Perbedaan Nasionalisme Jepang dan Cina Sekitar Abad ke-20

Nasionalisme cina dan jepang

Pada pertengahan abad ke 20, Jepang mengalami perubahan, begitu pun guru mereka Cina di bawah Dinasti Qing. Beberapa rangsangan dari luar memepengaruhi munculnya nasionalisme di negara-negara Asia Timur diantaranya Cina, Korea dan Jepang. Namun dalam hal ini kita akan soroti nasionalisme dua pemimpin Asia ini yakni, Cina dan Jepang. Objek utama munculnya nasionalisme di Cina ialah akibat Dinasti Manchu sendiri yang dianggap sebagai bangsa asing. Sementara itu, kemajuan Jepang setelah Kaisar Meiji berkuasa dan melakukan pembaharuan setelah keterpurukan dan ketertinggalan mereka dari negara lain selama Isolasi Ieyasu Tokugawa.

Cina sejatinya ialah negara yang besar namun, memasuki abad ke 20 ini mengalami beberapa hambatan. Bangsa barat yang setelah revolusi industri memaksa terjun untuk ambil bagian di Cina sebagai pasar mereka. Beberapa negara barat masuk melalui banyak cara dan yang paling getol ialah Inggris. Akibat itu, tercipatalah konflik militer guna menguasai daerah strategis yang didalamnya mencakup pelabuhan. Dengan Perang Candu 1 dan 2 yang berakhir dengan kekalahan rakyat semakin membenci Dinasti Manchu asing tersebut.

Adalah pajak yang dibebankan terlalu tinggi memicu timbulnya pergerakan nasionalis. Beberapa diantaranya melahirkan orang-orang hebat yang kelak menyatukan negara seperti Dr. Sun Yat Sen pada tahun 1911. Kebencian rakyat kian mendalam, tahun 1895 Cina kalah dengan Jepang yang notabene murid merka di masa lalu. Situasi semakin runyam setelah gerakan nasionalis semkin menentang kedudukan Manchu karena pegwainya banyak yang korupsi dan pemborosan yang merajalela. Kemarahan rakyat utamnya lewat gerakan nasionalis tidak terbendung lagi.

Akhir-akhir abad ke 20 ini, mulailah yang disebut ekskalasi besar-besaran oleh kaum nasionalis. D lain sisi, rakyat makin meruncing kemarahannya, diantarnya itu terdapat perkumpulan I Ho Tuan tahun 1899. Seperti yang terjadi beberapatahun yang sebelumnya, terjadi Pemberontakan Taiping yang ditujukkan melawan ajaran konservatif. Pemberontakan Boxer ini ditujukkan untuk mengalahkan asing dengan kolaborator penjajah mereka yaitu Manchu. Meskipun gagal, ini merupakan inskalasi gerakan militer besar sebelum semangat nasionalisme pecah awal dekade abad 20-an. Namun, di benak rakyat setelah kegagalan Boxer tahun 1900 Cina dipastikan akan jatuh.

Adalah kekalahan Cina atas Jepang menjadi puncak gerakan-gerakan nasionalisme mencoba menggulingkan Manchu. Menandakan bahwa Jepang yang kecil itu mampu maju dan berkembang lewat ilmu dari barat. Ini semakin mendorong golongan progresif yang banyak untk menjadi cendekiawan untuk belajar demokrasi dari negara-negara barat bahkan Jepang. Dalam hal ini, contohnya bapak nasionalis Cina yakni, Dr. Sun Yat Sen. ekskalasi itu dimulai dari Selatan. Menghasilkan beberapa pemberonakan di Kwantung, Kwangsi dan Yunnan yang semua dikomandoi oleh Dr. Sun Yat Sen sendiri (Nio Joe Lan, 1952).

