya kembali daerah-daerah utara lewat bantuan Cina dan Soviet. Kemudian yang terakhir, periode dimana peperangan berangsur menurun intensitasnya meskipun demikian, tetap represif di front depan.

Gieben (Pria Berdasi), Perwakilan Belanda untuk Komisi Rehabilitasi dan Unifikasi PBB Sedang Menginspeksi Tentara Belanda dan Mortarnya (Ridway & Clark,1954)

Periode pertama terjadinya perang ditandai oleh serangan 25 Juni 1950, dengan total kekuatan sekitar 100,000 (seperempatnya dilatih oleh Tentara Merah Cina di Manchuria), beserta 300 tank, artileri berat hingga 150 pesawat tempur peninggalan Rusia 1948. Sementara itu, 95.000 tentara Korea Selatan bertempur tanpa artileri, tank maupun pesawat dari Amerika Serikat yang mengakibatkan Seoul jatuh tanggal 29 Juni. Sampai dengan Agustus 1950, Korea Utara masih unggul karena dukungan publik, terpencarnya perbekalan dan berhasilnya penyamaran untuk mengonsentrasikan serangan yang membuat Korea Selatan mati-matian bertahan di Busan. Dengan begitu, General Douglas MacArthur menyiapkan Operasi Chromite tanggal 15 September 1950 menarget Incheon untuk “menusuk” Korea Utara dari belakang. Hingga akhirnya, Tentara Korea Selatan dan Pasukan PBB dengan komando Amerika Serikat mampu mendominasi pertempuran setelahnya.

Baca Juga  Krisis Fashoda: Puncak Sengketa antara Inggris dan Prancis di Afrika (1898)

Periode kedua ditandai dengan bergabungnya bantuan Tentara Merah Cina dalam pertempuran. Tanggal 25 Oktober Tentara Cina melintasi Sungai Yalu guna melindungi negaranya dari invasi Amerika Serikat serta membantu negara tetangga dari serangan imperialis. Sebelumnya, Zhou En Lai sebagai Perdana Menteri menyatakan hal tersebut tertanggal 1 Oktober dengan dibuktikannya, RRC mengirim Jenderal Lin Pao dan Peng Dehuai yang masyhur selama melawan Jepang dan Nasionalis Kuomintang. Tentara Cina bersama-sama dengan tentara Korea Utara yang terpojok mampu mengembalikan keadaan hingga musim panas 1951 berhasil menguasai Seoul kembali. Namun, tentara Korea Selatan bersama-sama tentara PBB segera menguasai kembali hingga masa ini lazim disebut dengan stagnasi perang. Hal tadi membawa pada upaya penyelesaian perang yang dipicu oleh tentara Korea Utara yang kembali ke posisi semula sebelum garis lintang 38 derajat tanggal 1 Juli 1951 yang berujung pada Pertemuan Kaesong (Juli-Agustus 1951) (Sutimin, 2012).

George Wiliamson from 5th Marines was a Sniper Scout (Ridway & Clark, 1954)

Periode ketiga ini menandai eskalasi peperangan yang menurun, sebenarnya Korea Utara dan Cina sudah tampak tiada niat untuk melanjutkan peperangan namun, diduga Stalin tetap bernafsu untuk melanjutkan perang. Pada waktu ini, semua mata tertuju pada penggunaan teknologi persenjataan dari kedua belah pihak. Semenjak Perang Dunia 2, Korea Utara dan gerilyawan Cina mengandalkan MiG-15 sebagai pesawat tempur yang ganas di udara dan tank T-34 yang masih gahar di Perang Korea. Korea Selatan pun lewat Amerika Serikat dan Sekutu juga menyajikan F-86 Sabre sebagai lawan sebanding MiG, bomber B-29 hingga tank Patton juga dimodifikasinya unit tempur sniper USMC (Korps Marinir Angkatan Laut AS) yang tak sepopuler sniper Soviet. Patroli PBB di garis demarkasi perang sempat melapor adanya suatu upaya offensive dari Korea Utara dan Cina. Kendati demikian, tetap perang berjalan melambat dan kadang terjadi skala penuh hanya di garis depan. Peperangan pun mereda hingga terciptanya gencatan senjata 27 Juli 1953 lewat pertemuan di Panmunjom sebelumnya (Ridway & Clark, 1954).

Baca Juga  Gardu: Sang Penjaga Memori yang Kini Mulai Terlupakan

Perang Korea sebenarnya masih berlangsung hingga sekarang, oleh karena itu tetap ada patroli dari kedua belah pihak di garis demiliterisasi militer. Kedua belah pihak memang sempat bersitegang kembali di tahun 1966-1969 (Lerner, 2010). Namun, setelahnya relatif damai hingga sekarang. Perang Korea merugikan kedua belah pihak maka, ada anggapan perang ini merupakan perang yang tidak boleh dimenangkan. Alasannya ada pada posisi geografis kedua wilayah tersebut, sangat berbahaya bagi Blok Barat bila Korea jatuh ke tangan komunis karena teori domino yang mereka yakini. Sebaliknya, Blok Timur juga merasa cemas dan waswas jika Korea yang liberalis sedikit demi sedikit akan menyerang secara langsung maupun tidak langsung RRC dan Uni Soviet.  

Bibliography

Lerner, M. (2010). Mostly Propaganda in Nature: Kim Il Sung, the Juche Ideology, and the Second Korean War. North Korea Documentation Project.

Nasution, A. (1965). Korea Baru: Negeri “Kuda Sembrani”. Jakarta: Yayasan Dwikarya.

Ridway & Clark. (1954). Pictorial Hstory of the Korean War. Veteran Historical Book Services Inc.

Sutimin, L. A. (2012). Sejarah Asia Timur 2. Yogyakarta: Ombak.

.

Penulis: Muhammad Ath Thaariq

Editor: Fastabiqul Hakim