Raden Pabelan: Riwayat Akhir Kisah sang “Fakboy” dari Tanah Jawa

raden pajang

“Cinta boleh tak mengenal tembok kraton, tapi cinta yang disemai oleh Raden Pabelan dengan gegabah telah membuat dirinya terbentur pada tembok nasibnya yang paling nahas. Gendam cintanya pada Sekar Kedhaton membuatnya harus meregang nyawa secara mengenaskan di Sungai Laweyan. “

Roda sejarah seringkali dipenuhi dengan kisah-kisah tragedi, kehilangan, dan keputusasaan. Tak terkecuali cinta, tak jarang kisah cinta pun berhasil membentuk sejarah. Karena pada hakikatnya cinta tidak mengenal gelar atau awalan. Antara Raja dan Ratu, Kaisar dan Permaisuri, wanita simpanan dan Raja, bahkan seorang budak dan putri Raja.

Satu kisah dari sebuah nisan di sudut Surakarta yang ingin menuturkan kisah hidupnya kepada sahabat pembaca setia sejarahkita.com. Nisan yang didalamnya menyimpan sebuah kisah tentang seorang fakboy yang terkenal pada masanya, seorang pemuda yang tampan nan gagah yang kesehariannya hanya disibukan dengan bermain wanita, Pabelan namanya, putra dari seorang Kepala Pasukan Kajineman (Teliksandi) atau istilah kerennya Intelegent Kesultanan Pajang bernama Tumenggung Mayang sedangkan ibunya bernama Dewi Tembini yang merupakan adik dari Panembahan Senopati.

Masa muda Raden Pabelan berbeda dengan putra-putra Tumenggung lain, jika putra-putra Tumenggung lain belajar dan berguru tentang ilmu Kanuragan dan ilmu Kasusastraan, Raden Pabelan justru lebih memilih belajar dan berguru kepada seorang pengelana yang berasal dari Suku Osing (Banyuwangi) tentang ilmu Gendam Sukma dan Pengasihan. Sehingga ketika dewasa ia menjadi pribadi yang suka bermain wanita.

Lewat ilmu Gendam Sukma dan Pengasihan yang dipelajari dari gurunya inilah ia memikat setiap wanita yang dirasa menurutnya cocok dengan seleranya. Semua wanita di Kesultanan Pajang tak luput dari godaannya, baik gadis perawan, wanita yang sudah berkeluarga, dayang-dayang kraton, bahkan ia berani menggendam istri sekaligus anak Tumenggung Reksoboyo yang merupakan rekan ayahnya yang tentu membuat Sang Tumenggung sangat murka.        

Tumenggung Mayang yang mendengar putra semata wayangnya yang kesehariannya bermain wanita sangat malu dan menyesal, sebagai ayah ia merasa gagal mendidik putra tunggalnya itu menjadi pribadi yang baik dan bisa dibanggakan. Setiap hari Pabelan hanya bisa membuat malu dirinya. Mungkin jika bukan karena jabatannya sebagai Tumenggung, Pabelan mungkin sudah sedari awal ditangkap dan dijatuhi hukuman berat oleh Gusti Haryo Manguri (Jaksa Kesultanan Pajang) yang tidak pernah memandang bulu dalam memutuskan perkara. Ia lama-lama tidak tahan dengan sikap dan perilaku putranya, ia ingin putranya segera bertobat dan menikah.

 Maka pada suatu waktu Tumenggung Mayang memanggil putranya, Pabelan untuk dinasihati. Tumenggung Mayang berpesan agar Pabelan segera bertaubat dan menghentikan kebiasaannya bermain wanita. Ia juga menyuruh agar Pabelan segera menikah, mungkin apabila Pabelan sudah menikah dan memiliki anak, dia bisa menghentikan segala kebiasaan buruknya itu. Namun Pabelan menolak segala nasihat ayahnya itu. Pabelan beralasan ia masih muda dan masih ingin mendapatkan banyak hal, Pabelan juga berkata bahwa bukan dia yang mengejar dan menggoda para wanita tapi wanita-wanita tersebutlah yang mengejar-ngejar dirinya.

Baca Juga  Perjuangan Laskar Kere dalam Mempertahankan Kedaulatan RI

Mendengar perkataan Pabelan, Tumenggung Mayang pun naik pitam seraya berkata dengan nada tinggi “Kata-katamu itu seperti menantang Ramamu, Pabelan. Di mata Rama, semua ajianmu itu tidak ada gunanya”. Pabelan pun membalas dengan berkata “Mohon maaf Rama, ajian-ajian yang saya miliki dan pelajari tidak bisa dengan mudah dimiliki seperti membeli jajan di Pasar Kutopraja, mohon jangan meremehkan ilmu yang saya miliki dengan berbicara seperti itu Rama”.