Dewan sidang yang diselenggarakan dan dijanjikan tahun 1906 tak diwujudkannya. Hasil-hasil yang ditunjukkan semakin tidak memuaskan rakyat. Sebelumnya, kelak bapak negara Dr.Sun Yat Sen saat di Brussel, Belgia menyuarakan gagasannya yang di sebut San Min Chu I tahun 1905 yang berarti tiga asas rakyat yang termahsyur. Akhirnya, beberapa tahun berselang rakyat kian mengkampanyekan revolusi. April-Oktober terjadilah pemberontakan dengan skala besar awalnya di Canton lalu di daerah lain. Pada tanggal 10 Oktober oleh Revolusi Xinhai yang heoik tersimpan sebagai ekskalasi kemerdekaan Cina yang dikemudian hari di sebut Wuchang Day. Pada tanggal 28 Desember, Manchu sepakat untuk mengakhiri permusuhan yang tak dapat dimenangkannya. Dengan begitu, pada tanggal 1 Januari, figur perjuangan Cina Dr. Sun Yat Sen disumpah menjadi presiden.

Baca Juga  Lika-Liku Politik Apartheid di Afrika Selatan (1948-1994)

Kesamaan latar belakang juga menghinggapi Jepang. Perang yang harus di bayar oleh Dinasti Manchu setelah Perang Candu 1 dan 2 melahirkan pemberontakan Taiping dan Boxer oleh rakyat dan selalu dipelopori secara langsung maupun tidak langsung oleh kaum revolusioner nasionalis. Begitupun Jepang, Juli 1853 Komodor M.C Perry dari Angkatan Laut Amerika Serikat merangsek masuk dan membuat Jepang ketakutan. Kendati demikian, 1792 Russia sempat mencoba membuka isolasi Jepang hingga menyerang Hokkaido tetapi menemui kegagalan. Dengan ultimatum dari Perry untuk membuka pelabuhan, Jepang sedikit demi sedikit mulai membaur dengan negara-negara Eropa. Hasilnya, banyak negara yang menginginkan bermitra dengan Jepang namun, hanya Belanda yang diterima oleh Jepang dan diberikan mandat di Dejima. Jepang tertarik dengan perkembangan kapal Belanda dan akhirnya, Jepang mendapatkan pelajaran perkapalan dari Belanda.

Jepang bergerak menuju negara besar. Tanggal 25 Januari 1868, Kaisar Meiji, Matsuhito memegang kendali Jepang. Pada 6 April 1868, ia mengangkat sumpah dan meyampaikan empat asas, yakni : asas musyawarah, asas keadilan, asas keadilan dan asas pendidikan. Ia memulai modernisasi Jepang lebih lagi, hingga Yoshimura menyatakan anti-Cina dan mulai berkiblat pada kehebatan barat. Diantaranya ia mulai dengan menyemai bibit-bit bangsa, warga negara diajarkan kesetiaan pada negara dan kaisar, pendidikan bersifat militerisme dan aktif mengirim pelajar-pelajar untuk belajar di luar negeri. Di lain sisi ia juga membuat kosntitusi baru yang diadopsi dari barat dengan diakomodir oleh Ito Hirobhumi. Mengingat Jepang tidak berdaya saat diobrak-abrik barat, Angakatan Perang dimodernisasi dengan mencontoh Prusia bagi Angkatan Darat (Rikugun) dan Angkatan Laut (Kaigun) yang mencontoh Inggris. Sehingga, setelah itu Jepang tumbuh sebagai negara imperialis setiap elemen negara telah siap sedia (Leo Agung S, 2012:109-111).

Tidak menunggu waktu lama, Jepang mulai menunjukkan kekuatannya. Hasil bermitra dengan Belanda, tahun 1871 mereka mengusik Kepulauan Liukiu dekat Taiwan dengan akhir kemenangan Jepang. Cina akhirnya pun mengganti biaya Jepang sebanyak 500.000 tael. Hal tersebut menunjukkan awal keperkasaan Jepang sebagai poros baru Asia. Tahun 1894, Jepang terlibat konflik dengan Cina sebagai ekskalasi puncak dan akhirnya lagi Cina lewat Dinasti Manchu kembali bertekuk lutut hingga sangat merugikan mereka. Di sisi lain, Cina makin bersatu menggulingkan Manchu namun, bagi Jepang ini merupakan ajang pembuktian bahwa mereka berhasil mengalahkan guru mereka dan membuktikan semangat nasionalisme mereka lewat ajaran Shinto terbukti sakti.

