Proses Islamisasi di Kalimantan

6 Saluran Islamisasi di Indonesia

Sejarah Proses Islamisasi di Kalimantan Barat

Islamisasi di Kalimantan Barat pada mulanya terjadi di Kerajaan Sambas. Kerajaan Sambas merupakan salah satu kerajaan bercorak Hindu yang tergolong besar dan merupakan kerajaan tua yang terdapat di wilayah Kalimantan Barat. Bukti yang menguatkan bahwa kerajaan Sambas merupakan kerajaa besar dan tua yaitu ditemukannya benda aerkeologis seperti gerabah dan patung Hindu di sekitaran Sungai Sambas. Dari bukti arkeologis tersebut dapat diketahui bahwa Kerajaan Sambas sudah berdiri sekitar abad ke-6 dan ke-7 M. Informasi tersebut diperkuat lagi dengan lokasi wilayah Sambas yang dekat dengan Malaka yang pada saat itu merupakan salah satu jalur perdagagan dunia, dengan adanya bukti-bukti tersebut, Kerajaan Sambas diyakini telah berdiri sejak abad-6 dan ke-7 M dan bersamaan dengan berdirinya Kerajaan Tanjung Pura.

Eksistensi Kerajaan Sambas sudah ada sejak abad ke-14 M, pada saat itu Kerajaan Sambas menjadi negara vassal dari Kerajaan Majapahit. Hal tersebut tertuang di dalam karya sastra Negarakertagama karangan Mpu Prapanca.  Dengan adanya bukti tersebut jelaslah bahwa Kerajaan Sambas merupakan sebuah negeri di bawah penguasaan Melayu yang beraliran Hindu bukan Melayu Islam. Menurut Johan Weintre (2004:20) Melayu yang membawa ajaran ke Sambas adalah Melayu yang beraliran Hindu serta mereka membawa unsur dan ajaran dari Kerajaan Majapahit dan Sriwijaya.

Dalam sumber lokal disebutkan bahwa pada abad ke-14 M Sambas merupakan sebuah Kerajaan yang diperintah oleh Raden Janur, dengan pusat pemerintahaanya berada di Paloh. Pada dasarnya, belum ditemukan bukti-bukti yang jelas mengenai bagaimana system pemerintahan raja-raja Sambas. Sumber Barat yang menjelaskan bahwa Sambas merupakan sebuah Kerajaan yaitu dapat dilihat dari kontrak perjanjian dagang antara Raja Sambas yang diduga Ratu Sepundak dengan pihak VOC pada tahun 1609 M dalam hal monopoli perdagangan emas. Selain itu, informasi tentang adanya pemerintahan Ratu Sepundak juga disebutkan dalam Naskah Asal Raja-Raja Sambas yang telah diartikan oleh Pabali H. Musa (2003:51-55).

Islamisasi di Kerajaan Sambas dimulai sejak awal abad ke-15 M. Menurut M.C. Ricklefs (2008:27), proses Islamisasi di Indonesia secara umum terutama terkait dengan penemuan kapan terjadinya Islamisasi, alasan terjadinya Islamisasi dan bagaimana proses konvensi rakyat Indonesia menjadi Islam masih menjadi perdebatan para ilmuwan.

Islamisasi di wilayah Sambas juga memperlihatkan adanya pengaruh dari Cina. Informasi paling tua mengenai kedatangan Islam di wilayah Sambas yaitu pada abad ke-15M yang dibawa oleh para saudagar Cina muslim yang diperkirakan sebagai anak buah laksamana Ceng Ho. Mereka kemudian mendirikan sebuah komunitas yang dinamakan komunitas muslim Hanafi di Sambas pada tahun 1407 M (H.J De Graff dkk 2004:14).

