Perkembangan Sistem Perdagangan Barter

Perkembangan Sistem Perdagangan Barter

Dalam perkembangannya, terdapat beberapa barang yang pernah menjadi standar sistem dalam barter.

Beberapa di antaranya seperti jenis tengkorak manusia, dan yang menjadi barang populer pada masa itu adalah garam.

Garam dianggap sebagai barang yang sangat berharga pada masa itu, bahkan Romawi menggaji tentaranya dengan menggunakan garam.

Orang-orang Eropa menjelajah samudera pada abad pertengahan dengan membawa bulu binatang dan kerajinan untuk ditukarkan dengan parfum dan Sutera.

Barter juga digunakan dalam tahun-tahun awal dari Universitas Oxford dan Harvard dengan menggunakan Hewan ternak, bahan makanan, dan kayu bakar untuk membayar biaya kuliah.

Di Nusantara sistem Barter menurut Poesponegoro (2008, 239-244) berawal dari masa bercocok tanam sekitar awal abad 1-4 M.

Masyarakat Indonesia pada masa itu tinggal secara berkelompok dengan membentuk desa-desa kecil. kehidupan masyarakat masa itu selain bercocok tanam, juga memperjualbelikan barang yang dihasilkan menggunakan sistem Barter.

Masyarakat pesisir pantai biasanya menjual Ikan, Garam yang biasanya akan ditukarkan dengan Gerabah. Masyarakat Pedalaman saat itu masih belum mampu untuk menghasilkan hasil dari bercocok tanam dengan jumlah yang banyak.

Dalam mendukung sistem perdagangan barter yang harus diangkut dalam jarak jauh, maka mereka membuat rakit atau perahu dan menggunakan sungai sebagai jalur perdagangan.

Perdagangan dengan sistem Barter terus berkembang sampai pada masa Kerajaan Sriwijaya, Selat Malaka menjadi salah satu tempat paling strategis dan ramai dalam memperjualbelikan komoditi dagang internasional.

Beberapa barang yang dijual pada masa itu antara lain seperti Sutera, Kulit binatang, garing, rempah-rempah, dan lain-lain.

Beberapa kerajaan menjadi saling terhubung terutama pada abad ke-7 Masehi karena ramainya perdagangan di Selat Malaka yang juga lewat Jalur Sutra.

Baca Juga  Sejarah Sistem Perdagangan Barter

Beberapa kerajaan pada masa itu yang terlibat perdagangan antara lain :

  1. Kerajaan China pada Masa Dinasti Yang.
  2. Kerajaan Sriwijaya masa Dinasti Syailendra.
  3. Kerajaan Gupta dari Hindia.
  4. Kerajaan Romawi zaman Marius Aurelius.

Dalam beberapa masyarakat pedalaman, Barter masih tetap terjadi. Salah satu hal yang menyebabkannya adalah karena masyarakat pada masa itu masih bergantung secara langsung pada alam untuk memenuhi kebutuhan kesehariannya dan sumber kemakmuran di desa.

Kebiasaan dan tradisi ini sudah sangat lama terjadi di masyarakat untuk menjaga tradisi ,sistem kekeluargaan dan saling tolong-menolong dalam masyarakat.

Beberapa daerah di Indonesia yang masih eksis dalam menggunakan sistem barter antara lain :

  1. Barter di pasar terapung daerah Muara Kuin dan Lok Baintan, Banjar.
  2. Pasar Barter di Kampung Lamalera, Lembata yang menyebutnya sebagai Gelu Gore-Kelung Kodong.
  3. Tradisi Barter di Masyarakat Desa Bantal, Situbondo.
  4. Tradisi Barter pada Masyarakat Badui di pedalaman Banten.

Sistem barter juga masih dilakukan bukan hanya dari daerah pedalaman, namun juga dalam skala internasional. Biasanya sistem barter ini sering digunakan oleh negara-negara yang sedang mengalami gejolak dalam ekonomi.

Hal ini dikarenakan dalam melakukan Barter tidak beresiko terkena intervensi dari pihak lain dari internasional. Beberapa contoh di antaranya :

  1. Nelayan di Venezuela yang menukarkan tangkapannya dengan kebutuhan makanan dan obat-obatan karena hyperinflasi yang menyebabkan nilai mata uang tidak berharga.
  2. Munculnya jaringan sistem barter di Yunani pada saat mengalami krisis finansial pada sekitar tahun 2009.
  3. Pada tahun 1996, IPTN (Industri Pesawat Terbang Negara) Indonesia pernah menukarkan 2 pesawat terbangnya, kepada Thailand untuk ditukarkan dengan 110.000 ton beras ketan.
  4. Perusahaan besar USA, Pepsi menukar minumannya dengan saus tomat dari Uni Soviet, agar bisa masuk ke dalam pasarnya pada tahun 1970-an. Selain itu, mereka juga menukarkan dengan barang lain dari Uni Soviet Seperti Vodka, dan Kapal Perang.
  5. Iran adalah negara yang sangat membutuhkan sistem barter dengan negara lain untuk menunjang sistem perekonomiannya. Hal ini dikarenakan banyaknya sanksi yang sangat ketat dari USA dan PBB usai revolusi Iran tahun 1979. Beberapa komoditas ekspor yang ditukarkan antara lain minyak dan beras.
Baca Juga  Sejarah Berdirinya Partai Komunis Australia

Sistem Barter juga masih eksis digunakan dalam perdagangan barang antik dan koleksi. Sistem Barter diperlukan karena proses transaksi barang antik memerlukan penyaringan dan sistem informasi.yang sesuai untuk mendapatkan barang yang diinginkan.

Menggunakan perantara juga hanya akan menimbulkan ketidakpercayaan dalam transaksi, sehingga akan lebih baik jika mempertemukan di antara kedua belah pihak secara langsung