Perkembangan Doktrin Angkatan Laut Dunia

Gambar: en.wikipedia.org

Kemunculan HMS Dreadnought

Inggris dan Jerman mulai masuk dalam perlombaan senjata Angkatan Laut sudah sejak akhir abad ke-19. Kepentingan keamanan jalur perdagangan menjadi alasan vital dalam perlombaan ini. Laksamana dari Jerman, Alfred von Tirpitz berambisi untuk membangun Angkatan Laut Jerman yang kuat untuk menandingi Royal Navy Inggris. Hingga pada tahun 1905, Peraturan Angkatan Laut Jerman menciptakan armada berisi 38 kapal tempur yang dibagi menjadi 4 skuadron dengan masing-masing skuadron berisi 8 kapal (Stille, 2010, hal. 4-5).

Dalam menanggapi hal ini, Laksamana Inggris, Sir John Fisher melihat akan berakhirnya era Angkatan Laut damai dan berhadapan dengan peperangan modern. Fisher memerintahkan untuk kapal-kapal ketinggalan zaman untuk dibesituakan lalu membangun kapal tempur yang lebih modern. Akibat dari kebijakannya, munculah kapal tempur HMS Dreadnought. Hal ini merupakan salah satu revolusi besar dalam angkatan laut dunia. Menjadikan pembagian jenis kapal tempur sebelum kemunculan HMS Dreadnought dengan sebutan Pre-Dreadnought dan dianggap sudah usang dan tidak mumpuni dalam kancah perang modern. Kapal ini juga menandai munculnya antusiasme terhadap big ship big gun (Stille, 2010, hal. 5-6).

Kemunculan HMS Dreadnought membuat negara-negara lain seperti Amerika Serikat dan Jerman juga memulai proyek pembangunan big ship big gun. Walau begitu, Jerman agaknya terlambat dalam menyesuaikan teknologi dengan Inggris. Sebagai respon dari munculnya HMS Dreadnought, Jerman mulai membangun 4 kapal tempur kelas Nassau yang merupakan kapal Dreadnought pertama milik Jerman dengan meriam kaliber 11 inchi, lebih kecil dibanding HMS Dreadnouht dengan meriam 12 inchi. Kemudian muncul kapal tempur kelas Helgoland sebagai pengembangan dari Nassau dengan meriam 12 inchi dan penambahan pelindung yang lebih kuat. Dan sebagai pengembangan lagi, muncul kapal tempur kelas Kaiser dengan turbin uap, 10 meriam kaliber 12 inchi, penambahan pelindung, dan kecepatan 22 knot. Dan pengembangan terakhir adalah kapal tempur kelas Kӧnig (Stille, 2010, hal. 24-27).

Pertempuran Jutland 1916 dan Dampaknya

Dengan pecahnya Perang Dunia 1 menjadikan Jerman dan Inggris terjun dalam kancah peperangan. Hasil dari perlombaan senjata dari kedua negara tersebut kemudian mencapai fase pembuktian dari keefektifan senjata yang mereka buat. Hal ini kemudian menuntun kedua negara tersebut untuk membuktikan kekuatan angkatan laut mereka masing-masing dalam pertempuran Jutland.

Baca Juga  Stolen Generation Australia: Diskriminasi Rasial terhadap Suku Aborigin

Pertempuran Jutland sendiri berlangsung pada tanggal 31 Mei-1 Juni 1916. Dengan total kapal dari Inggris dan Jerman yang dikerahkan sekitar 250 kapal perang sehingga menjadi salah satu pertempuran laut terbesar yang pernah terjadi. Grand Fleet Inggris dipimpin oleh Laksamana Madya Sir David beatty dan Laksamana Sir John Jellicoe, sedangkan High Seas Fleet Jerman dipimpin oleh Laksamana Madya Reinhard Scheer dan Laksamana Madya Franz Hipper (Stille, 2010, hal. 50-51). Pertempuran ini melibatkan serangan dari tembakan meriam kapal tempur secara masif. Hingga akhirnya berakhir dengan kedua belah pihak mengklaim kemenangan di Jutland. Dalam pertempuran ini membuktikan keefektifan dari kapal tempur dengan meriam besar dan pelindung yang kuat. Sehingga menciptakan perlombaan angkatan laut dengan big ship big gun di dunia.

Perkembangan Kekuatan Udara di Laut

Di satu sisi, perkembangan kapal tempur sedang mengalami masa kejayaan, muncul kekuatan baru dalam angkatan laut, yakni kekuatan udara. Beberapa negara mulai mengembangkan kekuatan udara mereka dengan berbagai eksperimen penerbangan dari atas dek kapal. Dari Amerika Serikat sendiri pada tahun 1910, Eugene Ely menerbangkan pesawat biplane Curtis Pusher dari atas kapal penjelajah USS Birmingham dan pada tahun 1911, Ely kembali melakukan eksperimen dengan mendaratkan pesawat di atas kapal penjelajah berpelindung USS Pennsylvania. Kemudian dari perusahaan Curtis Aeroplane menambahkan pengait pada model pesawat baru mereka. Pemilik perusahaan, Glenn Curtis sendiri mencoba purwarupa model terbaru pesawatnya dengan mendaratkan pesawatnya di USS Pennsylvania. Percobaan tadi dilakukan dengan keadaan kapal sedang berlabuh (Fontenoy, 2006, hal. 2-3).

