Perkembangan Islam di Jepang pada Abad Ke-19 hingga Sekarang

perkembangan islam jepang

Kita tahu bersama bahwasanya kehidupan beragama bangsa Jepang didominasi oleh agama Shinto dan agama Buddha. Bahkan agama Shinto adalah agama resmi bagi bangsa Jepang. Agama Islam bisa diterima oleh masyarakat Jepang karena nilai-nilai yang telah ada pada masyarakat Jepang memiliki kesamaan dengan nilai-nilai Islam, di antaranya adalah tentang kejujuran, kedisiplinan, etos kerja yang tinggi, saling menghormati antar sesama, toleransi, dan masih banyak lagi. Perkembangan agama Islam di Jepang yang dibahas dalam makalah ini difokuskan pada rentang waktu antara abad ke-19 hingga abad ke-21. Masyarakat Jepang bersikap sangat toleran terhadap pemeluk agama Islam, bukti dari hal tersebut adalah di kota-kota besar Jepang terdapat masjid raya untuk tempat beribadah umat Islam di Jepang. Pemerintah Jepang bahkan mendirikan badan sertifikasi halal untuk memenuhi kebutuhan wisatawan muslim yang berkunjung ke Jepang.

Menurut tulisan yang dikutip dari ceramah salah seorang wakil duta besar Jepang untuk Indonesia yang berjudul “Hubungan Islam dengan Jepang”, menyebutkan bahwa agama Islam mulai masuk ke Jepang diperkirakan sekitar zaman Restorasi Meiji tahun 1867, ditandai dengan masuknya bacaan mengenai Islam yang berasal dari Eropa atau China dan mulai diterjemahkan ke Bahasa Jepang. Suatu hubungan yang penting dibuat pada tahun 1890 ketika Turki Usmaniyah mengirim utusan yang menumpang sebuah kapal yang dinamakan Ertogrul ke Jepang untuk tujuan menjalin hubungan diplomatik antara kedua negara serta untuk saling memperkenalkan orang Muslim dan orang Jepang.

Penyebaran agama Islam di Jepang memiliki sejarah yang cukup panjang. Menurut Dr. Satoro Nakamura, informasi pertama tentang orang-orang Arab dan Islam di Jepang ditulis oleh Arai Hakuseki. Sedangkan orang Jepang pertama yang masuk Islam bernama Torajiro Yamada, ketika dia sedang berkunjung ke Turki disebabkan turut berduka cita dengan korban tewas dalam kecelakaan maut Ertogrul. Beliau mengambil nama Abdul Khalil dan pergi ke Mekkah untuk naik haji. Disusul kemudian oleh Bumpachiro Ariga yang masuk Islam karena pengaruh warga muslim lokal ketika dia melakukan perjalanan dagang ke Mumbai di India.

Sebagai penghargaan atas jasanya, Yamada dianugerahi bintang oleh Sultan Turki sedangkan Menteri Angkatan Laut negara tersebut meminta agar dia bersedia tinggal di Turki untuk mengajarkan bahasa Jepang kepada tujuh perwira angkatan perang mereka, baik darat maupun laut. Salah seorang dari perwira yang memperoleh pelajaran dari Yamada adalah Kemal Attaturk yang kemudian menjadi Bapak Turki Modern. Pada tahun 1931, Yamada kembali mengunjungi Turki, kali ini atas undangan Presiden negara tersebut, Kemal Attaturk. Sambil mengajarkan bahasa Jepang, dia juga tertarik pada kebudayaan Islam dan pada waktu itulah dia memeluk agama Islam dan menyandang nama Abdul Halim. Setelah perjanjian mengajar selama dua tahun berakhir, Yamada kembali ke Jepang. Yamada telah melakukan kunjungan ke Turki dan tinggal di Turki selama 20 tahun dan meninggal di Jepang pada tahun 1957 dalam usia 91 tahun.