Datangnya para pedagang Cina tersebut menandakan bahwa wilayah Sambas merupakan wilayah yang aktif dalam bidang perdagangan. Dalam hal tersebut tentunya tidak hanya melibatkan penduduk lokal di wilayah Sambas dan pedagang Cina, tetapi juga melibatkan para pedagang muslim lainnya di wilayah Indonesia, seperti para pedagang dari India dan Arab (Ansar Rahman 2001:19). Terjadinya kekalahan Majapaht oleh kekuatan Islam yang berpusat di Jawa maka semakin memudahkan perjalanan para pedagang muslim secara intens untuk menyebar di seluruh wilayah Indonesia, salah satunya yaitu Kalimantan. Pada abad ke-15, para pedagang  muslim Cina, India dan Arab diperkirakan sudah menetap di Sambas. Tujuan mereka bermukim di Sambas yaitu melakukan kegiatan perdagangan, baik sekadar hanya transit atau hingga menetap. Meskipun sumber lokal belum ada yang dapat menjelaskan adanya penduduk lokal yang beragama muslim di Sambas, tidak menutup kemungkinan dengan kehadiran bangsa Cina, india dan Arab yang beragama muslim masyarakat tentunya juga akan tertarik untuk masuk islam, salah satu nya dikarenakan terjadinya kawin silang antara penduduk Sambas dengan pedagang Cina atau pedagang muslim lainnya.

Informasi terkait mengenai masuknya Islam di Sambas juga dapat dikaitkan dengan pernyataan dari seorang penulis Barat (Eric Mjoberg) di dalam bukunya yang berjudul “Borneo Het Lander Koppernsneller”, di dalam bukunya tersebut tertera bahwa Kerajaan Mahapahit telah tumbang dan dikalahkan oleh lascar Melayu yang beragama islam pada tahun 1478 M. Kemudian gerakan Laskar Melayu tersebut berlanjut hingga ke Kawasan Kalimantan Barat.

Baca Juga  Sejarah Kerajaan Samudera Pasai, Mulai dari Kejayaan hingga Kemunduran

Menjelang akhir abad ke-16 M, baru ditemukan petunjuk bahwa Islam benar-benar sudah diterima oleh masyarakat Sambas dengan ditemukannya sebuah bukti arkeologi berupa bangunan masjid. Masjid tersebut diduga sebagai masjid pertama yang ada di wilayah Sambas yang didirikan oleh seorang ulama dari Semenanjung Sumatera. Setelah Islam berkembang cukup baik di daerah pesisir Sambas pada akhir abad ke-16 M, kemudian Islam mulai menyebar memasuki pusat-pusat pemerintahan. Diperkirakan Ratu Kerajaan Sambas tua yaitu Ratu Anom Kesuma Yudha pada masa itu telah memeluk Islam secara individu untuk memudahkan urusan perniagaan dan meng embangkan hubungan baik dengan Johor maupun Brunei yang sudah masuk Islam, Johan Weintre (2004: 33). Ada beberapa alasan lain yang menyebabkan diterimanya Islam di Kerajaan Sambas Tua yaitu pertama, Raja Tengah merupakan anak Sultan Brunei dan Sambas pada masa itu berada di bawah pengaruhnya. Kedua, dikarenakan telah banyak orang-orang muslim lainnya terutama sejak pemerintahan Raja Gipang.

Kedatangan Raja Tengah pada awal abad ke-17 M menjadi tonggak awal islamisasi di Sambas. Kemudian penyebaran agama Islam semakin lebih baik ketika diterimanya Islam oleh  puteri Ratu Sepundak yang bernama Mas Ayu Bungsu saat menikah dengan anak dari Raja Tengah yang bernama Raden Sulaiman. Walaupun puteri Ratu Sepundak telah memeluk agama Islam, Islam tidak serta merta dapat menyebar secara cepat dikarenakan masih ada corak Hindu di Kota lama.

Proses islamisasi abad ke-17 juga seemakin meningkat dengan adanya due rute laut Cina melalui Indo-Cina ke Nusantara. Pertama yang terus ke Malaya dan pantai Sumatra Timur lalu ke Bangka-Belitung serta pantai Kalimantan Barat, terutama Sambas dan Mempawah. Rute laut kedua melalui Borneo Utara terus ke Sambas serta pedalaman Sambas dan Mempawah Hulu. Sehingga penyebaran Islam Kesultanan Sambas secara garis besar dilakukan secara intensif dan kemudian menjadi awal terintegrasinya nilai-nilai Islam ke dalam sistem sosial dan politik. Apabila sebelumnya kehadiran Islam terbatas pada pembentukan komunitas muslim di pusat perdagangan, maka pada masa ini Islam sudah mulai mempunyai pengaruh politik yang memungkinkan perkembangannya berlansung semakin efektif dan dampaknya semakin mendalam serta membesar pada tata kehidupan masyarakat ditambah lagi telah ada rute-rute masuknya Islam yang mempermudah proses islamisasi di Sambas.