Kekuasaan Meiji berakhir tahun 1912, namun semangat fukoku kyohei (enrich the country, strenghthen the nation) tetap membahana. Ini merupakan sikap nasionalisme Jepang yang diatanmkan sejak dini hingga remaja dan dewasa dikenalnya dengan semangat bushido yang berarti ksatria. Ini merupakan landasan bagi Jepang untuk melancarkan agresinya di beberap negara guna menujang politik air hangat. Peperangan kembali memuncah di seantero dunia. Jepang ambil bagian, dengan momentum kemenangan mereka atas Rusia 1905, mereka mampu melumat basis Jerman di Tsingtao dan Pasifik lainnya. Perang Dunia berakhir dan Jepang diakui sekutu sebagai The Great Five (lima negara besar).

Baca Juga  Apakah Christian Snouck Hurgronje Masuk Islam?

Di kancah lainnya, dengan keberadaan Jepang di Tsingtao, Manchuria, maupun di daerah Cina lainnya semakin membuktikan pada Cina bahwa mereka mengingini sangat daerah Cina daratan. Sementara Cina masa itu, tengah dilanda semangat revolusi serta getirnya pemerintahan kolot Dinasti Qing yang diujung tanduk. Cina tak mampu berbuat apa-apa, tahun 1914 dan 1915 alih-alih Yuan Shih Kai menginginkan Cina ambil bagian dalam Perang Dunia namun, di tolak oleh Negeri Serikat. Selanjutnya, Jepang semakin mantap dengan mengajukan 21 permintaan pada Cina di Peking yang menunjukkan Cina dijajah oleh Jepang.

Penerapan Nasionalisme pada Cina dan Jepang

Seperti yang telah saya jelaskan tadi mengenai latar belakang terjadinya nasionalisme dua negara tersebut. Adanya ketidakaturan dan ancaman keterbelakangan dengan pihak barat yang mencoba menekan mereka memicu timbulnya nasionalisme. Kemunculan Nasionalisme Cina berawal dari adanya faktor historis. Faktor historis itu, yakni penaklukan imperial keturunan Dinasti yang murni/pribumi (Han) yang saat itu Dinasti Ming yang ditaklukan oleh asing ialah Manchuria. Dengan demikian, ini adalah tonggak awal perjuangan melawan feudal dan barat di sisi yang lain (8 negara sekutu), (Hobsbowm,1992:73,157).

Jepang di sisi lain, berdasar kemunduran yang signifikan hingga terakumulasi dalam suatu keterkejutan peristiwa di tahun 1854. Komodor Perry dengan Angkatan Lautnya yang digdaya membawa misi dari Pemerintahan Amerika Serikat guna mendobrak paksa Jepang dalam hal perdagangan. Dengan kejadian ini mulailah terjadi beberapa pembaharuan. Dengan gagalnya Tokugawa, pemerintahan kembali ke tenno Meiji, dan hal tersebut menandai era Restorasi Meiji yang gemilang.

Cina menyikapi nasionalisme yang telah tercapai dengan hal yang berbeda. Tindakan kooperatif non-militan besutan bapak negara Sun Yat Sen telah mempelajari berbagai model nasionalisme-revolusionir dari beberapa negara eropa. Contohnya beliau sendiri, Dr. Sun Yat Sen yang mempunyai ciri berfikiran terbuka yang kritis. Dalam perjalanannya, ia belajar dari satu tempat ke tempa lain bahkan beliau sempat menjadi pemeluk Kristen saat berada di Amerika Serikat sewaktu kecil. Beliau telah merasakan indahnya demokrasi. Tidak berhenti di Honolulu, Sun Yat Sen muda berkelana ke Jepang, negara yang di cap “mantan murid Cina” dan Inggris karena beliau beliau bersekolah barat (Inggris).

Setelah terbentuknya Cina yang merdeka dan dan berdaulat sendiri setelah sekian lama, yang dilakukkan oleh Sun Yat Sen ialah menerapkan tiga prinsip dasarnya yang terkesan utopia. Blunder selanjutnya ialah membuat Yuan Shih Kai yang mendapat citra buruk kembali menjadi Presiden Republik Cina. Melihat kecamuk perang dinegegaranya, Yuan Shih Kai justru menekan parlemen untuk membuatnya berperang atas kuasa asing di Utara. Namun, rencana itu tak terrealisasi hingga kekecewaan Cina atas Konferensi Paris 1919 tentang daerah Cina yang tidak dikembalikkannya. Secara garis besar, Cina hanya mampu memulihkan parlemen dan membuat undang-undang dasar yang mereka modifikasi dari sebelumnya.

