Perjuangan Laskar Kere dalam Mempertahankan Kedaulatan RI

Surakarta, kota di jantung Jawa Tengah ini memang memiliki nilai tersendiri dalam arus sejarah nasional Indonesia. Jauh sebelum berdirinya Republik ini, Surakarta telah berdiri sebagai ibukota Kerajaan Mataram Islam yang bekas eksistensinya masih bisa kita temui hingga hari ini. Di kota ini pula, lahir tokoh-tokoh besar yang merintis lahirnya era pergerakan nasional seperti dr. Radjiman dan H. Samanhoedi. Termasuk juga pada masa Revolusi Fisik, perjuangan di Kota Surakarta memiliki peran penting dalam menghadapi serangan Belanda yang masih ingin berkuasa atas wilayah Indonesia.

Pada awal kemerdekaan, Surakarta sempat dilabeli sebagai daerah wild west karena gejolak-gejolak yang timbul di sana yang melibatkan angkatan bersenjata, laskar-laskar rakyat dan partai politik. Salah satu akibat signifikan yang timbul dari adanya berbagai gejolak tersebut yaitu dibekukannya pemerintahan Swapraja Keraton Kasunanan dan Mangkunegaran serta hilangnya status Surakarta sebagai Daerah Istimewa.

Keberadaan laskar-laskar bersenjata pada masa awal kemerdekaan memang belum sepenuhnya terkoordinasi dengan baik sehingga sering timbul gesekan di antara mereka. Banyak dari laskar bersenjata tersebut yang terafiliasi dengan partai politik sehingga kian mempertajam perbedaan pandangan di antara laskar-lasakar tersebut. Keberadaan laskar-laskar bersenjata baru dapat ditertibkan sepenuhnya setelah keluarnya kebijakan RERA (Reorganisasi dan Rasionalisasi) terhadap TNI pada masa Kabinet Hatta.

Meskipun dikenal sering membuat onar, namun tidak semua laskar-laskar tersebut yang berperilaku demikian. Salah satu laskar bersenjata yang mendapatkan penilaian baik di masayarakat yaitu Laskar Kere. Laskar Kere merupakan sebuah laskar bersenjata yang eksis pada masa awal kemerdekaan Indonesia. Anggota mereka berasal dari kalangan pelajar maupun pemuda yang bersemangat dan bernyali tinggi yang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Penamaan kere sendiri dikarenakan anggota-anggota laskar tersebut berpenampilan seadanya dengan pakaian yang lusuh dan persenjataan yang terbatas. Meskipun demikian, keberanian mereka tidak dapat diragukan bahkan mereka cenderung nekat dalam bertempur dengan amunisi yang seadanya.

Baca Juga  Proses Terjadinya Perang Peloponnesos Pada Masa Yunani Kuno

Laskar Kere didirikan oleh sejumlah pemuda pelajar di Kota Solo pada masa awal kemerdekaan RI.  Dalam perkembangannya, mereka telah diterjunkan ke berbagai front pertempuran di sekitar wilayah Solo dan Semarang seperti Salatiga, Bawen, Banyubiru, dan Ambarawa.

Salah satu debut yang membuat nama mereka terkenal yaitu ketika terjadinya pertempuran di Desa Susukan, Kabupaten Semarang. Laskar Kere yang aat itu dipimpin oleh Achmadi memperoleh tugas untuk menyelidiki pergerakan tentara Gurkha Inggris. Mereka ditempatkan di sekitar jembatan Sungai Tuntang dan dilengkapi dengan perlengkapan keyker (keker) untuk melaksanakan tugas penyelidikan. Sayangnya situasi berubah memburuk sehingga memaksa mereka untuk bergerak mundur.

Laskar Kere bergerak mundur mendekati arah jembatan Sungai Tuntang sambil terus melepaskan tembakan. Naas, karena kurangnya koordinasi ternyata jembatan telah ditutup oleh Tentara Keamanan Rakyat yang datang dari seberang sungai. Lebih sialnya, Laskar Kere yang saat itu tengah mengenakan bekas seragam tentara Nippon oleh TKR malah dikira sebagai pasukan musuh. Alhasil mereka dihujani dengan tembakan senapan mesin.

Para anggota Laskar Kere yang panik kemudian berlindung dalam air sungai. Mereka kemudian berusaha untuk berenang ke seberang sungai berharap para tentara TKR akan mengenali mereka. Suatu hal mengejutkan adalah mereka semua selamat sampai seberang sungai tanpa ada seorang pun yang luka atau gugur. Ketika di seberang sungai, mereka kemudian ditanya oleh tentara TKR mengenai identitas mereka. “Laskar Kere, Pak,” salah seorang menjawab dengan bangga ketika ditanya. Komandan Laskar Kere, Achmadi lebih lanjut kemudian menerangkan kepada para tentara TKR, “kita kan Laskar Kere, Pak, melarat, tetapi tidak kalah semangat.”

Pada masa Agresi Militer II Belanda tahun 1949, Laskar Kere juga ikut ambil bagian dalam perjuangan mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia dari serangan Belanda. Laskar Kere ikut bergabung bersama TNI, Tentara Pelajar serta kesatuan perjuangan lainnya dalam mempertahankan Kota Surakarta. Mereka bersama-sama melakukan serangan terhadap keberadaan pasukan Belanda pada peristiwa Serangan Umum Surakarta tanggal 7 hingga 10 Agustus 1949. Serangan tersebut memiliki arti penting dalam menunjukkan kepada dunia internasional mengenai eksistensi Republik Indonesia serta menjadi faktor pendukung dalam proses diplomasi Republik Indonesia di PBB.

Baca Juga  Raden Pabelan: Riwayat Akhir Kisah sang "Fakboy" dari Tanah Jawa

Lebih lanjut, keberadaan Laskar Kere serta laskar-laskar perjuangan rakyat lainnya dapat kita lihat sebagai manifestasi semangat perjuangan rakyat Indonesia yang rela berkorban demi kedaulatan ibu pertiwi. Para pejuang terdahulu telah secara suka rela berjuang melalui berbagai laskar-laskar perjuangan demi membela tanah air tanpa memikirkan imbalan bagi diri pribadi masing-masing. Berbekal tekad dan semangat, mereka tidak ragu berangkat menuju medan perjuangan meskipun dengan keterampilan dan perbekalan yang serba terbatas. Sudah sepatutnya kita sebagai generasi muda dapat meneladani dan menghargai setiap perjuangan mereka.

.

Penulis: Ardiyan Agung Nugroho

Editor: Fastabiqul Hakim

Ilustrasi: Muhammad Alif