Baca Juga  Voltaire: Penuh Karya dan Kontroversi

Memasuki abad ke-20, hubungan Jepang dengan pemeluk agama Islam menjadi lebih kompleks. Pada tahun 1904-1905 Jepang terlibat dalam suatu peperangan dengan Rusia. Pada waktu itu, angkatan perang Jepang telah berhasil menawan puluhan ribu anggota tentara Rusia berjumlah 71.947 orang-orang yang dikirim ke Jepang dan ditempatkan dia suatu Camp. 28.000 orang ditempatkan di dekat kota Osaka dan hampir 1000 adalah orang Tartar yang memeluk agama Islam. Revolusi Bolshevik selama perang dunia I, muncul komunitas Muslim dengan kedatangan ratusan muslim dari Turki, Urbekistan, Tajdjikistan, Kazastan serta pengungsi lain yang berasal dari Asia tengah serta Rusia. Orang-orang Muslim tersebut diberi hak suaka tinggal oleh pemerintah Jepang di beberapa kota di Jepang.

Kehadiran Islam dan apa yang diajarkannya memberikan pencerahan baru bagi mereka yang merasakan beban hidup sedemikian beratnya Namun di kalangan orang Jepang masih terdapat pemikiran salah tentang Islam, mereka menganggap bahwa Islam adalah agama aneh yang hidup di negara yang belum berkembang. Pemikiran ini muncul seiring dengan arus Westernisasi yang mengusung agama Kristen. Hal ini diperburuk dengan banyaknya penyebaran informasi yang salah kaprah. Namun seiring waktu, perkembangan informasi dan pertambahan jumlah pemeluk Islam terus meningkat.

Banyak orang Jepang percaya bahwa Islam akan lebih diterima di Jepang. Meski belum ada angka pasti, namun diperkirakan Islam akan berkembang di Jepang. Hal ini terutama mengacu kepada banyaknya perkawinan campur antara Muslim dan non-Muslim asal Jepang. Selain itu terdapat juga penambahan angka yang cukup signifikan dengan banyaknya mahasiswa Jepang yang memilih belajar di Universitas yang berada di negara-negara Arab. Banyak juga mahasiswa di Universitas yang berada di Jepang membentuk suatu komunitas diskusi formal skala kecil untuk membicarakan persoalan agama. Ini sangat berguna sekali, terutama mengingat masih sedikitnya komunitas Muslim yang bergerak untuk memfasilitasi dan memberikan pemahaman lebih baik tentang kepercayaan Islam. Terdapat juga komunitas Muslim yang memberikan kontribusi besar dalam memelihara solidaritas di kalangan Muslim Jepang. Pusat pengembangan Islam di Jepang juga merupakan salah satu fasilitator terbaik bagi komunitas Muslim. Melalui dialog, seminar dan konferensi, tempat ini membantu para Muslim mempromosikan pemahaman akan Islam yang lebih baik di Jepang.

Baca Juga  Kondisi Perekonomian pada Masa Pemerintahan Pu Sindok sampai Kerajaan Kediri

Perkembangan Islam di Jepang didukung pula dengan masuknya Islam, seorang dokter senior, dr. Syauki Futaki. Beliau menjabat sebagai ketua Japan Islamic Congres (JIC). Pada bulan Juli 1981, memprakarsai Seminar Islam Internasional di Tokyo. Dihadiri tokoh-tokoh Islam Internasional, seperti Dr. Ma’ruf Dawalibiy dari Presiden Muktamar Alam Islami, Muh. Roem dan Prof. Rasyidi dari Indonesia. Organisasi Japan Islamic Congres, juga mensponsori pengiriman mahasiswa Muslim ke Mesir, menerbitkan naskah Alquran, menerjemahkan naskah berbahasa Arab ke Bahasa Jepang. Demikian pula, mendirikan lembaga pengajaran Alquran dan Bahasa Arab

Memasuki abad ke-21, Jepang semakin terbuka dengan dunia luar dan intensitas kunjungan orang-orang pemeluk Islam pun semakin meningkat. Mereka datang ke Jepang untuk keperluan menempuh pendidikan, bekerja, ataupun hanya sekedar berwisata ke Jepang. Maka dari itu, para pemeluk Islam sendiri berinisiatif untuk mendirikan suatu komunitas atau lembaga yang berfungsi untuk membantu mereka ketika hidup di Jepang karena di negara tersebut penganut Islam adalah golongan yang sangat minoritas sehingga terkadang merasa kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pemerintah Jepang pun ternyata merespons hal tersebut dengan tanggapan yang baik.