Tumenggung Mayang pun kembali membalas perkataan putranya dengan berkata dengan nada menantang “Kalau begitu, tunjukan sampai mana kegunaan ajian yang kamu miliki itu, loncati pagar Kaputren Pajang, gendam sukmane Gusti Sekar Kedhaton, putri kesayangan Kanjeng Sultan Hadiwijaya, jadikan dia sebagai istrimu, jika gagal kamu hanya boleh pulang saat sudah jadi bathang (mayat)”. Perkataan Tumenggung Mayang bak petir yang menyambar di siang bolong. Mendengar perkataan tersebut, Raden Pabelan merasa tertantang oleh ayahnya, dia pun langsung pamit pergi memancal kudanya. Tumenggung Mayang pun tertegun, tidak menyangka rasa marahnya membuat dia melontarkan tantangan bagi Pabelan yang sesungguhnya sangat membahayakan nyawa putranya itu.

Kaputren Pajang berbenteng tinggi dan dijaga sangat ketat oleh para prajurit dan para Punggawa berkemampuan tinggi, bahkan dirinya sejak mengabdi di Pajang sama sekali belum pernah tahu seperti apa isi Kaputren itu karena begitu ketat pengamanannya. Namun nasi sudah menjadi bubur, Pabelan telah hilang dari pandangan matanya. Tumenggung Mayang  hanya berharap Pabelan pergi sekedar marah padanya dan tidak benar-benar memenuhi tantangannya itu, sebab jika Pabelan nekat maka selesailah sudah semuanya.

Seminggu telah lewat, tak ada kabar apapun dari Pabelan, putranya. Namun justru hal itu membuat Tumenggung Mayang sangat lega sebab itu artinya Pabelan tidak benar-benar memenuhi tantangannya. Dia mungkin sedang sibuk menggoda perempuan lainnya. Namun kedatangan mendadak Tumenggung Wirokerti dan satu grup Bregada Nyutra (Pasukan Khusus Sultan Pajang) mendadak membuat hatinya berdegup kencang. Dini hari itu, Tumenggung Mayang diminta menghadap Sultan Hadiwijaya saat itu juga, untuk membahas tugas negara, bahkan untuk sekedar berganti pakaian dan menyandang Keris Pusaka leluhurnya pun tidak diijinkan.

Baca Juga  Proses Terjadinya Perang Peloponnesos Pada Masa Yunani Kuno

Dewi Tembini sadar, bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi, melihat suaminya tidak lagi dihormati dan pergi bersama kawalan ketat Bregada Nyutra. Dewi Tembini merasa suaminya diculik dan dia hanya bisa menangis. Tumenggung Wirokerti ternyata tidak membawa Tumenggung Mayang ke Balai Manguntur, namun ke markasnya sendiri Pusat Pasukan Kajineman. Meski sempat bertanya-tanya dalam hati mengapa dirinya dibawa kesana oleh Tumenggung Wirokerti, namun rupanya Kanjeng Sultan sendiri yang berkenan menemuinya di sana, sesuatu yang menurutnya sangat janggal.       

Setelah menghaturkan sembah dalem kepada Kanjeng Sultan, Tumenggung Mayang lantas dipersilahkan duduk oleh Kanjeng Sultan. Kanjeng Sultan pun langsung bertanya kepada Tumenggung Mayang “Tumenggung Mayang, disini tempatmu bekerja, bukan?” Tumenggung Mayang pun menjawab dengan berkata “Benar Kanjeng Sultan, disini saya menjalankan tugas-tugas sekaligus menjaga merawat Panji-Panji dan Pusaka Pasukan Kajineman Pajang”. Kanjeng Sultan pun bertanya lagi “ Jika Panji-Panji dan Pusaka Kajineman ada yang mencuri, apa yang akan kamu lakukan, Mayang?”. Tumenggung Mayang pun menjawab kembali apa yang ditanyakan Kanjeng Sultan kepadanya “Saya akan merebutnya kembali dan siap menerima hukuman karena tidak bisa menjaganya dengan baik Kanjeng Sultan”.