Inggris tak mau kalah, 10 Januari 1912, Letnan Charles R. Samson menagadakan eksperimen menerbangkan pesawat Short Brothers Pusher biplane dari kapal tempur HMS Africa saat berlabuh di Sheerness. Berikutnya, Angkatan Laut Inggris kembali mengadakan eksperimen dengan menerbangkan 2 pesawat yang terdiri dari 1 pesawat darat dan 1 pesawat air dari kapal tempur HMS Hibernia dengan kecepatan kapal 10 knot pada 10 Mei 1912. Selanjutnya, Royal Navy mengubah kapal penjelajah berpelindung HMS Hermes dan kapal dagang HMS Ark Royal sebagai kapal pengangkut pesawat air (Fontenoy, 2006, hal. 3-4).

Baca Juga  Kebijakan Sistem Sewa Tanah Masa Pemerintahan Raffles

Perancis berkembang dengan kapal penjelajah Foudre yang mereka ubah menjadi kapal pengangkut pesawat air pada tahun 1912. Sebelumnya,  pada tahun 1910, Foudre menjadi tempat eksperimen sebagai tempat untuk balon udara. Ada rencana untuk membeli kapal tanker Inggris, Fornebu, untuk diubah menjadi kapal pengangkut, ditambah Perancis saat itu sedang meneliti mengenai dek landasan pacu. Namun hal tersebut dibatalkan karena pecahnya perang (Fontenoy, 2006, hal. 4-5).

Kemunculan Kapal Induk

Pada tahun 1917, Inggris merencanakan untuk mengubah 3 kapal menjadi kapal induk. yang pertama adalah HMS Argus yang semulanya adalah kapal samudra milik Italia, Conte Rosso. Dengan panjang 558 kaki dan berat 14.450 ton, HMS Argus menjadi kapal induk pertama di dunia. Yang kedua adalah HMS Eagle yang semula dibangun sebagai kapal tempur Almirante Cochrane  milik Chile. Yang ketiga adalah HMS Hermes yang merupakan kapal induk pertama yang didesain murni sebagai kapal induk (MacDonald, 1964, hal. 15). Walau begitu, kapal induk Jepang Hoshou yang merupakan kapal induk murni pertama kali yang bertugas.

Amerika Serikat yang juga mengembangkan kapal induk memilih kapal angkut batu bara, Jupiter, untuk diubah menjadi kapal induk. kapal tersebut berangkat ke Norfolk untuk proses pengubahan pada Maret 1920. Ia mulai bertugas sebagai kapal induk pertama Amerika Serikat, USS Langley (CV-1) pada bulan Maret 1922. USS Langley memiliki dek dengan panjang 534 kaki dan lebar 64 kaki. Ia mulai menerbangkan pesawat pada bulan Oktober 1922 oleh Letnan Virgil C. Griffin (MacDonald, 1964, hal. 16-19). Akibat dari traktat Angkatan Laut Washington, Amerika Serikat kemudian melakukan konversi terhadap kapal penjelajah tempur mereka menjadi kapal induk. kapal penjelajah tersebut adalah kapal kelas Lexington yang terdiri dari USS Lexington (CV-2) dan USS Saratoga (CV-3). Masing-masing memiliki beban 33.000 ton (sesuai batas maksimal dari traktat), kecepatan 33,25 knot, panjang 901 kaki, mesin dengan 180.000 tenaga kuda, 8 meriam kaliber 8 inchi, 12 meriam kaliber 12 inchi, dan maksimal kapasitas pesawat maksimal 90 pesawat.  Biaya pembangunan USS Lexington sekitar $45.952.644,83, sedangkan USS Saratoga sekitar $43.856.492,59 (MacDonald, 1964, hal. 21).

Baca Juga  Sebelum 8 Maret 1942 di Kalijati

Advokasi William Mitchell

Pada tahun 1920, kekuatan udara belum memperoleh tempat yang signifikan bagi kalangan angkatan laut. Hal ini merupakan dampak dari big ship big gun yang mana angkatan laut masih terobsesi kepada kapal tempur. Terutama setelah pertempuran Jutland yang mana membuktikan keganasan kapal tempur dari sisi ofensif dan defensif.

Pertempuran Jutland menjadi pertempuran pertama dan terakhir yang mana kapal tempur dreadnought bertarung satu sama lain secara masif. Berikutnya, pertempuran laut akan diambil alih oleh kekuatan udara. Hal ini disadari oleh salah satu pelopor penerbangan militer, William Mitchell.

William Mitchell lahir pada tahun 1879 di negara Amerika Serikat. Salah satu pendapatnya yang terkenal adalah kelak dominasi kapal tempur bisa dihancurkan hanya dengan serangan udara saja. Tentu dari pihak angkatan laut tidak percaya dengan pendapatnya. Oleh karena itu, pada bulan Juli 1921, Ia melakukan eksperimen terhadap kapal tempur Ostfriesland dan kapal penjelajah Frankfurt, kapal perang Jerman yang diserahkan kepada Amerika Serikat sebagai rampasan perang. Mitchell membawa 6 pesawat pembom untuk eksperimennya dalam membuktikan peluang akan supremasi udara. Sebagai hasilnya, Ostfriesland tenggelam dalam selang waktu 22,5 menit dan Frankfurt tenggelam dalam selang waktu 35 menit.

Mitchell sendiri juga memprediksi pecahnya perang dengan Jepang. Ia mengatakan bahwa kelak Jepang akan menyerang di minggu pagi, waktu libur bagi militer Amerika Serikat. Dan juga pada cuaca cerah yang mana sangat mendukung bagi serangan udara. Hingga akhirnya pada tahun 1941, Jepang melancarkan serangan ke Pearl Harbor pada minggu pagi, 7 Desember 1941 waktu Hawaii. Tahun 1945, Senat memberikan medali anumerta Medal of Honor kepada Mitchell dan menaikkan pangkatnya menjadi Mayor Jenderal (Ojong, 1957).