Sebagai bentuk omotenashi atau pelayanan terhadap wisatawan  Muslim, Jepang mengembangkan fasilitasnya di berbagai sektor. Peningkatan jumlah wisatawan Muslim telah mendesak Jepang untuk menyediakan makanan halal. Pada tahun 2015, terdapat 52 restoran halal di Jepang yang tercatat dalam buku panduan wisata yang diterbitkan oleh Japan National Tourism Organization (JNTO) untuk para wisatawan Muslim. Dahulu restoran halal hanya terbatas pada restoran yang menyajikan masakan Malaysia, Turki, atau masakan dari negara lain yang mayoritas penduduknya beragama Islam, namun saat itu sudah tercatat beberapa restoran yang menawarkan menu masakan Jepang (Asazuma, 2015).

Berdasarkan data yang diperoleh penulis dari suatu wawancara dengan salah seorang anggota komunitas muslim di Jepang, Nining Tresnaningsih yang merupakan anggota Keluarga Muslim Indonesia (KMI) yang berada di kota Nagoya menyatakan bahwa “dengan adanya komunitas tersebut, kita semua para warga muslim bisa melaksanakan keyakinan kita dengan mudah walaupun berada di negara yang mayoritas non-muslim.” “Bahkan hal yang menarik adalah para anggota KMI bisa melakukan kegiatan yang tidak pernah atau jarang kita lakukan saat berada di Indonesia.” “Misalnya saat bulan Ramadhan ketika mendapatkan tugas untuk menyiapkan takjil untuk berbuka puasa, para anggota komunitas membeli sendiri dan memasak sendiri bahan-bahan makanan untuk takjil, lain halnya ketika berada di Indonesia biasanya tinggal membeli saja makanan dan minuman yang sudah jadi. Bahkan satu orang bisa menyediakan menu berbuka sebanyak 70 porsi dengan dana mandiri.” “Lebih menariknya lagi, para anggota komunitas muslim di sana bisa bertatap muka secara langsung dengan para pendakwah yang terkenal dari Indonesia, seperti Ustaz Aa Gym, Ustadz Aam Amrudin, Ustaz Adi Hidayat, Ustaz Hanan Attaki dan masih banyak lagi.”

Baca Juga  Peran Lee Kuan Yew dalam Menghantarkan Singapura Menjadi Negara Maju

Pada saat ini perkembangan Islam di Jepang semakin pesat dan penganutnya semakin bertambah. Salah satu indikasinya adalah hampir di setiap kota sudah didirikan masjid yang kebanyakan dikelola oleh kerajaan Arab Saudi dan Pakistan yang bekerja sama dengan berbagai komunitas muslim dari berbagai negara. Hal yang menarik dari masjid-masjid tersebut adalah keterbukaan terhadap orang Jepang yang ingin tahu tentang agama Islam itu seperti apa, melalui kegiatan open class mereka bebas bertanya dan berdiskusi tentang Islam dan bahkan dijamu oleh pengurus masjid dengan berbagai macam makanan halal.

Ketertarikan orang Jepang terhadap Islam sebagai budaya, bukan sebagai agama. Ada budaya Islam yang sesuai dengan budaya Jepang, misalnya memilih makanan yang sehat dan baik. Orang Jepang yang sudah mengetahui tentang makanan halal ternyata lebih memilih makanan yang berlabel halal daripada yang tidak. Bahkan banyak restoran di Jepang yang berlomba-lomba untuk mendapatkan sertifikasi halal pada restoran yang mereka kelola. Oleh karena itu, sekarang ini muncul istilah “Japan Friendly to Islam” yang berarti bahwa Jepang tidak akan melakukan diskriminasi terhadap penganut Islam dalam beribadah dan melakukan aktivitas sehari-hari. Kesan mendalam yang bisa dirasakan orang Islam yang pernah singgah di Jepang adalah betapa mudahnya orang Jepang menjadi seorang mualaf, karena banyak kebiasaan orang Jepang yang sangat mendukung untuk melakukan ibadah keagamaan Islam. Salah satunya adalah ibadah puasa, karena orang Jepang sangat menjaga jam makan dengan ketat maka mereka bisa melaksanakan ibadah puasa dengan mudah. Orang Jepang sangat menjaga kejujuran, kedisiplinan, kebersihan dan kerja keras.

.

Penulis: Victor Antonio Jevon

Editor: Fastabiqul Hakim