Proses Islamisasi di Kalimantan Timur

Menurut Dr. Hj. Syamzan Syukur, proses Islamisasi di Kalimantan Timur tidak bisa terlepas dari hubungan dengan Kerajaan Gowa Tallo. Raja Sulawesi Selatan yang pertama menerima ajaran Islam yaitu Raja Luwu, beliau menerima ajaran Islam pada bulan Februari tahun 1605 M, kemudian disusul kerajaan Gowa Tallo menerima Islam pada 22 September 1605 M.  Raja Tallo yang pertama yaitu I Mallingkaan Daeng Manyori, kemudian menyusul raja Gowa yang ke 14 yakni I Mangngerangi Daeng Manrabbia memeluk agama Islam dan keduanya berganti nama menjadi Sultan Abdullah Awalul Islam dan Sultan Alauddin. Dua tahun kemudian seluruh rakyat Gowa Tallo ikut memeluk agama Islam, dan kemudian agama Islam dinyatakan sebagai agama resmi di Gowa Tallo.

Setelah semua kerajaan di Sulawesi Selatan memeluk agama Islam, para muballigh tersebut menyebarkan agama Islam ke seluruh penjuru Nusantara, tidak terkecuali Kerajaan Kutai Kertanegara. Para muballigh yang menyebarkan agama Islam di Kutai diantaranya Dato Ritiro atau Tuan Tunggang Parangan, dan Dato Ribandang, kedua muballigh tersebutlah yang membawa dan menyebarkan agama Islam ke Kerajaan Kutai pada abad-16 M.

Hubungan antara Kerajaan Kutai dan kerajaan-kerajaan di Sulawesi memang terbilang cukup baik dan lancar, hal ini ditandai dengan adanya para pedagang Bugis dari Sulawesi Selatan. Kerajaan Kutai ramai dikunjungi oleh para pedagang, baik pedagang Cina, Bugis, dan India. Dengan adanya para pedagang tersebut, memungkinkan juga terjadinya perkawinan silang antara pedagang luar dengan orang-orang pribumi.

Di dalam sejarah Islamisasi di Kalimantan Timur terdapat pula cerita mitologi mengenai Raja Mahkota. Di dalam mitologi tersebut diceritakan bahwa Raja Mahkota berdialog dengan Tuan Ribandang dan Tuan Tunggang Parangan yang menerangkan tentang ajaran Islam dan mereka mengajarkan bahwa “Firdaus/surga hanya dapat dihuni oleh orang-orang yang beriman saja, sedangkan orang yang tidak beriman dan memakan babi akan mendapat siksaan dari Allah di dalam Neraka dan mereka tidak akan masuk Surga”. Singkat cerita setelah Raja Mahkota mendengar kisah dari Tuan Ribandang dan Tuan Parangan ia bertaubat dan memeluk agama Islam.

Baca Juga  5 Peninggalan Kerajaan Samudera Pasai

Penyebaran agama Islam di  Paseban Agung bermula dari Raja Mahkota yang mendapatkan pelajaran agama dari Tuan Ribandang dan Tuan Tunggang Parangan, kemudian ajaran Islam menyebar ke putra-putranya, bangsawan kerajaan dan kemudian rakyatnya. Linkungan Paseban Agung akhirnya memeluk agama Islam semua.

Menurut fakta sejarah bahwa agama Islam mulai masuk dan dianut oleh orang Kutai Kertanegara ialah pada masa pemerintahan Raja Mahkota (1525-1605) M, yang dibawa oleh muballigh Tuan Ri Bandang Dan Tuan Tunggang Parangan dari Makassar. Dalam masa pemerintahannya, Raja Mahkota memerintahkan untuk membangun sebuah masjid guna tempat ibadah dan tempat untuk memberikan ajaran Islam. Raja Mahkota juga semakin kiat dalam menyebarkan agama Islam, ia juga menyuruh kepada Aji Dilanggar dan Aji Batara Agung untuk meneruskan penyebaran agama Islam agar sampai ke daerah-daerah pelosok.

Kemudian pada tahun 1732-1739 pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Idris raja Kutai yang ke 14 agama Islam telah berkembang keseluruh wilayah Kerajaan Kutai Kertanegara  di Kalimantan Timur pada umumnya. Di samping itupula Sultan Muhammad Idris selain sebagai kepala pemerintah adalah juga sebagai kepala/pimpinan angkatan perang dia juga memegang pimpinan keagamaan. Diangkat seorang pembantu khusus yang menangani soal-soal/ atau bidang keagamaan yang disebut sebagai Mas Penghulu. Dengan adanya Mas Penghulu, maka kepercayaan terhadap animism dan dinamisme perlahan mulai menghilang.