Kanjeng Sultan pun kembali berkata kepada Tumenggung Mayang “Pusaka-Pusaka yang ditempatkan di Kajineman ini milik Pajang, miliku juga sebagai penguasa Pajang. Mencuri Pusaka-Pusaka itu adalah bertindak lancang seperti menginjak-injak kepalaku. Mayang, Pusaka ku saat ini ada yang hilang dan tentu saja sebagai abdi kepercayaan kamu akan ikut marah dan berada dipihakku, bukan begitu Mayang?” Tumenggung Mayang pun menjawab “Benar sekali Kanjeng Sultan, saya pasti akan berada dipihak Kanjeng Sultan, namun setahu saya tidak ada Panji atau Pusaka Kajineman yang hilang saat ini”. Kanjeng Sultan berkata kembali “Bukan Pusaka Kajineman ini yang hilang, Mayang. Tapi Pusakaku yang ada di Kaputren”.

Mayang tidak sanggup lagi membayangkan apa yang dilakukan anaknya itu pun tak mampu juga mendengar tuturan Kanjeng Sultan Hadiwijaya selanjutnya. Nyawanya terasa tersedot ke atas ubun-ubunnya sejengkal demi sejengkal. “Duhh, nyuwun pangapunten (minta maaf) Gusti, jangan teruskan pembicaraan ini, saya tidak sanggup mendengarkannya biarlah saya mengambil sikap atas kejadian ini Gusti” kata Tumenggung Mayang dengan suara memelas. “Tak perlu repot mengambil sikap Mayang, anakmu telah diurus oleh para Punggawa Kaputren, dia telah jadi bathang (mayat), dia maling Mayang, tidak perlu repot lagi mencarinya, mayatnya telah dibuang ke Sungai Laweyan dan sekarang aku menuntut tanggung jawabmu, menuntut apa yang kamu ucapkan tadi, sebagai Tumenggung yang salah satu tugasnya menjaga Pusaka Kajineman Pajang, kamu terbukti lalai menjaganya kamu harus bertanggung jawab padaku, aku akan menuntutmu bertanggung jawab sebagai ayah sekaligus sebagai Tumenggung Pajang, saat ini juga aku putuskan kau menjalani hukuman buang ke Semarang” kata Kanjeng Sultan dengan nada marah. Tumenggung Mayang pun dengan tabah menerima hukuman dari Kanjeng Sultan Hadiwijaya, sebagai ayah dan seorang Tumenggung tentu ia harus berani berbuat dan berani bertanggung jawab.

Baca Juga  Roro Mendut Pronocitro: Sebuah Romansa Cinta dari Bumi Mataram

Sementara itu jenazah Pabelan yang menggembung telah ditemukan oleh Ki Gede Sala tersangkut di akar-akar pohon yang masuk wilayah Sala (Solo sekarang). Namun keanehan sempat terjadi, setiap jenazah Pabelan didorong ke tengah sungai agar terbawa arus, jenazah itu selalu kembali ke akar-akar pohon itu keesokan harinya. Hal ini bahkan terjadi selama tiga hari berturut-turut. Ki Gede Sala akhirnya memutuskan untuk memakamkan jenazah Pabelan di wilayahnya meski dengan resiko dihukum oleh Sultan Hadiwijaya.

Sumber Gambar: Mbah Dukun Solo

Sampai hari ini makam Raden Pabelan masih dapat kita saksikan di daerah Desa Karang Lumbu, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, tepatnya di komplek BTC (Beteng Trade Center), sebelah Timur Gladak atau timur alun-alun utara Kraton Surakarta Hadiningrat. Namun sayang, makam Raden Pabelan dewasa ini justru banyak digunakan oleh banyak orang untuk pesugihan mendapatkan ilmu Gendam Sukma dan Pengasihan yang tentunya berfungsi untuk memikat wanita, mereka terinspirasi dari Raden Pabelan dahulu dan mereka percaya bahwa dengan melakukan pesugihan di makam Raden Pabelan mereka akan bisa mendapatkan ilmu Gendam Sukma dan Pengasihan. Hal tersebut tentu sangat memprihatinkan.

Dan secara tidak langsung Peristiwa Raden Pabelan ini membuat pergolakan hebat antara Mataram dan Pajang. Tumenggung Mayang yang harus menjalani hukum buang di Semarang akibat Peristiwa Pabelan ini ditengah perjalanan berhasil diselamatkan dan direbut oleh pasukan Mataram pimpinan Tumenggung Bocor karena sebagai kakak ipar tentu Panembahan Senopati tidak terima iparnya dihukum buang ke Semarang. Akibat peristiwa inilah yang menjadi pemicu terakhir Perang antara Mataram dan Pajang pada tahun 1582 yang dimana Mataram keluar sebagai pemenangnya karena mereka banyak mendapat bantuan sekutunya.