Baca Juga  Tokoh Filsafat Cina Kuno: Meng Zi, Han Fei Zi, Zhuang Zi, dan Mo Zi

Jepang yang tengah geliat-geliatnya membangun dan digdaya menempatkan nasionalisme sebagai stimulus. Setelah Tokugawa berakhir, tampuk kuasa diberikan kembali pada kaisar yang membuat ia harus merubah Jepang secara keseluruhan. Kaisar Meiji mengadopsi bentuk pemerintahan yang sangat mirip dengan Kerajaan Inggris. Bermula dari Aristokrat Oath, pembentukan DPR (diet), kabinet, DPA (Prive Council), dan tentunya untuk menunjangnya iperlukan militer yang kuat yang mampu memudahkan jalan bagi Jepang dalam usaha politik air hangat-nya.

Letak Perbedaan Nasionalisme Cina dan Jepang Sekitar Abad ke 20

Jepang bergerak untuk melanarkan hegemoninya atas Asia. Terlebih setelah mereka berhasil mengalahkan negara kuat, Rusia di semenanjung Liaotung yang dekat dengan Korea. Alhasil, 1910 Korea menjadi protektorat Jepang. Keberhasilan Jepang di dukung pada doktin militer mereka yang dipengaruhi oleh nasionalisme Jepang yang diadopsi ke dalam dogma agama. Setelah Kaisar Meiji berkuasa. Tidak lain dan tidak bukan, ia segera mancatut berbagai teknologi barat yang mumpuni. Tidak berhenti sampai disitu ia, juga telah mengadopsi sistem pemerintahan, sistem pendidikan, dan lain sebagainya dalam masyarakat Jepang yang kolot dan konservatif. Hingga pada suatu masa, dari yang kosmopilt menuju ke nasionalisme yang riil sesuai identitas Jepang.

Jepang berpedoman pada agama resmi mereka, Shinto yang ada di dalamnya semangat kebangsaan yang fanatik beserta junjungannya (Tenno) yang sama-sama fanatik. Dengan ditempa sedari dini, anak-anak jepang sudah dikenalkan untuk unggul dalam belajar dan menghasilkan dan ia harus berbakti dengan negaranya kelak. Ini menunjukkan kemantapan Jepang untuk menjadi negara digdaya. Semuanya ditunjang dengan kestabilan politik dan ekonomi yang kian membaik sehingga berbanding lurus dengan faktor pendukungnya yakni militeristik.

Ini berarti Jepang telah mampu menggunakan dan menyempurnakan sistemnya yang diadopsi dari barat terutama Kerajan Inggris. Yang perlu digarisbawahi ialah soalan mengenai penambaan identitasnya hingga terkesan tidak kosmopolit. Fukoku Kyohei hingga kemudian jayanya disempurnakan menjadi Hakko Ichi U sehingga, rakyat Jepang bersiap untuk masa depan yang diperjuangkan. Semangat Bushido yang hingga kini menjadi prinsip dari rakyat Jepang menjadi alasan mereka terus melangkah kedepan. Sistem dari barat memperkuat mereka sementra itu, dogma Shinto menjadi jiwa rakyat Jepang yang maju dan unggul (Reischauer, 1982).

Cina sendiri memulai nasionalisme dengan penuh kegagapan. Setalah Yuan Shih Kai berkuasa dan Sun Yat Sen menjadi oposisi dengan kekuasaan utopia-nya tak ada keteratura guna membuat pemeritahan yang stabil. Relasi antara rakyat dan birokrat bertolak belakang. Ini menunjukkan konsep yang belum terlaksana dari asas San Min Chu I sang dokter. Berakhirnya perang, membuat Cina makin tertekan Jepang yang usdah berada di ambang pintu. Namun, Cina berhasil membuat nasionalisme yang terpendam lama menjadi kenyataan menyingkirkan kosmopolitanisme yang tercipta sebelum tiga dasar San Min Chu I. Sehingga, keadaan geopolitik membaik usai pemerintahan feodalis yang telah runtuh.

.

Penulis: Muhammad Ath Thaariq

Editor: Adien Tsaqif

Ilustrasi: Adien Tsaqif