Pada masa pemerintahan Sultan Muslihuddin, Raja Kutai yang ke-5 pada tahun 1780-1816 M, Istana kerajaan dipindahkan ke Tenggarong dan menajdi pusat pemerintahan serta pusat perdagangan dan sebagai pusat pendidikan dan penyebaran agama islam. Di Kota Tenggarong pertama kali didirikan sebuah madrasah sebagai tempat untuk membina kader-kader untuk meneruskan dan melanjutkan penyiaran agama Islam dikemudian hari.

Saluran Islamisasi di Kerajaan Kutai

Melaui Perdagangan

Penyebaran agama Islam melalui perdagangan di Kerajaan Kutai dilakukan oleh pedagang-pedagang bugis Makassar atau mungkin juga langsung dari pulau Jawa dan pulau Sumatra. Para pedagang tersebut ada yang menetap dan mendiami pesisir pantai Kerajaan Kutai. Dari pedagang muslim tersebut tentunya ada yang tidak memiliki istri, sehingga karena hal tersebut para pedagang menikahi para putri bangsawan sehingga berkembanglah bandar atau Pelabuhan miliki kerajaan. kerajaan, karena makin ramai dan makin bertambaheratnya hubungan antara Kerajaan Kutai dan kerajaan lain disekitarnya seperti, Kerajaan Berau, Kerajaan Pasir , Kerajaan Banjar dan kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan seperti Kerajaan Gowa, Peneki, Wajo dan kerajaan-kerajaan Bugis lainnya.

Saluran Dakwah

Penyebaran agama Islam lewat saluran dakwah yang dilakukan oleh para muballigh atau ulama dalam hal ini Tuan Tunggang Parangan dan Tuan Ri Bandang, mereka datang di Kerajaan Kutai dengan maksud dan tujuan ingin mengajak raja, menteri dan pembesar-pembesar kerajaan serta seluruh masyarakat Kutai dan memeluk dan menganut agama Islam, agama Islam itu adalah agama yang benar, agama yang diridhoi oleh Allah Swt.

Saluran Politik

Memang penyebaran agama Islam dalam bidang politik adalah mempercepat pengembangan agama Islam dan banyak pula mencapai keberhasilan bahwa dalam bidang ini yang menjadi sasaran dari pada muballigh adalah raja atau penguasa karena apabila raja atau penguasa kerajaan telah masuk Islam maka dengan secara sukarela masyarakat akan mengikuti jejak pemimpinnya untuk menganut agama Islam pula. Agama Islam di Kerajaan Kutai tersebar setelah raja yang memegang kekuasaan menganut agama Islam meskipun agama Islam akan berhadapan dengan penganut kepercayaan yang sudah kuat didalam diri pribadi masyarakat Kutai. Para pemimpin mereka yang telah memegang agama Islam dengan berbagai cara dan taktik digunakan untuk menyampaikan ajaran-ajaran Islam sebagai agama yang benar.

Baca Juga  Garis Imajiner Yogyakarta: Urutan, Makna, dan Filosofi

Proses Islamisasi di Kalimantan Selatan

Sejak keruntuhan Kerajaan Hindu-Buddha pada abad ke-15, memberikan dampak yang cukup besar bagi perubahan segala aspek dikehidupan masyarakat Indonesia. Salah satu dampak dari runtuhnya Kerajaan Hindu-Buddha tersebut, memberikan ruang yang bebas bagi penyebaran agama Islam di Nusantara. Kalimantan Selatan khususnya Banjarmasin juga mendapatkan dampak dari runtuhnya Kerajaan Hindu-Buddha tersebut. Kesultanan Demak merupakan salah satu faktor terjadinya Islamisasi di Banjarmasin dan Kesultanan Demak memberikan dampak yang cukup besar dalam proses Islamisasi di Banjarmasin. Kesultanan Demak berjasa terhadap Kesultanan Banjarmasin bukan hanya dari segi bantuan militer saja, melainkan juga dalam segi aspel pelembagaan Islam.

Pelembagaan yang paling penting merupakan terbentuknya sebuah struktur Kesultanan, sehingga perkembangan Islam di Banjarmasin dapat menyebar ke seluruh pelosok wilayah Kesultanan Banjarmasin. (Saleh, tt: 81) menyebutkan dalam Hikayat Banjar bahwa pasukan Demak yang datang ke Banjarmasin berjumlah 1000 orang pasukan. Islamisasi di wilayah Banjarmasin dapat dikatakan merupakan hasil buah dari campur tangan dari pengaruh Demak, sehingga penyebaran Islam di Banjarmasin diartikan sebagai ekspansi. Dapat diartikan ekspansi karena bukti-bukti peninggalan masa Hindu-Buddha seperti Candi Agung dan Candi Laras. Candi-candi tersebut hanya meninggalkan sisa-sisa reruntuhan bangunan yang hancur, seakan-akan hal tersebut menandakan bahwa terdapat penyerbuan pasukan Demak.

Hikayat Banjar juga menyebutkan, bahwa Kesultanan Demak sendiri mengutus seorang Khatib ke Banjarmasin, yang bernama Khatib Dayyan.Gelar atau nama Khatib Dayyan lebih menggambarkan nama seorang penyampai khotbah atau penyiar agama daripada nama atau seorang panglima perang(Anis, 2000: 92). Anggapan adanya ekspansi dan kekerasan dalam Islamisasi Banjarmasin, menghapuskan peran saluran-saluran Islamisasi Nusantara yang justru lebih penting dan dominan dalam menggambarkan kedatangan, penerimaan dan penyebaran Islam di Banjarmasin. Saluran-saluran: perdagangan, perkawinan, birokrasi pemerintahan, tasawuf dan tarekat, pendidikan serta kesenian (Poesponegoro,et.al, 1984: 180) .Saluran –saluran Islamisasi tersebut sesuai dengan kondisi lingkungan Banjarmasin. Sungai merupakan panggung pertemuan berbagai kelompok masyarakat, dan pada akhirnya membentuk suatu komunitas dengan diwarnai berbagai macam budaya (Putro, 2009:10).

Kesultanan Banjarmasin kemudian menghasilkan identitas dan kultur baru yakni identitas dan kultur Banjar. Pembentukan identitas dan kultur tersebut memerlukan suatu kecerdasan lokal yang tentunya dimiliki masyarakat Banjar. Pemahaman yang sangat penting tentang Islamisasi Banjarmasin abad ke-15 hingga abad ke-19 dengan segala aktivitas manusia dan komunitasnya, akan memberikan gambaran pola jaringan sosial (Social network), yang telah membentuk sebuah masyarakat Islam, sebagai potret dari realitas eksistensi Urang Banjar.

Proses Islamisasi di Kalimantan Tengah

Ambary berpendapat bahwa proses Islamisasi di kawasan Asia Tenggara, khususnya wilayah Kalimantan Tengah, dapat dilihat dari fase kontak sosial budaya antara pendatang Muslim dengan penduduk setempat. Ambary membagi fase tersebut menjadi tiga yaitu; Pertama, fase kedatangan para pedagang Muslim. Kedua, fase terbentuknya kerajaan Islam. Ketiga, fase pelembagaan Islam.

Islamisasi di wilayah Kalimantan Tengah melalui berbagai saluran, salah satunya yaitu melewati jalur perdagangan. Penyebaran Islam melalui jalur laut dan sungai-sungai besar yang ada di Kalimantan, seperti sungai Lamandau, Mentaya, Kahayan, Kapuas dan Barito. Dalam proses pembentukan komunitas Islam di Nusantara, para pedagang memiliki peran yang sangat penting di pulau Kalimantan. Selain peran dari para pedagang, Islamisasi di wilayah Kalimantan Tengah juga tidak bisa lepas dari peranan Kalimantan Selatan dan sejarah Kesultanan Banjar. Pengaruh dakwah juga sangatlah penting dalam penyebaran Islam di wilayah Kalimantan Tengah.

Islamisasi di Kalimantan Tengah, khususnya pada suku Dayak Maanyan tergolong cepat dan mudah. Aktivitas dakwah Islamiyah pada suku Dayak Maanyan banyak dilakukan hal ini menunjukkan peluang yang besar untuk penyebaran agama Islam. Kawasan Dayak Maanyan merupakan kawasan yang nilai toleransi nya kuat, sehingga jika ada seseorang yang menyebarkan dakwah maka mereka akan menghargainya.

Penulis: Allisya Syifa & Fu’ad Aminnulah